NovelToon NovelToon
Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Terikat Dengan Cinta Atau Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: Ulfa Zahra

Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Angin berhebus lembut menerbangan asap dan debu di jalan. Langit terang kini perlahan-lahan telah berganti menjadi sore. Suara klakson dan deru mesin mobil mempertandakan kalau saat ini sudah waktunya jam kerja berakhir dan orang-orang berlomba-lomba kembali ke tempat mereka masing-masing sebelum malam gelap menutupi langit.

"Kak Jabir sudah lama menunggu?" tanya Nada seraya masuk kedalam mobil.

Hening tidak ada jawaban yang keluar dari Jidan membuat nada mengerutkan keningnya penuh tanda tanya.

"Kak jabir sakit?" Jidan menoleh ke arah Nada sebentar setelah itu kembali fokus pada setir di depannya.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"

"Karena kak jabir hanya diam saja. Biasanya banyak bicara. Apa ada sesuatu yang mengganggumu kak?"

"Sedikit" Jawab jidan membuat nada mengangguk kecil."Nada. Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Tentu boleh kak, kayak siapa saja?"

"Bagaimana kalau ada pria yang mendekatimu hanya saja dia belum selesai dengan masa lalunya dan masih mencintai masa lalunya. Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisi itu?"

"Jujur kak aku tidak akan menerima lelaki itu. Bagaimana tidak, dia menjadikanku sebagai pelarian sementara dia belum selesai dengan masa lalunya. Hanya saja aku berpikir lagi, kenapa aku tidak mencoba untuk menjadi cintanya lagi. Di awal memang aku menjadi pelarian tapi perlahan-lahan aku yakin dia bisa menerimaku dan mencintaiku, ya walaupun itu membutuhkan waktu lama agar bisa sampai posisi itu." terang Nada terdengar sangat serius.

"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Bukan nya cinta itu tidak bisa dipaksakan?''

"Entahlah kak, aku juga tidak tau. Tapi menurutku cinta itu kalau nggak dipaksakan tidak akan jadi, sama seperti rasa malas. Kalau nggak di paksa berdiri yang ujung-ujung kita berada di tempat yang sama terus." Jawab Nada lagi."Tapi kak, kenapa kak Jabir bertanya seperti itu?"

"Tidak, aku hanya bertanya saja."

"Benarkah?" Tanya Nada penuh selidik."Tapi aku tidak yakin?"

"Itu hanya perasaanmu saja." Jawab jidan

"Emangnya apa? Kalau kak jabir habis ketemu manatan."

"Tuh tau."

"Hah, benarkah kak?! Kak Jabir habis ketemu sama mantan?!" Seru Nada terkejut."Tapi kak Jabir beneran ada matan?"

"Aku hanya bercanda saja."

"Terus kenapa kak Jabir bertanya seperti tadi, kalau nggak ketemu mantan."

"Anggap saja hanya pertanyaan biasa. Jangan dianggap serius." Jawab Jidan."Kita sudah sampai. Turunlah." Ucap Jidan setelah mobil nya berhenti di depan kos-kosan nada.

"Cepat juga ya." Gumnaam Nada yang tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan kos-kosannya. Rasa nya tidak ikhlas jika harus berpisah dengan pria di sampingnya itu.

"Kamu berkata sesuatu?" Tanya Jidan saat menyadari kalau Nada berbicara sesuatu hanya saja ia tidak mendengarnya.

"Tidak ada kak. Sampai berjumpa besok." ucap Nada sebelum dia turun dari mobil itu.

"Iya sampai berjumpa besok." Jawab jidan tersenyum. Setelah tadi bergelut dengan pikiran nya karena bertemu dengan Yaya. Akhirnya dia bisa tersenyum juga dan sedikit bercanda dengan Nada.

Jidan kembali menghidupkan mobilnya meninggalkan kos-kosan Nada.

"Kenapa kak Jabir bertanya seperti tadi? Masa sih hanya pertanyaan biasa." Ucap Nada menatap kearah mobil Jidan yang perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangannya. Kakinya tarayun memasuki pekarangan kos-kosan nya."Apa jangan-jangan dia tertarik denganku?"

