"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Pelarian Hancur dan Rahasia di Balik Dua Garis Merah
Langkah kaki Viona Adeline terasa limbung saat ia berlari membelah lobi utama Mahendra Group yang luas. Air mata mengalir deras melewati pipinya yang pucat, merusak seluruh topeng ketegaran yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah. Ucapan Clarissa di koridor lantai atas tadi terus terngiang-ngiang bagai kaset rusak yang menyiksa batinnya: perusahaan ayahnya sengaja dihancurkan oleh perusahaan keluarga Arkan demi merebut aset tanah manufaktur.
Pria yang selama ini mengurungnya dalam sangkar emas, pria yang tubuhnya ia dekap setiap malam dengan gairah yang terlarang, ternyata adalah pembunuh tak kasat mata bagi ayahnya.
"Viona! Tunggu!" teriak Reno yang berlari mengejarnya dari arah belakang. Pria itu berhasil mencengkeram lengan Viona tepat di dekat pintu keluar lobi, menghentikan pelariannya yang tak tentu arah. "Ikut aku sekarang, Vio. Kita pergi dari tempat terkutuk ini. Aku akan melindungimu dari Arkan."
Viona menepis tangan Reno dengan sisa tenaganya, napasnya tersengal-sengal. "Jangan sentuh aku, Reno! Tolong biarkan aku sendiri. Jangan terlibat dalam lingkaran setan ini lagi!"
Sebelum Reno sempat membalas, beberapa sekuriti berbadan tegap tiba-tiba datang dan langsung memblokir pergerakan Reno, menahan pria itu agar tidak bisa mendekati Viona kembali. Dari arah belakang, langkah kaki yang berat dan tegas menggema di lobi, membawa aura dingin yang langsung membekukan atmosfer sekitar.
Arkan Mahendra berjalan mendekat dengan rahang yang mengeras sempurna. Setelan jas hitamnya yang rapi kini tampak kontras dengan guncangan emosi yang terpancar dari sepasang netra kelamnya. Pria posesif itu tidak lagi menampilkan keangkuhan seorang CEO berdarah dingin, melainkan kepanikan yang nyata melihat belahan jiwanya berniat pergi menghilang secara sepihak.
"Viona, masuk ke mobil sekarang," perintah Arkan dengan suara bariton yang bergetar rendah, mencoba meraih pergelangan tangan wanita itu.
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu, Tuan Mahendra!" pekik Viona dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, membuat Arkan terpaku di tempatnya. "Kau iblis! Kau menghancurkan bisnis ayahku hingga beliau bunuh diri, lalu kau berpura-pura menjadi penolong dengan kontrak gila ini?! Kau menjadikanku wanita simpananmu demi memuaskan obsesimu di atas penderitaan keluargaku!"
"Itu tidak seperti yang kau dengar, Viona. Aku terpaksa menandatangani berkas akuisisi itu sebelum aku mengetahui siapa dirimu!" Arkan mencoba membela diri, menurunkan egonya yang setinggi langit demi menahan Viona agar tidak melangkah pergi. Sifat dominan yang biasa ia tunjukkan runtuh seketika di depan lobi publik kantornya.
"Aku tidak peduli lagi dengan semua kebohonganmu!" Viona mundur beberapa langkah, menatap Arkan seolah pria itu adalah monster paling mengerikan dalam hidupnya. "Ratusan juta uang kontrak yang kau berikan sudah kukembalikan lewat gelang berlian sialan itu. Hubungan kita selesai. Detik ini juga, aku membatalkan kontrak sepihak dan mengundurkan diri dari perusahaanmu!"
Tanpa menunggu balasan dari Arkan yang masih mematung menahan badai penyesalan, Viona membalikkan badan dan berlari keluar menuju jalan raya, langsung menyetop taksi yang kebetulan lewat dan masuk ke dalamnya, meninggalkan sang CEO Utama Mahendra Group yang terpuruk menatap kepergiannya.
Taksi membawa Viona menjauh dari pusat kota menuju ke rumah sakit pinggiran tempat ibunya dirawat. Di dalam kabin taksi yang sempit, Viona menangis sejadi-jadinya, meratapi penderitaan emosional atau angst yang seolah tidak pernah ada habisnya membelenggu hidupnya.
Sesampainya di rumah sakit, Viona segera menuju ruang rawat ibunya. Namun, begitu ia membuka pintu kamar, ia disuguhi pemandangan yang tak kalah mengejutkan. Ibunya sedang duduk di atas ranjang dengan wajah yang berlinang air mata, sementara di tangan ringkihnya tergenggam sebuah amplop cokelat besar yang sudah terbuka.
"Ibu... ada apa?" tanya Viona cemas, bergegas mendekat dan memeluk tubuh ibunya.
