Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Beberapa hari kemudian.
Darius dan Vanessa sedang berada di rumah mereka.
Malam itu keduanya terlihat santai sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang.
Tak lama kemudian...
Bel rumah berbunyi.
Ting tong.
Darius berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Tuan, ini pesanan Anda,” ujar wanita pengantar makanan sambil menyerahkan beberapa kantong makanan.
“Baiklah.”
Darius menjawab singkat lalu melempar beberapa lembar uang begitu saja.
Lembaran uang itu jatuh berserakan ke lantai.
Wanita pengantar itu langsung mengernyit kesal.
“Sombong sekali,” gumamnya pelan sambil memunguti uang tersebut.
Sementara itu...
Di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah tersebut, Alyssa duduk tenang sambil memperhatikan rumah Darius.
Tatapannya dingin.
“Darius…” sudut bibirnya perlahan terangkat, “nikmatilah makanan itu bersama selingkuhanmu.”
Matanya menyipit tajam.
“Setelah ini… kau akan tahu akibatnya.”
Di kursi pengemudi, Rina melirik sahabatnya sambil tersenyum tipis.
“Alyssa, aku tidak menyangka kau bisa berpikir sejauh ini.”
Alyssa tertawa pelan tanpa kehangatan.
“Rina,” gumamnya lirih, “saat hati seseorang sudah terluka terlalu dalam…” tatapannya berubah dingin, “apa pun bisa dilakukan demi balas dendam.”
Ia kembali menatap rumah itu.
“Mereka berselingkuh di belakangku selama ini. Di saat aku hamil… mereka malah bersenang-senang bersama.”
Tangannya perlahan mengepal.
“Aku ingin melihat… apakah Vanessa masih akan tetap berada di sampingnya setelah semuanya hancur.”
Rina menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Kau cukup kejam,” katanya sambil tersenyum. “Tapi aku suka.”
Di dalam rumah...
Darius dan Vanessa sedang menikmati makanan itu tanpa curiga sedikit pun.
Mereka makan dengan lahap sambil berbincang santai.
Namun beberapa menit kemudian…
Darius tiba-tiba menyentuh lehernya. Dahinya langsung mengernyit.
“Kenapa tubuhku terasa panas…” gumamnya pelan.
Vanessa yang duduk di sampingnya juga mulai merasa aneh. Napasnya berubah tidak stabil.
“Aku juga…” ujar Vanessa sambil memegang dadanya.
Keringat dingin mulai muncul di pelipis mereka.
Tubuh keduanya terasa panas sekaligus lemas secara bersamaan.
Darius mencoba berdiri...
Namun langkahnya goyah.
Bruk.
Pria itu jatuh terduduk sambil memegangi meja.
“Darius, aku tidak tahan lagi!” Vanessa langsung panik.
Tatapan Darius mulai kabur.
Sementara di luar rumah, Alyssa masih duduk tenang di dalam mobil sambil menatap mansion itu tanpa berkedip.
Lampu di dalam rumah masih menyala terang.
“Berapa dosis yang kau campur kali ini?” tanya Rina penasaran.
“Dosis penuh,” jawab Alyssa tenang. “Sekali diminum langsung menyerang tubuhnya.” Tatapannya dingin. “Satu membuat tubuh tidak berdaya… satunya lagi meningkatkan hasrat.”
Rina langsung membulatkan mata.
“Wah… bisa gawat kalau hasrat mereka tidak bisa dilampiaskan,” gumamnya sambil tertawa kecil.
Sudut bibir Alyssa perlahan terangkat.
“Hubungi media.” Nada suaranya dingin tanpa emosi. “Aku ingin berita malam ini tersebar.”
Rina langsung mengangguk cepat.
“Tenang saja.” Ia mengangkat ponselnya. “Mereka sedang dalam perjalanan.”
Tak lama kemudian...
Alyssa membuka pintu mobil dan turun perlahan.