Langkahnya berat' penuh tanda tanya dan juga keyakinan lain dari dirinya kalau laki-laki yang diam-diam dia sukai juga memiliki rasa yang sama. Tapi hati kecilnya yang lain berkata lain, jika mengingat pertanyaan pria itu yang terasa sangat mengganjal untuk nya.

"Bagaimana kalau ada pria yang mendekatimu hanya saja dia belum selesai dengan masa lalunya dan masih mencintai masa lalunya. Apa yang akan kamu lakukan jika berada di posisi itu?"

Pertanyaan itu hadir di kepalanya lagi. Membuat tubuh Nada lemas. Jujur sebenarnya lain dikata lain yang rasakan. Apalagi menjadi sesuatu pelampiasan itu tidak enak. Dia bersamamu tapi hati nya mengulangi moment bersama masa lalunya.

"Ayolah Nada kenapa kamu memikirkan itu. Bukankah dia hanya bertanya dan tidak mungkin dia mendekatimu juga karena masa lalunya. Ayo sadar Nada sadar. Kamu hanya gadis kutu buku yang tidak bisa disandingkan dengannya." Ucap Nada mengingatkan dirinya sendiri untuk sekedar sadar kalau dibandingkan dengan Jidan dia sangat jauh berbeda. Perbedaan mereka sangat terasa dan nada bisa merasakan itu.

"Kamu boleh menyukainya. Tapi jangan berharap duluan." Ingatnya lagi. Jika sebelumnya dia berani berharap maka tidak dengan sekarang. Dia sangat takut berharap karena yakin kalau Jidan tidak akan menyukainya.

"Daripada mikirin yang nggak jelas mending kamu mandi. Ya aku harus mandi." Lanjut nya lagi. Sambil mengarahkan kakinya ke arah lemari mini tempat pakainya. Tapi gerakannya itu terhenti saat memikirkan hal lain."Tapi di rasa-rasa aneh juga kalau kak Jabir bertanya seperti tadi." Gumam nya menaruh tangan nya di dagu seperti seseorang yang berpikir.

Berapa saat kemudian gadis itu kembali menggeleng saat menyadari kalau dirinya bagaikan orang gila yang berbicara pada dirinya sendiri."Tuhkan kebiasaan, kalau sudah dengar perkataan seseorang ujung-ujungnya kepikiran sendirikan." ucapnya berubah ekspresinya menjadi kesal lalu tersenyum."Mandi yuk Nada. Jangan seperti orang gila." lanjut nya sambil menarik baju santainya.

Untuk mengakhiri pikiran nya yang banyak bertanya gadis itu akhirnya masuk kedalam kamar mandi.

Jauh berbeda dengan Nada yang kepikiran akan pertanyaan jidan. Pria itu malah santai di warung langganannya.

"Lagi mikirin apa sih, Den? Sampai ngalamun kitu, kayak orang yang baru saja diputusin sama kabogoh."

"Lagi mikirin mantan mang. Makanya galau."

"Ya Allah, den. Pantes galau betul, ternyata mikirin mantan. Daripada mikirin mantan, mending pesan makanan mamang, di jamin galaunya hilang."

"Mamang tau aja saya lagi lapar. Pesan gado-gado satu."

"Kacau benget ya den, sampai makanan nya segala gado-gado."

"Lagi pengen mang. Bukan karena lagi banyak pikiran aja."

"Lagi bercanda den. Jangan di masukin dalam hati." ucap nya takut kalau jidan tidak senang dengan perkataan nya.

"Iya mang. Aman saja."

"Siap, den. Gado-gado mang Asep di jamin bisa bikin pikiran hilang." ucapnya kemudian melangkah meninggalkan meja Jidan. Jidan sendiri hanya bisa tersenyum dengan perlakuan penjual itu yang ramah dan suka bercanda.

"Mang, pesan gado-gado nya satu ya." Suara yang tidak asing di telinganya membuat jidan mengangkat kepalanya untuk melihat siapakah orang yang memesan pesanan yang sama dengan dirinya.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!