NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Yakuza

Tawanan Sang Yakuza

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.

Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.

Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.

Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.

Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.

Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.

Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.

Aiko dihadapkan pada pilihan.

bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 24

Aiko hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Setelah punggung Ren menghilang di balik pintu geser, ia segera bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap. Rasa pening di kepalanya berangsur-angsur hilang, digantikan oleh hela napas berat setiap kali ia teringat bagaimana Ren memperlakukannya akhir-akhir ini.

​Semua perhatian terselubung yang Ren berikan justru membuat beban di dada Aiko terasa semakin menghimpit.

​Dua puluh menit kemudian, Aiko sudah melangkah keluar dari gerbang kediaman Tachibana. Di dekat mobil yang terparkir, Daichi sudah berdiri menyandar dengan pakaian kasualnya. Begitu melihat Aiko berjalan kearahnya, pria itu langsung menegakkan tubuh dan tersenyum lebar.

​"Selamat pagi, Nyonya Muda! Sudah siap menghadapi dosen killer hari ini?" sapa Daichi dengan nada jenaka.

​Aiko tersenyum tipis, membuka pintu mobil sendiri sebelum Daichi sempat membukakannya. "Pagi, Daichi. Mari kita berangkat."

​Sepanjang perjalanan menuju Universitas, suasana di dalam mobil terasa cukup tenang. Aiko lebih banyak melempar pandangannya ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang mulai diguyur guguran daun-daun kering. Di sampingnya, Daichi menyetir dengan santai, sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang berputar di radio mobil. Ketenangan ini adalah hal yang sangat mewah bagi Aiko.

​Begitu mobil berhenti di area parkir kampus, Aiko turun bersama Daichi yang kini menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. Gaya berjalan Daichi yang supel dan santai benar-benar menipu semua orang. Tidak akan ada yang percaya kalau mahasiswa pindahan ini adalah tangan kanan seorang Kumicho yang paling ditakuti.

​"Aiko!"

​Sebuah teriakan melengking yang sangat familier langsung terdengar dari arah koridor fakultas. Hana Fujimoto berlari kecil mendekati mereka dengan wajah yang berseri-seri. Namun, langkah kaki Hana mendadak melambat saat sepasang matanya menangkap sosok Daichi yang berjalan di samping Aiko. Wajah gadis berambut pendek itu seketika merona merah, dan ia mendadak salah tingkah.

​"Hana," sapa Aiko menyadari perubahan sikap sahabatnya. "Ada apa?"

​"Ah, itu... tidak ada apa-apa," jawab Hana gugup, matanya sesekali melirik curi-curi pandang ke arah Daichi yang hanya membalasnya dengan senyuman ramah yang santai. Hana berdeham kecil, mencoba menguasai dirinya sebelum menyenggol lengan Aiko. "Aku cuma mau bilang kalau Seian-kun sudah menunggumu di perpustakaan. Dia bilang ada beberapa materi sosiologi makro yang harus diselesaikan hari ini sebelum kuis besok."

​"Benarkah? Kalau begitu aku akan langsung ke sana. Kau tidak ikut, Hana?" tanya Aiko.

​Hana menggeleng cepat, matanya kembali melirik Daichi. "Aku ada urusan sebentar ke mading jurusan. Kau duluan saja, nanti aku menyusul!"

​Aiko mengangguk mengerti, lalu melangkah menuju gedung perpustakaan yang terletak di ujung koridor. Daichi berniat mengikuti langkah Nyonya Mudanya, namun gerakannya langsung terhenti ketika sebuah tangan yang menahan tali ranselnya dari belakang.

​Daichi menoleh dan mendapati Hana sedang berdiri di hadapannya dengan wajah yang memerah.

​"Ada yang bisa saya bantu, Nona Hana?" tanya Daichi dengan nada jenaka yang ramah.

​Hana mengerucutkan bibirnya, lalu melipat kedua tangan di depan dada. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, memojokkan Daichi ke dinding koridor yang agak sepi, lalu berbisik dengan nada menyelidik.

​"Kau... menyukai Aiko, ya?"

​Uhuk!

​Daichi seketika tersedak ludahnya sendiri mendengarnya. Matanya yang biasa tenang melebar sempurna, menatap Hana.

Di dalam benaknya, Daichi menjerit panik. Menyukai Nyonya Muda?! Yang benar saja! Kalau Bos Ren sampai mendengar kegilaan ini, leherku bisa dipatahkan malam ini juga tanpa perlu menunggu fajar!

​"Nona Hana, tolong jangan bercanda seperti itu pagi-pagi," jawab Daichi dengan tawa canggung yang dipaksakan, tangannya mengusap tengkuknya yang mendadak terasa dingin. "Bisa gawat urusannya."

​"Lalu kenapa matamu selalu memperhatikannya?" Hana menyipitkan mata, tidak mau kalah. "Kau bahkan tidak pernah memperhatikan penjelasan dosen di depan kelas. Pandanganmu selalu lurus ke arah meja Aiko. Jujur saja padaku, Daichi."

​Daichi menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan ketenangannya dan mengeluarkan bakat bualannya. "Aiko itu... dia sudah seperti saudaraku sendiri, Nona. Walinya menitipkannya padaku agar dia tidak diganggu oleh pria-pria nakal di kampus ini. Tugas yang sangat berat, tahu."

​Hana menaikkan satu alisnya, tampak tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Daichi, namun rona merah di pipinya kembali muncul saat melihat senyuman Daichi yang terlihat manis. "Oh... jadi cuma jagain? Berarti kau tidak punya perasaan apa-apa padanya?"

