NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10 - Surat Kuasa

Ratna menandatangani surat kuasa dengan tangan yang lebih tenang daripada hatinya.

Di hadapannya, Siska menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil. Gugatan cerai. Permohonan pembagian harta bersama. Permintaan penelusuran aset yang diduga dialihkan. Bukti hubungan Hendra dan Clara. Bukti adanya anak di luar pernikahan resmi.

Ratna mendengar semuanya seperti mendengar cerita tentang orang lain.

Padahal nama yang tertulis di dokumen itu namanya.

Ratna Prameswari.

Istri sah Hendra Prasetyo.

Pemohon.

Siska menutup map.

"Bu Ratna, setelah ini Pak Hendra kemungkinan akan menerima pemberitahuan dari pihak kami. Sebelum sidang, mungkin ada upaya mediasi. Ibu tidak perlu bicara langsung kalau tidak siap."

"Kalau dia datang ke rumah sakit?"

"Hubungi saya atau Hanif. Jangan sendirian."

Ratna mengangguk.

Hanif yang duduk di samping menambahkan, "Pak Arga juga meminta security rumah sakit diberi tahu. Bukan untuk membuat keributan, hanya memastikan Pak Hendra tidak masuk ke area kamar Bu Laras tanpa izin."

Ratna menunduk.

"Pak Arga terlalu banyak membantu."

Bu Laras yang duduk di ranjang langsung menyahut, "Biarkan saja. Dia jarang berguna untuk urusan hati. Sekali-kali dipakai."

Siska menahan senyum.

Hanif pura-pura batuk.

Ratna ikut tersenyum kecil.

Arga tidak ada di ruangan. Pagi itu ia sudah berangkat ke kantor pusat Wijaya Group di SCBD. Namun pengaruhnya terasa di mana-mana. Dalam cara Hanif bergerak. Dalam keamanan di lorong. Dalam cepatnya dokumen disusun.

Ratna tidak tahu harus merasa lega atau takut.

Ia pernah hidup terlalu lama bergantung pada Hendra. Sekarang, menerima bantuan dari Arga membuatnya khawatir akan terikat lagi pada kuasa laki-laki lain.

Seolah membaca pikirannya, Bu Laras berkata pelan, "Ratna, dibantu bukan berarti dimiliki."

Ratna mengangkat wajah.

"Aku tahu kamu takut. Tapi bantuan yang baik tidak menagih tubuhmu, waktumu, atau martabatmu. Kalau suatu hari anakku bersikap seperti itu, bilang padaku. Akan kupukul duluan."

Ratna tertawa lemah.

"Pak Arga tidak seperti itu, Bu."

"Memang tidak. Tapi tetap harus diingatkan. Laki-laki kadang merasa jadi penyelamat, padahal perempuan cuma butuh pintu dibukakan."

Kalimat itu menempel di kepala Ratna.

Pintu.

Selama ini ia bukan tidak bisa berjalan. Ia hanya dikunci terlalu lama.

Siang harinya, Siska mengirim pemberitahuan resmi pada Hendra. Tidak sampai satu jam, telepon Ratna berdering berkali-kali. Hendra. Raka. Mama Sulastri. Nomor rumah. Bahkan Maya.

Ratna tidak menjawab.

Lalu pesan masuk.

Hendra: "Kamu benar-benar kirim pengacara?"

Hendra: "Ratna, jangan mempermalukan aku."

Raka: "Ma, Papa marah besar. Mama kenapa sih? Kita bisa bicarakan di rumah."

Mama Sulastri: "Kalau kamu lanjutkan, Mama tidak akan menganggap kamu menantu."

Ratna membaca pesan terakhir itu paling lama.

Dulu ancaman seperti itu akan membuatnya gemetar. Ia selalu ingin diterima Mama Sulastri. Ia memasak makanan kesukaan perempuan itu, mengantar kontrol dokter, memijat kaki, menahan hinaan, berharap suatu hari disebut menantu baik dengan tulus.

Ternyata setelah dua puluh delapan tahun, status itu masih bisa dicabut lewat pesan.

Ratna mengetik balasan pada Mama Sulastri.

"Baik, Ma."

Hanya itu.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada penjelasan.

Mama Sulastri langsung membalas dengan puluhan pesan marah, tapi Ratna tidak membukanya.

Sore itu Arga datang ke kamar Bu Laras setelah rapat. Ia melepas jas dan menggulung sedikit lengan kemeja. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya langsung memeriksa kondisi ibunya.

"Sudah makan?"

Bu Laras menunjuk Ratna.

"Tanya calon mantu Mama. Dia yang mengatur."

Ratna hampir menjatuhkan gelas.

"Bu Laras..."

Arga menatap ibunya datar.

"Mama jangan membuat Bu Ratna tidak nyaman."

"Lho, aku cuma bicara kemungkinan."

"Kemungkinan yang tidak perlu dibicarakan saat orang sedang proses cerai."

Ratna terdiam.

Kalimat Arga membuatnya merasa dihormati.

Bukan diperebutkan. Bukan dijadikan bahan candaan. Dihormati.

Bu Laras mengibaskan tangan.

"Iya, iya. Kamu memang paling benar."

Arga menoleh pada Ratna.

"Siska sudah menghubungi Ibu?"

"Sudah. Suratnya sudah dikirim."

"Hendra mengganggu?"

"Banyak pesan. Saya tidak jawab."

"Bagus."

Bu Laras mendecak.

"Kalian berdua kalau bicara seperti laporan kantor."

Ratna menunduk agar tidak tersenyum.

