⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Javeno selesai dengan pemeriksaan email nya. Menutup laptop nya lalu melirik jam dinding.
"Lewat dari setengah jam yang aku janjikan. Seharusnya dia udah selesai sarapan dan kembali ke kamar," ucap Javeno berdiri.
Meninggalkan laptop di dalam kamar, menuju ruang makan langsung.
Kosong.
"Di mana Disty?" tanya Javeno kepada para pelayan itu.
"Nona ada di halaman belakang Tuan, bersama dengan Nona Aurel," jawab Amel sopan.
Javeno segera ke halaman belakang untuk memastikan.
Memang benar dua gadis itu sedang bersama, tapi kelihatannya obrolan mereka sudah selesai.
Javeno memasukkan kedua tangan di saku, tanpa menghampiri dia memanggil.
"Disty."
Disty maupun Aurel menoleh ke belakang, membuat Disty langsung berdiri dengan kegugupan yang terlihat jelas di mata Javeno.
"Jav...."
"Sarapan mu?" Javeno menyela, alisnya terangkat sebelah bersama wajahnya yang datar itu.
Aurel ikut berdiri. "Maaf, karena kedatangan aku buat Disty jadi melewatkan sarapan. Kamu jangan marah, aku yang salah."
"Kedatangan aku kesini mau ngasih tau kalau perjodohan udah batal Jav, aku nggak akan ganggu dan rusak kebahagiaan kamu sama Disty," ucap Aurel masih mampu memberikan senyum untuk Javeno.
Padahal jelas dirinya sudah di sakiti oleh pemuda itu kemarin malam.
Aurel menatap Disty. "Aku pulang, maaf ya udah ganggu kamu," ucapnya memeluk Disty sebentar.
"Hati-hati," ujar Disty.
Aurel mengangguk, melepas pelukan lalu mulai melangkah pergi dari halaman belakang ini. Melewati Javeno begitu saja tanpa menoleh.
Javeno menatap kepergian Aurel dengan wajah yang datar.
Disty mulai menghampiri Javeno.
"Andai aja semalam kata-kata kamu nggak nyakitin dia, perjodohan kamu sama dia pasti nggak akan batal gitu aja Jav. Kamu..."
"Bagus kalau perjodohan nya batal. Itu memang yang aku mau," ucap Javeno menatap Disty yang membuang napas kasar itu.
"Aku mengatakan apa sebelumnya?" tanya Javeno dingin.
"Aku juga bilang mau nungguin kamu kan? Kebetulan Aurel ada, jadi selagi nunggu kamu, aku ngobrol sama dia," ucap Disty sedikit cemberut.
Sebelum ia kembali gugup karena Javeno menatap tajam dirinya, Disty menunduk. "Maaf," katanya.
Selalu tunduk kepada Javeno.
Itu karena dia tidak bisa melawan.
Javeno diam tanpa bicara, masuk duluan ke dalam dan duduk di kursi lebih dulu. Disty duduk di sebelahnya.
Para pelayan mulai menyiapkan piring untuk majikan mereka, mulai melayani makanan mereka lalu menunggu di belakang mereka yang memulai sarapan.
Javeno menoleh saat Disty sama sekali tidak menyentuh makanannya.
"Makan!" ujar Javeno menekan.
"Kalau aku minta di suap sama kamu, kamu...."
"Tanganmu bermasalah? Ingin ku patahkan sekalian?" tanya Javeno sebelum Disty menyelesaikan kalimat permintaannya.
Disty tersenyum masam dan mulai memakan sarapannya tanpa melihat Javeno lagi. Begitu juga Javeno yang melanjutkan sarapannya.
Javeno selesai duluan dan langsung meninggalkan meja makan begitu saja tanpa menunggu Disty.
"Ya begitulah Javeno. Kalau lagi baik hati dia bakal lembut dan perhatian, kalau enggak ya bakal acuh kayak sekarang ini. Setahun bareng dia pun aku masih belum bisa paham sama semua sikap dan perlakuannya. Yang aku tau, aku cuma harus mengatakan iya kalau dia bicara, enggak ada selain itu," batin Disty menggerutu sambil minum.
Disty selesai tanpa menghabiskan sarapannya, ia berdiri meninggalkan meja makan dan kembali ke kamar seperti biasanya.
Disty duduk bersandar di ranjang. "Andai dulu Ayah nggak jahat, mungkin aku nggak akan berakhir kayak sekarang ini. Mungkin aku bakal jalanin hari-hari aku dengan normal kan?" pikirnya.
Helaan napas Disty membuat Javeno melirik kepada gadis itu.
"Udahlah, semua udah terlanjur. Mau di balik juga nggak akan bisa. Bersyukur aja Javeno masih nampung aku, walau pun di balik itu ada alasan yang menguntungkan Javeno," batin Disty kembali membuang napas.
"Kamu bosan?" tanya Javeno yang membuat Disty menoleh.
