“Sikapmu sekarang sama seperti wanita murahan.”
“Kau yang membuatku terlihat seperti itu, jadi jangan salahkan aku.”
•••
Giselle Uchiyama tak pernah tahu apa arti sebenarnya dari kebahagiaan sebelum ia bertemu dengan seorang pria yang anehnya dapat membuat Giselle bertingkah gila hanya untuk mendapat perhatian.
Namun…
Bagi Jio Pratama, Giselle hanyalah iblis berparas bidadari yang siap menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vienbluu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
•••
Hari ini Jio benar-benar jadi pusat perhatian oleh seluruh mahasiswa Universitas Neosentra.
Sepanjang jalan menuju kelas seluruh mata seolah tertuju padanya, pandangan mereka seakan sedang menelanjanginya. Mengikuti langkah Jio.
Orang-orang itu baru akan berhenti memandangnya saat Jio balik memelototi mereka dengan sinis. Jio sangat benci dijadikan pusat perhatian.
Semua ini gara-gara Giselle, Jio amat sangat tidak menyukai gadis itu.
Belum selesai kekesalan di dalam dirinya, pria itu masih harus dikejutkan karena mendapati gadis jelmaan iblis yang tengah berdiri di depan pintu kelasnya bersama seorang pria yang ternyata adalah Yoshi.
Jio mengepalkan kedua tangannya, berharap supaya tak lepas kendali kali ini.
"Hai sayang." Sapa Giselle melambai.
"Tumben sekali baru datang? Ah, aku ke sini ingin memberitahumu bahwa akhir pekan besok kita akan pergi berkencan.”
“Jangan lupa jemput aku.”
“Aku akan mengabarimu lagi nanti jangan sampai kau menolak teleponku lagi. Awas saja, ingat ucapanku kemarin, kan?"
Setelah ajakan paksa yang Giselle lontarkan, gadis itu berlalu pergi meninggalkan dua pria dengan ekspresi yang sangat berbeda tersebut.
Satu tampak kesal, satu lagi hanya menatap iba sang sahabat namun tak bisa menahan tawa mengejeknya itu.
Yoshi terkekeh, "Astaga aku masih tak habis pikir dengan apa yang kulihat kemarin, Giselle benar-benar berani bukan?"
"Sebelumnya tidak ada yang seberani dirinya. Sekali kau tolak, mereka tak akan berani lagi mendekat. Tapi dia… kau dapat lawan yang setara kali ini Ji..."
"Aku hanya perlu mengalahkannya."
"Sepertinya tidak akan semudah yang kau katakan, kau tahu sendiri dia sama kerasnya denganmu."
"Hah… sumpah demi apapun gadis gila itu membuatku jengkel. Selama dia masih memegang bukti akan rahasiaku, aku tak bisa tenang."
"Giselle sedang bermain bukan? Sebaiknya kau ikuti saja permainannya, saat dia lengah kau bisa menyerangnya. Hapus bukti-bukti itu. Permainan selesai."
"Kau benar..."
"Tapi… bagaimana bisa dia tiba-tiba menciummu begitu, di depan banyak orang pula. Apa sebelumnya kalian pernah melakukannya?"
"Kau gila? Yang benar saja, aku bahkan tak tahan sedetik bersamanya."
"Benarkah? Kelihatannya tidak begitu, kau dan Giselle akhir-akhir ini sering bersama jadi mungkin saja kalian–"
"Kau meragukanku?"
Yoshi mengedikkan bahu, "Tidak ada yang tahu."
Sedang Jio hanya memutar mata malas.
•••
Akhir pekan kali ini adalah hari yang sangat ditunggu oleh Giselle.
Bagaimana tidak, pria yang selalu menarik garis dan mendorongnya menjauh itu kini sudah dipastikan tak bisa menolak apapun yang dirinya inginkan.
Lihat saja pria itu mengiyakan saat Giselle mengiriminya pesan untuk menjemputnya tepat di depan pintu unit apartemennya.
^^^[Jemput aku di depan unit ku, lantai 6 nomor 300.]^^^
[Ya.]
Kamar bernuansa dominan putih itu kini terlihat berantakan, semua baju yang ada di dalam lemari sudah berpindah tempat berserakan di atas lantai serta ranjang.
"Astaga… aku harus pergi belanja, tidak ada baju yang bisa aku kenakan lagi. Ini semua sudah pernah aku pakai."
Tangan kanannya bergerak meraih ponsel di atas tumpukan baju yang berserakan tadi.