Sepatu haknya menyentuh aspal dengan tenang. Ia lalu berjalan menuju rumah itu dengan wajah datar.
Sementara di dalam mansion…
Darius sudah kehilangan kendali akibat pengaruh obat.
Tubuhnya terasa panas luar biasa. Keringat dingin membasahi dahinya.
Ia berjalan sempoyongan sambil melepaskan bajunya satu per satu dan melemparkannya begitu saja ke lantai sepanjang lorong menuju kamar.
Vanessa yang juga berada di bawah pengaruh obat ikut kehilangan kesadaran penuh.
Ruangan kamar menjadi berantakan.
Suasana semakin kacau karena keduanya tidak lagi berpikir jernih.
Darius berciuman dengan Vanessa hingga mereka berpelukan di atas kasur.
Darius mencium wanita itu dengan brutal akibat rangsangan obat. Di saat ia bangkit dan ingin melakukan penyatuan ia malah menyadari bahwa dirinya tidak mampu sama sekali.
"Darius, cepat lakukan. Aku tidak tahan lagi. Aku sangat menderita," ucap Vanessa yang memeluk Darius dan menciumnya.
Darius melepaskan pelukan wanita itu, dan berulang kali ingin memasukan senjatanya ke goa milik wanita itu, namun tetap gagal.
"Ada apa denganku, bukankah hanya tekanan, kenapa di situasi sekarang juga tidak bisa. Padahal hasratku sangat memuncak," ujar Darius yang meremas rambutnya.
Di luar rumah...
Langkah kaki Alyssa perlahan berhenti.
Tatapannya dingin mendengar suara berisik dari dalam.
Tak lama kemudian…
Beberapa mobil media mulai berhenti di depan rumah.
Para wartawan turun dengan kamera di tangan.
Rina tersenyum tipis melihat pemandangan itu. “Malam ini…” gumamnya pelan, “keluarga Fan benar-benar akan kehilangan muka.”
Alyssa membuka pintu rumah itu menggunakan kunci cadangan yang masih ia miliki.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Beberapa wartawan langsung mengikuti dari belakang bersama Rina.
Suasana rumah terlihat kacau. Pakaian berserakan di lantai hingga lorong menuju kamar utama.
Tatapan para wartawan langsung berubah heboh.
“Cepat ambil gambar!” bisik salah satu wartawan.
Langkah Alyssa tetap tenang.
Wajahnya dingin tanpa emosi sedikit pun.
Ia berjalan lurus menuju kamar yang dulu menjadi kamarnya bersama Darius.
Brak!
Pintu kamar langsung terbuka.
Di atas ranjang, Darius dan Vanessa terlihat dalam keadaan berpelukan dengan kondisi sangat berantakan.
Wajah keduanya langsung berubah drastis saat melihat banyak orang masuk.
“Aaaahhh?!” teriak Vanessa panik sambil menarik selimut menutupi tubuhnya.
Darius membelalak tidak percaya. “Apa yang kalian lakukan di sini?!” bentaknya marah.
Kilatan kamera langsung memenuhi ruangan.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Para wartawan segera mengambil foto tanpa henti.
“Putra keluarga Fan tertangkap bersama wanita lain!Ini pasti berita besar!”
Vanessa langsung pucat pasi.
“Jangan foto aku!” teriaknya panik.
Darius turun dari ranjang dengan wajah merah penuh amarah.
“Alyssa!” bentaknya. “Kau sengaja membawa mereka ke sini?!”
“Teman-teman…” suara Alyssa terdengar bergetar. “Aku baru melahirkan dan masih dalam masa pemulihan…” Matanya mulai memerah seolah menahan tangis. “Namun mereka sudah tidur bersama di atas ranjang pernikahanku.”
Para wartawan langsung semakin heboh mendengar ucapan itu.
Kilatan kamera kembali memenuhi ruangan.