​"Sama sekali tidak ada," jawab Daichi tegas, mengangkat kedua tangannya membentuk tanda silang. "Nyawaku jauh lebih berharga daripada memikirkan hal seperti itu." gumamnya pelan.

​Hana akhirnya tersenyum lebar, tanpa ragu, ia menepuk bahu Daichi dengan akrab. "Baguslah kalau begitu! Kalau kau sedang senggang dan tidak sibuk menjaga Aiko, kau bisa menjaga jalanku ke kantin siang nanti. Bagaimana?"

​Daichi tertegun selama satu detik melihat keberanian gadis di depannya ini, sebelum akhirnya ia terkekeh geli. "Tentu, dengan senang hati, Nona Hana."

​Sementara Hana berjalan menjauh dengan langkah riang menuju mading jurusan, Daichi mengembuskan napas panjang yang terasa lega. Pria itu menyeka keringat dingin yang sempat muncul di pelipisnya, lalu memutar tubuhnya untuk berjalan menuju perpustakaan.

​​Di dalam gedung perpustakaan yang tenang dan sejuk, suasana rileks kampus langsung lenyap dari kepala Daichi begitu matanya menangkap posisi Aiko. Di salah satu meja sudut yang dekat dengan jendela, Aiko sudah duduk di kursi, fokus mendengarkan penjelasan dari Nakamura Seian. Pria berkacamata itu duduk terlalu dekat, dengan tubuhnya yang condong ke arah Aiko sembari menunjuk beberapa baris kalimat di dalam buku yang berada di hadapan mereka.

​Daichi mengambil posisi duduk di meja seberang yang berjarak beberapa meter. Ia membuka sebuah buku acak untuk menutupi wajahnya, sementara sepasang matanya yang semula jenaka kini berubah menjadi penuh perhitungan. Jemarinya merayap ke dalam saku jaketnya, mengambil ponsel, lalu mengetik sebuah pesan singkat dengan cepat.

​[Laporan, Bos. Nyonya Muda sedang belajar di perpustakaan bersama Nakamura Seian sekarang. Pria itu duduk sangat dekat dan sepertinya sengaja memperlama penjelasannya. Langkah apa yang harus saya ambil?]

​Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ponsel Daichi bergetar di dalam genggamannya. Sebuah balasan pendek dari Ren masuk ke layarnya.

​[Jangan buat keributan di kampus. Awasi saja terus dari jauh.]

​Daichi menaikkan sebelah alisnya setelah membaca jawaban pesan itu. "Baiklah." gumamnya.

**

Sore hari, begitu jam matakuliah terakhir ditutup, Aiko melangkah keluar dari gedung fakultas bersama Hana. Di sepanjang koridor, Hana masih asyik mengobrol ceria tentang rencana mereka ke kantin besok, sementara Daichi tetap setia mengekor beberapa langkah di belakang mereka.

"Aiko, rangkuman dari Seian-kun tadi benar-benar membantu, kan? Berkat dia kita tidak perlu begadang semalaman." ucap Hana riang saat mereka mulai berjalan mendekati area gerbang kampus.

"Iya, Hana. Seian memang sangat baik," sahut Aiko tersenyum tipis.

Langkah kaki mereka mendadak terhenti begitu mencapai area luar gerbang universitas. Beberapa mahasiswi yang berjalan di depan mereka bahkan terlihat berbisik-bisik sembari melirik ke satu arah yang sama.

Aiko mengerutkan kening, mengedarkan pandangannya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Detik berikutnya, jantung Aiko seakan berhenti berdetak.

Sebuah mobil tampak terparkir tepat di depan gerbang depan, dan di samping pintu kemudi, sesosok pria bertubuh tinggi sedang berdiri bersandar dengan tenang. dengan sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah koridor, mengabaikan puluhan pasang mata mahasiswa yang menatapnya.

1
PrettyDuck
bagusss ❤️❤️
penulisannya rapi, enak dibaca, gak bertele-tele.
alurnya juga jelas dan bikin penasaran.
btw aku naksir sama ren. dia tipikal male lead yang aku suka wkwk
good job author 👌🫶
PrettyDuck
isss, ini mah ren emang niat ngepublish hubungan mereka gak sih. terlalu mencolok ommm /Facepalm/
PrettyDuck
potoin. biar ren cemburu wkwk
PrettyDuck
wkwk lu ngekorin aiko mulu soalnyaaa.
hana kan gak tau aiko itu nyonyah
PrettyDuck
naksir beneran dong diaa /Facepalm/
jodoin aja, niar besok2 bisa double date bareng aiko-ren
PrettyDuck
kok sok ikrib gini dia? kayaknya biasanya kayak kanebo deh 🥴
PrettyDuck
ngerasa bersalah pasti aiko 🥲
Lenny Utami
iya aku jga penasaran
Lenny Utami
wahhh bagus nih nasehatnya
Lenny Utami
skip skip skip serem tor... aku GK mau baca lebih yang ini..😭
SANG
Maaf, hadiahnya ditunda dulu. Poinku tidak cukup ya Thor/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/😄😄🤣🤣🤣
Lenny Utami
Halah nanti juga ujungnya klepek² itu..
SANG
Lanjut thor💪👍💪👍
Lenny Utami
otak ku tolong jangan ngeres
Lenny Utami
pertanyaan Aiko lucu..
SANG
Kenapa begitu, justru aku yang tidak senang...
SANG
Kamu tanya saya...
SANG
Iklan untukmu thor👍💪👍
Lenny Utami
abot Iki semangat Aiko
SANG
Apakah benar seperti itu, kabar dari mana itu datangnya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!