Ada apa dengan istriku?
Tak seperti biasanya istriku terlihat diam tak banyak bicara lagi, seolah bukan orang yang kukenal selama ini.
Diam bukan berarti tak mengerti apapun - Luna.
Maafkan, sungguh diriku menyesali semua itu - Akbar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MS.Tika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Edward berjalan memasuki lobby perusahaan miliknya dengan langkah tegas dan tatapan dingin penguasa tinggi perusahaan yang paling disegani tak ada yang bisa dilakukan oleh seorang pria tampan Edward, banyak mata yang melihat ke dirinya setiap kali berjalan apalagi saat ini berada diperusahaannya.
"Kau atur meeting pagi ini panggilkan semua kepala divisi aku ingin mendengar laporan mereka selama aku tak berada ditempat."perintah tegas Edward pada asistennya.
"Baik pak, saya siapkan semuanya."jawab asisten Edward
Lalu Edward berjalan memasuki Lift dan menuju ruangannya di lantai 25, pria tampan ini memiliki ruangan yang begitu sangat luas dan sangat elegan dirinya memproteksi tak ada karyawan wanita disekitarnya jadi di lantai 25 khususnya di dua ruangan yang dekat dengan ruangan presdir hanya di isi dengan para karyawan laki-laki.
"Leon tolong siapkan dokumen untuk meeting nanti."perintah Edward melalui interkom ruangannya ke sekretarisnya.
"Baik pak Edward."jawab sekretaris Leon.
Edward kembali dengan tumpukan dokumen yang sudah menyambutnya diatas meja kerjanya, dokumen-dokumen penting ini memerlukan tanda tangannya tapi dirinya teringat meninggalkan adik kecilnya dirumahnya.
{Nanti siang kita akan makan siang bersama di pusat kota.}pesan Edward
Yah Edward mengirim pesan untuk Luna mengajaknya makan siang bersama.
{Baik kak, aku mau melanjutkan tidurku sepertinya aku masih jet lag.}pesan Luna
Edward melihat balasan Luna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, dirinya sungguh gemas dengan tingkah Luna si tukang tidur. Ia memilih menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
- -
Akbar melihat ibunya yang duduk didekat Dita hanya diam tak nampak ikut bersuara sama sekali, ia merasa tidak terlalu khawatir dengan kondisi Dita apalagi sejak ia tau wanita ini sudah mengalami keguguran.
"Akbar, apa kamu sudah sarapan nak?'tanya bu Hana pada anaknya
Bu Hana melihat tampilan anaknya yang berantakan ikut merasa iba meihatnya.
"Nanti saja bu, aku belum terlalu lapar pagi ini."jawab Akbar pada ibunya.
"Baiklah nak, ibu akan keluar sebentar kalau begitu."kata bu Hana
Setelah bu Hana keluar, Akbar pun mulai mendekat ke arah Dita. Dilihatnya wanita itu sudah baik-baik saja ia pun mulai angkat bicara.
"Dita, sepertinya hubungan kita tak perlu lagi dilanjutkan lebih jauh kembali."ujar Akbar.
Deg
"Apa yang kamu katakan Akbar?"tanya Dita yang merasa terkejut mendengar pernyataan Akbar.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita berdua Dit."kata Akbar dengan santai tanpa ada rasa sedih.
"Kamu tidak benar-benar mengatakan hal itu, sungguh Akbar aku habis kehilangan anakku ini mau kehilangan dirimu juga. Kamu tega sekali sebagai laki-laki mana janjimu dulu yang akan menjadikanku istrimu."teriak Dita dihadapan Akbar dengan mata berkaca-kaca.
"Aku sudah memutuskan untuk tak melanjutkan lagi hubungan kita, apalagi sudah tak ada janin yang kamu kandung jadi aku tak perlu bertanggung jawab akan hal itu dan aku juga sedikit tak yakin apa benar itu anakku apa bukan."ucap Akbar.
"Kamu bilang ini bukan anakmu, tarik ucapanmu itu Akbar. Sangat jelas apa yang sudah kita lakukan di luar kota waktu itu dan sekarang kamu tak mau mengakuinya."ucap Dita merasa tak terima dengan Akbar
Dita berpikir keras untuk mempertahankan hubungan ini jangan sampai Akbar lepas dari genggamannya.
"Aku sudah tak perlu bertanggung jawab akan hal itu Dit, lagi pula aku sudah tak mencintaimu lagi aku ingin mengejar istriku kembali."kata santai Akbar.
"Dengan mudahnya dirimu berkata tak lagi mencintaiku, apa yang sudah kita berdua lakukan dibelakang istrimu apa kamu tiba-tiba amnesia. Kamu sendiri dari awal yang mengatakan kalau pernikahanmu hanya bentuk balas budi aku tak ingin berpisah darimu. Kamu harus tanggung jawab karenamu aku jadi kehilangan anakku saat ini dan masa depanku."deraian air mata membasahi wajah Dita.
Akbar pun hanya mengusap wajah dengan kasar dan helaan nafas panjang. Ia kembali teringat jika pernikahannya dengan Luna sedari awal hanya bentuk balas budi mengingat pesan wasiat ayahnya untuk menjaga Luna karena keluarganya sudah membantu ayahnya dimasa lalu.
Lagi dan lagi ia menertawakan dirinya sendiri sudah menjadi suami acuh dan tak berperasaan untuk istrinya sendiri.
"Sudah aku katakan Dita, aku tak akan melanjutkan hubungan kita berdua. Keputusanku sudah bulat hubungan kita selesai. hanya sampai disini rasa tanggung jawabku padamu."tegas Akbar setelah meninggalkan ruang inap Dita.
Dita pun kembali menangis, dirinya tak akan sanggup ditinggalkan Akbar. Semua rencana yang dimiliki tak boleh gagal sama sekali.
"Awas kamu Akbar, kita liat saja apa kamu akan tetap dengan keputusanmu itu atau tidak. Aku enggak terima dengan semua ini!"gumam Dita.
Ia melihat di atas nakas terdapat ponsel miliknya yang saat kejadian semalam ponselnya tersimpan disaku celana.
{Lakukan rencana B segera aku tak ingin gagal sama sekali.}pesan tanpa nama.
Dita mengirim pesan kepada orang suruhannya.
Lain halnya yang dilakukan Akbar, ia memilih kembali ke rumah untuk bersiap ke kantor pagi itu. Ia tak mau mengambil pusing akan permasalahannya dengan Dita.
"Lebih baik aku ke kantor pagi ini, urusanku dengan Dita sudah kuanggap selesai."gumam Akbar berjalan terus ke arah lobby rumah sakit.
- -
Sang surya terus beranjak ke atas, Luna masih dengan nyamannya berada di atas tempat tidurnya.
Tok..tok..tok..
"Non..non Luna.."ucap bibi pelayan.
Sekilas Luna mendengar ada yang memanggilnya dari luar kamar, bibi pelayan masih terus mengetuk pintu kamar Luna tanpa henti.
"Yaah bi, ada apa?"teriak Luna dari dalam.
Luna masih setengah sadar dari tidurnya.
"Non Luna, sudah pukul 11 siang tuan muda tadi menelpon untuk membangunkan non Luna untuk bersiap keluar dengan tuan muda."ucap bibi pelayan.
Mendengar bibi pelayan menyampaikan pesan dari kakaknya, ia pun langsung bangun dan membuka pintu kamarnya.
"Kak Edward menelpon bibi?"tanya Luna.
"Iya non, tuan muda tadi menelpon bibi untuk membangunkan non Luna."ucap bibi pelayan.
"Baiklah bi, terima kasih ya.."kata Luna.
Pintu kamar kembali tertutup dan Luna langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap diri. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian Luna sudah selesai bersiap diri, ia memakai dress sederhana selutut berwarna biru muda bermotif bunga terlihat sangat cantik di kenakan Luna.
Luna menuruni tangga ke lantai bawah memilih menunggu kakaknya di ruang keluarga, ia melihat ada kakeknya ternyata yang masih di ruang keluarga.
"Halo kek, kenapa kakek disini?"tanya Luna.
"Kakek bosan dikamar Lun, kamu terlihat cantik mau kemana?"tanya balik Kakeknya.
"Kak Edward mengajakku makan siang bersama kek, apa kakek ingin ikut denganku dan kak Edward?"ucap Luna.
"Tidak perlu mengajak kakek, lebih baik kalian berdua saja yang keluar bersama."ucap santai kakeknya sambil melihat ke arah tv.