"Aku memaafkan pengkhianatanmu demi nama baik keluarga, tapi hatiku sudah mati."
Arga, CEO 30 tahun, terjebak nikah bisnis dengan istri yang hamil anak orang lain. Hatinya dikunci rapat.
Sampai Queen, mahasiswi bar-bar 20 tahun + pewaris universitasnya, datang dan menantang semua aturan.
Satu ciuman di club malam meruntuhkan tembok esnya.
Sekarang Arga harus pilih: Tetap di neraka pernikahan, atau terbakar dalam gairah terlarang dengan mahasiswinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TANGIS PERTAMA DI UJUNG DUNIA KECIL KITA
Udara malam di awal musim semi menyelimuti kota Jakarta dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.
Di dalam kamar utama sebuah penthouse mewah di kawasan Menteng yang kini menjadi tempat tinggal tetap Arga dan Queen setelah menikah suasana tampak begitu kontras dengan ketenangan di luar.
'Tok! Tok! Tok!'
"Arga!
Gimana keadaan di dalam?
Queen baik-baik saja, kan?!"
suara panik bercampur cemas dari balik pintu kamar menggelegar memenuhi ruangan.
Itu adalah suara Handoko Adhitama, sang kakek baru yang sejak dua jam lalu mondar-mandir tidak karuan di depan pintu kamar utama, ditemani oleh sang istri, Elena, serta Gayatri dan Alya yang sama-sama sibuk menggigit kuku karena tegang.
Di dalam kamar yang diterangi lampu temaram hangat, Arga berdiri di sisi ranjang dengan napas yang memburu ngos-ngosan.
Kemeja hitam yang ia kenakan sudah tampak kusut masai, lengannya digulung hingga siku, dan butir-butir keringat bercucuran deras membasahi pelipisnya.
Tangannya yang kokoh menggenggam erat jemari Queen yang kini terkulai lemas di atas seprai putih bersih.
"Dad!
Tenang di luar!
Queen sedang berjuang!"
balas Arga setengah berteriak ke arah pintu, suaranya terdengar serak namun penuh ketegasan yang mutlak.
Di atas ranjang, Queen meringis hebat.
Wajah baby face-nya yang biasanya ceria kini tampak pucat pasi, bermandikan peluh.
Rambut panjangnya lepek menempel di dahi.
Usia kehamilannya kini genap sembilan bulan, dan tanpa diduga, kontraksi hebat melanda secara mendadak pukul sembilan malam tadi.
Mengingat kondisi medis dan protokol keamanan yang ketat, tim dokter spesialis obgyn pribadi keluarga Adhitama langsung didatangkan ke rumah untuk membantu proses persalinan secara privat.
"Sakit, Mas..."
rintih Queen dengan suara parau, air matanya menetes tak tertahankan di sudut mata.
Ia meremas punggung tangan Arga begitu kuat hingga buku-buku jari suaminya memutih.
"Sumpah... ini sakit banget... aku gak kuat..."
Arga merasakan hatinya bagai diiris-iris melihat penderitaan wanita yang paling ia cintai.
Tanpa memedulikan wibawanya sebagai dosen killer atau pria paling ditakuti di dunia korporasi, Arga menunduk.
Ia mendekatkan wajahnya, mencium kening Queen yang berkeringat dengan penuh kelembutan, lalu mengecup air mata di pipi istrinya turun ke bibir gadis itu.
"Kamu kuat, Queen...
Kamu wanita paling hebat yang pernah aku kenal,"
bisik Arga serak, suaranya bergetar hebat menahan haru sekaligus rasa ngilu melihat perjuangan istrinya.
"Fokus sama aku.
Tarik napas yang dalam... lalu hembuskan perlahan.
Aku di sini.
Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Dokter Maya dokter kandungan yang dulu memeriksa mereka dan kini dipercaya memimpin proses persalinan tersenyum di ujung kaki ranjang.
"Bagus, Nyonya Queen.
Kontraksinya sudah semakin rapat.
Tarik napas dalam-dalam lewat hidung, lalu dorong sekuat tenaga saat ada aba-aba dari saya.
Bapak Arga, terus dampingi dan berikan sugesti positif."
Queen mengangguk lemah.
Mengikuti instruksi dokter, ia menarik napas sepanjang-panjangnya, mengerahkan seluruh sisa tenaga di dalam tubuhnya, lalu mengejan sekuat tenaga sembari meremas tangan Arga hingga batas maksimal.
"Aaaaaah...!"
jerit Queen tertahan, menyalurkan seluruh rasa sakitnya pada genggaman tangan sang suami.
"Bagus, Queen!
Dorong lagi, Sayang!
Sedikit lagi!"
teriak Arga memberi semangat, air mata kelelakiannya nyaris tumpah melihat perjuangan hidup dan mati istri tercintanya.
Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat tegang.
Detik-detik berlalu terasa begitu lambat, diisi oleh suara napas memburu dan rintihan penuh peluh.
Hingga pada detik berikutnya...
_Oek... Oek... Oek!_
Tangisan nyaring seorang bayi memecah keheningan malam di dalam kamar mewah tersebut.
Suara itu menggema begitu kuat, menandakan kehidupan baru yang sehat dan penuh vitalitas baru saja hadir ke dunia.