"Sedikit," jawab Disty tersenyum.
Javeno kembali fokus dengan laptop, membuat Disty mendengus. Karena ia berpikir kalau Javeno akan membawanya jalan-jalan keluar atau apa gitu, tapi ternyata hanya sekedar bertanya.
"Intinya jangan berharap lebih kalau sama Javen. Udah gitu aja," ucap Disty mengambil ponsel milik Javeno dan membuka aplikasi hitam. TikTok.
Disty tidak memiliki ponsel? Jawabannya ya tidak, Javeno melarangnya. Adapun satu ponsel untuknya, itu juga tidak bisa di gunakan apa-apa selain berhubungan dengan Javeno.
~•~
"Anggun," panggil Gaveno menghampiri gadisnya yang sedang menonton televisi.
"Ya," sahut Anggun menoleh.
Gaveno mengelus kepala Anggun dan mengecup bibirnya sebentar.
"Ingin bertemu dengan Disty?" tanya Gaveno.
Mata Anggun langsung berbinar. "Mau mau," katanya dengan anggukan yang sangat antusias.
Tapi semenit kemudian wajahnya tampak lesu.
"Kenapa?" Gaveno menyadari perubahan itu.
"Tuan Javen kan nggak kasih izin aku buat datang kesana lagi sejak hari itu. Terus gimana aku bisa ketemu sama Nona Disty?" tanya Anggun sedih.
Gaveno tersenyum dan kembali mencium bibir Anggun dengan gemas. Melumatnya juga sebentar sebelum melepaskan.
"Javen sendiri yang suruh aku bawa kamu kesana untuk teman Disty yang lagi kebosenan sekarang ini," ucap Gaveno.
Tatapan Anggun kembali berubah berbinar. "Kamu beneran?" tanyanya memastikan.
Gaveno mengangguk, lalu memperlihatkan sebuah pesan dari Javeno melalui email, memintanya datang membawa Anggun karena Disty bosan di rumah.
Anggun segera berdiri. "Ayo ayo, sebelum Tuan Javen berubah pikiran kalau kita lama," ajaknya heboh.
Gaveno terkekeh lalu merentangkan kedua tangannya. "Peluk dulu," pintanya.
Anggun masuk ke dalam pelukan Gaveno, memberi kecupan di bibir juga sebentar.
Gaveno mengacak gemas rambut Anggun lalu membawa gadisnya keluar dari rumah, menuju rumah sang kembaran.
"Nanti lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan bersama Disty, tapi harus hati-hati hm, harus tanya dulu pada Disty, apakah gadis itu suka atau enggak. Jadi kamu nggak akan melakukan kesalahan seperti sebelumnya," ucap Gaveno lembut memberitahu sang gadis.
Anggun mengangguk setuju. "Iya, aku juga nggak mau kena marah lagi sama Tuan Javeno. Aku juga mau nya berteman sama Nona Disty tanpa ada kesalahan. Pokoknya nanti aku harus hati-hati tanpa ngelakuin kesalahan sedikit pun," ucapnya.
"Good." Gaveno mencium telapak tangan Anggun.
Dan di rumah itu. Disty juga sudah mulai bosan melihat ponsel, meletakkan ponsel kembali ke tempatnya lalu menatap Javeno yang fokus dengan laptop.
"Kamu ngapain sih?" tanya Disty akhirnya.
"Kerja," jawab Javeno tanpa melihat.
"Kamu bilang tadi cuma periksa email yang belum sempat di periksa. Kamu juga bilang setengah jam doang, tapi bukannya tadi lebih dari waktu yang kamu janjikan? Sekarang malah masih lanjut...."
Disty membungkam mulutnya saat Javeno mulai menatap dirinya dengan tatapan itu.
"Aku cuma bosen," cicit Disty pelan.
"Keluar dari kamar dan jangan menggangguku dengan suara mu itu," usir Javeno dingin.
Disty tidak berani menghela napas sebagai respon, jadi ia hanya bisa menurut. Keluar dari kamar.
Berjalan kearah ruang tamu dan duduk di sana.
"Gue beneran bosen," keluhnya menutup wajah dengan buku majalah yang ada di atas meja.
"Nonaaa."
Disty menyingkirkan buku majalahnya, menatap pada Anggun yang baru saja memanggil dengan antusias. Datang bersama Gaveno.
"Javen memintaku datang membawa Anggun untuk menjadi teman mu yang sedang bosan," ucap Gaveno langsung memberitahu.
Kapan Javeno meminta Gaveno untuk datang membawa Anggun, pikir Disty heran.
"Nona ingin melakukan apa? Anggun siap menjadi teman," ucap Anggun antusias.
Disty tersenyum melihat keantusiasan Anggun ini. Padahal awal gadis itu bekerja di rumah ini, Disty sempat jengkel sedikit padanya. Siapa sangka kalau Anggun ternyata sangat ingin berteman dengannya.