Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.
Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.
Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.
Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.
Kontrak pernikahan selama satu tahun.
Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…
Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?
Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.
Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.
Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syukuran
Siang ini, Shaqila merasa gabut. Ia sudah mengerjakan bab 2 skripsinya berdasarkan penjelasan dari Reyhan. Tinggal menunggu laki-laki itu pulang dan memeriksanya.
Gadis itu pun beranjak ke dapur dan memilih membuat kue.
"Non, ada yang bisa saya bantu?" tanya bi Asti saat melihat Shaqila mulai mencari-cari bahan.
"Bahan untuk buat puding ada nggak ya bi. Shaqila gabut, jadi iseng-iseng aja mau buat," jawab Shaqila sambil cengengesan.
Bi Asti menggeleng lemah, "Maaf non, sepertinya tidak ada."
SHAQILA mengangguk paham, kemudian merogoh kantong celananya untuk meraih ponselnya. "Tidak masalah, Shaqila mau nyuruh kurir aja buat beli bahannya. Mager keluar, panas."
"Bibi bisa melanjutkan pekerjaan lainnya kok. Shaqila mau bikin sendiri hehehe," ucap Shaqila.
"Baik non," ucap bi Asti dan melangkah keluar.
Namun tidak lama kemudian bi Asti kembali dengan kantong kresek di tangannya. "Non, ini dari kurir."
"Terimakasih bi," ucap Shaqila.
Gadis itu pun mulai membuka bahan-bahan dan mencampurkannya.
Reyhan muncul dengan kacamata yang masih bertengger. Laki-laki itu membuka kulkas kemudian mengambil gelas dan menuangkan air dingin.
Ia menaikkan alisnya sebelah saat melihat Shaqila yang nampak sibuk dan seolah tidak menyadari keberadaannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya.
Shaqila terkejut mendengar suara itu. "Astaghfirullah, bapak sudah pulang?" tanyanya seraya memegang dadanya sendiri.
Reyhan tidak menjawab, laki-laki itu memilih duduk dimeja makan seraya memperhatikan Shaqila yang sedang sibuk dengan peralatan dapur.
Ia terkekeh kecil begitu melihat bibir gadis itu yang dimanyunkan karena tidak menjawab pertanyaannya.
Namun, semenit kemudian, ekspresinya berganti. Kini kembali ceria seraya melanjutkan kegiatannya. Sesekali bersenandung kecil.
Setelah menuangkan adonan puding ke cetakan, gadis itu membersihkan tempatnya, membuka apron dan berjalan mendekati Reyhan.
"Pak, mamaku tadi nelpon katanya kita di undang ke rumah tante Mira. Dia ngadain syukuran untuk Tasya," ucap Shaqila sambil duduk.
"Saya sudah tahu, dia juga tadi menelponku," ucap Reyhan seraya meneguk kembali air dinginnya.
"Ada apa?" tanya dosen itu saat melihat wajah gelisah Shaqila.
"Emm...kita nggak usah pergi pak," ucap Shaqila seraya meremas ujung bajunya.
Reyhan memicingkan matanya ke arah gadis disampingnya. "Apa karena Tasya itu lulus di waktu yang sangat cepat. Dan kamu merasa insecure, terlebih dia lebih muda dari Kam?"
Gadis itu menelan ludah nya. Kemudian menunduk tanpa mengucapkan apapun.
Entah keberanian darimana, Reyhan memegang tangan gadis itu dan mengusap punggung tangan itu.
"Kamu tidak usah insecure. Insecure itu jika kamu telat tiga tahun tidak lulus-lulus hingga di do. Masih ada waktu untuk lulus kok. Kita kesana ya, kita hadapi sama-sama. Jika ada yang membandingkanmu dengan sepupumu itu," ucap Rehan dengan nada lembut seraya menatap Shaqila hingga membuat gadis itu seperti terhipnotis dan mengangguk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Wah Tasya, selamat ya nak. Kamu jenius sekali bisa menyelesaikan pendidikanmu dengan sangat cepat," ucap Sinta seraya mencium pipi kanan dan kiri keponakannya.
"Alhamdulillah, terimakasih pujiannya tante," ucap Tasya tersipu malu.
"Eh, Kak Qila mana tan? tidak bareng dengan tante?" tanya gadis itu lagi.
Ponsel di tangannya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Ia membaca pesan itu sehingga tidak mendengarkan jawaban Sinta.
Arga:
Maaf sayang, aku gak sempat datang di acara syukuranmu. Asma mamaku kambuh, jadi kubawa ke rumah sakit.
Tasya mengerucutkan bibirnya melihat pesan itu. 'Ish masa gue di nomor duakan,' gerutunya dalam hati.
"Tasya, yuk masuk nak. Acaranya sebentar lagi ti-"
"Assalamualaikum, maaf kami terlambat," ucap Shaqila memotong ucapan Mira.
Gadis itu menyalami tangan ibunya dan juga tangan tantenya.
"Eh kalian udah sampai, tante kira tidak sempat datang," ucap Mira.
"Maaf, tadi terjebak macet," ucap Reyhan dengan sopan.
Tanya mengernyitkan dahinya karena asing dengan Reyhan. Sinta yang paham dengan reaksi Tasya, kemudian memperkenalkannya.
"Tasya sayang, ini Reyhan. Suaminya Shaqila," ucap Sinta.
"Wah, jadi ini suaminya kak Shaqila? dengar-dengar sih dosen pembimbingnya kak Qila juga ya? enak banget donk bisa diluluskan tanpa memikirkan skripsi," ucap Tasya. Namun pandangannya tidak lepas dari Reyhan.
'Ya ampun cool banget sumpah. Andai yang jadi istrinya itu gue,' batin Tasya.
Shaqila terdiam. Senyum di wajahnya menegang, sementara jari-jarinya refleks menggenggam ujung dressnya. Reyhan menangkap perubahan kecil itu. Tanpa banyak bicara, ia melingkarkan tangannya di pinggang Shaqila...gerakan sederhana, namun cukup jelas untuk siapa pun yang memperhatikan.
Reyhan tersenyum tipis, sorot matanya tenang namun tegas.
"Anda salah paham," ucapnya santai. "Saya memang dosen pembimbingnya. Tapi kelulusan itu murni dari usaha Shaqila sendiri. Saya tidak pernah...dan tidak akan...melanggar etika akademik. Andai saya hanya menggunakan kekuasaan, tentu sudah dari kemarin dia sudah lulus."
Nada suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar seperti garis batas yang tak bisa diterobos.
Membuat Tasya seketika berubah. Senyumnya yang tadi penuh percaya diri kini mengeras.
Mira yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut angkat suara, mencoba mencairkan suasana. "Lebih baik kita masuk yuk, acaranya udah hampir tiba."
Sedari tadi Tasya menatap Reyhan. Memperhatikan gerakan-gerakan kecil dari laki-laki itu. Ada perasaan tidak suka dalam dirinya saat melihat laki-laki itu bersama Shaqila.
'Ish, ini kan acara gue. Seharusnya gue yang senang-senang disini. Tapi kenapa justru gue yang seperti orang bodoh. Kak Arga sih lebih memilih ibunya,' gerutu Tasya dalam hati.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih