Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumbu yang Membara
Langkah kaki Kayla menghentak kasar di atas lantai porselen koridor rumah sakit. Dadanya naik turun, bergemuruh oleh rasa kesal yang luar biasa setelah kalah telak dari taktik Hesti di dalam ruangan tadi. Tepat saat ia berbelok di dekat ruang tunggu yang sepi, ponsel di dalam saku seragamnya mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama Gavin.
Tanpa membuang waktu, Kayla yang emosinya sudah berada di ubun-ubun langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan kasar.
"Halo, Princess? Gimana? Nenek sihir itu keadaannya gimana sekarang? Pasti udah lemes banget dan bolak-balik ke WC, kan?" tanya suara di seberang telepon. Gavin terdengar begitu bersemangat, seolah sedang menagih hasil dari sebuah permainan yang menyenangkan.
"Lo gila ya, Vin?!" semprot Kayla langsung dengan suara tertahan agar tidak memancing perhatian perawat yang lewat. "Obat apa sebenarnya yang lo kasih ke gue kemarin, hah?! Itu obat bahaya banget tahu gak! Hampir aja bokap gue kritis!"
Hening sejenak di seberang sana. Nada bicara Gavin langsung berubah heran. "Loh... kok bokap lo yang kena? Bukannya lo bilang obatnya mau lo kasih ke nyokap tiri lo?"
"Gak usah banyak tanya deh! Intinya rencana lo gagal total!" jawab Kayla ketus. Rasa kesal, bersalah pada sang ayah, dan frustrasi bercampur menjadi satu. Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Gavin, Kayla langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Tepat saat Kayla membalikkan badannya untuk berjalan menuju pintu keluar rumah sakit, langkahnya mendadak terhenti. Di depannya, sosok Arka berdiri dengan napas yang sedikit memburu. Rambut cowok itu agak berantakan, dan wajahnya dipenuhi raut kepanikan yang teramat sangat.
"Kay! Lo di sini?" tanya Arka langsung begitu matanya menangkap sosok Kayla. Ia melangkah cepat, mencengkeram kedua pundak Kayla dengan pandangan cemas. "Gimana keadaan papih lo? Apa kata dokter? Sakit apa sebenarnya?"
Kayla tertegun sejenak melihat kedatangan Arka yang begitu tiba-tiba. Ia melepaskan cengkeraman tangan Arka pelan, lalu menjawab dengan nada sedatar mungkin untuk menutupi kegugupannya. "Udah baikan. Lo... kok bisa tahu bokap gue masuk rumah sakit?"
Arka mengembuskan napas lega, menyugar rambutnya ke belakang. "Gue tadi pagi-pagi sengaja ke rumah lo, Kay. Rencananya mau ngajak lo nyari buku buat persiapan ujian semester minggu depan. Tapi pas sampe sana, Pak Tarno satpam rumah lo bilang kalau bokap lo dilarikan ke rumah sakit tadi subuh. Makanya gue langsung ngebut ke sini," jelas Arka panjang lebar. "Syukurlah kalau om Hendra udah membaik."
Arka melirik tas jinjing kosong di tangan Kayla. "Btw, lo mau kemana sekarang?"
"Pulanglah. Ngapain lagi gue lama-lama di dalam? Gak penting. Lagian di dalam udah ada istrinya Papih yang jaga," ucap Kayla ketus, memalingkan wajahnya.
Arka terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Bentar lah, Kay. Gue nengok dulu papih lo ke dalam. Gak enak kalau langsung pergi. Sekalian gue mau izin ke om Hendra buat bawa lo pergi nyari buku hari ini."
Mau tidak mau, Kayla akhirnya kembali memutar langkahnya, mengekor di belakang Arka untuk masuk kembali ke dalam ruang rawat inap. Begitu pintu didorong terbuka, pemandangan hangat langsung menyambut mereka. Pak Hendra sedang duduk bersandar di ranjang, sementara Hesti dengan penuh telaten sedang menyuapinya bubur khas rumah sakit.
"Om, Tante... maaf kalau Arka mengganggu," sapa Arka dengan sopan, berjalan mendekati sisi ranjang setelah mengetuk pintu. "Arka baru tahu dari Pak Tarno tadi pagi kalau Om dirawat di sini. Om kenapa bisa sampai masuk rumah sakit, Om?"
Hesti meletakkan mangkuk buburnya di atas nakas, lalu menatap Arka dengan senyuman ramah. "Eh, Arka... gapapa, masuk saja, Nak. Ini kemarin cuman ada salah makan sedikit, makanya perutnya mulas sampai lemas. Tapi sekarang alhamdulillah udah membaik kok setelah ditangani dokter," jawab Hesti dengan nada suara yang teramat tenang.
Di sudut ruangan, Kayla hanya terdiam membisu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan dahi berkerut dalam. Pikirannya mendadak diliputi kebingungan yang besar terhadap sikap ibu tirinya itu. Kenapa? Kenapa kali ini dia menutupi kesalahan gue lagi di depan Papih? Padahal dia tahu jelas kalau gue yang ngeracunin teh itu, batin Kayla heran.