Dokter Maya mengangkat sesosok tubuh kecil berlumuran darah dan cairan ketuban dengan penuh kehati-hatian.
Senyuman lebar merekah di wajah sang dokter.
"Selamat, Bapak Arga, Ibu Queen.
Bayinya laki-laki, sehat, sempurna, dan suaranya sangat kuat!"
Sekejap, beban berat yang menekan dada Arga seolah menguap tak bersisa.
Ia menatap bayi merah yang sedang dibersihkan oleh tim medis dengan tatapan kosong yang dipenuhi oleh ledakan kebahagiaan yang teramat besar.
Seketika itu juga, pertahanan emosional Arga runtuh.
Pria tegar itu menitikkan air matanya di hadapan sang istri.
Queen, yang kelelahan luar biasa hingga napasnya tersengal-sengal, tersenyum lemah.
Ia mendongak, menatap wajah Arga yang basah oleh air mata bahagia.
"Mas... kita berhasil..."
"Ya, kita berhasil, Sayang..."
bisik Arga terbata-bata.
Ia mencium bibir Queen penuh rasa syukur yang mendalam, lalu beralih mencium kening istrinya berkali-kali.
"Terima kasih...
Terima kasih sudah melahirkan belahan jiwa kita."
Beberapa menit kemudian, setelah bayi mungil itu dibersihkan dan dibedong rapi dengan kain katun lembut berlogo keluarga Adhitama, perawat menyerahkannya ke dalam pelukan hangat sang ibu.
Queen menatap takjub ke arah makhluk kecil di dalam dekapan tangannya.
Bayi itu memiliki rambut hitam lebat, hidung mancung yang sangat mirip dengan Arga, dan kulit kemerahan yang bersih.
Begitu didekatkan ke dadanya, bayi laki-laki itu langsung tenang, seolah mengenali detak jantung wanita yang selama sembilan bulan merawatnya.
Arga duduk di tepi ranjang, merangkul bahu Queen dan ikut menunduk, menatap putra pertama mereka dengan tatapan mata elang yang kini melunak sempurna penuh oleh cinta seorang ayah yang teramat agung.
"Siapa nama yang akan kita berikan untuk jagoan kecil kita ini, Hm?"
tanya Arga lembut, jemari kasarnya menyentuh pipi mungil sang bayi dengan sangat hati-hati, takut menyakitinya.
Queen mendongak, menatap suaminya dengan senyuman paling tulus di dunia.
"Bagaimana kalau... Dirgantara Adhitama?"
Arga tertegun sejenak, lalu tersenyum hangat.
Nama itu menggabungkan dua dinasti besar nama keluarga mereka berdua sebagai simbol bahwa anak ini lahir dari badai cinta yang telah mereka menangkan bersama.
"Nama yang sempurna, Dirgantara Adhitama."
'Cklek.'
Pintu kamar utama tiba-tiba terbuka lebar tanpa sabar.
Handoko Adhitama memimpin rombongan keluarga yang sudah tidak sabar lagi di luar.
Di belakangnya, Elena, Gayatri, dan Alya berbondong-bondong menyerbu masuk, mengabaikan aturan formal demi bisa melihat cucu pertama mereka.
"Astaga... cucuku!"
seru Mama Gayatri histeris penuh haru, langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat bayi mungil di dalam gendongan Queen.
Handoko, sang konglomerat nomor dua di dunia yang biasanya berwajah dingin dan kaku, mendadak melangkah dengan langkah lebar penuh antusias.
Begitu melihat wajah cucu laki-lakinya dari dekat, mata pria paruh baya itu tampak berkaca-kaca.
Ia menyentuh jemari kecil sang cucu dengan ujung telunjuknya yang besar.
"Dia... dia mirip sekali dengan Arga waktu kecil," gumam Handoko takjub, suaranya bergetar hebat.
"Garis rahangnya, bentuk hidungnya... masa depan dinasti kita aman di tangan anak ini."
Alya langsung melompat kegirangan di sebelah ranjang, matanya berbinar-binar menatap keponakan barunya.
"Wah, parah sih!
Ponakan gue ganteng banget!
fix, nanti gedenya bakal jadi rebutan cewek-cewek se-Jakarta kayak abang!"
Keluarga besar di dalam kamar itu langsung meledakkan tawa bahagia.
Ketegangan, air mata ketakutan, dan drama kelam di masa lalu seolah lenyap tak bersisa, tersapu oleh tangisan pertama sang bayi yang membawa berkah.
Arga merangkul pinggang Queen erat-erat, sementara kepala istrinya bersandar nyaman di bahunya.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan melihat senyuman bahagia di wajah ibunya, kebanggaan di mata ayah mertuanya, dan kehangatan dari keluarga yang kini utuh sepenuhnya.
Dunia luar mungkin masih berputar dengan segala kerumitannya, namun di dalam ruangan ini, di bawah cahaya lampu temaram dan dekapan hangat keluarga tercinta, Arga tahu bahwa hidupnya kini telah sempurna.
Ia tidak lagi meminta apa pun selain menjaga dua malaikat kecil di sisinya: Queen, sang istri tercinta, dan Dirgantara Adhitama, penerus masa depan cinta mereka yang abadi.
recom lah pokoknyaa