Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04 Kecurigaan Tabib
"Adipati Yan, apa yang dikatakan Maharani Agung kepadamu?" Dua dayang yang biasanya melayani Da Xie mendekat ketika melihat Adipati Yan keluar dari ruang kerja Maharani Agung.
"Ya, apakah ada sesuatu yang menarik?" Tanya dayang lainnya.
Adipati Yan memegangi kepalanya seolah pusing tujuh keliling. "Ah, dayang Ya, Dayang Ra. Aku benar-benar bingung. Hari ini Maharani Agung bersikap sangat aneh."
Kedua dayang saling bertatapan satu sama lain sebelum kemudian membanjiri Adipati Yan dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Memangnya apa yang beliau lakukan?" Tanya Dayang Ya.
"Ayo cepat beritahu kami!" Lanjut Dayang Ra.
Kedua Dayang menunggu jawaban Adipati Yan dengan bersemangat. Mereka berdua adalah salah satu dari sekian banyak dayang yang suka bergosip didaerah istana kekaisaran ini.
Adipati Yan terkekeh melihat antusias dua wanita itu. Ia akhirnya menjawab, "Maharani Agung memberikan saya titah yang sangat aneh. Beliau menyuruh saya untuk menurunkan harga ekspor batu bara ke kekaisaran tetangga."
"Hah? Kenapa beliau memberikan titah seperti itu?" ucap Dayang Ra kebingungan.
"Meskipun aku tidak tahu detail-nya, tapi aku tahu kalau kekaisaran Zhang kita ini adalah salah satu kekaisaran pemasok batu bara ke penjuru negeri. Kalau harga batu bara turun, maka otomatis bukankah ini akan membuat kita rugi?" Dayang Ya berpikir sejenak.
Batu bara itu adalah barang langka. Jadi tidak heran kalau kekaisaran Zhang mengeskpor dengan harga mahal, tapi kenapa tiba-tiba Maharani Agung ingin menurunkan harganya? Bukankah ini malah membuat kekaisaran rugi besar?
Tiba-tiba Dayang Ya kepikiran sesuatu. Ia ingat pembicaraan-nya dengan Maharani Agung beberapa waktu lalu.
"Kau benar, aku tinggal menjadi Maharani yang buruk lalu diturunkan dari takhta! Itu ide yang jenius!!"
Apa jangan-jangan ini adalah usaha Maharani Agung untuk turun dari takhta? Kalau begini gawat. Bila Maharani Agung turun takhta, maka tidak ada orang lain yang bisa menggantikan-nya karena Maharani Agung tidak punya adik ataupun kakak.
Tetapi Dayang Ya tetap berpikiran positif, mana mungkin Maharani Agung ingin turun takhta. Lagipula, siapa sih yang tidak mau menjadi pemimpin disebuah kerajaan?
'Benar, tidak mungkin Maharani Agung melakukan ini karena beliau ingin turun takhta. Mungkin Maharani Agung punya rencananya sendiri...'
...****************...
Keesokan harinya...
Da Xie masih harus tetap bekerja. Kantung matanya tambah hitam legam karena dirinya kurang istirahat. Pekerjaan kekaisaran benar-benar menumpuk sekali.
Da Xie mengambil pena bulunya dan mulai menulis disalah satu lembaran dokumen yang menumpuk. Sebenarnya pekerjaan menjadi Maharani Agung dan pegawai kantoran biasa tak banyak bedanya. Yang membedakan hanya bahasa dan apa yang dibahas dalam dokumen.
"Anggaran meningkat, krisis pangan, kebijakan moneter." Da Xie membaca setiap dokumen yang melaporkan kejadian baru kekaisaran dan harus segera ditangani.
"Ah! Sialan!! Tidak bisakah semua dokumen ini menjauh dariku!! Aku lelah..." Da Xie melemparkan dokumen-dokumen itu kesembarang tempat sehingga berceceran dilantai.
Mata Da Xie rasanya berat sekali. Tanpa sadar Da Xie membaringkan kepalanya diatas meja dan ia pun terpejam tidur.
...
"Huwaaa!! Bagaimana ini... Kalau Maharani Agung sampai kenapa-kenapa bagaimana? Tabib cepat tolong dia!"
"Tenang Dayang Ra. Saya juga sudah berusaha sebisa saya untuk menyembuhkan Maharani Agung."
"Hiks... Tapi kenapa Maharani Agung tidak bangun...?"
Suara ribut-ribut terdengar di sekeliling Da Xie. Wanita itu mulai membuka matanya secara perlahan dan mendapati seorang Dayang dan seorang tabib berada disekelilingnya.
"Ada apa ini?" Lirih Da Xie sembari mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya sekitar.
"M–Maharani Agung!! Akhirnya anda bangun!!" Dayang itu tiba-tiba memeluk dan menangis tersedu-sedu disamping Da Xie.
"H–Hah? Kenapa kau menangis? Hei, cepat lepaskan aku!" Bingung Da Xie sembari berusaha lepas dari Dayang itu.
Dayang itu tidak melepaskan Da Xie. Tabib hanya menatap mereka berdua sebelum kemudian berbicara memperingatkan sang Dayang, "Ehem... Dayang Ra. Tindakan anda itu tidak sopan."
Dayang Ra terlihat kaget dan menyadari perilakunya. ia segera melepaskan pelukannya dan berlutut hormat. "Maafkan kelancangan hamba, Maharani Agung."
Da Xie hanya mengangguk kecil, ia lalu baru menyadari sesuatu. "Kenapa aku ada dilantai?"
Yap, benar sekali. Da Xie berbaring dilantai! Aneh sekali, perasaan tadi dirinya hanya beristirahat sejenak dan tidur dimeja kerjanya. Sekarang kenapa ia malah ada dilantai.
"Ah... Itulah yang membuat saya panik, Maharani Agung. Saya tadi hendak mengantarkan dokumen keruang kerja anda, lalu ketika saya masuk, saya mendapati anda berbaring dilantai. Ketika saya mencoba untuk membangunkan anda, itu tidak berhasil. Mata anda tetap tertutup membuat saya bingung." Jelas Dayang Ra.
Da Xie melotot. Jangan bilang dirinya terlalu nyenyak tidur sampai tidak sadar sudah jatuh kelantai.
"Ugh... Jam berapa sekarang memangnya?" Tanya Da Xie.
"Jam 8 malam, Maharani Agung." Balas Dayang Ra.
"HAH?!!" Mendengar hal itu, Da Xie tambah terkejut. Selama itukah dirinya tidur? Perasaan tadi masih pagi.
Sepertinya Da Xie benar-benar kelelahan. Gak salah sih, kan pekerjaan-nya sebagai Maharani Agung sangat menumpuk. Andaikan dirinya bisa cepat-cepat turun dari takhta dan menjadi rakyat biasa saja.
Da Xie Mencoba berdiri dari posisinya. Dengan dibantu oleh Dayang Ra, ia bisa berdiri tegak walau badannya agak sedikit pegal-pegal.
Tabib yang sedari tadi hanya bisa diam saja melihat interaksi antara Dayang Ra dan Maharani Agung mulai berbicara, "Maharani Agung, izinkan saya berbicara sebentar."
"Ada apa?" Da Xie kebingungan, bukankah dirinya baik-baik saja?
"Saya barusan memeriksa kondisi tubuh anda. Namun saya menemukan sedikit kejanggalan. Maafkan bila ini lancang, namun aliran kultivasi anda yang sekarang berbeda dengan aliran kultivasi anda yang dulu. Seolah-olah..." Tabib itu menghentikan ucapannya. Membuat Da Xie dan Dayang Ra kebingungan.
"Ada apa tabib? Jangan membuat aku penasaran." Dayang Ra segera menyuruh tabib untuk berbicara. Dia memang orang yang terlalu penasaran akan sesuatu.
Tabib itu tiba-tiba berlutut dan bersujud dihadapan Da Xie. Ia berkata, "Maaf bila saya lancang Maharani Agung, tetapi saya merasa kalau anda yang sekarang adalah orang yang berbeda dengan anda yang dulu."
Deg...
Ya ampun, secepat itukah Desi ketahuan telah mencuri tubuh Da Xie. Aduh bagaimana ini. Kalau orang-orang dunia ini tahu kebenarannya, bisa saja dirinya dieksekusi mati dengan tuduhan mencuri tubuh Maharani Agung mereka.
Tetapi sebelum Da Xie sempat berdalih, Dayang Ra sudah berbicara lebih dahulu,"Apa maksudmu tabib? Apa kau berpikir kalau Maharani Agung kita ini beda orang? Itu tidak masuk akal..."
"Mungkin saja aliran kultivasi-nya berubah karena sebagian ingatan Maharani Agung telah hilang akibat serangan diam-diam musuh." Lanjut Dayang Ra.
"Itu benar juga... Maafkan saya Maharani Agung, hampir saja saya menyebar fitnah tentang anda." Tabib itu kembali bersujud.
"Ehem... tidak apa-apa. Aku paham kok kekhawatiran kamu. Lagipula, sifatku yang berubah karena kehilangan ingatan juga pasti membuatmu kebingungan, kan?" Da Xie berusaha menjaga raut wajahnya tetap normal.
'Bagus sekali Dayang!!'
Da Xie kemudian menyuruh Tabib untuk berdiri. "Terimakasih atas kebaikannya Maharani Agung, saya pamit undur diri untuk merenungi kesalahan saya ini."
Da Xie hanya mengangguk kecil. Tabib itu berjalan menuju pintu dan hilang dibaliknya.
Setelah memeriksa apakah Tabib itu sudah benar-benar pergi, Da Xie menoleh kearah Dayang Ra.
"Kerjamu bagus hari ini. Oh iya, siapa namamu?"
"Nama hamba Ra. Orang-orang biasa memanggil hamba Dayang Ra, Maharani Agung." Dayang Ra menjawab sembari memberi hormat.
"Baiklah Dayang Ra. Aku akan mengingat dirimu. Sekarang, ayo kita istirahat dan tidur." Da Xie berbicara sembari menepuk pelan bahu Dayang Ra. Dirinya lalu bergegas keluar dari ruang kerja memuakkan itu.
"Sungguh suatu kehormatan bagi saya. Tetapi Maharani Agung..."
"Tetapi apa lagi?"
"Bagaimana dengan pekerjaan anda? Hari ini Anda pingsan ketika bekerja. Ditambah lagi ada beberapa dokumen yang harus–" Dayang Ra tidak sempat melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba dia mendengar sesuatu.
Bruk!!
"Ya ampunn!! Maharani Agung!!! Kenapa anda pingsan lagi?!!"