NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Minggu di Tengah Perang Wilayah

Malam Minggu di dunia normal biasanya berarti bioskop yang penuh sesak, aroma jagung bakar di pinggir jalan, atau pasangan yang duduk malu-malu di taman kota. Namun, bagi Leon Vancort, "Malam Minggu" hanyalah istilah kalender untuk periode di mana intensitas pengiriman logistik meningkat dan risiko sabotase mencapai puncaknya.

​Malam ini, suasana di perbatasan wilayah kekuasaan Vancort dan aliansi pecahan Black Cobra yang dipimpin oleh sisa-sisa loyalis Donovan sedang memanas. Markas depan yang terletak di sebuah bekas pabrik tekstil di pinggiran dermaga menjadi titik krusial. Suara radio taktis terus berbunyi, melaporkan pergerakan musuh yang mulai mengepung dari sektor pelabuhan.

​Di tengah ketegangan yang bisa meledak kapan saja menjadi hujan peluru, Leon berdiri di depan layar monitor besar, memantau pergerakan GPS anak buahnya. Di sampingnya, Ailen Gavril sedang duduk di atas meja kayu, mengayun-ayunkan kakinya sambil memegang sebuah kaleng soda dan sebungkus kerupuk ikan.

​"Mas Leon, ini beneran Malam Minggu kita cuma di dalem pabrik tua yang baunya kayak kaos kaki basah gini?" tanya Ailen sambil mengunyah kerupuknya dengan bunyi kriuk yang nyaring, memecah keseriusan laporan intelijen Marco.

​Leon menoleh sekilas, rahangnya tampak mengeras. "Ailen, ini perang wilayah. Musuh sedang mencoba memutus jalur suplai kita. Aku tidak bisa membawamu ke mal atau makan malam romantis di atas gedung malam ini."

​"Ya tapi kan judulnya tetep Malam Minggu, Mas. Harusnya ada nuansa cintanya dikit, bukan nuansa mesiu begini," gerutu Ailen.

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari kejauhan, disusul dengan rentetan tembakan otomatis. Marco segera menarik pistolnya. "Tuan, mereka mulai menyerang barikade depan! Tim Delta butuh bantuan di gerbang utama!"

​"Laksanakan rencana B, Marco. Tutup semua akses masuk," perintah Leon dingin.

​Ailen meloncat turun dari meja. "Mas Leon! Tunggu! Orang-orang Mas itu pasti laper kan kalau mau perang? Saya liat tadi mereka cuma makan biskuit kering. Mana ada tenaga buat nembak kalau perutnya cuma isi bensin biskuit?"

​"Ailen, ini bukan waktunya masak!" seru Leon saat melihat Ailen mulai berlari menuju area dapur lapangan yang dijaga ketat di belakang markas.

​"Percaya sama saya, Mas! Tentara yang kenyang adalah tentara yang menang!" teriak Ailen dari kejauhan.

​Tanpa memedulikan desing peluru yang mulai menghantam dinding luar pabrik, Ailen mengumpulkan para koki lapangan yang ketakutan. Ia mengambil alih sebuah kuali raksasa yang biasanya digunakan untuk merebus air. Dengan bantuan dua anak buah Leon yang sedang "dihukum" piket dapur, Ailen mulai melakukan aksi gilanya.

​Ia mencampurkan semua bahan yang ada: nasi sisa kemarin, sosis kaleng, daging asap premium milik Leon (yang seharusnya untuk makan malam sang Bos), dan—senjata rahasianya—tiga botol saus sambal ekstra pedas yang ia temukan di tas ranselnya.

​"Ayo Mas-Mas sekalian! Aduk yang rata! Bayangin nasi goreng ini adalah musuh kita, kita ulek mereka sampai sedap!" perintah Ailen dengan semangat membara.

Dua jam berlalu. Pertempuran di luar semakin sengit. Tim Vancort mulai terdesak karena jumlah musuh yang tiga kali lebih banyak. Di dalam ruang komando, Leon mulai terlihat cemas. Jika gerbang utama jebol, mereka harus melakukan evakuasi darurat lewat jalur laut.

​Tiba-tiba, aroma yang sangat kuat dan menggoda menyebar ke seluruh ruangan. Bau bawang goreng, kecap manis, dan cabai yang menonjok hidung merayap masuk ke celah-celah masker gas para prajurit.

​Ailen muncul dengan sebuah gerobak dorong yang penuh dengan kotak-kotak makanan hangat. "NASI GORENG MALAM MINGGU SPESIAL VANCORT DATANG! YANG BELUM MAKAN GAK BOLEH TEMBAK-TEMBAKAN!"

​Ailen dengan nekat berjalan menuju garis depan, di mana para penembak jitu Leon sedang berlindung di balik tumpukan pasir.

​"Nona! Kembali! Ini area berbahaya!" teriak salah satu penjaga.

​"Halah, peluru mah cuma lewat, laper mah menetap! Nih, makan dulu!" Ailen melemparkan kotak nasi goreng itu ke masing-masing prajurit seolah-olah ia sedang membagikan brosur di jalanan.

​Ajaibnya, semangat para prajurit Leon mendadak naik drastis. Rasa pedas yang membakar dari nasi goreng Ailen memberikan lonjakan adrenalin yang lebih kuat daripada minuman energi mana pun. Mereka mulai menembak dengan lebih akurat, seolah-olah ingin segera menyelesaikan perang agar bisa menambah porsi kedua.

