NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Topeng Retak

Hasil pemeriksaan Gelang Akik Merah keluar satu minggu kemudian.

Dokter Xiao tidak menyampaikan kabar itu melalui telepon. Ia meminta Keira datang langsung ke ruang medis, lalu menaruh laporan tertutup di atas meja dengan wajah yang lebih berat daripada biasanya.

"Permukaan manik-maniknya mengandung residu senyawa logam berat," katanya.

Jessica yang duduk di kursi sebelah Keira langsung menegang.

"Logam berat?"

Dokter Xiao mengangguk pelan. "Jumlahnya tidak besar dalam satu kali kontak. Tapi jika dipakai setiap hari dan bersentuhan langsung dengan kulit, paparan jangka panjang bisa mengganggu sistem tubuh, terutama hormon."

Jessica menatap pergelangan tangannya sendiri.

Bekas merah tipis itu masih ada, seperti gelang hantu yang tidak ikut terlepas bersama manik-maniknya.

Keira merasakan amarah naik ke tenggorokan.

Ia sudah menduga. Ia sudah menyiapkan diri. Tetapi ketika kecurigaan berubah menjadi tulisan resmi di atas kertas, rasanya tetap seperti mendengar kaca pecah di dalam dada.

Dokter Xiao menyerahkan surat rujukan.

"Saya sarankan Nona Jessica melakukan pemeriksaan lengkap di spesialis kandungan. Lebih cepat lebih baik."

Jessica mencoba tertawa.

"Ini terdengar serius sekali."

Tidak ada yang membalas tawa itu.

Pagi berikutnya, Keira membawa Jessica ke sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Gedungnya tinggi, bersih, dan terlalu wangi. Semua orang berbicara pelan. Kursi tunggunya empuk. Di dinding, ada lukisan abstrak yang mungkin mahal, tetapi bagi Jessica hari itu hanya terlihat seperti noda warna yang berputar.

Dokter Megawati, spesialis yang menerima mereka, adalah perempuan paruh baya dengan suara tenang. Ia membaca hasil dari Dokter Xiao, memeriksa Jessica, lalu meminta serangkaian tes tambahan.

Menunggu hasil terasa lebih lama daripada perjalanan dari compound ke rumah sakit.

Jessica tidak banyak bicara. Ia duduk sambil memeluk tasnya, mata sesekali turun ke pergelangan tangan kiri.

Keira duduk di sampingnya.

"Kalau takut, bilang takut."

Jessica menggeleng cepat. "Aku tidak takut."

"Bohong."

"Aku cuma..." Jessica menarik napas. "Aku cuma tidak mengerti. Gelang itu cantik. Ci Serena memberikannya sambil bilang itu untuk keberuntungan. Bagaimana bisa benda secantik itu..."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Keira juga tidak.

Karena beberapa racun memang datang dalam bentuk yang cantik.

Ketika mereka kembali masuk ke ruang konsultasi, Dokter Megawati tidak langsung bicara. Ia menyusun beberapa lembar hasil, lalu menatap Jessica dengan ekspresi yang membuat tangan Jessica perlahan meremas ujung tas.

"Nona Jessica," kata dokter itu. "Saya akan bicara pelan-pelan. Ada tanda bahwa fungsi ovarium Anda mengalami penurunan yang signifikan. Beberapa indikator cadangan reproduksi juga sangat rendah untuk usia Anda."

Wajah Jessica menjadi kosong.

"Maksudnya... bisa sembuh, kan?"

Dokter Megawati diam sesaat.

"Kita masih perlu pemeriksaan lanjutan dan terapi secepat mungkin. Tapi jika paparan ini berlangsung lebih lama, risikonya sangat besar."

"Risiko apa?"

Keira sudah tahu sebelum dokter itu mengucapkannya.

Namun Jessica belum.

Dan itulah yang membuat detik berikutnya begitu kejam.

Dokter Megawati menurunkan suaranya.

"Kemungkinan besar... infertilitas permanen."

Tas Jessica jatuh ke lantai.

Tidak ada suara tangis pada awalnya. Hanya napas yang putus-putus, seperti tubuhnya lupa cara menerima udara.

Lalu Jessica mengangkat tangan kirinya dan menggosok pergelangan itu dengan kasar.

"Tidak," bisiknya. "Tidak mungkin."

Keira meraih tangannya.

"Jessica."

"Kenapa?" Jessica mulai menangis. Bahunya bergetar keras. "Kenapa Ci Serena melakukan ini? Aku tidak pernah menyakitinya. Aku bahkan..."

Ia menutup wajah dengan kedua tangan.

"Aku bahkan senang waktu dia memberiku hadiah itu."

Keira memeluknya.

Di ruang konsultasi yang bersih dan mahal itu, Jessica menangis seperti anak kecil yang baru menyadari bahwa hadiah ulang tahun bisa berisi pisau.

Keira menepuk punggungnya pelan, tetapi matanya dingin.

Serena Suwandi harus membayar.

Tidak hari ini.

Tetapi ia harus membayar.

Ketika mereka kembali ke compound menjelang sore, kabar itu entah bagaimana sudah sampai ke telinga Serena.

Keira baru membawa Jessica masuk ke Sayap Giok ketika Serena datang dengan langkah tergesa. Wajahnya pucat, matanya merah, dan rambutnya sedikit berantakan, seperti orang yang terlalu khawatir untuk bercermin.

