Kehidupan dua insan manusia yang berbeda latar belakang namun saling berkaitan secara tidak langsung.
Sahabat Pena...
Mungkin itulah yang membuat mereka terhubung hingga sekarang. Diawali dengan sebuah pertemanan melalui surat semenjak kecil namun tidak pernah sekalipun bertemu.
Hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah ikatan pekerjaan.
Akankah mereka saling mengenali satu sama lain???
Serta, apakah surat yang selama ini mereka tulis dan terima hanyalah sebuah mainan belaka atau adakah diantara mereka yang menuangkan perasaan di setiap baitnya.
Dan bagaimanakah akhir dari pencarian mereka satu sama lain???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SANG PURNAMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Ia semakin yakin jika wanita yang berada didepannya ini sudah menjadi pilihan yang tepat untuk anaknya. Dari pandangan yang ibu lihat, Sekertaris Ren pun tidak menolak sedikitpun apa yang dilakukan Jessica kepada dirinya.
🍂
🍂
🍂
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah selesai makan siang, Jessica di ajak ibunda Sekertaris Ren untuk tidur siang di kamar miliknya bersama ibu juga tentunya.
Jessica yang awalnya sempat menolak mau tidak mau menuruti permintaan ibunya Sekertaris Ren karena merasa tidak enak.
Jessica memasuki kamar itu dengan pelan dan takut karena baru pertama kali ini memasuki kamar seseorang yang bukan siapa-siapa dirinya.
"Ayo sayang masuklah, jangan malu kamu sudah Tante anggap sebagai anak sendiri" ajak Adinda ibunya Sekertaris Ren yang sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
Adinda tidak lupa juga menepuk samping tempat tidur yang sedang dia duduki pertanda menyuruh Jessica untuk duduk disampingnya.
Melangkah pelan menuju kearah yang disuruh dan mendudukkan tubuhnya disana, sungguh Jessica tidak berpengalaman dalam mengambil hati seorang ibu, padahal tanpa perlu bersusah payah Jessica memang sudah mendapatkan hati Adinda dengan segala apa yang ada pada dirinya.
Kepolosan, kebaikan hati, kesopanan serta kecantikan sebagai nilai tambah dalam dirinya membuat siapa saja akan dengan senang membuat Jessica menjadi seorang menantu di keluarga mereka tidak terkecuali Adinda.
"Sayang, boleh Tante bertanya sesuatu kepadamu??" Adinda ingin mengorek sedikit tentang Jessica tanpa sepengetahuan anaknya.
"Iya Tante silahkan" jawab Jessica sopan.
"Apa kamu sudah memiliki pasangan sayang" Adinda harus bisa membuat anaknya bersatu dengan perempuan yang sekarang berada disampingnya itu.
Jessica menggeleng "Belum Tante, Jessica belum mempunyainya" Jessica memberikan jawabannya seadanya namun jujur.
Tidak dapat dipungkiri lagi, Adinda sangat senang mendengarnya. "Benarkah sayang, kalau begitu bagaimana dengan anak Tante, dia juga sekarang belum mempunyai pasangan" Adinda langsung saja ke inti perbincangan mereka.
Lihatlah akibat yang di lakukan oleh Adinda membuat Jessica malu, wajahnya sampai merona seperti itu. Padahal hanya Adinda yang berucap seperti itu belum Sekertaris Ren yang menembaknya namun sudah membuat jantung Jessica berdegup kencang.
"Maksud Tante bagiamana ya, Jessica sedikit kurang paham" Jessica seperti orang bodoh sekarang.
Adinda menggenggam tangan Jessica seperti menyalurkan keyakinan kepada dirinya untuk wanita muda nan cantik disampingnya itu.
"Maksud Tante bagaimana jika kamu mencoba berhubungan dengan anak Tante, tidak ada salahnya kan di coba dahulu bukankah kalian juga sama-sama sendiri sekarang" Adinda menjelaskannya maksudnya lagi.
"Tapi Tante.."
"Tante mohon kamu mau ya, bantu Tante untuk membuat anak itu sadar jika hidup itu tidak bisa dilakukan sendiri terus, karena pada hakikatnya semua harus mempunyai pasangan untuk saling melengkapi" bujuk rayu Adinda keluarkan.
Jessica menggeleng. "Bukan masalah itu Tante, tapi kita tidak bisa memaksa Sekertaris Ren untuk menerima saya karena saya tidak ingin karena hal ini nantinya membuat kami dalam masalah"
"Tidak sayang, Ren pasti akan menerima kamu juga, tidak mungkin dia akan menolak seorang perempuan cantik seperti kamu ini" terang Adinda meyakinkan Jessica.
