NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 017

Langkah kaki Aksa dan Ziva yang beriringan di atas keramik teras belakang disambut oleh aroma gurih yang sangat kuat. Di ruang makan yang bergaya semi-terbuka itu, dua kotak besar martabak—satu martabak telur bebek spesial dan satu martabak manis keju cokelat—sudah terbuka lebar.

Abian sudah duduk manis dengan piring kecil di depannya. Ia baru saja mengganti kaos basketnya dengan kaos oblong bersih, namun rambutnya masih basah habis mandi.

"Cuci tangan sana! Jangan sampe keringat lapangan lo berdua bumbuin martabak gue," seru Abi sambil menunjuk wastafel di sudut ruangan dengan dagunya.

Ziva mendengus, namun ia tetap melangkah ke wastafel, diikuti oleh Aksa di belakangnya. Di sana, mereka berdiri berdampingan di depan cermin besar. Ziva memperhatikan bayangan mereka; dirinya yang kecil dengan rambut acak-acakan dan Aksa yang menjulang tinggi dengan jersey hitamnya yang masih lembap.

Aksa mengulurkan tangannya di bawah keran otomatis, membiarkan air mengalir membasuh sisa-sisa debu lapangan. Saat Ziva hendak mengambil sabun cair, tangan Aksa lebih dulu menekannya, memberikan sedikit busa ke telapak tangan Ziva sebelum mengambilnya untuk dirinya sendiri.

"Thanks," gumam Ziva singkat.

Aksa hanya mengangguk kecil. Gerakannya tenang, seolah-olah menghabiskan waktu di rumah Ziva adalah rutinitas yang sudah biasa ia lakukan.

"Gila, Bang! Lo pesen martabak telurnya yang isinya daging semua? Kolesterol ini mah!" Ziva mengomel saat melihat potongan martabak yang sangat tebal, namun tangannya tetap lincah menyambar sepotong besar.

"Halah, sok-sokan mikirin kolesterol, biasanya juga lo nyemil cilok depan gerbang sampe bibir merah kepedesan," balas Abi sambil mulutnya penuh martabak manis. Ia menoleh ke arah Aksa. "Aksa, makan yang banyak. Lo tadi udah dapet poin banyak, butuh asupan biar nggak tepar pas pulang."

Aksa duduk di kursi di sebelah Ziva. Ia mengambil sepotong martabak telur, mencocolnya ke dalam kuah cuka hitam pedas, dan mulai makan dengan sopan.

"Enak," ucapnya singkat.

"Jelas enak! Ini langganan gue dari zaman masih bolos bimbel," bangga Abi.

Suasana makan itu jauh dari kata formal. Tidak ada piring keramik mahal atau sendok perak yang biasanya disiapkan asisten rumah tangga Ziva. Mereka makan langsung dari kotak kartonnya di atas meja marmer. Tawa Abi yang meledak-ledak saat menceritakan bagaimana ia hampir jatuh saat mencoba dunk tadi, membuat suasana sore itu terasa sangat hidup.

Ziva sesekali melirik Aksa. Cowok itu lebih banyak mendengarkan, namun ia tidak terlihat risih. Sesekali, Aksa akan menyahut dengan kalimat pendek yang tajam namun lucu, membuat Abi makin semangat bercerita.

Di tengah keriuhan itu, suara mesin mobil mewah terdengar masuk ke garasi depan. Tak lama kemudian, langkah sepatu pantofel yang teratur mendekat ke arah ruang makan.

Baskara muncul dengan jas yang sudah disampirkan di lengan kirinya. Dasinya sudah sedikit longgar. Ia tampak lelah setelah seharian di kantor, namun wajahnya langsung cerah saat melihat kedua anaknya berkumpul di meja makan.

"Papa pulang," sapa Baskara.

Langkah kaki Baskara terhenti saat matanya menangkap sosok asing yang duduk di sebelah putrinya. Aksa langsung berdiri dengan sigap, meletakkan potongan martabaknya di piring kecil.

"Selamat sore, Om," sapa Aksa dengan nada yang sangat sopan dan tenang.

Baskara menatap Aksa lekat-lekat, lalu senyum tipis muncul di wajahnya. "Aksa Erlangga? Saya tidak menyangka akan melihat kamu di sini."

"Main basket tadi sama Abi, Pa. Terus dipaksa makan martabak," sapa Ziva, mencoba mencairkan suasana.

Baskara duduk di kepala meja, asisten rumah tangga segera membawakannya segelas air putih. "Sering-seringlah main ke sini. Rumah ini biasanya terlalu sepi kalau saya pulang. Hanya ada suara TV atau suara teriakan Ziva yang minta jajan."

"Papa!" Ziva protes dengan wajah memerah.

Aksa tersenyum tipis—kali ini senyum yang benar-benar sampai ke mata. "Terima kasih, Om. Abian lawan yang tangguh."

"Tangguh apanya, Pa! Dia dikuliti 21-5!" teriak Abi yang langsung disambut lemparan tisu oleh Ziva.

Pukul tujuh malam, Aksa berpamitan. Baskara dan Abi sudah kembali ke dalam rumah untuk menonton berita, meninggalkan Ziva yang mengantar Aksa sampai ke pintu gerbang samping.

Hujan rintik-rintik mulai turun lagi, membuat aroma tanah basah kembali tercium. Aksa sudah memakai jaket kulit hitamnya kembali di atas jersey-nya. Ia menyalakan mesin motornya yang menderu rendah di keheningan malam komplek.

"Aksa," panggil Ziva saat Aksa sudah memakai helm.

