Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari garis depan
Tiga hari berlalu, kondisi Adeeva mulai membaik meski wajahnya masih sepucat rembulan yang tertutup awan. Fathiyah benar-benar menjaga kakak iparnya itu dengan ketat. Ia bahkan mengambil cuti dari poliklinik hanya untuk memastikan Adeeva makan tepat waktu. Hubungan mereka memang unik; secara usia, Fathiyah jauh lebih matang dan berpengalaman, namun secara silsilah keluarga, ia tetaplah adik dari Shaheer yang harus menaruh hormat pada Adeeva.
Sore itu, Kaysan datang lagi ke rumah nomor 12. Kali ini ia tidak berteriak dari depan pagar seperti biasanya. Ia masuk ke ruang tamu dengan langkah yang lebih pelan, wajahnya tampak serius, sebuah ekspresi yang jarang menghiasi pria yang biasanya penuh canda itu.
"Dok," panggil Kaysan saat melihat Fathiyah keluar dari kamar Adeeva.
Fathiyah menoleh, ia melipat tangannya di dada dengan gaya otoriter khasnya. "Ada apa, San? Kalau mau bercanda nanti dulu, Adeeva baru saja tidur."
Kaysan menggeleng. Ia memberikan sebuah kode lewat tatapan matanya, memberi isyarat agar Fathiyah menjauh dari pintu kamar. Mereka berdiri di teras depan yang sepi, di bawah lindungan pohon mangga yang daunnya rimbun menaungi rumah.
"Ada laporan masuk dari tim analisis," bisik Kaysan. Suaranya rendah, hampir tenggelam dalam deru angin sore. "Pos perbatasan di sektor utara, tempat Bang Shaheer bertugas, baru saja diserang kelompok separatis. Kontak senjata pecah selama dua jam."
Wajah Fathiyah seketika menegang. Sebagai bagian dari keluarga militer, ia tahu benar apa arti dari setiap detak detik dalam sebuah kontak senjata. "Abangku?"
"Laporan awal bilang tim Bang Shaheer berhasil memukul mundur lawan, tapi komunikasi terputus total karena pemancar di pos mereka hancur. Kita kehilangan kontak sama sekali, Dok," lanjut Kaysan. Ia menatap Fathiyah dengan sorot mata yang tulus, tidak ada lagi godaan main-main di sana. "Saya kasih tahu Dokter duluan supaya Dokter bisa antisipasi kalau-kalau Adeeva dengar gosip di kantin atau dari ibu-ibu Persit."
Fathiyah memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir pening yang tiba-tiba menyerang. "Jangan sampai dia tahu. Dia baru saja sembuh. Kalau dia stres lagi karena memikirkan suaminya, kondisinya bisa drop lagi. Kamu tahu sendiri Adeeva itu kalau sudah kepikiran bisa lupa makan, lupa segalanya."
Kaysan mendekat satu langkah, lalu secara mengejutkan meletakkan tangannya di bahu Fathiyah. Tindakan yang sangat berani mengingat Fathiyah adalah dokter yang terkenal galak. "Dokter juga harus tenang. Bang Shaheer itu kucing nyawa sembilan. Dia tidak akan kalah hanya karena serangan mendadak di tengah rimba. Dia punya alasan kuat untuk pulang, yaitu Mbak Deeva."
Fathiyah menepis tangan Kaysan, tapi gerakannya tidak sekasar biasanya. "Urus saja barakmu, Kapten. Jangan sok bijak di depan saya."
"Saya tidak sok bijak, Dok. Saya cuma tidak mau lihat Dokter ikut sakit karena memikirkan Bang Shaheer dan Mbak Adeeva," balas Kaysan santai, kembali ke gaya aslinya yang sedikit tengil. "Kalau Dokter butuh sandaran atau sekadar teman bicara yang tidak membosankan, bahu saya masih lowong. Gratis, tanpa biaya administrasi rumah sakit."
"Keluar sekarang, Kaysan!" usir Fathiyah, meski kali ini ada sedikit rona merah yang samar di pipinya.