Arga duduk di sofa, lalu membuka tablet. "Ada hal lain. Saya ingin menawarkan pekerjaan."

Ratna terkejut.

"Pekerjaan?"

"Di kantor pusat. Bukan posisi besar. Administrasi lantai eksekutif. Mengatur jadwal internal, tamu, arsip sederhana. Hanif bilang Ibu rapi mencatat dan teliti. Mama juga bilang Ibu cepat belajar."

Ratna menatapnya seperti tidak yakin.

"Pak Arga, saya sudah lima puluh. Saya tidak punya ijazah tinggi. Saya sudah lama tidak kerja kantor."

"Saya tidak menanyakan umur."

"Tapi orang akan bertanya."

"Biarkan."

Ratna menggeleng.

"Saya takut tidak bisa."

Arga meletakkan tablet di pangkuannya.

"Ibu bisa mengurus rumah berisi lima orang dewasa dan satu anak, bekerja di hotel, menjaga pasien, mencatat pengeluaran sampai detail. Kantor tidak lebih sulit dari itu. Hanya lebih jujur soal gaji."

Ratna terdiam.

Bu Laras tersenyum bangga.

"Nah, itu baru kalimat manusia."

Arga tidak menanggapi.

"Kalau Ibu tidak mau, tidak masalah. Saya menawarkan karena Ibu akan butuh penghasilan sendiri. Proses hukum bisa panjang. Dan saya rasa Ibu tidak seharusnya kembali bergantung pada uang Hendra."

Ratna menatap tangannya.

Pekerjaan.

Kata itu terasa asing, tapi juga memanggil sesuatu yang lama tertidur. Dulu ia pandai berdagang. Pandai mengatur stok. Pandai menghadapi pelanggan. Pandai membuat Hendra yang tidak punya apa-apa terlihat seperti laki-laki menjanjikan.

Mungkin ia memang tidak kosong.

Mungkin hanya lama tidak diberi ruang.

"Boleh saya pikirkan?" tanyanya.

"Tentu."

"Terima kasih."

Arga mengangguk.

Ponsel Ratna bergetar lagi.

Kali ini dari Maya.

"Ma, aku tahu situasinya berat. Tapi boleh aku bertemu Mama? Bima terus mencari Mama. Aku juga... aku baru sadar banyak hal."

Ratna membaca pesan itu dua kali.

Hatinya melembut, tapi ia tidak langsung menjawab.

Bu Laras bertanya, "Siapa?"

"Menantu saya."

"Yang suka menitipkan anak?"

Ratna tersenyum pahit.

"Iya."

Arga berkata pelan, "Kalau Ibu bertemu, pilih tempat netral."

Ratna mengangguk.

Ia membalas Maya.

"Besok sore. Di kafe dekat rumah sakit. Bawa Bima kalau perlu. Jangan bawa Raka."

Maya segera menjawab.

"Iya, Ma. Terima kasih."

Ratna menatap layar itu.

Satu pintu menuju masa lalu sedang ditutup.

Tapi ternyata ada beberapa pintu lain yang mulai terbuka.

Pekerjaan.

Hukum.

Menantu yang mungkin akhirnya melihatnya sebagai manusia.

Ratna belum tahu ia sanggup atau tidak.

Namun untuk pertama kalinya, pilihan-pilihan itu ada di tangannya.

Malam itu Ratna membaca detail pekerjaan dari Arga sampai dua kali. Ada jam masuk, masa percobaan, gaji, tunjangan kesehatan, dan daftar tugas. Semuanya tertulis jelas. Tidak ada kalimat "tolong bantu sebentar" yang berubah menjadi kewajiban seumur hidup.

Ia berhenti lama pada bagian gaji.

Jumlahnya bukan fantastis bagi orang kantor, tapi bagi Ratna itu berarti sesuatu yang besar: uang yang masuk atas namanya sendiri.

Ia membuka kalkulator, menghitung biaya kos kecil jika nanti tidak tinggal di fasilitas Bu Laras, biaya makan, transportasi, sedikit tabungan, dan mungkin hadiah kecil untuk Bima.

Angkanya pas-pasan.

Tapi pas-pasan yang ia atur sendiri terasa lebih bermartabat daripada cukup yang dikendalikan Hendra.

Ratna menutup map itu dan meletakkannya di samping tempat tidur.

Besok ia masih akan takut.

Namun takut bukan tanda berhenti.

Takut hanya tanda bahwa pintu yang ia buka memang baru.

Sebelum tidur, Ratna menelepon nomor Maya. Tidak lama, suara Bima terdengar lebih dulu.

"Nenek!"

Ratna tersenyum.

"Bima sudah sikat gigi?"

"Sudah. Mama yang sikatin. Tapi tidak sebagus Nenek."

Dari belakang terdengar Maya protes lembut, "Hei, Mama sedang belajar."

Ratna tertawa. Suara kecil itu membuat malamnya tidak terlalu berat.

Setelah Bima mengantuk dan telepon dipegang Maya, keduanya sempat diam.

"Ma," kata Maya pelan, "besok aku datang bukan untuk membujuk Mama pulang."

"Lalu untuk apa?"

"Untuk mendengar. Kalau Mama mau bicara."

Ratna menatap langit-langit kamar.

Selama ini ia selalu menjadi pendengar.

Mungkin besok, untuk pertama kalinya, ia boleh menjadi orang yang didengar.

Pikiran itu membuatnya gugup.

Didengar juga butuh keberanian. Selama ini Ratna lebih pandai menelan daripada menjelaskan.

Besok ia akan mencoba.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!