Mendial nomor telepon dua sahabatnya itu pada grup obrolan mereka.
Sementara tangan kirinya sibuk mencocokkan baju-baju yang masih belum sempat dicobanya sembari menunggu panggilan terhubung.
Ponselnya berdering, Karina dan Yesha sudah terhubung. Giselle segera mengaktifkan loud speaker dan meletakkan ponsel itu di meja riasnya.
"Lama sekali mengangkat panggilanku."
/“Ada apa?”/
"Hari ini aku akan pergi kencan dengan Jio."
/“Iya, lalu kenapa?”/
"Ya Tuhan ini Jio guys, Jio Pratama. Pria arogan yang berlagak menolakku!"
/“Iya Giselle, aku dan Yesha sudah tahu yang mana pria bernama Jio Pratama itu. Dia tampan, boleh juga. Yang aku tanyakan kenapa sampai meneleponku dan Yesha?”/
"Menurut kalian aku harus mengajaknya kemana?"
Netranya beralih memandang ke arah ranjang, "Kalau dia bawa motor aku tak bisa pakai rok, bukan? Aku harus pakai baju seperti apa?"
/“Giselle… kau sehat, kan?"/ Tanya Yesha kemudian, saat merasa perilaku tidak wajar sahabatnya itu.
/"Sudah tahu Giselle itu tidak waras masih saja bertanya."/
"Diam kau Karina!"
/"Daripada diam lebih baik aku matikan saja panggilannya. Dasar menyebalkan!"/
Suara tawa Yesha seketika terdengar.
/"Hah kalian ini selalu saja ribut.”/
/”Dan juga, kenapa kau jadi bingung begini, tidak biasanya padahal hanya perkara kencan saja… bukankah Giselle adalah pakarnya hal semacam itu?"/
/"Yesha wajar saja dia bingung, Jio itu berbeda dari pria lainnya. Dia bukan tipe pria yang hanya sekali mendapat kibasan rambut dari Giselle akan langsung luluh, Giselle bahkan sering mengeluh mendekati pria itu."/
"Karina, bagaimanapun aku akan menakhlukkannya tunggu saja sampai dia berlutut di hadapanku."
/"Tapi yang kulihat sebaliknya, justru kau yang terlihat takhluk padanya."/
"Cih… bagaimana bisa?"
/"Giselle, Giselle… pakai saja dress biru langit yang kita beli waktu hangout dua minggu lalu. Kemudian ajak Jio pergi ke tempat kita biasa pergi, selesai."/
"Ke tempat biasa kita pergi yang mana Karina, club? Jadi aku harus mengajaknya pergi ke club, begitu?"
/"Memang Jio mau kau ajak pergi ke sana?"/
"Yesha, kau lupa? Pertama kali aku bertemu dengannya pun juga di sebuah club."
/"Oh iya juga, tapi yakin Jio setuju dengan ajakanmu? Jangan-jangan dia hanya mengiyakan saja realitanya tidak datang."/
"Jelas dia setuju, lebih tepatnya tak bisa menolak."
Giselle mengambil gantungan baju dari dalam lemari lalu meletakkannya pada sandaran kursi meja riasnya.
/"Tak bisa menolak bagaimana?"/ Tanya Karina menyahuti.
"Itu rahasia, kalian tak perlu tahu. Yang jelas sebentar lagi pria itu akan mengemis memohon padaku, sama seperti pria lainnya."
/"Ya terserah apa katamu saja, lebih baik kau berhati-hati saat bermain dengan perasaan. Saat kau sudah bermain hati kau hanya punya dua pilihan. Menyerahkan hatimu sepenuhnya untuk disakiti, atau memenangkan hatinya untuk kau kuasai."/ Tutur Karina.
"Bukankah selama ini aku selalu memilih opsi kedua? Aku selalu menguasai mereka..."
/"Itu sebabnya berhati-hatilah sekarang jangan sampai kau terjebak dalam permainanmu sendiri. Aku tahu kau melakukan ini untuk memberi pelajaran bagi pria-pria brengsek itu, dan aku tak melihat sisi itu dari Jio."/
"Semua pria itu brengsek Karina, kalaupun ada yang baik mereka belum sadar saja jika dirinya brengsek."
Terdengar suara dengusan keras Karina yang diiringi tawa Yesha, Giselle juga sudah bosan mendengar ceramah Karina.
"Kau selalu menasehatiku begini-begitu seperti kau sudah benar saja."
