Ainun yang sudah berusia senja, harus mengurus Alif—cucunya—yang tingkat kenakalannya luar biasa. Beberapa kali dia dipanggil ke sekolah karena Alif membuat ulah. Meskipun begitu Ainun sangat menyayangi cucunya itu.
Hingga suatu hari datanglah murid baru dari kota yang ternyata cucu dari Malik, yang merupakan mantan kekasih Ainun. Perasaan tidak enak dan canggung pun membuat keduanya bingung harus bagaimana. Namun, tanpa disadari semua itu adalah awal dari cinta lama yang kembali hadir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Setelah melalui perundingan bersama dengan kepala sekolah, akhirnya Alex dihukum untuk membersihkan toilet di seluruh gedung sekolah. Hukuman berlangsung selama satu bulan dengan dibantu oleh teman-temannya yang ikut membantu saat memalak Rizki. Uang yang diambil oleh Alex pun sudah diganti oleh orang tua dari Alex dengan jumlah yang sama.
Meskipun sebelumnya ibu dari Alex sudah mengatakan ingin mengganti dua kali lipat. Namun, Rizki menolaknya. Pemuda itu hanya mengambil apa yang menjadi haknya saja. Menurutnya sesuatu yang bukan miliknya tidak seharusnya dia ambil, nanti akan berdampak pada rezeki lain yang dimilikinya.
"Oma bangga sama kamu. Tadinya Oma pikir kamu berantem lagi sama Fajar," ujar Ainun saat berjalan beriringan saat berjalan bersama dengan cucunya di koridor sekolah.
Di belakang Laila juga berjalan beriringan dengan Fajar. "Iya, tadi Oma pikir kalian berdua ini bertengkar. Tadi bahkan Oma sudah bersiap untuk memberi hukuman sama kamu, tapi tumben-tumbenan kalian bisa akur begini?"
"Oma yang aneh, kemarin minta kami untuk berdamai dan berteman. Sekarang giliran kami berteman jadi bilang tumben," sahut Fajar dengan memutar bola matanya malas.
"Aneh saja karena kalian ini sebelumnya selalu saja bertengkar, tapi tiba-tiba saja jadi bersatu membela teman. Apa pun itu, Oma senang jika kalian seperti ini."
"Tadi itu kebetulan saja aku membantu Alif. Lagi pula apa yang dia lakukan 'kan benar. Kalau dia melakukan kesalahan mana mungkin aku membantunya. Apalagi yang dibantu anak yang kurang mampu."
Alif yang mendengar apa yang dikatakan Fajar pun jadi kesal. "Selama ini aku tidak pernah membuat masalah tanpa alasan, ya! Aku bertengkar dengan kamu itu karena kamu sendiri yang selalu bermasalah."
"Bukan aku yang bermasalah, kamu sendiri memulai semuanya."
"Sudah, ini kenapa malah jadi berantem? Padahal tadi Oma sudah senang kalian bersatu membela teman yang benar dan menyerang yang salah, tapi kenapa sekarang malah bertengkar kembali," sela Laila dengan menatap kedua pemuda itu. "Sudahlah, kalian kembali ke kelas sana! Kami mau pergi."
"Oma Ainun dan Oma Laila tadi ke sini bareng?" tanya Alif.
"Enggak, kami tadi ketemu di parkiran. Sekarang mungkin akan pulang bareng. Kebetulan kita bertemu di sini jadi sekalian pergi bersama."
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba saja ada seorang pria tua yang berlari ke arah mereka. Napasnya sudah ngos-ngosan, tapi masih saja berlari. Sudah tahu usianya sudah tidak muda lagi, tapi berlari cepat. Sejak tadi pria itu mencoba untuk terus berlari meskipun merasa kesulitan.
"Malik! Kamu ngapain ke sini?" tanya Laila sambil memperhatikan penampilan Malik yang sedikit berantakan dan berkeringat.
"Aku dengar dari Harun kalau Fajar dan Alif sedang buat masalah karena itu aku datang ke sini, barangkali aku dibutuhkan. Apa mereka bertengkar?"
"Sudah selesai, mereka nggak bertengkar, kok, hanya ada sedikit masalah dengan temannya, kamu tidak perlu khawatir. Sebenarnya aku curiga yang kamu khawatirkan itu Fajar dan Alif atau yang lainnya."
"Yang lainnya siapa?"
"Tentu saja omanya Alif, siapa lagi? Kamu nggak mungkin khawatirin aku 'kan?"
"Mana mungkin aku khawatir sama kamu. Bisa-bisa Harun akan menghajarku."
"Jadi kamu mengkhawatirkan Omanya Alif?"
"Aku benar-benar mengkhawatirkan Alif dan Fajar, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Meskipun khawatir juga pada omanya Alif, tapi rasa khawatirku kepada Alif dan Fajar lebih besar karena saat ini mereka yang sedang kena masalah."
"Tuh, Ainun, dengerin. Dia itu nggak khawatir sama kamu, jadi kamu nggak usah kasih dia kesempatan karena dia itu bukan orang yang peduli sama kamu."
Malik melebarkan matanya ke arah Laila dan berseru, "Heh, Laila! Kamu jangan kompor, ya! Bukan itu maksudku. Kamu sengaja, ya!"
Malik menatap temannya itu dengan kesal. Laila sendiri terkekeh geli. Wanita itu memang sengaja menggoda temennya itu. Kapan lagi dia bisa mengerjai Malik. Selama dirinya dan sang suami sering dibuat kesal dengan segala tingkah lakunya, sekarang giliran dirinya.
"Sudah-sudah, kalian ini apa nggak malu sama cucu," sela Ainun yang kemudian menatap cucunya dan cucu sahabat. "Alif, Fajar, kalian masuk kelas sana! Ini belum waktunya pulang 'kan? Nanti Oma jemput."
"Siap, Oma," jawab keduanya serempak dan segera pergi menuju kelasnya.
Ainun pun melanjutkan langkahnya menuju parkiran diikuti Laila dan Malik.
ceritanya baguuuuss,,, aluuuurrrnnnyyaaa aku suka bangeeettttt,,,,, 😍😍😍😍