Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.
Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.
Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.
Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.
Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Jakarta tidak pernah sedamai ini, dan bagi Ayesha, kedamaian itu terasa seperti hukuman mati. Sudah tiga hari ponselnya tidak menampilkan nama Arsha. Pesan-pesannya hanya berhenti di centang dua abu-abu. Tidak dibaca.
Ayesha duduk di lantai apartemennya, dikelilingi oleh buku-buku dasar Islam yang dibelikannya minggu lalu. Ia mencoba mengeja huruf demi huruf, namun air matanya jatuh tepat di atas kata Al-Fatihah.
"Kenapa, Sha?" isaknya. "Apa kamu akhirnya sadar kalau aku memang nggak layak?"
Pikiran Ayesha mulai liar. Di dunianya yang dulu, menghilang tanpa kabar berarti akhir dari sebuah hubungan. Ia merasa kembali menjadi wanita malang di sudut bar, sementara Arsha telah kembali ke dunianya yang bercahaya, tempat di mana wanita seperti dirinya tidak lebih dari sekadar noda.
Ia meraih kunci mobil. Ia tidak bisa hanya diam. Ia harus tahu, apakah ia sedang diperjuangkan, atau sedang dibuang.
~
Sementara itu, di Al-Falah, Arsha seperti mayat hidup. Ia memimpin pengajian, menyimak setoran hafalan para santri, dan makan di samping Abahnya dalam diam. Namun, setiap kali ia melewati gerbang pesantren, hatinya seolah ditarik keluar.
Kiai Hafidz memperhatikan putranya dari kejauhan. Beliau melihat Arsha yang biasanya rapi, kini tampak pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Malam keempat, Arsha dipanggil ke perpustakaan pribadi Abah.
"Kau terlihat lesu, Arsha," ujar Kiai Hafidz sambil menyesap kopi pahitnya.
"Hanya kurang tidur, Abah," jawab Arsha datar.
"Atau kau sedang menyalahkan Abah karena memisahkanmu dengan wanita itu?"
Arsha menatap mata ayahnya. "Arsha tidak pernah menyalahkan Abah. Arsha hanya sedang bertanya pada Allah, jika hidayah itu benar-benar untuk Ayesha, kenapa jalannya harus sepedih ini?"
Kiai Hafidz terdiam. Ia meletakkan cangkirnya. "Ketulusan seseorang tidak diuji saat ia bersama, tapi saat ia dipisahkan oleh jarak dan ketidakpastian. Jika dia kembali ke dunianya yang dulu hanya karena kau menghilang tiga hari, maka dia bukan mencari Tuhan, dia hanya mencari kamu."
~
Ayesha sudah berada di dalam mobilnya selama lima jam, menepi di pinggir jalan raya yang mengarah ke Jawa Timur. Logikanya berteriak untuk putar balik. 'Jangan jadi pengemis cinta, Yesha,' bisik egonya.
Namun, tangannya justru meraih kalung pemberian Arsha, sebuah tasbih kayu kecil yang selalu ia simpan di dasbor.
"Aku nggak butuh Arsha untuk hidup," gumam Ayesha pada dirinya sendiri, suaranya gemetar. "Tapi aku butuh dia untuk percaya kalau aku bisa jadi orang baik."
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan pesan dari Arsha, melainkan sebuah nomor tak dikenal.
"Jangan datang ke pesantren sekarang. Arsha sedang berjuang untukmu. Jika kau datang tanpa izin Kiai, kau akan menghancurkan segalanya. Bersabarlah dua hari lagi. Buktikan pada Allah bahwa kau kuat."
Ayesha tertegun. Pesan itu seperti air dingin di tengah padang pasir. Seorang asisten Arsha yang di perintah untuk selalu mengawasi wanita itu dari kejauhan.
Ayesha mematikan mesin mobilnya. Ia menangis sejadi-jadinya di atas kemudi. Ia tidak akan pergi ke pesantren. Ia akan pulang ke apartemennya, bersujud dengan cara yang belum sempurna, dan menunggu sang pangeran datang.
~~
Satu minggu berlalu. Pagi itu, Arsha duduk di kursi meja makan. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang, meski tubuhnya nampak lebih kurus.
Kiai Hafidz sedang bersiap untuk mengajar kitab Ihya Ulumuddin. Beliau menatap putranya lama, mencari-cari keraguan di mata itu.
"Waktumu habis, Arsha. Apa keputusanmu? Tetap di sini dan melupakan wanita itu, atau mengejarnya dan kehilangan restu Abah?"