/”Apa yang kukatakan itu benar setidaknya aku lebih waras darimu ya!"/
"Sudahlah aku sibuk, Yesha siapkan hadiahku. Aku hubungi lagi nanti, bye..."
Setelah menutup panggilan itu Giselle menanggalkan kaos oversize yang ia kenakan menyisakan sport bra juga hot pants yang melekat di tubuhnya.
Bertepatan dengan bunyi bel dari luar apartemen membuat Giselle segera berlari ke depan dan membuka pintu tanpa mengecek dulu siapa yang datang.
Jujur saja Giselle terpaku beberapa saat.
Pria dengan setelan jeans juga kaos hitam polos di hadapannya ini, "Jio..."
Pria itu mengalihkan pandangannya dari gadis gila dengan penampilan hampir telanjangnya itu pada jam di tangan kirinya dengan tidak sabaran.
"Cepatlah!"
Sadar dirinya belum bersiap, Giselle menarik lengan Jio masuk ke dalam apartemen.
Menyuruhnya duduk di ruang tamu.
"Lima menit."
"Astaga aku bahkan belum melakukan apa-apa! Lihat, kau mau kita pergi dengan aku yang hanya memakai ini?"
Tunjuk Giselle pada sport bra yang menutupi tubuh atasnya, "Aku tak masalah lagi pula tubuhku bagus."
"Ambil bajumu, lima menit. Ya atau tidak sama sekali."
"Ish… sialan, tunggu di situ jangan kemana-mana!"
Bergegas kembali ke kamarnya.
Segera memakai baju yang tadi disampirkannya pada sandaran kursi, mengambil ponsel lalu memasukkannya ke dalam tas serta menyambar sepasang high heels, terakhir mengenakan topi pada kepalanya.
"Sudah, ayo..."
Berjalan menuju lift sambil mengatur nafas akibat terburu-buru, Giselle bahkan masih sempat menyumpah serapahi pria di sampingnya ini.
"Jio Pratama… bisa tidak jika mengajak seorang gadis berkencan jangan buru-buru begini, kau tahu aku bahkan belum membereskan makeup ku.”
“Lihat, lipstikku berantakan ini gara-gara dirimu!"
Jio menoleh, memperhatikan Giselle yang tengah menunjuk lipstik yang katanya berantakan itu–pada bibirnya.
Mengalihkan pandangan, "Kau lama, lagipula kau manja sekali minta dijemput tepat di depan pintu unitmu segala."
"Kalau aku menyuruhmu menunggu di bawah kau pasti tak akan mau dan pergi begitu saja."
Jio hanya diam. Membuat Giselle kembali bicara.
"Kau tak tahu kisah para gadis yang butuh banyak waktu untuk berdandan?"
Memasuki lift, pria itu menekan tombol basement menuju parkiran sehingga lift tertutup.
"Kau tak tahu kisah para pria yang tidak sabaran?"
Giselle menyeringai menarik Jio mendekat, "Tidak sabaran seperti apa? Aku juga tidak sabaran akan hal-hal tertentu, misalnya–"
Giselle menangkup rahang Jio dengan sebelah tangan, netranya tak lepas dari dua belah bibir pria tersebut. Namun Jio justru mendorong jidat Giselle dengan satu telunjuknya.
"Jauh-jauh."
"Akh… jahat sekali."
Tepat setelahnya pintu lift terbuka. Keduanya berjalan menuju parkiran.
Giselle sempat bingung karena tak mendapati motor yang biasa Jio bawa ke kampus.
"Kau ke sini naik apa? Di mana motormu?"
Jio tak menjawab memilih melanjutkan langkahnya menuju sebuah mobil mewah yang ikut berjajar, terparkir rapi tersebut bersama mobil-mobil lainnya.
"Kau punya mobil?"
"Kenapa?"
"Kenapa tak pernah membawanya ke kampus? Mobilmu keren, sayang sekali kalau kau tak pernah membawanya untuk dipamerkan."
"Bukan milikku."
"Lalu milik siapa?"
"Apa itu penting?"
Giselle mengangguk, "Penting sekali, jika ini bukan milikmu lalu milik siapa? Jangan bilang ini mobil curian, misal kita sedang diperjalanan dan ada polisi yang menghadang lalu kita ditangkap bagaimana? Aku tidak mau jadi narapida–”
"Milik Ayahku. Jangan berlebihan, cepat masuk atau aku tinggal."
Giselle tersenyum.
‘Kenapa Jio terlihat lucu saat kesal begini?’
Giselle menggelengkan kepala berkali-kali.
•••Vienbluu (annavienbluu)