Leon akhirnya keluar dari ruang komando untuk menarik Ailen kembali ke dalam. Namun, saat ia sampai di halaman tengah, seorang penyusup dari Black Cobra berhasil melompati pagar dan menodongkan pisau ke arah Ailen.

​"Dapatkan gadis itu!" teriak penyusup tersebut.

​Leon tidak ragu. Dengan gerakan yang sangat elegan namun mematikan, ia menendang tangan penyusup itu hingga pisaunya terlempar, lalu melakukan bantingan judo yang membuat tanah bergetar. Dalam hitungan detik, penyusup itu sudah pingsan.

​Leon berdiri di depan Ailen, napasnya memburu. Pakaian taktisnya sudah kotor oleh debu, dan wajahnya terkena sedikit noda oli. Di bawah sinar bulan yang temaram dan kilatan peluru tracer di langit, Leon tampak seperti dewa perang yang baru saja turun ke bumi.

​"Ailen, sudah kubilang ini berbahaya," ucap Leon, suaranya parau.

​Ailen menatap Leon, lalu dengan tenang ia menyeka noda oli di pipi Leon menggunakan ujung kaosnya. "Mas Leon... selamat Malam Minggu ya. Mas keren banget tadi pas nendang orang itu. Kayak di film-film, tapi Mas versinya lebih ganteng."

​Di tengah suara dentuman ledakan dan teriakan perang di kejauhan, Leon tertegun. Ia menarik pinggang Ailen, memeluknya erat di tengah halaman pabrik yang hancur itu.

​"Kau benar-benar tidak waras, Ailen Gavril," bisik Leon di telinga Ailen. "Tapi aku lebih tidak waras karena membiarkan diriku jatuh cinta pada gadis yang membagikan nasi goreng di tengah hujan peluru."

Setelah bala bantuan dari Tim Alpha datang dan memukul mundur pasukan musuh, perang wilayah itu akhirnya mereda menuju fajar. Keadaan masih kacau, namun markas depan berhasil dipertahankan.

​Leon membawa Ailen naik ke atas sebuah kontainer biru yang menghadap ke arah laut. Di sana, Leon sudah menyiapkan dua kursi lipat dan satu meja kecil yang sebenarnya adalah kotak amunisi kosong.

​"Ini makan malam romantis kita, Ailen. Sesuai permintaanmu," ucap Leon sambil mengeluarkan dua piring nasi goreng buatan Ailen yang masih tersisa.

​Ailen tertawa renyah. "Wah, mewah banget! Makan nasi goreng di atas kontainer, pemandangannya kapal perang sama asap kebakaran. Vibe-nya dapet banget, Mas!"

​Mereka makan dalam diam, menikmati sisa-sisa adrenalin yang perlahan turun. Leon menatap laut yang mulai memantulkan warna ungu fajar. Ia menyadari bahwa Malam Minggu kali ini, meski penuh darah dan keringat, adalah Malam Minggu yang paling "hidup" yang pernah ia rasakan dalam tiga puluh tahun usianya.

​"Mas Leon," panggil Ailen.

​"Ya?"

​"Mas tahu nggak? Tadi pas Mas nangkep saya di halaman, saya ngerasa kalau Mas itu bukan cuma Bos Mafia. Mas itu... pelindung saya. Makasih ya udah bikin Malam Minggu saya jadi nggak ngebosenin."

​Leon menggenggam tangan Ailen, meremasnya pelan. "Dan makasih sudah memberiku alasan untuk tetap menjaga wilayah ini tetap aman. Bukan karena bisnisnya, tapi karena ini adalah tempat di mana kau bisa tetap tertawa."

Tiba-tiba, Marco datang mendekat ke arah kontainer dengan wajah yang sulit diartikan. "Tuan... maaf mengganggu momen Anda."

​"Ada apa lagi, Marco? Musuh balik lagi?" tanya Leon siaga.

​"Bukan, Tuan. Tapi... koki utama musuh yang kita tangkap tadi bilang kalau dia menyerah bukan karena takut pada pasukan kita."

​"Lalu?"

​"Dia bilang, dia menyerah karena mencium bau nasi goreng Nona Ailen. Katanya, dia ingin minta resep saus sambalnya karena menurutnya itu adalah 'senjata biologis' paling enak yang pernah dia cium," lapor Marco dengan nada datar.

​Ailen bersorak senang. "Liat kan Mas! Masakan saya bisa bikin perdamaian dunia! Besok kita bikin cabang Nasi Goreng Vancort ya?"

​Leon hanya bisa memijat pelipisnya sambil tersenyum pasrah. "Satu kekacauan dalam satu waktu, Ailen. Sekarang, ayo kita pulang. Kau perlu tidur sebelum kau punya ide untuk membuka gerai bakso di tengah markas musuh."

​Mereka turun dari kontainer, berjalan beriringan menuju mobil lapis baja yang sudah menunggu. Di ufuk timur, matahari mulai terbit, menandakan berakhirnya Malam Minggu yang paling gila dalam sejarah klan Vancort. Sebuah malam di mana perang wilayah tidak hanya dimenangkan oleh peluru, tapi juga oleh aroma bawang goreng dan keberanian seorang gadis yang tidak tahu cara untuk takut.

​"Mas Leon, tapi janji ya Malam Minggu depan kita ke mal? Saya mau beli sandal jepit yang ada lampunya kalau diinjek bunyi cicit-cicit!"

​Leon hanya menghela napas panjang. "Akan kupikirkan, Ailen. Akan kupikirkan."

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!