Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31.pembantaian
*Ting!*
**[Sistem: Countdown Selesai! Gelombang Monster Pertama Dimulai!]**
*AWOOOOO! GRRRRR!*
Lebih dari lima puluh ekor *Tunnel-Crawlers* melesat maju bersamaan, mencakar aspal jalanan distrik industri hingga hancur berantakan. Bentuk mereka yang menyerupai reptil raksasa berkaki enam membuat laju mereka sangat stabil dan cepat, menyemburkan bau busuk belerang dari tanah.
"Ji! Mereka udah masuk radius tiga puluh meter!" Jinho berteriak dari atas menara pantau sambil menekan tombol aktivasi pada konsol nirkabelnya.
*BZZZZZT! TATATATATATATA!*
Dua menara senapan otomatis (**[Automatic Turret Scrap]**) yang baru dirakit Jinho di kiri dan kanan gerbang mendadak berputar dan memuntahkan badai peluru berkaliber rendah. Selongsong peluru kosong berdenting jatuh ke tanah halaman pabrik bagai hujan besi.
Barisan depan kawanan reptil itu langsung dihantam rentetan peluru tak ampun. Sisik-sisik keras mereka pecah, menyemburkan darah hijau pekat. Namun, karena efek *buff* gelombang, monster-monster di barisan belakang tanpa rasa takut langsung menginjak tubuh temannya yang tumbang untuk menerjang maju.
"Sepuluh meter lagi menyentuh pagar setrum, Ji!" Jinho memperingatkan, wajahnya tegang menatap indikator daya reaktor yang mulai terkuras.
*BLAAAZZZXT!*
Kawanan pertama menghantam pagar kawat berduri yang dialiri listrik tegangan tinggi dari reaktor purba. Percikan listrik biru raksasa meledak, menahan laju belasan monster sekaligus dan membuat tubuh mereka kaku, terbakar dengan bau daging gosong yang menyengat.
**[Sistem: Efek 'Paralyzed' Massal Terpicu pada Barisan Depan!]**
"Saatnya panen," bisik gua.
Gua melompat turun dari beton pembatas tepat ke arah kerumunan monster yang sedang kejang di pagar kawat. Di tengah udara fajar yang pekat, gua mengayunkan **[Bone-Eater]** dalam putaran spiral yang sangat cepat menggunakan teknik modifikasi **[Ashen Dance - Tarian Abu]**.
*JLES! SLASH! CRASH!*
Bilah pedang tulang gua tidak hanya memotong daging mereka, tetapi juga memanfaatkan sisa energi listrik yang masih mengalir di tubuh monster-monster itu. Setiap kali *Bone-Eater* berbenturan dengan sisik keras reptil yang tersetrum, gua membelokkan jalur tebasan untuk memicu reaksi berantai yang menghancurkan zirah alami mereka.
*Ting! Ting! Ting!*
**[Efek Khusus [Acid Bite] Berhasil Diakumulasikan (Maksimal 3 Stack)!]**
**[Zirah alami Tunnel-Crawlers berkurang 15 poin! Status 'Rapuh' diterapkan!]**
"GRAAAA!" Sesosok *Tunnel-Crawler* berukuran lebih besar—kemungkinan pemimpin skuadron—berhasil melepaskan diri dari pagar dan mencoba menerkam dada gua dengan rahang gandanya yang mengerikan.
Gua tidak mundur satu milimeter pun. Gua menapakkan kaki kiri kuat-kali ke tanah, memiringkan tubuh bagian atas sebesar tiga puluh derajat, lalu mengeksekusi teknik **[Void Flash]** versi berat. Gua memegang hulu *Bone-Eater* dengan kedua tangan, lalu melakukan tusukan vertikal lurus tepat ke dalam mulut monster yang terbuka lebar itu.
*JLEEESSS!*
Pedang tulang gua menembus dari rongga mulut hingga menjebol bagian belakang tengkorak reptil raksasa itu.
*BOOM!*
Tubuh monster besar itu meledak menjadi partikel abu hitam, menyemburkan gelombang energi EXP yang langsung terserap ke dalam tubuh gua.
Gua menarik kembali pedangnya, berputar di tempat, dan kembali menerjang ke sisa tiga puluh ekor monster yang mulai berhasil merobek pagar kawat berduri. Di halaman pangkalan yang luas itu, sesosok cowok berkerudung hitam bergerak layaknya hantu kelana—meninggalkan jejak tebasan hijau neon dan ledakan abu hitam di setiap langkahnya.
Jinho dari atas menara pantau hanya bisa melongo, lupa untuk melakukan *reload* pada *turret*-nya yang sudah kehabisan peluru. Di matanya, ini bukan lagi pertahanan koloni yang menegangkan... ini hanyalah panggung pembantaian pribadi milik sang *Sword God*.