NovelToon NovelToon
Cinta Kembali Saat Rambut Memutih

Cinta Kembali Saat Rambut Memutih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy / Cinta Lansia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: husna_az

Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.

Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Tinggal tanyakan saja secara langsung pada Ainun di mana anak dan menantunya tinggal. Kalau perlu kamu datangi mereka. Kalau perlu keluar negeri karena aku pernah dengar Ainun cerita jika anak dan menantunya tinggal di luar negeri. Kamu harus meminta izin dari mereka untuk menikahi ibunya," ujar Laila.

"Iya, memang benar kata kamu, tapi kalau mereka menolakku bagaimana?"

"Memang itu sudah resiko kamu untuk mendapatkan Ainun. Kamu juga harus lebih giat lagi untuk meluluhkan anak dan menantunya. Bukannya selama ini kamu selalu pantang menyerah?"

"Memang hanya itu satu-satunya jalan agar aku bisa bersama dengan Ainun," sahut Malik dengan berusaha semangat. "Fajar sudah bangun belum?"

"Ngapain lagi kamu cari Fajar?" tanya Harun.

Dia memandang ke arah temannya itu. Tadi Malik sudah membuat kerusuhan hingga membuat dirinya terbangun. Sekarang harus membangunkan cucunya juga yang pasti sedang beristirahat karena ini hari Minggu, biasanya Fajar selalu bangun siang.

"Aku mau tanya nomornya Alif."

"Kenapa nggak kamu tanyain langsung pada anaknya saja? Bukannya dia sudah mendukungmu?"

"Masa pagi-pagi aku ke rumahnya, bisa-bisa nanti Ainun akan marah padaku."

"Ternyata kamu mengerti jika bertamu ke rumah orang pagi-pagi sekali itu tidak sopan, tapi kenapa kamu masih datang ke rumahku pagi-pagi sekali dan mengganggu?"

"Itu dua hal yang berbeda. Kita ini teman, sedangkan Ainun itu wanita yang ingin aku kejar, mana mungkin aku memberi kesan buruk padanya. Ya sudahlah, kalau kamu nggak mau bangunin Fajar, biar aku sendiri yang bangunin anak itu," ujar Malik.

Pria itu pun berjalan menuju kamar Fajar yang ada di lantai dua. Dia sudah terbiasa di rumah ini, jadi sangat hafal di mana letak kamar pemuda itu. Bahkan terkadang Malik juga menginap di sini kalau sudah benar-benar merasa kesepian dan membutuhkan teman. Harun dan Laila pun tidak keberatan.

Begitu sampai di depan kamar Fajar, Malik segera mengetuk pintu dengan keras agar si pemilik kamar segera bangun. Maklumlah, sekarang hari minggu pasti pemuda itu masih molor. Biasanya juga begitu, kalau dipaksa bangun pasti dia akan marah.

"Fajar, bangun! Opa mau tanya sesuatu," teriak Malik disertai ketukan pintu berulang kali.

Pintu kamar terbuka, tampak Fajar dengan muka bantalnya. Dia terlihat begitu kesal karena waktu istirahatnya terganggu. Ini hari Minggu, seharusnya Fajar bisa tidur sampai siang, kecuali jika ada janji dengan teman, barulah dia akan bangun pagi.

"Ada apa sih, Opa? Ini 'kan hari Minggu."

"Opa mau minta nomornya Alif."

"Opa bangunin aku cuma mau minta nomornya Alif? Kan bisa nanti."

"Iya, Opa maunya sekarang. Kalau kamu mau bantuin Opa jangan setengah-setengah. Ayo, cepat! Opa mau minta nomornya Alif. Nanti Opa kirim kamu uang, sekalian buat traktir Alif selama satu bulan. Bukannya kamu sudah janji sama dia mau mentraktirnya."

Seketika wajah Fajar berbinar saat mendengar Malik akan mentransfernya uang. Itu artinya dia tidak perlu mengeluarkan uang selama sebulan untuk mentraktir Alif karena sudah ada donatur. Biasanya Malik kalau sudah senang begini pasti tidak tanggung-tanggung dalam mengiriminya uang.

