"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: KUNJUNGAN SANG BADAI
Pagi itu, mansion Winchester terasa lebih hangat. Adrian, Ayah Keano, ternyata tidak benar-benar marah soal kejadian di meja makan kemarin. Beliau justru terlihat sedang mengobrol santai dengan Keano di teras. Adrian hanya tipe orang tua yang kaku, tapi hatinya tulus. Dia hanya ingin memastikan bahwa perubahan Alzena bukan karena dia sedang dalam tekanan mental yang berbahaya.
"Keano," panggil Adrian sambil melipat korannya. "Aku tidak bermaksud kasar padanya tadi pagi. Aku hanya... terkejut. Tapi jika dia merasa lebih bahagia dengan menjadi dirinya yang sekarang, aku tidak akan melarang. Berikan dia ruang."
Keano tersenyum tipis, merasa lega ayahnya bisa mengerti. "Terima kasih, Ayah. Dia memang luar biasa."
Sementara itu, di lantai atas, Arcelia sedang bersiap-siap. Dia memakai setelan blazer hitam dengan dalaman tanktop putih, rambutnya diikat ekor kuda dengan sangat rapi, dan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Tidak ada lagi kesan "istri depresi" yang lemah. Hari ini, dia adalah Arcelia sang peretas maut yang siap menuntut balas.
"Waktunya menyapa 'Papa' tersayang," gumamnya.
Dia turun ke bawah, melewati Keano dan Adrian tanpa permisi. Dia langsung menuju garasi, tapi Keano dengan cepat mengejarnya.
"Mau ke mana, Al?" tanya Keano, mencekal lembut pergelangan tangannya.
Arcelia menoleh, melepaskan kacamata hitamnya sedikit. "Gue mau ke kantor Halim Group. Ada sampah yang perlu dibersihin di sana. Dan jangan coba-coba larang gue kalau lo nggak mau ban mobil lo gue kempesin."
Keano terkekeh. Bukannya marah, dia justru menyerahkan kunci mobil sport miliknya yang paling mahal. "Pakai ini. Biar mereka tahu siapa yang datang. Aku akan menyusul setelah rapatku selesai. Jangan bunuh orang, oke?"
"Gantungannya aja yang gue bikin goyang, orangnya liat nanti," jawab Arcelia sambil menyeringai.
Kantor Halim Group – Pusat Kota New Ardent
Gedung pencakar langit itu tampak angkuh. Arcelia memarkirkan mobil sport-nya tepat di depan lobi, menghalangi jalur mobil direksi. Dia turun dengan gaya yang sangat bossy, membuat petugas keamanan di depan lobi melongo.
"Nona Alzena? Anda tidak bisa parkir di sini," cegat salah satu satpam.
Arcelia hanya menatapnya dari balik kacamata hitam. "Gue pemilik saham di sini lewat warisan ibu gue. Gue bisa parkir di atas kepala lo kalau gue mau. Minggir."
Dia melangkah masuk dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi *tuk-tuk-tuk* dengan tegas di lantai marmer. Di lobi, dia berpapasan dengan seorang pria tinggi, berwajah dingin namun memiliki sorot mata yang penuh kesedihan saat menatapnya.
Itu **Virel Kaizen Halim**, kakak laki-laki Alzena.
Virel terpaku. Dia sudah mendengar kabar bahwa adiknya bangun dari koma dengan sifat yang berbeda, tapi melihatnya secara langsung seperti ini membuatnya syok. Alzena yang dia kenal biasanya akan langsung menunduk atau memeluknya sambil menangis jika bertemu.
"Alzena?" panggil Virel ragu.
Arcelia berhenti, dia menatap Virel. Di memori tubuh ini, Virel adalah satu-satunya orang di keluarga Halim yang sering diam-diam menaruh cokelat di kamar Alzena atau membelanya saat Aldric marah besar. Tapi bagi Arcelia, Virel tetaplah orang yang diam saja saat dia (Arcelia) dibuang.
"Hai, Kak," sapa Arcelia pendek. Tidak ada pelukan, tidak ada air mata.
"Kamu... kamu benar-benar sudah sembuh? Kenapa datang ke sini? Ayah sedang rapat besar," ujar Virel pelan, mencoba mendekat untuk menyentuh bahu adiknya.
Arcelia menghindar dengan halus. "Justru karena dia lagi rapat, gue dateng. Gue mau kasih kejutan yang nggak bakal dia lupain seumur hidupnya. Ikut gue kalau lo mau liat pertunjukan."
Virel mengernyit, tapi dia mengikuti langkah adiknya menuju lift khusus direksi. Di dalam lift, suasana terasa canggung. Virel berkali-kali melirik adiknya.
"Zen, kamu beda banget. Caramu bicara..."
"Dunia berubah, Kak. Dan gue nggak mau mati dua kali gara-gara jadi orang baik yang bego," potong Arcelia telapak.
Lift berdenting di lantai paling atas. Arcelia langsung menuju ruang rapat utama tanpa memedulikan sekretaris yang mencoba menghalangi. Dengan satu tendangan santai tapi bertenaga, Arcelia membuka pintu ganda ruang rapat itu.
*BRAK!*
Seluruh jajaran direksi, termasuk Aldric Halim yang sedang presentasi, menoleh dengan wajah pucat.
"Siapa yang berani— Alzena?!" teriak Aldric, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Apa yang kamu lakukan di sini? Keluar! Kami sedang rapat penting!"
Arcelia melangkah masuk, menarik sebuah kursi kosong di ujung meja dan duduk dengan kaki menyilang di atas meja—aksi yang sangat tidak sopan dan membuat semua orang menarik napas pendek.