Di Dalam Kamar: Antara Mimpi dan Kenyataan
Di dalam kamar, Adeeva sebenarnya belum sepenuhnya terlelap. Tidurnya tipis, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu yang bisa membawanya kembali pada kenyataan. Ia mendengar sayup-sayup percakapan di teras depan. Meski tidak mendengar rinciannya secara utuh, kata-kata seperti "kontak senjata" dan "hilang kontak" sempat menyusup ke telinganya seperti duri yang menusuk kesadaran.
Ia bangkit dari ranjang, kakinya masih terasa sedikit lemas dan bergetar. Dengan berpegangan pada dinding, ia berjalan menuju jendela, menatap ke arah kantor pusat batalyon yang tampak lebih sibuk dari biasanya. Ada beberapa truk provost dan mobil komando yang keluar masuk dengan terburu-buru.
Fathiyah masuk ke kamar dan terkejut melihat kakak iparnya sudah berdiri di depan jendela, menatap kosong ke arah lapangan.
"Kenapa bangun? Istirahat, Deeva. Kamu belum pulih benar," ujar Fathiyah mencoba bersikap senormal mungkin, menyembunyikan getar di suaranya sendiri.
Adeeva berbalik perlahan. Matanya yang sayu namun tajam menatap langsung ke arah Fathiyah. "Shaheer kenapa, Kak? Jujur sama aku. Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi dengan alasan 'sedang rapat' atau 'sedang latihan'."
Fathiyah terdiam sejenak. Ia tahu ia tidak bisa berbohong pada gadis yang memiliki intuisi setajam Adeeva. "Ada gangguan komunikasi di sana, Deeva. Hanya itu. Hal biasa dalam operasi lapangan di tengah hutan belantara."
"Berapa lama?" tanya Adeeva pendek. Suaranya terdengar datar, namun di dalamnya ada ketakutan yang mendalam.
"Belum tahu pasti. Tapi Kaysan bilang semuanya masih di bawah kendali markas pusat," jawab Fathiyah, mencoba memberikan harapan yang ia sendiri pun sedang ragukan.
Adeeva kembali menatap ke luar jendela. Ia tidak menangis. Justru keheningannya jauh lebih mengkhawatirkan daripada isak tangis. Ia teringat ucapan Shaheer sebelum berangkat, tentang bagaimana ia akan selalu menemukan jalan pulang.
"Dia akan pulang," ucap Adeeva pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Fathiyah. "Dia baru saja membelikanku studio gambar itu. Dia belum sempat melihat pola pertama yang kubuat. Shaheer bukan orang yang suka meninggalkan pekerjaan tanpa penyelesaian. Dia akan kembali untuk menagih janji itu."
Fathiyah hanya bisa menatap punggung kakak iparnya itu dengan rasa haru yang luar biasa. Ia melihat perubahan besar dalam diri Adeeva. Gadis yang dulunya manja dan ingin lari dari segala tanggung jawab, kini telah menjelma menjadi istri seorang perwira yang sedang belajar menelan kecemasan di atas ketidakteraturan takdir.
Malam yang Panjang di Asrama
Malam itu, asrama diliputi ketegangan yang sunyi. Lampu-lampu di markas besar tetap menyala terang hingga dini hari. Di tengah kegelapan rumah nomor 12, Adeeva duduk di studio kecilnya. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja gambar yang memberikan cahaya temaram.
Ia memegang pensil gambarnya dengan kuat, namun tangannya bergetar. Ia tidak menggambar baju atau sketsa gaun. Di atas kertas putih itu, ia menuliskan nama "Shaheer" berkali-kali di setiap sudut kertas. Bagi Adeeva, setiap coretan nama itu adalah satu baris doa yang ia kirimkan ke udara, berharap angin perbatasan membawanya kepada suaminya.
Fathiyah memperhatikannya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia merasa iba, namun sekaligus bangga. Adeeva mulai menerima Shaheer bukan hanya sebagai suami dari sebuah perjodohan, tapi sebagai bagian dari napasnya sendiri.
"Tetaplah kuat, Deeva," bisik Fathiyah dalam hati. "Karena saat dia pulang nanti, dia butuh melihatmu berdiri tegak, bukan hancur berantakan."
Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan, seolah mencoba menutupi suara helikopter yang terdengar sayup-sayup di kejauhan, membawa kabar yang entah baik atau buruk bagi mereka yang menunggu di rumah.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
cerita kaysan sm fathiya blm Ka
semangat deeva