Cekrek! Cekrek!
“Betapa sakitnya perasaanku sebagai seorang istri,” lanjut Alyssa sambil menutupi wajahnya. “Suamiku ternyata berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri…”
“Pergi! Pergi kalian semua!” teriak Darius penuh amarah.
Pria itu buru-buru menutupi tubuhnya dengan bantal sambil mencoba menghalangi kamera.
Namun tidak ada seorang pun yang peduli.
Para wartawan terus mengambil gambar tanpa henti.
Vanessa yang berada di atas ranjang tampak panik dan malu luar biasa.
“Alyssa…” gumamnya ketakutan.
Namun Alyssa langsung menarik selimut yang menutupi Vanessa dengan kasar.
Vanessa langsung menjerit panik dan buru-buru menutupi dirinya sendiri.
“Kalau kau suka merebut suami orang…” ujar Alyssa dingin, “kenapa sekarang malu di depan kamera?”
Tatapannya penuh kebencian.
“Bukankah kau sangat bangga menjadi wanita simpanan?”
“Aahh! Tolong!” Vanessa langsung menangis histeris. “Jangan foto lagi!”
Namun suara kamera justru semakin ramai.
Vanessa mencoba menutupi wajahnya sambil menangis malu.
Sementara Alyssa mencengkeram rambut wanita itu kuat-kuat.
“Selama ini kau bersenang-senang di belakangku, bukan?” Nada suaranya penuh tekanan. “Sekarang rasakan sendiri bagaimana rasanya dipermalukan!”
“Alyssa!” bentak Darius marah sambil mencoba menarik tangan istrinya. “Lepaskan Vanessa!”
Alyssa langsung menoleh tajam.
Tampar!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Darius.
Ruangan langsung mendadak sunyi sesaat.
“Itu untuk semua pengkhianatanmu,” ucap Alyssa dingin dengan mata memerah.
Darius membeku tidak percaya.
Sementara para wartawan terus merekam kejadian itu tanpa henti.
Alyssa kemudian sengaja merebut bantal yang dipakai Darius untuk menutupi tubuhnya.
Brak!
Bantal itu dilempar begitu saja ke sisi lain ruangan.
Darius langsung panik dan buru-buru menutupi dirinya sendiri dengan kedua tangan.
Kilatan kamera kembali memenuhi ruangan.
Cekrek! Cekrek!
“Jangan foto lagi!” bentak Darius marah besar.
Namun para wartawan justru semakin bersemangat mengambil gambar.
Wajah Darius memerah karena malu dan marah secara bersamaan.
Sementara Vanessa menangis histeris di atas ranjang sambil berusaha menutupi dirinya dengan seprai.
“Alyssa, kau gila!” teriak Vanessa sambil menangis.
Alyssa menatap wanita itu dingin.
“Gila?” Ia tertawa kecil penuh ironi. “Bukankah kalian yang lebih gila?” Tatapannya tajam penuh kebencian. “Aku baru melahirkan anaknya… tapi kalian sudah tidur bersama di rumah ini. Kalian telah berselingkuh selama setengah tahun."
Para wartawan langsung saling berbisik heboh.
“Ini benar-benar skandal besar keluarga Fan…” “Kasihan sekali istrinya…”
Darius mengepalkan tangannya kuat-kuat sambil menatap Alyssa penuh amarah.
Sementara Alyssa berdiri tegak di depan mereka.
Tatapannya tidak lagi menunjukkan cinta sedikit pun.
"Aku Alysaa Liu, ingin menceraikan Darius Fan, dan menuntut hak asuh anak. Ke depannya kau dan Kael dilarang bertemu!"
"Wanita ini ... akan aku tuntut menganti rugi semua yang dia lakukan padaku. Sebagai putri kaya dari Anthony Fu, dia memilih menjadi orang ketiga. Dan aku sebagai korban tidak akan diam saja!"
ayooooo