Arsha tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, membiarkan oksigen memenuhi paru-parunya yang terasa sesak selama seminggu terakhir. Ia menatap piring di depannya, lalu mengangkat wajahnya perlahan, menatap tepat ke manik mata Kiai Hafidz.
"Abah," suara Arsha rendah, namun kali ini tidak ada getaran ragu di sana. "Tujuh hari ini Arsha habiskan untuk bertanya kepada Allah, apakah ini nafsu atau cinta. Dan setiap kali Arsha bersujud, wajah yang muncul bukan lagi wajah wanita dari pesantren yang soleha, melainkan wajah seorang hamba yang sedang mengetuk pintu langit dengan tangan gemetar."
Arsha menggeser piringnya sedikit ke tengah, tanda ia telah selesai dengan keraguannya.
"Jika Abah bertanya apa keputusan Arsha, maka jawabannya adalah, Arsha akan tetap menjemput Ayesha. Arsha akan menikahinya."
Genting sendok di tangan Kiai Hafidz terhenti. Beliau menyipitkan mata, memberikan tekanan mental yang biasanya sanggup membuat nyali siapapun menciut. "Meski itu berarti kau harus menanggalkan gelar 'Gus' di depan namamu? Meski kau harus keluar dari gerbang Al-Falah tanpa membawa apa-apa?"
"Gelar hanyalah titipan manusia, Abah. Tapi tanggung jawab atas satu nyawa yang sedang mencari jalan pulang adalah perintah Tuhan," jawab Arsha tegas. "Arsha lebih takut jika di akhirat nanti Allah bertanya, 'Kenapa kau biarkan dia kembali ke kegelapan saat dia sudah memegang ujung jubahmu?'"
Arsha bangkit dari kursinya, lalu bersimpuh di lantai, di samping kursi ayahnya. Ia menunduk dalam, menyentuh lutut Kiai Hafidz.
"Abah pernah mengajarkan, bahwa iman yang paling kuat adalah iman yang diuji dengan kehilangan. Hari ini, Arsha siap kehilangan segalanya demi menyelamatkan satu iman yang baru tumbuh. Jika Abah tidak memberi restu, Arsha akan pergi sebagai orang biasa. Arsha akan bekerja dengan tangan Arsha sendiri untuk menghidupinya. Tapi Arsha tidak akan meninggalkannya, karena meninggalkannya sekarang sama saja dengan membunuh harapannya pada Tuhan."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Ummi Halimah yang berdiri di dekat lemari makan menutup mulut dengan ujung kerudungnya, menahan isak. Ia belum pernah melihat putra penurutnya bicara seberani ini.
Kiai Hafidz terdiam cukup lama. Tasbih di tangannya berhenti berputar. Beliau menatap ubun-ubun putranya yang masih bersujud di lututnya.
"Kau sadar, Arsha? Jika kau melangkah keluar, kau bukan lagi perwakilan pesantren ini. Kau hanya seorang laki-laki biasa yang memikul beban masa lalu seorang wanita yang berat," ujar Kiai Hafidz, suaranya kini terdengar parau, bukan lagi marah.
"Arsha sadar, Abah. Dan Arsha tidak akan membiarkan masa lalunya menyentuh Al-Falah. Biarlah Arsha yang masuk ke dunianya, membimbingnya di luar sana, hingga dia layak berdiri di sini bukan sebagai mantan siapa-siapa, tapi sebagai seorang muslimah yang terhormat."
Kiai Hafidz berdiri perlahan. Kursi kayunya berderit di atas lantai ubin. Beliau tidak menyuruh Arsha berdiri, namun tangannya yang mulai keriput bergerak menyentuh bahu Arsha.
"Darahku mengalir di tubuhmu, Arsha. Keras kepalamu itu... adalah cerminanku saat dulu membangun tempat ini dari nol," bisik Kiai Hafidz. Beliau melangkah menuju pintu, berhenti sejenak sebelum benar-benar keluar. "Tunggu aku selesai mengajar Ihya Ulumuddin. Jangan pergi dulu. Ada sesuatu yang ingin kuberi untuk wanita itu."
Arsha tertegun. Ia mendongak, namun punggung Abahnya sudah menghilang di balik pintu menuju masjid.
Akankah ada sesuatu yang ingin diberikan Kiai Hafidz menjadi tanda restu, atau justru syarat terakhir yang lebih berat? Haruskah Arsha segera menghubungi Ayesha sekarang, atau menunggu setelah pengajian selesai?
...----------------...
Next Episode....
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.