"Beneran, Opa? Tapi jangan cuma Alif doang yang dikasih, aku juga dong!"

"Tentu saja. Opa kasih dua kali lipat karena kali ini rencana kamu bagus."

"Oke, sebentar aku ambil ponsel dulu."

Fajar pun mengambil ponselnya. Malik ikut masuk begitu saja dan duduk di atas ranjang pemuda itu. Fajar segera mengirim nomor Alif ke nomor Malik. Pria tua itu tentu saja senang karena jalan untuk mendapatkan Ainun semakin terbuka lebar.

"Sudah Opa kirim uangnya, nanti kalau kurang kamu bilang saja sama Opa," ucap Malik yang kemudian pergi dari sana.

Fajar mengecek rekeningnya, seketika wajahnya berbinar saat melihat dalam rekeningnya ada uang masuk sebanyak lima puluh juta. Siapa yang tidak senang jika seperti ini. Lain kali dia harus lebih bisa memanfaatkan Malik. Meskipun dirinya cucu orang kaya, tapi tetap saja jika diberi uang tentu rasanya berbeda. Nanti kalau uangnya sudah dikumpulkan bisa membuka bisnis sendiri.

Baru saja Fajar tersenyum bahagia, tiba-tiba saja dia mendapat panggilan telepon dari Alif. Tidak biasanya anak itu menghubunginya? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Malik. Apa pria tua itu sudah menghubungi Alif dan membuat Alif marah padanya karena sembarangan memberikan nomor pada orang lain. Kenapa cepat sekali.

"Halo, ada apa?" tanya Fajar dengan kesal.

"Aku mau sarapan bubur ayam," jawab Alif yang berada di seberang.

Fajar pun mengerutkan dunia dan bertanya, "Kalau kamu mau sarapan bubur ayam, ya beli sana! Ngapain kamu telepon aku?"

"Kamu jangan pura-pura amnesia, ya! Kamu 'kan sudah janji mau traktir aku selama satu bulan."

"Iya, tapi ini hari Minggu."

"Dalam perjanjiannya tidak ada hari Minggu atau hari lainnya. Kamu harus traktir aku selama satu bulan titik, jadi sudah termasuk hari ini juga."

"Kamu sengaja mengerjai aku, ya! Ini tuh hari Minggu, waktunya aku bersantai di rumah. Kamu pesan sendiri saja, nanti aku kirim uangnya ke kamu," pungkas Fajar karena merasa malas untuk pergi.

Dia yakin Alif sebenarnya juga malas untuk pergi, hanya saja pemuda itu tahu waktu untuk memanfaatkannya, jadilah dirinya yang disuruh. Entah sebelumnya siapa yang menjadi korban dan seenaknya saja dia suruh.

"Aku tidak mau. Aku mau kamu yang ngirim. Sudah, jangan banyak alasan. Kamu masih mau aku mendekatkan opamu dengan omaku, nggak?"

Fajar menggertakkan giginya sambil mengepal dengan kuat. Alif benar-benar telah memanfaatkan dirinya. Kalau dia menolak, nanti Alif akan benar-benar melarang omanya bersama Malik. Nanti dirinya yang akan merasa bersalah. Malik juga asti akan sangat sedih, di sisi lain rekeningnya tidak akan bertambah lagi.

"Oke, kamu maunya bubur ayam, kan? Aku beliin sekarang."

"Bagus, jangan lupa sama teh hangat dan juga kue. Kue apa saja terserah lah, yang penting ada cemilan."

Fajar semakin kesal, ingin sekali meneriaki Alif agar tahu diri saat ini. Pemuda itu seenaknya saja memerintah dirinya padahal dia bukan pembantunya.

"Ada lagi?"

"Sudah itu saja. Nanti siang kalau aku mau sesuatu lagi, aku akan kirim pesan ke kamu."

"Siang nanti juga?" Tanpa sadar Fajar bertanya sambil berteriak.

"Iyalah! Omaku itu cantik, jadi dapatinnya itu susah. sudah ya jangan pakai lama."