"Bahkan selama ini dia sudah menolak diriku lewat sikapnya yang sangat acuh itu, bahkan untuk melihat ke arah aku saja sangat sulit dan kami hanya bertemu jika menyangkut pekerjaan. Bagaimana bisa Sekertaris Ren mau menerima diriku ini, bahkan aku sendiri saja tidak percaya diri" Jessica kembali menelisik ingatan beberapa hari sejak pertemuan pertamanya dengan Sekertaris Ren yang sangat dingin itu.
"Tidak perlu di paksa Tante, jika memang kami berjodoh pasti akan bersatu suatu saat nanti, yang perlu kamu berdua lakukan sekarang hanyalah menjalani hari-hari seperti biasanya" Jessica tidak ingin memberikan harapan palsu kepada ibunya Sekertaris Ren yang sangat baik sekali kepadanya.
Sosok seorang ibu yang sangat ia nantikan kedatangannya dari dulu, dekapan hangat Adinda tadi dapat seketika membuat Jessica nyaman hingga melupakan kejadian yang sedang ia alami. Sungguh Jessica memang memerlukan seseorang yang dapat menjadi sandaran dirinya sekarang, begitu banyak waktu ia lalui hanya bersama Rose dan saling menguatkan satu sama lain.
Sekarang Jessica harus mengubah pemikiran itu dengan cara mereka berdua harus mencari pasangan hidup, seseorang yang dapat menemani mereka hingga tua dan menutup usia nanti.
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya Jessica dan Adinda memutuskan untuk tidur siang bersama dengan Adinda yang saat ini memeluk Jessica seperti anaknya sendiri tanpa ada kecanggungan didalamnya. Begitupun Jessica yang menerima dengan senang hati pelukan Adinda yang sangat hangat dan nyaman tersebut hingga tanpa sadar membuat dirinya terbuai ke alam mimpi.
Tanpa sepengetahuan Jessica dan Adinda, ternyata sedari tadi Sekertaris Ren ikut mendengarkan pembicaraan mereka berdua lewat pintu kamar yang tidak terkunci rapat. Mungkin karena kegugupan Jessica tadi hingga membuatnya lupa untuk menutup rapat pintu kamar tersebut.
Tidak Sekertaris Ren pungkiri juga tentang apa yang ada dalam dirinya, ada suatu perasaan aneh jika berada di dekat Jessica namun Sekertaris Ren tidak ingin menarik kesimpulan langsung dengan mengatakan jika dirinya menyukai perempuan itu.
Biarlah waktu yang menjawabnya dengan mereka yang hanya perlu mengikuti alurnya.
* * *
Di lain tempat dan kesempatan, sekarang Rose juga sedang berada diruang keluarga bersama David dan kedua orangtuanya yaitu Dimas dan Sinta. Setelah menghabiskan makan siang tadi mereka berempat menuju ruang keluarga hanya untuk sekedar bercengkrama.
Dimas yang awalnya juga dikagetkan oleh kehadiran seorang perempuan cantik dirumahnya ketika dirinya sedang pulang saat jam istirahat makan siang hingga sang istri memberikan penjelasan kepadanya yang mengatakan jika David anak merekalah yang membawa Rose kerumah mereka.
Sungguh sesuatu yang sangat tidak mungkin di lakukan oleh seorang David menurut Dimas yang selaku orangtuanya.
David hanya diam saja melihat interaksi kedua orangtuanya kepada Rose, dapat David lihat binar kebahagiaan terpancar di jelas dikedua pasang mata orangtuanya. Apakah ini yang selama ini ayah dan ibunya cari, seorang wanita yang akan menjadi menantu di keluarganya dan menemani ibunya di rumah sebagai ibu rumah tangga.
"Dia tidak akan mau melepas karirnya yang cemerlang itu hanya untuk menjadi ibu rumah tangga, aku berani bertaruh. Semua perempuan sama saja yang akan lebih memilih karir dari pada keluarganya sendiri"
David meyakini jika Rose juga akan sama seperti perempuan karir pada umumnya yang tidak akan mungkin mau melepas karirnya begitu mereka menikah nanti.
Menikah?? sungguh konyol. Bagaimana David bisa memikirkan suatu pernikahan apalagi dengan Rose seorang perempuan yang baru ia kenal beberapa hari yang lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dih si David langsung berpikiran buruk aja, belum juga nanyain Rose mau jadi ibu rumah tangga seutuhnya apa engga 😒😒😒
Tabok aja si David mah 🤐
tp itu siapa yg kirim surat nya?