Sang ibu menatap Viona dengan tatapan penuh kepedihan dan kekecewaan. "Viona... katakan pada Ibu, dari mana semua uang ratusan juta untuk biaya pengobatan mewah Ibu selama ini berasal?"
Jantung Viona serasa berhenti berdetak. "Ibu, aku bekerja keras di kantor—"
"Jangan bohong lagi, Vio!" potong sang ibu dengan suara gemetar, menyodorkan isi amplop tersebut ke depan wajah Viona.
Saat Viona melihat isinya, matanya terbelalak sempurna. Di dalamnya terdapat salinan dokumen kontrak eksklusif hubungan rahasianya dengan Arkan Mahendra, lengkap dengan foto-foto intim mereka di dalam penthouse. Dan yang paling mengerikan adalah sebuah surat perjanjian lain yang disembunyikan di lembar paling bawah.
Plot twistterbesar di bab ini akhirnya terkuak di depan mata Viona. Surat perjanjian di lembar terbawah itu ditandatangani oleh almarhum ayahnya sendiri, tiga hari sebelum sang ayah melakukan tindakan bunuh diri.
Ayah Viona ternyata telah menyerahkan Viona kepada keluarga Mahendra melalui sebuah kesepakatan jaminan utang jangka panjang untuk menyelamatkan sisa aset tanah keluarga, jauh sebelum Viona bertemu Arkan secara "tidak sengaja" di malam keputusasaannya. Pertemuan mereka di awal bukan sebuah kebetulan atau tawaran gila yang mendadak, melainkan sebuah skenario terencana yang sudah dirancang oleh Arkan sejak awal untuk menagih "jaminan hidup" yang telah diserahkan oleh sang ayah. Arkan sengaja membiarkan bisnis ayahnya hancur total agar Viona tidak punya pilihan lain selain datang bertekuk lutut ke pelukannya.
"Ayahmu... menjadikanku jaminan? Dan Arkan... merencanakan semua pertemuan kita sejak awal?" lirih Viona dengan suara yang nyaris habis. Dunia tempatnya berpijak seolah benar-benar runtuh berkeping-keping. Pengkhianatan ini terlalu utuh dan terlalu kejam untuk ia tanggung sendirian.
"Pergilah, Vio... Ibu tidak sudi dibiayai dengan cara seperti ini," tangis sang ibu dengan pilu, memalingkan wajahnya dari putri semata wayangnya.
Merasakan penolakan dari ibunya sendiri dan kenyataan bahwa hidupnya diatur bagai bidak catur oleh Arkan membuat Viona kehilangan arah. Ia melangkah mundur keluar dari kamar rawat dengan pandangan kosong. Rasa mual mendadak menyerang ulu hatinya dengan hebat. Viona berlari menuju toilet rumah sakit dan memuntahkan seluruh cairan di lambungnya hingga lemas.
Di dalam bilik toilet yang sepi, Viona bersandar pada dinding keramik yang dingin. Tangannya yang bergetar hebat meraba ke dalam tas kerjanya, mengambil sebuah benda kecil yang sempat ia beli di apotek kemarin malam karena siklus bulanannya yang terlambat dua minggu. Sebuah alat tes kehamilan instan.
Dengan air mata yang terus mengalir, Viona menggunakan alat tersebut dan menunggu beberapa menit dalam kecemasan konstan yang mematikan. Begitu ia melihat hasilnya, jantung Viona serasa dicabut paksa dari dadanya.
Dua garis merah yang tegas tertera di sana.
Viona hamil anak Arkan Mahendra. Ia mengandung darah daging dari pria posesif yang telah menghancurkan keluarganya, pria yang baru saja ia tinggalkan dengan penuh caci maki di lobi kantor tadi.
"Kenapa... kenapa di saat seperti ini kau harus hadir di rahimku?" bisik Viona sambil mendekap erat perutnya yang masih rata, menangis dalam keputusasaan yang teramat dalam.
Viona tahu, jika Arkan sampai tahu tentang kehamilannya, pria dominan itu tidak akan pernah membiarkannya pergi dan akan mengurungnya di dalam sangkar emas selamanya dengan dalih anak mereka. Mengingat rahasia besar tentang kehancuran ayahnya dan skenario palsu pertemuan mereka, Viona memantapkan hatinya.
Ia tidak akan membiarkan anaknya dibesarkan oleh iblis kejam seperti Arkan Mahendra. Viona menghapus air matanya dengan kasar, meremas alat tes kehamilan itu dan membuangnya ke tempat sampah. Dengan tekad bulat yang tersisa, ia memutuskan untuk mengemasi pakaiannya sedikit, mengambil tabungan pribadinya yang tersisa, dan menghilang dari ibu kota malam ini juga tanpa meninggalkan jejak apa pun. Pelariannya yang sesungguhnya baru saja dimulai.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.