Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.
Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.
Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"
Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.
Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....
Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Demam di Atas Lumpur Surut
..."Ketika dokter tidak datang, maka kami yang berjalan menjadi dokter, karena menyelamatkan nyawa tidak bisa menunggu izin dari langit."...
Air di Desa Qinghe akhirnya mulai turun pada hari ke 24, tidak dengan cepat, tidak dengan deras, melainkan dengan gerakan pelan yang menyeret lumpur ke mana-mana dan meninggalkan bekas coklat setinggi pinggang di dinding rumah yang membuat seluruh desa terlihat seperti baru keluar dari rahim bumi yang kotor dan lelah.
Matahari muncul lebih lama dari biasanya dan menguapkan bau busuk dari bangkai hewan, pakaian basah, dan kayu yang membusuk, sehingga bukannya lega yang dirasakan warga, yang datang justru rasa pusing, mual, dan demam yang menyebar dari satu tenda ke tenda lain seperti api yang menjilat jerami kering.
Jing yue menyadarinya pertama kali ketika anak kecil yang selama seminggu tidur di pangkuannya tiba-tiba menggigil di tengah malam, dahinya panas seperti bara, bibirnya pecah-pecah, dan napasnya pendek, lalu dalam dua hari berikutnya ada dua puluh orang lagi yang menunjukkan gejala yang sama, wajah merah, tubuh menggigil, dan batuk yang tidak berhenti bahkan setelah diberi jahe dan air hangat.
Tetua Keempat yang paling mengerti obat menggeleng sambil berkata bahwa ini bukan demam biasa, ini demam lumpur, penyakit yang datang setelah banjir karena air kotor masuk ke tubuh dan karena orang-orang terlalu lama tidur di tanah basah tanpa selimut yang kering, dan kalau tidak segera ditangani maka dalam sepuluh hari bisa ada puluhan orang mati.
Masalahnya, persediaan obat yang diberikan pemerintah tiga hari lalu sudah hampir habis karena dipakai untuk luka luar dan diare, dan satu-satunya tabib yang tinggal di kabupaten sudah pergi ke kota karena keluarganya juga terkena banjir, sehingga sekarang Emei terjebak di tengah bukit dengan tiga ratus orang sakit dan tidak ada orang yang bisa meracik jamu dengan benar.
Jing yue memanggil semua Tetua malam itu di bawah tenda yang atapnya masih menetes, dan dia berkata "kita tidak bisa menunggu, kita harus segera mencari tabib, mencari tanaman obat, mencari apa pun yang bisa menyelamatkan orang, bahkan kalau harus berjalan ke desa yang terisolasi di seberang hutan".
Tetua Pertama menolak karena jalan ke desa tetangga, Desa Lijia, sudah tertutup longsor dan katanya di sana juga pasti sedang kekurangan, tetapi Jing yue menjawab "kalau kita tidak mencoba maka anak-anak yang kemarin kita selamatkan dari rakit akan menjadi nama pertama di daftar kematian".
Keputusan itu diambil sebelum fajar, dan Jing yue memilih membawa lima murid terbaik, membawa karung kosong, membawa pisau, membawa sapu bambu, dan membawa surat dari pengadilan yang ditandatangani Tuan Zhou agar kalau bertemu perampok mereka bisa menunjukkan bahwa mereka datang atas nama negara.
Perjalanan ke Desa Lijia memakan waktu seharian penuh karena mereka harus memotong jalan lewat hutan, menyeberangi sungai dengan rakit darurat, dan mendaki bukit licin yang setiap langkahnya bisa membuat orang tergelincir ke jurang, dan sepanjang jalan Jing yue tidak berhenti memandangi dedaunan, mencari daun yang menurut buku obat Emei bisa menurunkan panas.
Mereka sampai di Desa Lijia menjelang senja, dan yang mereka temukan adalah desa yang lebih parah dari Qinghe, karena di sini tidak ada tenda, tidak ada dapur umum, hanya ada rumah-rumah yang setengah roboh dan orang-orang yang duduk di teras dengan mata kosong sambil mengipas anak mereka yang demam.
Kepala desa, seorang lelaki tua bernama Paman Li, menyambut mereka dengan wajah curiga, karena dia pikir Emei datang untuk meminta makanan, tetapi ketika Jing yue berlutut dan berkata "kami datang bukan untuk meminta melainkan untuk bertanya di mana bisa menemukan tabib atau tanaman obat", wajah Paman Li melunak.
Paman Li berkata "satu-satunya orang yang mengerti obat di desa ini adalah Nenek Gui, seorang janda tua yang tinggal di ujung desa di gubuk dekat kuburan, dan Nenek Gui punya kebun kecil berisi jahe hutan, kulit kayu, dan akar yang bisa dipakai, tetapi Nenek Gui sudah tiga hari tidak keluar karena dia sendiri sedang sakit".