Alif pun memutuskan sambungan teleponnya dan itu semakin membuat Fajar kesal. Padahal dia masih ingin menghabiskan hari liburnya dengan bersantai. Pemuda itu pun terpaksa pergi kamar mandi untuk cuci muka. Namun, baru dua langkah Fajar tiba-tiba berhenti. Dia teringat jika tadi Malik datang. Pemuda itu pun memiliki ide untuk membiarkan opanya itu saja yang pergi. Sekalian mengambil hati omanya Alif.

Fajar tersenyum dan segera berlari keluar menjadi keberadaan Malik. Dia yakin pria tua itu pasti dengan senang hati mau menuruti keinginan Alif, jadi dia tidak perlu pergi. Uangnya pun juga tidak perlu keluar. Sungguh menyenangkan sekali berbisnis dengan Malik.

"Opa, aku bisa minta tolong, nggak?" tanya Fajar begitu melihat keberadaan Malik yang sudah berada di ruang makan bersama dengan Harun dan Laila.

"Minta tolong apa?"

"Beliin bubur ayam."

"Kamu itu nggak sopan, ya, sudah Opa kasih uang tadi, masih saja memerintah Opa."

"Beneran nih, Opa nggak mau?"

"Nggak mau," sahut Malik dengan cuek.

"Ya sudah kalau begitu, padahal 'kan bubur ayamnya itu buat Alif dan dikirim ke rumahnya. Tadi dia minta traktir di hari pertama, tapi kalau Opa tidak mau ya nggak apa-apa, biar aku sendiri saja yang beli dan antar ke sana."

"Tunggu! Biar Opa saja yang beli," sahut Malik dengan cepat sebelum Fajar pergi lebih dulu. "Terima kasih, Harun, Laila. Aku tidak jadi sarapan di sini. Aku sarapan di rumah Ainun saja."

Malik pun segera berlari dan pergi dari sana. Meskipun cara larinya sudah tidak secepat dulu, tapi semangat yang dimilikinya masih begitu kuat.

1
Love You Z♥️
aku ngak puas bacanya,,, padahal novelnya baguuussss,,, ngak melulu percintaan anak muda remaja atau dewasa,,, tapi dicerita yang mengisahkan lansia lansia iniiii menunjukkan setia itu mahaaalll
Husna_az: terimakasih atas ulasannya kak🙏
total 1 replies
Love You Z♥️
uploadlaahhh 2 bab sehari thooooorrrr,,,
Love You Z♥️
semangat teruuussss othooooooorrrrrr,,,
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍
gaby
Seru thor, sangat jarang ada novel kisah cinta paruh baya, bahkan bila adapun biasanya mereka baru pny anak, bukan cucu yg dah remaja. Btw dr awal bab ga di sebutin brp usia mereka, biar kt bisa berhalu ria
gaby
Seru, kisah cinta pasangan paruh baya👍👍
gaby
Penyakit anak jaman skrg gitu, ga menghargai orangtua. Dulu ketika mereka msh anak2, kita para orang tua yg repot mwngasuhnya. Giliran anak2 dah dewasa & berumahtangga, kita jg yg harus jd babu ngurus cucu. Harusnya menikmati sisa usia dgn pikiran tenang, ini malah di bebani jg babu sitter. Kalo pasutri sama2 kerja, alangkah baiknya sewa pembantu buat ngasuh anak, tp tetep nenek atau kakeknya bantu pantau doang.
Love You Z♥️
sering sering up yaaa thooorrr
novelnya baguuuuss,,,, alur ceritanya juga bagussss,, aku suka😍
Husna_az: insyaallah diusahakan ya kak
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Nurgusnawati Nunung
semoga berhasil usaha kalian.. Fajar, Alif
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor..
Nurgusnawati Nunung
Alif . bisa juga ngerayu oma.
Nurgusnawati Nunung
Fajar anak yang baik. masih memikirkan opa Malik..
Nurgusnawati Nunung
Aduh.. opa Malik suka nge ghibah juga yaa. 🤣
Endang Sulistia
pret...manisnya mulutmu lif..
Endang Sulistia
lanjut thor...
Endang Sulistia
betul tuh lif..👍
Endang Sulistia
cocok Alif Ama fajar jadi saudara
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤣🤣🤣🤣
Nurgusnawati Nunung
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!