Aksa membuka kaca helmnya. "Ya?"

"Makasih buat hari ini. Gara-gara lo, Bang Abi nggak jadi jodohin gue sama tukang cilok," canda Ziva.

Aksa menatap Ziva sejenak. Cahaya lampu jalanan berwarna kekuningan memantul di mata cokelat gadis itu. "Tukang cilok itu lawan yang berat. Gue harus menang."

Ziva tertawa kecil. "Hati-hati di jalan. Licin."

"Hm. Besok Minggu," ucap Aksa tiba-tiba. "Jangan tidur seharian. Lo ada janji baca draf sama Liana kan? Kalau lo mager, gue jemput paksa."

"Dih, maksa! Emang lo mau ke mana besok?"

"Ada toko buku di deket perpus kota. Gue mau cari referensi tugas. Mau ikut?" tanya Aksa dengan nada sesantai mungkin, seolah mengajak jalan adalah hal paling biasa baginya.

Ziva terdiam. Jantungnya memberikan satu detakan ekstra yang sangat tidak sopan. "Liat besok. Kalau nyawa gue udah kumpul semua."

"Gue anggep itu 'ya'. Jam sepuluh," sahut Aksa, lalu ia menutup kaca helmnya dan melesat pergi, meninggalkan Ziva yang masih mematung dengan sisa aroma parfum maskulin yang tertinggal di udara.

Ziva berbalik masuk ke rumah dengan langkah yang entah kenapa terasa lebih ringan. Saat ia melewati cermin di lobi, ia baru sadar bahwa ia masih mengenakan pulpen perak 'A.E' untuk menjepit rambutnya.

"Sial," bisiknya sambil tersenyum lebar.

"Minggu besok kayaknya nggak bakal bisa hibernasi tenang."

Ziva melepas pulpen itu dari rambutnya, membiarkan helai-helai rambutnya jatuh tergerai berantakan. Ia memandangi inisial A.E itu di bawah lampu kristal lobi yang terang. Entah sejak kapan, benda logam dingin itu terasa jauh lebih hangat di tangannya.

Baru saja ia hendak melangkah menuju tangga, kepalanya menyembul kembali ke ruang makan. Di sana, Abian sedang asyik membereskan sisa martabak manis, sementara Baskara masih menyesap teh hangatnya.

"Pa, Bang," panggil Ziva pelan.

"Apa lagi? Mau minta martabak jatah besok pagi?" sahut Abi tanpa menoleh.

"Enggak. Cuma mau bilang... besok jam sepuluh gue keluar bentar. Mau ke perpustakaan kota sama Liana. Dan... Aksa," ucap Ziva, mencoba senatural mungkin meski nada suaranya sedikit goyah di akhir kalimat.

Abi menghentikan kunyahannya, lalu menoleh dengan seringai lebar yang sangat menyebalkan. "Ooooh, 'jemput paksa' itu beneran terjadi ya? Oke, oke. Papa, liat tuh, anak bungsu Papa akhirnya punya motivasi buat bangun pagi selain karena diskon online shop."

Baskara terkekeh, melambaikan tangan dengan santai. "Hati-hati besok. Dan Ziva... ajak teman-temanmu mampir lagi kalau sudah selesai. Papa suka suasana rumah yang ramai."

Ziva hanya mendengus, memutuskan untuk segera lari ke lantai dua sebelum Bang Abi mulai mengarang lirik lagu ejekan untuknya.

Sesampainya di kamar, Ziva tidak langsung merebahkan diri. Ia duduk di pinggir kasur, menyalakan ponselnya yang sejak sore ia abaikan. Benar saja, grup "Trio Mager" sudah meledak.

[Manda]: ZIVA!! GUE LIAT MOTOR AKSA KELUAR DARI KOMPLEK LO!

[Tika]: Ziv, lo masih hidup kan? Nggak pingsan gara-gara liat Aksa keringetan di depan mata?

Ziva hanya tersenyum kecil, lalu mengetik balasan singkat.

[Ziva]: Gue aman. Dia cuma tanding basket sama Bang Abi. Udah ya, gue mau tidur. Besok harus bangun pagi.

Ia meletakkan ponselnya, namun sebuah notifikasi muncul. Bukan dari grup, melainkan dari nomor yang kini sudah ia simpan namanya sebagai Aksa.

[Aksa]: Gue udah sampe rumah.

Hanya empat kata. Sangat singkat, sangat khas Aksa. Namun bagi Ziva—atau Zura yang berada di dalamnya—pesan itu terasa seperti sebuah laporan tanggung jawab yang manis.

[Ziva]: Ok. Tidur sana. Jangan mikirin martabak terus.

Di seberang sana, di kamarnya yang mewah namun seringkali terasa terlalu sepi, Aksa Erlangga menatap balasan itu dengan sudut bibir yang sedikit terangkat. Ia meletakkan ponselnya di atas meja sketsa, tepat di samping gambar kasar seorang gadis yang sedang cemberut sambil memegang keripik.

Malam itu, di kediaman Winata, Ziva tertidur dengan perasaan yang sangat jauh berbeda dari hari pertamanya terbangun di dunia novel ini. Tidak ada ketakutan akan Reygan, tidak ada beban menjadi antagonis. Hanya ada rasa kantuk yang nyaman dan bayangan tentang toko buku bekas di hari Minggu besok.

Zivanna Clarissa Winata benar-benar telah mematikan mesin drama lamanya, dan tanpa ia sadari, ia baru saja menyalakan mesin cerita baru yang jauh lebih adem.

1
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!