"Rapat penting soal apa, Pa? Soal gimana cara Papa nipu pajak atau soal gimana cara Papa nutupin skandal penggelapan dana panti asuhan sepuluh tahun lalu?" tanya Arcelia dengan nada sangat santai namun suaranya menggema di seluruh ruangan.
Wajah Aldric yang tadinya merah mendadak jadi putih seputih kertas. "Apa yang kamu bicarakan?! Kamu sudah gila?!"
"Gue nggak gila. Gue cuma... dapet pencerahan," Arcelia mengeluarkan sebuah *flashdisk* dari sakunya dan melemparnya ke tengah meja. "Di situ ada semua data digital yang udah Papa hapus. Papa pikir kalau Papa bakar gedungnya, jejaknya ilang? Papa lupa kalau di dunia ini ada yang namanya cloud storage?"
Virel yang berdiri di ambang pintu hanya bisa terdiam. Dia mulai menyadari bahwa adiknya ini bukan lagi Alzena yang butuh dilindungi. Dia adalah badai yang akan meruntuhkan rumah mereka.
"Alzena, cukup! Pulang sekarang!" bentak Aldric, mencoba meraih flashdisk itu.
Tapi Arcelia lebih cepat. Dia berdiri, mencengkeram tangan ayahnya dengan kekuatan yang tak terduga. Matanya menatap tajam ke dalam mata Aldric.
"Gue nggak bakal pulang sebelum Papa tau satu hal. Papa buang satu anak demi harta, sekarang anak yang satu lagi bakal ambil semua harta itu sampe Papa nggak punya apa-apa lagi buat disombongin," bisik Arcelia, cukup keras untuk didengar seluruh direksi.
"Kau... kau tahu soal itu?" tanya Aldric gemetar.
"Gue tau semuanya, 'Pa'. Dan gue nggak bakal diem aja kayak Alzena yang dulu."
Tiba-tiba, Shania masuk ke ruangan dengan wajah panik. "Ayah! Apa yang terjadi? Kenapa Alzena ada di sini?!"
Arcelia menoleh pada Shania, senyum miringnya muncul. "Wah, si ular dateng. Pas banget. Gue baru mau bahas soal gimana lo dapet posisi 'anak kesayangan' lewat cara-cara yang kotor."
Shania mundur selangkah, ketakutan melihat aura Arcelia. "Kamu... kamu jangan ngaco ya!"
Tepat saat itu, pintu ruangan kembali terbuka. Keano masuk dengan aura yang begitu mendominasi, diikuti oleh Evan dan beberapa pengawalnya. Keano langsung berjalan menuju Arcelia dan berdiri di belakangnya, meletakkan tangannya di bahu istrinya seolah mengatakan pada dunia bahwa dia adalah pelindung wanita ini.
"Maaf mengganggu rapatnya, Tuan Halim," ujar Keano dingin. "Tapi istriku sepertinya punya urusan mendesak di sini. Dan apa pun yang dia inginkan, adalah perintah bagiku."
Aldric terduduk lemas di kursinya. Dia tahu, jika Keano sudah turun tangan, dia tidak punya harapan.
Arcelia menepuk tangan Keano di bahunya, lalu menatap semua orang di ruangan itu. "Hari ini gue cuma kasih peringatan. Besok, gue bakal balik lagi buat ambil apa yang seharusnya jadi milik gue. Shania, nikmatin hari-hari terakhir lo jadi 'Nona Besar', karena bentar lagi lo bakal balik ke tempat asal lo: selokan."
Arcelia berbalik, berjalan keluar ruangan dengan penuh kemenangan. Keano mengikutinya dari belakang, memberikan tatapan tajam terakhir pada Aldric yang membuat pria tua itu merinding.
Virel mengejar mereka sampai ke depan lift. "Zen! Tunggu!"
Arcelia berhenti, menoleh pada kakaknya. "Apa lagi, Kak?"
Virel menatap adiknya dengan tatapan sedih. "Apapun yang kamu rencanakan... tolong, jangan sakiti Ibu. Dia nggak tau apa-apa soal apa yang dilakuin Ayah dulu."
Arcelia terdiam sejenak. Sorot matanya melunak hanya untuk satu detik. "Gue nggak bakal sakiti Ibu. Tapi gue nggak janji soal Papa dan si ular itu. Lo mendingan minggir kalau nggak mau kena serpihan kehancuran mereka, Kak."
Virel hanya bisa menatap punggung adiknya yang menghilang di balik pintu lift. Dia merasa bangga, tapi juga takut. Bangga karena Alzena akhirnya berani, tapi takut karena dia tahu adiknya sedang bermain dengan api yang sangat besar.
Di dalam mobil, Keano menatap Arcelia yang sedang menyandarkan kepalanya di jok sambil memejamkan mata.
"Puas?" tanya Keano lembut.
"Belum. Ini baru pemanasan," jawab Arcelia tanpa membuka mata. "Gue bakal bikin mereka ngerasain apa yang dirasain anak yang mereka buang itu."
Keano meraih tangan Arcelia, mencium punggung tangannya dengan takzim. "Apapun itu, aku akan selalu ada di belakangmu, Arcelia."
Arcelia tersentak. Dia membuka matanya dan menatap Keano. Keano baru saja menyebut nama aslinya, atau hanya salah dengar? Tapi Keano hanya tersenyum misterius, seolah dia sudah tahu rahasia terbesar yang sedang Arcelia sembunyikan.
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