Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran-pikiran Daley
Daley menerima notif pesan dari orang yang tidak dikenal. Pria itu segera membuka pesannya dan terkejut saat melihatnya.
📩Tuan muda Ley, perkenalkan namaku Frans. Orang suruhan pak Malik yang akan melayani anda.
Lalu pesan itu disertai dengan beberapa foto yang dikirimkannya. Daley pun segera membuka foto-foto tersebut dan kembali terkejut saat melihat Lisa sedang dipapah oleh ibunya.
Daley segera mengirimkan balasan pada Frans.
✉️Terus ikuti mereka dan cari tahu siapa wanita yang berbaju putih itu
Perintah Daley pada orang suruhannya. Yang dimaksud ia adalah Anne, manager Lisa yang selama ini belum ia ketahui. Setelah itu Daley melemparkan ponselnya ke atas ranjang seraya kembali mondar-mandir di kamarnya.
"Dasar wanita keras kepala, kau sepertinya terluka sangat parah tapi kau bilang baik-baik saja. Bukankah seharusnya seorang artis menjaga tubuhnya agar tidak terluka, tapi kau malah terlihat tidak memperdulikannya," gerutu Daley.
"Sialan... kenapa aku terus saja memikirkan wanita itu? benar-benar mengganggu saja. Ingat Ley, benci... kau harus membenci wanita serakah itu," pikir Daley.
Untuk mengenyahkan pikirannya, ia segera mengambil laptopnya, Daley mulai memeriksa laporan perusahaan yang dikirimkan oleh Malik. Namun pria itu sangat sulit fokus dengan pekerjaannya, bayang-bayang Lisa yang terluka selalu terlintas di pikirannya.
"Haisssss... brengsek..." umpat Daley seraya menutup laptopnya.
Ia pun segera mengambil kursi rodanya lalu duduk di sana, pria itu segera keluar dari kamarnya lagi untuk mencari kakeknya lagi. Dilihatnya semua ruangan sepi, sedangkan beberapa pelayan rumahnya sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka.
Daley mendekati para pelayan tersebut, setidaknya ada 3 orang yang sedang berada di dapur saat ini. Entah berapa banyak pelayan yang dipekerjakan oleh kakeknya di rumah besar Jamiko, karena sebelum ia berangkat ke Amerika, hanya ada 2 orang pelayan saja.
"Mbak Yuni," panggil Daley.
Pelayan tersebut terkejut saat mendengar suara Daley. Wanita itu segera menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri Daley.
"Ada apa tuan muda? anda membutuhkan sesuatu?" tanya mbak Yuni.
"Dimana kakek?" tanya Daley.
"Biasanya tuan besar selalu berada di ruangan kerjanya di jam seperti ini."
"Baiklah aku akan kesana."
"Jika tuan muda membutuhkan sesuatu, bisa langsung panggil mbak saja."
Daley menganggukkan kepalanya, "oh ya, bolehkah aku bertanya?"
"Tentu saja tuan muda, silahkan."
"Sebenarnya kakek mempunyai berapa banyak pelayan sekarang? aku bingung karena baru pulang."
Mbak Yuni tersenyum, "yang pakai baju bunga-bunga itu namanya Ningsih, yang pakai baju coklat itu namanya lulu, lalu ada 2 orang lagi tapi sekarang sedang di halaman belakang menyiram bunga dan membersihkan kolam renang, namanya Ayu dan Sanah. Lalu ada 2 penjaga rumah dan 1 sopir."
"Aku tahu sopir dan penjaga rumahnya karena mereka bukan orang baru. Jadi semua pelayan di rumah ini ada 5 orang wanita?"
"Benar tuan muda."
"Mengapa kakek membayar banyak pelayan? dulu sebelum aku pergi, hanya ada 2 orang saja."
"Mbak dengan Ningsih sudah bekerja sangat lama menggantikan mbok Arsih dan bi Oyem sekitar 3 tahun yang lalu. Sedangkan yang lainnya baru bekerja satu bulan tuan muda. Tuan besar bilang, anda ingin kembali ke rumah ini dan mungkin membutuhkan banyak pelayan nantinya."
"Apa yang dilakukan kakek? aku hanya pura-pura lumpuh, aku tidak membutuhkan pelayan sebanyak ini. Bukankah lebih sedikit orang, lebih baik untukku. Aku harus bicara dengan kakek tentang masalah ini juga," pikir Daley.
"Baiklah, terima kasih infonya mbak. Aku ingin menemui kakek sekarang," ucap Daley seraya memutar kursi rodanya.
Daley pun segera menuju ruang kerja kakeknya, pintu ruangan terbuka sedikit hingga Daley bisa mengintip ke dalam. Dilihatnya Aston sedang berdiri sambil menatap foto mendiang ayah dan ibunya. Seketika Daley mengetuk pintu tersebut.
"Kakek... apa yang sedang kakek lakukan di sini?" tanya Daley seraya masuk.
Daley juga menutup pintu dan menguncinya, pria itu sontak berdiri dan berjalan ke arah kakeknya.
"Kakek lebih senang melihatmu seperti ini Ley," ucap Aston.
Daley mendekati kakeknya, "maaf kek."
Aston menepuk pundak Daley, "tidak apa-apa nak, kakek hanya masih belum menerima keputusanmu saja. Tapi lama kelamaan kakek akan berusaha mengerti dengan rencanamu ini."
"Terima kasih kek, tapi kenapa kakek ada di sini?" tanya Daley lagi.