"Ci Jessica!"

Jessica yang masih lemah mengangkat kepala.

Serena berhenti di depannya, menutup mulut dengan tangan.

"Ya Tuhan... aku baru dengar. Gelang itu... gelang itu benar-benar bermasalah?"

Jessica tidak menjawab. Air matanya kembali jatuh.

Serena langsung berlutut di depan sofa.

"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu. Aku beli itu di toko lama di Surabaya karena penjaganya bilang batu itu bagus untuk perlindungan. Aku pikir kamu akan suka. Aku tidak pernah... aku tidak pernah membayangkan..."

Suaranya pecah.

Ia bahkan meraih tangan Jessica, lalu gemetar seperti orang yang hampir pingsan karena rasa bersalah.

"Kalau kamu mau membenciku, tidak apa-apa. Aku pantas. Aku yang memberikannya padamu."

Jessica menangis lebih keras.

"Bukan salahmu," katanya lirih. "Kamu juga tidak tahu."

Keira berdiri di samping jendela, diam.

Serena mengangkat wajah.

Sekilas, mata mereka bertemu.

Air mata Serena sempurna. Napasnya gemetar sempurna. Rasa bersalahnya jatuh di tempat yang sempurna.

Terlalu sempurna.

Jika Keira belum melihat senyum di lorong itu, mungkin ia akan ragu.

Jika Andi belum menemukan nama Rossa Santoso, mungkin ia akan mempertanyakan dirinya sendiri.

Jika semalam ia belum membawa amplop cokelat itu ke Ruang Kerja Darren, mungkin ia akan sendirian menahan semua amarah ini.

Tetapi sekarang, ia tidak sendirian.

Malam sebelumnya, Darren membaca laporan Andi tanpa ekspresi.

Keira berdiri di depan mejanya, siap menerima teguran karena menyelidik diam-diam.

Namun Darren hanya bertanya, "Kenapa baru sekarang memberitahuku?"

"Karena aku perlu memastikan sebelum kamu membakar semuanya."

Pak Ji yang berdiri di samping pintu pura-pura tidak mendengar kalimat itu.

Darren menatap Keira lama, lalu meletakkan laporan di meja.

"Baik."

Keira terkejut. "Baik?"

"Kamu sudah mendapatkan arah. Sekarang biarkan aku mendapatkan jaringnya."

Saat itu, Keira tahu Darren tidak marah karena ia bergerak sendiri.

Ia hanya sedang menghitung siapa saja yang perlu ikut jatuh.

Di Sayap Giok sore ini, Serena masih menangis di depan Jessica.

Keira tidak membongkar topengnya.

Ia hanya menuangkan segelas air dan berkata dengan nada datar, "Ci Serena, berdirilah. Jessica perlu istirahat."

Serena mengangguk cepat, seperti orang yang malu pada kesalahannya sendiri.

"Iya. Maaf. Aku... aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

Jessica memegang tangan Serena sebentar.

"Aku tahu."

Keira memalingkan wajah.

Ada kalanya melindungi seseorang berarti membiarkannya percaya kebohongan sedikit lebih lama, sampai kebenaran bisa menghancurkan pembohongnya di tempat yang tepat.

Di Ruang Kerja Darren, malam itu, suasana jauh lebih dingin.

Pak Ji berdiri di depan meja, sementara Darren membaca laporan dari Rio.

"Komunikasi Serena dua minggu terakhir memakai aplikasi terenkripsi," kata Pak Ji. "Rio berhasil mengaitkan salah satu ID dengan perusahaan luar yang pernah menerima pembayaran dari jaringan Yuwono."

Darren mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Pak Ji mengenal kebiasaan itu. Darren tidak sedang ragu. Ia sedang memilih cara paling bersih untuk mematahkan leher lawan tanpa membuat darah mengenai lantai.

"Biarkan dia merasa aman," kata Darren.

Pak Ji menunduk. "Baik, Pak."

"Saatnya belum tiba."

Darren menutup laporan Serena dan membuka denah Villa Puncak.

Keesokan paginya, seluruh compound menerima kabar yang membuat banyak orang terkejut.

Darren Hendrawan mengadakan liburan keluarga akhir pekan itu.

Villa Puncak.

Semua orang yang berada dalam lingkar keluarga dan tamu dekat diminta ikut.

Mama Lian terdiam lama saat mendengar pengumuman itu. Jessica masih terlalu lemah untuk antusias, tetapi Keira membujuknya bahwa udara Puncak mungkin baik untuknya. Serena tampak tersentuh dan berkata ia senang bisa menemani Jessica. Rossa Santoso juga mendapat undangan melalui jalur yang sangat sopan.

Di aula kecil compound, Darren berdiri dengan wajah tenang.

Senyumnya ringan, hampir hangat.

Namun Pak Ji yang berdiri di belakangnya merasakan punggungnya dingin.

Ia terlalu mengenal Darren.

Jika pria itu tersenyum selembut ini, berarti perangkapnya sudah selesai dipasang.

Darren menatap semua orang.

"Akhir pekan ini, kita semua pergi ke Villa Puncak. Liburan keluarga."

Serena tersenyum lega.

Keira menunduk, menyembunyikan mata dinginnya.

Darren menambahkan dengan suara yang tetap lembut.

"Semua orang harus ikut. Tidak ada yang boleh absen."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!