Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 24
Hari-hari di sekolah berjalan… terlalu lancar.
Tidak ada jebakan kecil dari Jeremy, tidak ada ejekan receh, tidak ada aksi iseng yang biasanya selalu muncul entah dari mana.
Di kelas, Jeremy duduk seperti murid normal. Fokus ke papan tulis, mencatat seperlunya, sesekali berbincang dengan teman di sebelahnya—tanpa melirik Jolina sedikit pun.
Dan entah kenapa… justru itu yang membuat Jolina gelisah.
Ini nggak normal.
Biasanya, satu hari saja tanpa gangguan dari Jeremy sudah terasa aneh. Tapi ini? Dari pagi sampai jam pelajaran pertama selesai—nihil.
Jam istirahat pun sama, Jeremy makan di kantin dengan tenang. Tidak ada piring disenggol. Tidak ada minuman tumpah. Tidak ada sindiran. Setelah itu, ia pergi ke ruang musik bersama teman-temannya.
Jolina yang kebetulan lewat bersama Zoya dan Audrey, refleks memperlambat langkah. Matanya tertuju ke dalam ruangan itu.
Jeremy duduk di sana, memangku gitar lain—bukan gitar kesayangannya. Jarinya tetap lincah memetik senar, wajahnya fokus, tenang… dingin.
Tidak ada amarah. Tidak ada ekspresi kesal.
Justru itu yang membuat dada Jolina mengencang.
Mereka melewati ruang musik, lalu berhenti beberapa langkah setelahnya.
“Lo kenapa, Jo?” tanya Zoya sambil menyikut lengannya pelan. “Dari tadi bengong mulu. Lagi mikirin apa sih?”
“Iya,” sambung Audrey. “Muka Lo serius banget dari tadi.”
Pandangan Jolina masih tertuju ke arah ruang musik.
“Kayak ada yang aneh gitu loh… sama Jeremy.”
Zoya mengernyit. “Aneh? Aneh kenapa?”
“Gue yakin,” kata Jolina pelan tapi yakin, “dia lagi ngerencanain sesuatu buat gue.”
Audrey mendengus. “Lo tuh jangan suudzon deh. Siapa tau Jeremy udah berubah.”
“Hah?” Jolina menoleh cepat. “Berubah? Nggak. Dia nggak mungkin berubah jadi baik secepat itu. Gue curiga.”
Zoya menyilangkan tangan. “Lo pasti habis bertengkar hebat ya sama dia? Atau ada apa?”
Jolina terdiam beberapa detik. Lalu dengan nada datar, seolah itu bukan masalah besar, ia berkata,
“Gue rusakin gitarnya.”
Dua pasang mata langsung membesar.
“HAA?!”
“Serius??”
“Kenapa, Jo?” Audrey menatapnya tidak percaya.
“Habisnya gue kesel,” jawab Jolina. “Dia udah buang tas gue, bikin gue kena hukuman di sekolah, dan sering banget nyeret gue ke masalah. Jadi ya… gue balas dendam. Gue rusakin gitarnya.”
Zoya terdiam. Wajahnya berubah serius.
“Lo tau kan,” katanya pelan, “waktu lo masih jadi fans-nya Jeremy… dia itu segila itu sama musik. Dan alat musik favorit dia ya gitar.”
Jolina mendengus, menoleh ke arah lain.
“Ah, peduli apa gue,” katanya cepat, nada suaranya naik. “Siapa suruh dia gangguin gue? Dia emang pantes dapetin itu semua.”
Namun meski mulutnya berkata demikian—
Tangannya mengepal. Dan matanya, tanpa sadar, kembali melirik ke arah ruang musik.
Jeremy masih memetik gitar dengan tenang.
Terlalu tenang untuk seseorang yang katanya pantes menerima semua itu. Dan untuk pertama kalinya, Jolina tidak merasa menang.
***
Akhirnya, bel pulang berbunyi. Suara yang paling ditunggu oleh seluruh siswa. Seolah ada tombol ajaib yang ditekan bersamaan—wajah-wajah lelah mendadak segar, punggung yang tadinya membungkuk langsung tegak, dan senyum-senyum kecil bermunculan tanpa sadar.
Beberapa menit lalu mereka masih menguap, menahan kantuk, nyaris kehilangan tenaga untuk berpikir. Tapi begitu bel itu berbunyi… energi mereka seperti kembali terkumpul.
“Terima kasih, Bu.”
“Selamat sore.”
Ucapan salam menggema di kelas. Guru meninggalkan ruangan, dan suasana langsung berubah riuh. Kursi digeser, tas dibuka, buku dimasukkan. Beberapa siswa menjalankan piket—menyapu, mengelap papan tulis, merapikan meja.
Sore itu, langit mendung. Jolina menatap ke luar jendela dengan raut kesal. Ia paling benci hujan. Padahal menurut ramalan cuaca, hari ini seharusnya cerah. Tapi kenyataannya berbeda. Awan gelap menggantung rendah, lalu hujan turun—awalnya gerimis, kemudian semakin deras.
Ya iya sih… batin Jolina.
Ramalan manusia mana pernah ngalahin kehendak Tuhan.
Ia menggendong tasnya dengan malas, berdiri di bawah atap sekolah bersama Audrey dan Zoya. Suara hujan menghantam aspal, angin membawa hawa dingin yang membuatnya sedikit menggigil.
“Kayaknya lama nih hujannya,” gumam Audrey.
Zoya mengangguk. “Semoga cepet dijemput.”
Pandangan Jolina tanpa sadar menyapu halaman sekolah. Dan di sanalah ia melihat Jeremy. Jeremy berdiri bersama beberapa temannya, terlihat santai, tertawa kecil di sela obrolan. Ia mengenakan jaket hitam dan helm sudah berada di tangannya. Tak lama kemudian, ia melangkah mendekat ke motornya. Jeremy mengenakan helm, lalu menyalakan mesin.
Saat ia melewati tempat Jolina berdiri, jaraknya begitu dekat. Terlalu dekat.
Namun...
Tidak ada tatapan
Tidak ada komentar.
Tidak ada satu kata pun.
Jeremy melewatinya begitu saja.
Biasanya, Jeremy akan berhenti. Berdiri tepat di depannya, melontarkan kalimat menyebalkan, atau menyuruhnya pulang bareng dengan nada sok berkuasa.
Tapi hari ini?
Tidak.
Jeremy pergi begitu saja, motornya melaju menembus hujan, meninggalkan percikan air di belakangnya. Jolina terpaku.
Dadanya terasa aneh—seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi sulit ia jelaskan.
Zoya menoleh ke arahnya. “Eh… Jeremy nggak nyamperin lo?”
Jolina tidak langsung menjawab.
Matanya masih menatap ke arah jalan yang kini kosong.
“…Nggak,” katanya akhirnya, pelan.
Dan entah kenapa, hujan sore itu terasa lebih dingin dari biasanya.