Riski seorang Fans Sepak bola fanatic saat pulang nonton pertandingan di tabrak mobil dan akhirnya terlempar Ke Dunia Lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Misi Pertama di Tanah Berdebu
Matahari pagi di kota Bau-Bau mulai naik, memancarkan panas yang menyengat kulit. Di sebuah gang sempit yang diapit oleh rumah-rumah panggung kayu, Riski berdiri diam sambil menatap bola plastik merahnya yang mulai memudar warnanya. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara klakson kapal dari Pelabuhan Murhum dan bisingnya mesin angkot yang melintas di jalan raya. Bagi orang lain, ini adalah hari Sabtu biasa di tahun 2006. Namun bagi Riski, ini adalah hari pertama ia akan menguji takdir barunya.
"Riski! Riski! Ayo keluar! Kurang orang ini!"
Suara teriakan cempreng memecah lamunan Riski. Tiga orang anak laki-laki dengan kaos oblong yang sudah basah oleh keringat berdiri di depan pagar kayu rumah pengasuhan. Yang paling depan adalah Andi, anak yang usianya sedikit lebih tua dari Riski dan dikenal sebagai yang paling jago menggiring bola di lingkungan tersebut.
Riski menarik napas dalam-dalam. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa aneh; di dalam kepalanya ada jiwa pria dewasa yang pernah menonton ribuan pertandingan sepak bola dunia, namun tubuhnya kini adalah bocah enam tahun yang ringkih.
"Ayo, Ris! Malah melamun. Si Budi tidak ikut, dia disuruh ibunya beli minyak tanah. Cepat ambil bolamu!" teriak Andi lagi sambil melambai-lambai.
Riski mengangguk. "Tunggu! Aku ambil sandal dulu!"
Saat Riski melangkah keluar pagar, sebuah sensasi dingin tiba-tiba merambat di tulang belakangnya. Layar biru neon yang ia lihat di dalam kamar kembali muncul, melayang tepat di depan matanya.
[Ding! Misi Baru Terdeteksi!]
[Nama Misi: Pembuktian Sang Maestro Cilik]
[Tujuan: Cetak 2 Gol dalam permainan hari ini]
[Hadiah Misi:]
Inventory Tak Terbatas (Aktif Secara Otomatis)
Seluruh Stats naik 1 poin (Termasuk Overall)
Mata Riski membelalak. Inventory tak terbatas? Itu berarti ia bisa menyimpan apa pun tanpa beban? Dan kenaikan statistik secara instan? Ini adalah kesempatan emas. Namun, ia kembali melirik kakinya yang pendek dan kurus. Dengan statistik Pac (Kecepatan) yang hanya 05, bagaimana mungkin ia bisa menembus pertahanan teman-temannya yang lebih besar?
Mereka tiba di sebuah lahan kosong yang tidak jauh dari pesisir. Tanah di sana kering, berbatu, dan dipenuhi debu yang akan terbang setiap kali kaki seseorang menendang tanah. Gawangnya hanya terbuat dari susunan dua batu besar di masing-masing sisi. Di tahun 2006, anak-anak Bau-Bau tidak membutuhkan stadion megah; cukup tanah lapang dan bola plastik seharga seribu rupiah, dan mereka merasa seperti bermain di final Piala Dunia.
"Timku sama Riski dan Iwan! Kalian bertiga di sana!" Andi membagi tim dengan cepat.
Permainan dimulai tanpa peluit. Begitu bola ditendang, debu langsung mengepul. Riski segera menyadari satu hal yang menyakitkan: tubuhnya benar-benar lambat. Ia mencoba mengejar bola, tetapi Andi dan anak-anak lainnya berlari jauh lebih cepat. Statistik Pac: 05 bukanlah lelucon—ia merasa seperti siput yang mencoba mengejar kelinci.
Aku tidak bisa mengandalkan adu lari, pikir Riski sambil mengatur napasnya yang mulai terasa berat (Phy: 10). Aku harus mengandalkan posisi dan Dribbling.
Bola plastik itu melayang tak tentu arah ditiup angin laut yang cukup kencang. Saat bola memantul ke arah Riski, seorang anak bernama Doni berlari menerjangnya. Doni lebih besar dan lebih kuat. Namun, Riski tidak panik. Ia membiarkan bola memantul sekali, lalu dengan satu sentuhan halus (Dri: 14), ia menggeser bola ke sela kaki Doni yang terbuka lebar.
Nutmeg!
Doni terdiam karena malu, sementara Riski terus membawa bola. Sayangnya, begitu ia mencoba menendang, tenaganya terasa sangat kurang. Bola berhasil ditepis oleh "kiper" lawan yang hanya berdiri santai.
"Ayo Ris! Fokus!" teriak Andi.
Menit-menit berlalu. Riski mulai memahami ritme tubuh kecilnya. Ia sering berada di posisi yang tepat sebelum bola sampai—sebuah insting dari masa depannya sebagai pengamat taktik. Namun, fisiknya mulai terkuras. Keringat membasahi dahi dan baju kaosnya.
Gol pertama. Aku butuh satu gol sekarang.
Andi melakukan akselerasi di sisi kanan dan mengirimkan operan silang yang melambung rendah. Bola plastik merah itu berputar-putar di udara. Riski melihat celah. Ia tidak menunggu bola jatuh ke tanah. Dengan statistik Sho: 12, yang merupakan salah satu nilai tertinggi di tubuhnya saat ini, ia melakukan tendangan voli kecil.
Brak!
Bola plastik itu meluncur tepat ke sudut bawah "gawang" batu. Gol!
"Woi! Bagus, Ris!" Andi berteriak kegirangan sambil melakukan selebrasi ala pemain bola di TV.
Riski tersenyum kecil. Satu gol lagi. Namun, rasa lelah mulai menyerang kakinya. Paru-parunya terasa panas menghirup debu kering. Tim lawan mulai waspada. Mereka melihat Riski bukan lagi sebagai "beban" tim, melainkan ancaman tersembunyi.
Skor kini 1-1. Matahari semakin terik di atas kepala mereka. Permainan semakin kasar; kaki-kaki mungil itu sering berbenturan dengan batu dan tanah keras. Riski terjatuh sekali saat didorong oleh Doni. Rasa perih di lututnya terasa nyata, mengingatkannya bahwa ini bukan simulasi, melainkan hidup yang baru.
Satu gol lagi. Hanya satu.
Permainan hampir berakhir karena Andi harus pulang untuk sholat Dzuhur. Ini adalah kesempatan terakhir. Iwan memenangkan bola di lini belakang dan memberikan operan pendek ke Riski. Riski terjepit di antara dua pemain lawan.
Dalam situasi normal, Riski kecil pasti akan kehilangan bola. Namun, Riski menggunakan otaknya. Ia melakukan gerakan tipu, berpura-pura akan mengoper ke Andi di sisi kiri, namun justru memutar tubuhnya sambil menarik bola dengan telapak kakinya. Itulah kekuatan Dribbling 14.
Ia berhasil lepas! Di depannya hanya ada ruang kosong. Namun, lawan mengejarnya dari belakang. Kecepatannya yang rendah membuatnya cepat terkejar. Doni sudah berada di sampingnya, siap untuk melakukan tackle.
Tanpa menunggu lebih lama, dari jarak yang cukup jauh bagi anak seusianya, Riski melepaskan tendangan melengkung. Bola plastik itu sangat ringan, sehingga jika ditendang dengan teknik yang benar, ia akan melayang dengan jalur yang sulit ditebak.
Bola itu melesat, melengkung di udara, mengenai tiang batu bagian dalam, dan memantul masuk ke gawang.
[Ding! Misi Berhasil!]
[Hadiah Dikirim...]
Seketika, rasa lelah yang luar biasa di tubuh Riski seolah terangkat sedikit. Layar sistem muncul di depan matanya, namun kali ini dengan cahaya yang lebih terang.
Permainan berakhir dengan kemenangan tim Riski 2-1. Teman-temannya pulang dengan tawa, sementara Riski berjalan perlahan kembali ke rumah pengasuhan. Debu masih menempel di kulitnya yang berkeringat, namun matanya fokus pada layar status yang baru saja diperbarui.
[Statistik Riski Telah Diperbarui]
Sebelumnya:
Overall: 9.5
Pac: 05
Sho: 12
Pas: 09
Dri: 14
Def: 07
Phy: 10
Setelah Kenaikan +1 Poin:
Pac: 06
Sho: 13
Pas: 10
Dri: 15
Def: 08
Phy: 11
[Overall Baru: 10.5]
[Fitur Terbuka: Inventory Tak Terbatas]
Keterangan: Ruang penyimpanan sub-dimensi yang tidak memiliki batas berat atau volume. Saat ini kosong.
Riski menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah kayu tersebut. Ia mencoba membayangkan sebuah botol air minum yang ia temukan di jalan masuk ke dalam sebuah ruang gelap di pikirannya. Benar saja, benda itu menghilang dan muncul kembali saat ia menginginkannya.
Ia tersenyum lebar. Meskipun secara statistik ia masih sangat jauh dari kata "pemain sepak bola layak," namun kenaikan satu poin di semua lini adalah kemajuan besar. Apalagi kemampuannya menggiring bola (Dri) kini mencapai angka 15—untuk anak usia 6 tahun di Bau-Bau, ia mungkin sudah menjadi salah satu yang terbaik.
"Tunggu saja," bisik Riski sambil menatap ke arah laut lepas. "Tahun 2006 adalah awal. Dan aku baru saja memulai pemanasan."
Langkah kaki kecil itu masuk ke dalam rumah dengan keyakinan baru. Ia adalah seorang yatim piatu di kota kecil, tetapi di tangannya, ia memegang kunci untuk menaklukkan dunia melalui bola di kakinya.