Tanpa menunggu, Jing yue dan dua murid langsung berlari ke gubuk itu, mengetuk pintu yang hampir lepas, dan di dalamnya mereka menemukan seorang nenek berusia hampir delapan puluh tahun terbaring di depan bambu dengan selimut tipis dan periuk kosong di sampingnya.
Jing yue tidak banyak bicara, dia langsung menyalakan api, memasak bubur dari beras yang dia bawa, menyuapi Nenek Gui sendok demi sendok, dan sambil menyuapi dia bertanya dengan lembut "apakah Nenek masih ingat resep untuk demam lumpur".
Nenek Gui awalnya mengira mereka pembohong, tetapi setelah melihat cara Jing yue membersihkan luka di kakinya dan setelah mendengar bahwa di Qinghe ada anak-anak yang sekarat, akhirnya Nenek Gui mengangguk lemah dan berkata "aku akan mengajari mu, asalkan kalian mau memetik sendiri bahan-bahannya di hutan belakang".
Malam itu, dengan obor di tangan, Jing yue dan murid-muridnya mengikuti petunjuk Nenek Gui untuk mencari jahe liar, kulit kayu manis hutan, akar alang-alang, dan daun sirih hutan, dan setiap kali mereka menemukan satu jenis mereka menciumnya, mencicipi sedikit, lalu memasukkannya ke karung dengan hati-hati seakan itu adalah emas.
Nenek Gui mengajari mereka cara merebus, berapa lama, berapa banyak, dan bagaimana cara membedakan mana yang bisa diminum anak kecil dan mana yang hanya untuk orang dewasa, dan dia juga memberi mereka satu kantong bubuk yang katanya bisa dicampur ke air untuk mencegah penyakit menyebar.
Sebelum fajar, Jing yue berlutut di depan Nenek Gui dan bersujud tiga kali, lalu dia meninggalkan setengah dari beras yang mereka bawa dan berjanji akan kembali membawa dokter sungguhan kalau keadaan sudah membaik.
Perjalanan pulang lebih cepat karena mereka tahu jalannya, tetapi tetap berbahaya, dan di tengah jalan hujan turun lagi, membuat karung obat menjadi berat dan membuat beberapa murid terpeleset, tetapi Jing yue berjalan paling depan sambil menggendong karung paling berat agar yang lain bisa berpegangan padanya.
Ketika mereka sampai di perkemahan Qinghe, semua orang sudah menunggu dengan cemas, dan tanpa membuang waktu Tetua Keempat langsung merebus bahan-bahan itu di kuali besar, baunya memenuhi seluruh bukit, pahit, hangat, dan menenangkan.
Pembagian obat dimulai saat itu juga, anak-anak diberi duluan, lalu orang tua, lalu orang dewasa, dan Jing yue sendiri yang menyuapi satu per satu sambil mengecek apakah ada yang muntah atau alergi, dan sepanjang malam dia tidak tidur, hanya berjalan dari satu tikar ke tikar lain.
Tiga hari kemudian, demam mulai turun, anak yang pertama kali sakit sudah bisa duduk dan meminta makan, dan Paman Li dari Desa Lijia datang bersama lima orang membawa keranjang sayur sebagai tanda terima kasih karena Emei mau berbagi ilmu.
Lei Feng dari Sekte Pedang Langit yang kebetulan lewat untuk mengantar bantuan tambahan melihat semua itu dan hanya berkata satu kalimat bahwa dia tidak menyangka Emei bisa bertahan tanpa tabib istana, dan Jing yue hanya menjawab bahwa Emei tidak menunggu tabib, Emei menjadi tabib.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah dua minggu, tidak ada tangis di perkemahan, hanya ada suara orang batuk yang semakin jarang dan suara anak-anak yang mulai tertawa pelan karena bisa bermain lagi. Jing yue duduk di luar tenda, menulis di bukunya dengan tangan yang sudah kapalan, dan dia menulis bahwa hari ini dia belajar bahwa obat paling mahal bukan yang dibeli dari kota, melainkan keberanian untuk berjalan ke tempat yang orang lain takut datangi.
Dia juga menulis bahwa lumpur boleh meninggalkan bekas di baju, tapi jangan sampai meninggalkan bekas di hati, dan bahwa seorang Penjaga Gerbang bukan hanya menjaga orang agar tidak masuk, tapi juga menjaga orang agar tidak mati di dalam.
Sebelum tidur, dia keluar sebentar dan menatap ke arah Sungai Min yang kini sudah jauh lebih tenang, airnya masih coklat tapi tidak lagi menggeram, dan di langit ada beberapa bintang yang mulai muncul di sela awan.
Dia menarik napas panjang, merasakan udara yang tidak lagi berbau busuk, dan dia berbisik bahwa besok mereka akan mulai membangun kembali rumah, satu per satu, karena orang tidak bisa sembuh kalau tidak punya atap.
Lalu dia kembali ke tenda, memadamkan lilin, dan tidur dengan karung obat kosong dijadikan bantal, karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat hari dia merasa bahwa mungkin, mungkin saja, mereka akan baik-baik saja.