Aston menatap foto mendiang anak dan menantunya yang ia letakkan di atas meja kerjanya.
"Tidak apa-apa, sudah kebiasaan saja kakek di sini ketika malam mulai menjelang," jawab Aston.
"Kakek pasti merindukan papi dan mami."
Aston menundukkan kepalanya karena sedih, "kakek selalu berbicara dengan mereka di sini, kakek hari ini membicarakanmu Ley."
"Kakek pasti sedang mengeluh pada mereka karena aku mengambil keputusan ini."
Aston terkekeh, "kenapa kau mencari kakek Ley?"
Daley menarik nafasnya dalam-dalam.
"Jika aku bilang Lisa tidak baik-baik saja, pasti kakek akan bertanya padaku mendapatkan informasi darimana. Jika kakek tahu aku menyewa orang untuk mengikuti Lisa, maka kakek pasti akan marah besar. Tidak-tidak... aku tidak boleh membahas soal Lisa lagi," pikir Daley.
"Ley... kenapa kau diam saja nak?" tanya Aston.
"Ini soal pelayan kek."
"Pelayan? ada apa dengan mereka?"
"Apa kakek membayar banyak pelayan untuk mendukung sandiwaraku? atau kakek lupa jika aku hanya berpura-pura lumpuh saja?" tanya Daley.
"Walaupun kakek sudah tua, tapi daya ingat kakek masih sangat bagus. Mana mungkin lupa jika kau hanya pura-pura."
"Lalu kenapa kek?"
Aston menghela nafas panjang, "kau akan segera menikah dengan Lisa. Kakek sengaja membayar banyak pelayan untuk melayaninya. Bagaimanapun Lisa adalah artis besar di kota Velos, ia tidak boleh kelelahan atau terluka."
"Jadi kakek melakukan ini karena Lisa. Sialan, kenapa Lisa harus menjadi kesayangan kakek? bagaimana caraku mengungkapkan kebusukan wanita itu dan keluarganya jika kakek terus melindunginya," pikir Daley.
"Kau tidak setuju dengan ide kakek?"
"Bukan seperti itu kek."
"Satu-satunya cara adalah aku harus tinggal di rumah lain bersama Lisa. Jika aku terus di sini, akan semakin sulit untuk membongkar semuanya."
"Ley... apa yang sedang kau pikirkan sejak tadi? kau lebih banyak melamun."
"Kakek... aku berniat untuk mencari rumah lain setelah menikah dengan Lisa."
Aston membelalakkan matanya, "kenapa Ley? rumah ini lebih dari cukup untuk menerima Lisa. Bahkan saat kalian punya anak nanti, rumah ini masih sangat cukup. Jika kau pergi dari sini, maka kakek akan kembali hidup sendirian Ley. Kakek tidak ingin merasa kesepian lagi, jadi tetaplah tinggal di rumah ini."
"Astaga, aku benar-benar egois. Aku sama sekali tidak memikirkan perasaan kakek yang selama ini kesepian karena aku tinggalkan. Apa yang sedang aku pikirkan? Ley, kau jahat jika berpikir untuk meninggalkan kakek Aston. Sepertinya kau harus mencari cara lain untuk membongkar kebusukan Lisa. Baiklah, aku akan tetap di sini. Aku akan memanfaatkan kesempatan saat kakek Aston sedang pergi keluar. Ya... aku rasa begitu saja," pikir Daley.
"Tapi jika kau lebih nyaman tinggal berdua saja dengan Lisa nanti, lebih baik kau beli rumah baru yang dekat dengan rumah ini," imbuh Aston.
"Kakek terlalu serius, aku hanya bercanda saja tadi. Mana mungkin aku akan meninggalkan kakek sendirian lagi. Aku dan Lisa akan tetap di sini kek," kata Daley.
"Tapi untuk cucu, aku tidak bisa memenuhinya kek. Bagiku pernikahan yang kami lakukan hanya sandiwara saja, aku akan menceraikan Lisa saat semuanya terbongkar dan kakek ikut membencinya," pikir Daley lagi.
"Tapi kakek tidak memaksamu Ley. Sejak dulu hingga sekarang, kakek hanya berharap kau bisa bahagia nak. Apapun yang kau inginkan akan kakek turuti kecuali soal pernikahanmu dengan Lisa karena ini sudah menjadi janji kakek pada sahabat kakek."
Daley menghela nafas panjang, "aku tidak akan menolak lagi kek, lakukan saja sesuai rencana kakek."
Aston tersenyum lebar, "kau memang cucuku yang sangat aku sayangi. Terima kasih Ley."
Daley memeluk kakeknya.
"Aku memang menyerah untuk menolaknya karena kakek sendirilah yang akan melakukannya saat sifat asli Lisa terbongkar. Tunggu saja Lisa Furhet, aku akan mengikuti permainanmu hingga kau sendiri yang akan kalah telak," pikir Daley.
Toktoktok...
Suara ketukan pintu terdengar. Daley melepaskan pelukannya.
"Tuan besar, tuan muda, makan malam sudah siap."
Terdengar suara mbak Yuni memanggil mereka. Daley segera duduk di kursi rodanya lagi.
"Iya mbak, kami akan segera keluar," jawab Daley.
Aston menggeleng-gelengkan kepalanya, "bukankah itu merepotkan?"
Daley hanya menyeringai mendengar ucapan kakeknya, keduanya pun segera keluar dari ruang kerja Aston seraya menuju ruangan makan untuk makan malam.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