Jeslin seorang wanita cantik dan baik hati,harus mengorbankan Cita - cita nya untuk menjadi seorang pelukis setelah menyelesaikan kuliah S1 nya.
Iya harus turun kedunia bisnis demi keinginan sang Ayah,karena ia adalah putri satu - satu nya.
Suatu hari,Perusahaan Ayah nya menjalin Kontrak Bisnis dengan sebuah perusahaan seorang pria yang sangat ia kenal.
Pria yang bernama Max,yang selalu membuat nya kesal dengan panggilan gadis jutex akhir nya berhasil membuat nya merasakan jatuh Cinta,tapi siapa sangka,setelah ia sudah menaruh hati nya pada Max,pria itu tiba - tiba berubah karena sebuah alasan.
Akan kah Max dan Jeslin dipersatukan di sebuah pernikahan.Yuk Disimak Kisah perjalanan Jeslin dan Max.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 - Perkelahian
Max pun terdiam sejenak,tak mengerti Kenapa Jeslin biasa - biasa saja melihat Marcel dengan wanita lain.
"Bukan kah dia pacar mu?."Tanya Max.
"Pacar ku?." Saut Jeslin.
"Iya."
"Apa kau cemburu aku dengan nya?." Tanya Jeslin tersenyum sinis.
"Tidak."
"Oh tidak perlu bertanya kalau begitu ,mau dia pacar ku atau bukan ,itu tidak menjadi urusan mu." Ketus Jeslin.
Jeslin terlihat kesal saat mendengar Max tidak perduli status apa yang ada pada nya dan Marcel.
Max pun permisi ke toilet sebentar sementara Jeslin menikmati makanan nya.
Saat Max sedang berada di toilet Pria ia mencuci tangan nya di wastafel setelah membuang air kecil.
Marcel yang tidak sengaja masuk dan melihat Max ada di dalam pun hanya tersenyum,begitu juga dengan Max,di antara mereka begitu dingin,membuat suasana Toilet agak mencekam.
"Kau kenapa datang bersama Wanita lain,dan membuat Jeslin melihat semua itu." Kata Max saat Marcel di samping nya mencuci tangan.
"Dia tidak punya hak untuk melarang ku dekat dengan siapa saja,wanita seperti nya aku bisa menemukan dimana saja.." Jawab Marcel yang masih kesal atas penolakan Jeslin pada nya.
"Lagian,kau seperti pecundang,datang pada Jeslin dan diam saja,jangan berfikir aku tidak tahu kau menyukai nya,karena kau juga dia menolak ku." Kata Marcel dengan sinis.
Marcel sangat membenci Max,karena menurut nya,Max lah alasan Jeslin tidak menerima nya. Meski tidak pernah di beritahu Jeslin,Marcel bisa melihat Mata Jeslin saat curi - curi melihat Max.
Max yang mendengar kata seperti itu pun merasa kesal,ia mengepal kan kedua tangan nya dan Menganti posisi nya berdiri dan kini menghadap Marcel,Marcel yang sedang mencuci tangan melihat Max menghadap nya pun ikut mengubah posisi nya dan kini saling berhadapan.
Max menatap Marcel penuh kegeraman.
"Kenapa ?,Tidak senang?." Ucap Marcel.
Max pun melayang kan sebuah Pukul di wajah Marcel,Marcel yang tidak terima pun membalas nya dan terjadi lah adu pukul di antara mereka.
Jeslin yang mendengar keributan orang di dibelakang Restoran pun bertanya - tanya dalam hati.
"Ada apa ya?,Max kemana,kenapa lama sekali." Ucap Jeslin.
Jeslin lalu melihat ke arah tempat duduk Marcel di ujung dan melihat wanita itu hanya sendiri dan tak terlihat Marcel.
Jeslin pun lansung kepikiran antara Max dan Marcel,karena takut terjadi sesuatu,Jeslin pun dengan cepat berlari ke arah kerumunan Karyawan yang sedang berkumpul dekat toilet Pria.
Jeslin menerobos masuk dan melihat Max dan Marcel berkelahi,meski sudah di lerai para Karyawan,Mereka tidak juga berhenti.
"Max,Marcel,apa yang kalian lakukan." Teriak Jeslin.
Namun Emosi antara Mereka membuat mereka tidak mendengar dan menyadari kalau ada Jeslin di antara mereka.
Jeslin pun meneroboh masuk dan melerai mereka,tapi Jeslin kalah tenaga hingga Jeslin pun terkena pukul Tangan Marcel di bagian kepala nya dan membuat Ia terjatuh seketika dan Pingsan.
Jeslin yang terpukul dan terjatuh membuat Max dan Marcel menghenti kan perkelahian mereka.
"Jeslin." Kata Marcel terkejut saat melihat Wanita yang ia cintai terkena pukulan karena perkelahian mereka. Marcel mendekati Jeslin namun Max menarik nya dan mendorong nya menjauhi Jeslin.
Dengan Wajah yang panik,Max mengendong Jeslin ke dalam tangan nya dan membawa Jeslin ke rumah sakit.
.
.
.
.
.
Bersambung