Apa mungkin ini taktik busuk dia supaya gue luluh dan bersikap baik ke dia? Biar gue kelihatan berutang budi? pikir Kayla, matanya menyipit sinis. Cih, sampai kapan pun gue gak bakal pernah nerima kehadiran lo di rumah ini, nenek sihir! Lo tetap perusak kebahagiaan keluarga gue dan Papih!
Arka yang tidak menyadari pergolakan batin Kayla di belakangnya kembali bersuara untuk menyampaikan tujuannya. "Oh, iya, Om... Arka sekalian mau minta izin. Hari ini mau bawa Kayla sebentar buat nyari beberapa buku pelajaran dan latihan soal untuk ujian semester minggu depan."
Pak Hendra yang wajahnya sudah mulai segar langsung mengangguk setuju dengan senyuman lebar. "Oh, iya, silakan Arka. Bawa saja. Bagus kalau begitu, biar Kayla bisa fokus belajar dan nilainya gak turun."
Hesti ikut tersenyum, namun pandangan matanya sengaja dialihkan lurus menatap tajam ke arah manik mata Kayla. "Iya, Arka... Tante titip Kayla ya. Tolong dijaga baik-baik selama di luar. Takutnya... dia salah jalan lagi kalau gak ada yang mengawasi," ucap Hesti dengan nada bicara yang terdengar biasa, namun sarat akan sindiran sarkas yang menghunjam tepat ke ulu hati Kayla.
Kayla yang menyadari betul maksud tersembunyi dari ucapan Hesti langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya memerah menahan kekesalan karena disindir di depan ayahnya sendiri. Tanpa membuang waktu, Kayla langsung memutar tubuhnya menuju pintu keluar.
"Cepet, Arka! Udara di dalam sini mendadak sepet banget, gak enak!" seru Kayla ketus dari ambang pintu.
Arka agak terkejut dengan perubahan sikap Kayla, namun ia segera berpamitan dengan sopan kepada kedua orang tua itu. "Om, Tante... kalau begitu Arka pamit duluan ya. Permisi."
Setelah berpamitan, Arka dan Kayla berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit menuju area parkiran luar. Udara pagi yang hangat perlahan menerpa wajah mereka.
"Kay, lo ke sini bawa motor?" tanya Arka memecah keheningan saat mereka berdua sampai di dekat deretan kendaraan.
"Iya," jawab Kayla datar.
Meskipun nada suaranya terdengar ketus seperti biasa, jauh di dalam lubuk hati Kayla yang paling dalam, ada seulas rasa lega yang luar biasa yang merayap di dadanya. Rasa bersalahnya sedikit berkurang karena melihat Arka sudah mau mengajaknya mengobrol dan bersikap biasa lagi kepadanya—tidak dingin dan membisu seperti saat di perjalanan pulang sekolah kemarin.
Namun, bagi Arka yang berjalan di sampingnya, situasinya sama sekali tidak seindah itu. Hatinya masih terasa teramat sakit dan perih. Arka bisa merasakan perbedaan yang mencolok dari sikap gadis itu. Kayla masih saja bersikap ketus dan dingin kepadanya, seolah keberadaannya hanya dianggap sebagai beban. Tidak ada senyuman tulus atau tatapan hangat dari Kayla untuknya—sangat berbeda dengan senyuman lepas yang Kayla berikan kepada Gavin di taman sekolah kemarin siang. Rasa cemburu itu masih ada, mengendap rapat di dasar hati Arka.
"Yaudah, lo jalan duluan pakai motor lo. Gue bakal ikutin dari belakang ya," ucap Arka pelan, mencoba mengabaikan rasa perih di dadanya demi menjaga keselamatan gadis yang disukainya itu.
Mereka berdua pun meluncur membelah jalanan kota menuju toko buku terbesar di pusat kota. Di sana, mereka menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk memilih beberapa buku prediksi soal dan rangkuman materi ujian. Sepanjang waktu itu, suasana di antara mereka terasa cukup canggung, meski Arka tetap dengan sabar membantu Kayla mencari buku yang dibutuhkannya.
Satu jam berlalu, Kayla dan Arka akhirnya melangkah keluar dari pintu kaca toko buku tersebut. Kayla memeluk sebuah kantong plastik besar berisi buku-buku baru di dadanya.
Namun, tanpa mereka sadari, di seberang jalan yang cukup padat oleh arus lalu lintas, beberapa motor sport meraung pelan dan berhenti di tepi jalan. Itu adalah Gavin bersama dengan rombongan inti geng motornya.
Gavin yang sedang duduk di atas jok motornya mendadak menghentikan obrolannya dengan temannya saat pandangan matanya menangkap dua sosok yang sangat ia kenali baru saja keluar dari toko buku. Matanya menatap lurus ke arah kedekatan Kayla dan Arka yang sedang berjalan beriringan menuju area parkir.
Melihat pemandangan itu, rahang Gavin seketika mengencang keras. Rasa tidak suka yang teramat sangat langsung bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia merasa terkhianati setelah panggilan teleponnya dimatikan secara kasar tadi, dan sekarang ia justru melihat gadis yang didekatinya sedang berduaan dengan cowok lain yang paling ia benci. Kedua tangan Gavin yang terbungkus sarung tangan kulit hitam seketika mengepal kuat-kuat pada stang motornya hingga buku jarinya memutih, menahan letupan amarah yang siap meledak kapan saja.