NovelToon NovelToon
Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Raya Gadis Desa Terhina, Dinikahi CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.

Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.

Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.

Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan yang Menenangkan

Semburat jingga sinar matahari senja menyorot wajah Juan yang tengah mengemudikan sedan hitamnya. Cahaya keemasan itu perlahan meredup, berganti dengan langit kelabu yang mulai diselimuti awan mendung.

Juan mendengus pelan. Lagi-lagi ia harus pulang dalam kondisi terjebak kemacetan. Sudah hampir setengah jam mobil yang dikendarainya hanya melaju tersendat di antara padatnya jalanan kota.

Sorot mata tajamnya kembali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum jam telah menunjukkan pukul enam sore, tetapi ia masih belum berhasil keluar dari kemacetan. Seketika, Juan teringat pada seseorang yang sedang menunggunya di rumah.

Senyum tipis pun terukir di wajahnya saat mengingat Raya.

Sementara itu, Raya tengah asyik menonton film di dalam kamar. Untuk mengusir rasa bosan karena harus berada di rumah sendirian, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur sambil menikmati camilan yang berada di pangkuannya.

Dert. Dert.

"Bang Ju, tumben banget telpon." gumam Raya sambil melirik ke arah samping, tempat dimana ponselnya berada.

Raya : Assalamualaikum, bang ada apa telpon Raya?

Dengan nada yang begitu halus.

Juan : Aku pulang agak telat, kejebak macet kamu gapapa dirumah sendirian?

Semburat merah kembali menghiasi wajah imut Raya, senyum kembali melengkung dan lesung pipi disudut bibirnya sangat terlihat, membuat wajah Raya terlihat semakin manis.

Raya : Gak papa bang, Raya tunggu dirumah ya. Tadi mbok Uti pamit pulang cepet karena suaminya lagi sakit.

Juan : Mau beli makan apa? dari tadi siang belum makan kan?

disebrang telpon memang suara Juan terdengar dingin dan cuek. Tapi perhatian kecil yang ia tunjukkan mampu membuat relung hati Raya hangat.

Raya : Gak usah bang, tadi Raya udah masak buat makan malam sama bang Ju.

Telpon ditutup, Raya menutup ponselnya tangannya kanannya mengusap dada pelan. Degupan kencang itu masih sangat terasa, pipinya terasa panas.

"Apa ini yang namanya sudah terbawa perasaan?"

"Apa aku memang sudah jatuh hati dengan bang Ju?"

"Jikalau itu memang benar? apa ini tidak terlalu cepat bagi aku yang baru mengenal bang Juan, seorang pria yang tidak disangka-sangka sudah menjadi suamiku."

Brakk...

Angin kencang menghentak jendela kamar yang belum terkunci, hantaman itu sangat kencang sampai membuat Raya yang tengah menyandarkan tubuhnya terperanjat kaget.

"Angin kenceng banget...." Raya mulai melangkah, matanya membulat sempurna kala melihat pohon-pohon besar disamping rumah bergoyang terhempas angin kencang.

Duar....

Suara petir mulai bersahutan, disusul kilatan cahaya yang menyambar terang di langit. Sesaat, langit tampak seolah terbelah oleh kilatan petir yang muncul silih berganti.

Mata Raya terbelalak sempurna, kakinya yang sudah terasa lemas kian bergetar, bertahan untuk terus menjaga keseimbangan tubuhnya yang mulai limbung, bibirnya mulai pucat. Matanya masih menatap kilatan yang sangat menyilaukan mata pada langit yang berwarna hitam pekat.

Nafasnya seketika terasa berat, bayangan rasa trauma terus memenuhi isi pikirannya.

Bayangan dua puluh tahun yang lalu kembali mengisi otaknya.

"Ibu...anginnya besar sekali, Raya takut." anak kecil berusia lima tahun itu terkunci didalam rumah seorang diri.

Atap rumah mulai roboh, genteng-genteng mulai beterbangan. Raya yang terkunci didalam rumah semakin ketakutan, melihat pohon-pohon yang terhembus kencang sampai dahannya patah tepat menimpa atap rumahnya.

Dari sanalah Raya yang duduk seorang diri dalam rumah yang gelap dan terkunci. Diluar sana hujan besar, angin kencang dan petir saling bersahutan.

Tidak lama setelah badai itu selesai, banyak orang-orang yang mulai berdatangan kerumah Raya, datang dengan kabar duka yang semakin menambah rasa trauma untuk Raya.

"Raya bapak sudah gugur nak.."

Dari sana Raya tidak suka dengan awan gelap, hujan, angin kencang, petir karena semuanya sering mengingatkan dengan kenyataan pahit yang harus ia telan di usia yang masih sangat kecil.

"Bapak...." teriak Raya, tubuhnya ambruk. Nafasnya tersengal, jantungnya berdebar kencang, tangannya yang bergetar ia pakai untuk menutupi telinganya.

Telinganya, berdenging kencang, tubuhnya mulai bergetar, nafasnya mulai terasa sesak.

Penyakit itu kembali Raya rasakan.

"Bang Ju..." Lirih Raya, "Raya takut...."

Tubuhnya sudah lemas, jantungnya berdebar kencang, debaran itu terasa akan menghentikan fungsi jantungnya dalam sekejap. Saking kencangnya.

Juan mulai memasuki pintu rumah dalam kondisi rumah yang sangat gelap, tidak biasanya. Juan melayangkan pandangan pada setiap sudut rumah, ia tidak menemukan Raya yang sering menyambutnya sepulang kerja, membukakan pintu sambil tersenyum hangat, kemeja yang masih melekat pada tubuhnya terlihat basah terkena rintikan air hujan.

"Ray..."

Panggil Juan, langkahnya cepat mulai menaiki anak tangga satu persatu.

"Ray..Raya!" tidak ada jawaban, otak Juan langsung menduga akan hal buruk yang sedang terjadi. Ia berlari menelusuri lorong kamar, menuju sudut kamar paling belakang. Kamarnya bersama Raya.

Cepat ia menekan hendel pintu. Pandangannya langsung disuguhi oleh kondisi Raya yang sangat memilukan.

Raya dengan rambut yang acak-acakan, bersandar pada sudut kamar, tangannya menekan dadanya yang sesak, bibirnya pucat.

Dengan sigap Juan menyalakan lampu kamar, dan langsung berlari ke arah Raya yang masih mengalami serangan panik.

"Ray..." tangan Juan memegang telapak tangan Raya yang terasa dingin dan bergetar.

"Kenapa Ray" sorot mata tajam itu memandangi wajah istri yang semakin memucat serta nafasnya terlihat sangat sesak.

Raya tidak bisa menjawab, penglihatan matanya kabur, tidak bisa fokus akan suatu hal, tubuhnya bergetar hebat. Pandangan matanya terlihat seperti tidak nyata.

"Ray...ini Abang..." Juan mencoba untuk mengalih fokuskan Raya dari serangan paniknya, ia genggam erat jemari Raya.

Kemudian Juan mendekap erat tubuh mungil istrinya, mengisyaratkan jika Raya akan baik-baik saja dalam pelukannya.

"Abang...." lirih Raya, suaranya terdengar bergetar.

"Ini Abang Ray, kamu aman sekarang." Juan disamping telinga Raya, tubuh kekarnya makin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Raya.

"Abang, jantung Raya rasanya seperti mau copot."

Tanpa berfikir lama, Juan mengangkat tubuh kecil istrinya yang terasa sangat ringan dalam pangkuannya. Langkah lebar, dan tubuh tegapnya mulai berjalan cepat, menembus rumah dalam keadaan yang gelap.

Dalam pangkuan Juan, Raya mulai sedikit merasa tenang, tapi ia merasa tubuhnya semakin lemah, degupan jantungnya masih sangat terasa cepat.

Raya memejamkan matanya, berusaha untuk mengatur nafas, menghirup aroma alami tubuh Juan, ditambah parfume Juan yang membuat tubuhnya sedikit rileks.

Bersambung.

Jangan lupa like ya readers...

1
Datu Zahra
drama, bertele². Disaat emosi itu justru butuh penjelasan, bukan diem. Apa lagi cewek, fakta 80% semua butuh saat itu juga dijelasin. basi narasi begini mah
roses: itu ide, kalau kritik pada tokoh bisa saya terima dengan baik. tapi itu adalah narasi saya.
total 4 replies
Datu Zahra
ibu sama abang matre malah dikasih mahar gede, jadi benalu terus lah.
Datu Zahra
orangtua begitu kok dibelain, tinggal merantau, putus hubungan. Bukan salah anak jadi durhaka kalo modelan ortu macam ini mah
Rian Moontero
mampiir👍
roses: makasih kak
total 1 replies
ceuceu
Lah kok raya ga pake hijab keluar rumah di bab ini?
di bawa awal" raya pakai hijab sehari".
jadi raya ini berhijab ga thor?
roses: insyaAllah sebentar lagi Istiqomah, jadi istri shalehahnya CEO
total 3 replies
ceuceu
tumben bu maimun inget raya,biasanya raya ga makan aj ga peduli
roses: bu Maimun udah mulai sadar sepertinya kak, mulai gak terima jika anaknya disakiti oleh orang lain
total 1 replies
Lisa
Wah Bu Shinta mengira udh terjadi sesuatu dgn mereka berdua 😊
Lisa
Bagus banget Raya kejarlah impianmu di kota..puji Tuhan Raya bertemu dgn Pak Bram & Bu Shinta.
Lisa
Tinggalin aj Ibu kamu Raya..toh di g menghargai kamu..udh pindah aj dr desa itu dan kerja di kota.
Lisa
Aku mampir Kak
falea sezi
bloon pergi dr situ ngapain mau maunya hasil. krja diambil semua
roses: kak makasih ya, kamu rajin banget baca semua karya author
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!