Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KISAH SESUNGGUHNYA WINARTI
Winarti tersenyum aneh, menatap Rendi yang mau menggendong si Ibu itu di punggungnya. Tatapan misterius itu terlihat sangat mengerikan.
Sampai Rendi telah meletakkan Ibu itu ke dalam mobilnya.
"Pak, apakah saya bisa ikut? Karena, saya kasihan dengan si Ibu. Nanti, setelah keluarganya datang, saya janji akan kembali bekerja." Mohon Wina dengan lembut.
Rendi kembali tersipu, melihat tatapan sendu dari, Wina. Suara lembut gadis itu telah memporak-porandakan batinnya yang teguh mencintai istrinya. "Emm, iya, ayo. Nanti bisa kembali ke kebun bareng saya juga." Ucap Rendi dengan hati yang berdebar-debar, lalu membukakan pintu mobil untuk, Wina.
Wina tersenyum lalu duduk di samping Rendi. Mobil pun di lajukan. Rendi tak hentinya mencuri pandang. Wina yang sadar, semakin merasa senang karena rencananya yang baru saja di mulai sudah menampakkan tanda kesuksesan.
"Aduh. Wajah aku memerah, Pak. Aku boleh pakai pelembab dulu? Maaf, aku nggak sopan di dalam keadaan seperti ini. Tapi, saya memang agak sensitive sama terik matahari, mungkin belum terbiasa. Sekali lagi, maaf ya, Pak?" Ucap Wina membelai pipinya yang merona merah karena sinar matahari. Sengaja dengan gerakan gemulai.
"I-iya, kasian. Kepanasan ya?" Rendi seketika mengehentikan mobilnya. Wina terkesiap dengan kelakuan Rendi.
"Sini, aku yang olesin. Biar kamu nggak capek. Oh iya, nama kamu siapa?" Rendi mengambil pelembab itu dari tangan, Wina.
Wina terperanjat. Nggak nyangka kalau Rendi akan seagresif itu. "Wina, Pak. Tepatnya, Winarti. Saya dari kota, ingin belajar pertanian di desa. Dan kebetulan desa andalah yang saya pikir sangat cocok buat saya. Desa ini sejuk dan indah." Jawab Wina, tersipu malu-malu.
Rendi tersenyum senang. Kayaknya dari keluarga kaya raya. Terlihat dari kulitnya yang putih bersih, dan mulus. Hem... dia lebih baik dari si Laela. Kayaknya boleh nih, di dekati.
"Oh Wina. Wina udah punya pasangan?" Tanya Rendi yang asik membelai pipi Wina.
Di dalam hati Wina begitu kesal pipinya di sentuh pria bejat itu. Tapi, demi tujuannya, dia harus berpura-pura tenang.
"Belum Pak. Mana ada yang mau dengan gadis seperti saya ini."
"Jangan panggil, Pak. Panggil Mas, aja." Randi melemparkan senyuman kekagumannya.
"Baik, Mas." Wina pura-pura tersipu lagi.
"Ayo, ah! Lanjut lagi. Biar nggak kesiangan." Pinta Wina mencoba mengehentikan Randi, dari sentuhannya ke pipinya.
Randi yang gugup pun menurut.
***
Sore pun tiba. Randi masih mengingat janjinya akan pulang awal untuk istrinya. Namun, sejak pertemuannya dengan, Wina. Isi kepalanya terus saja memikirkan gadis ayu itu. Seolah dia menguasai seluruh isi otaknya. Hingga ia tak sadar kalau istrinya berada di samping pintu mobilnya.
TOOKK!
TOOKK!
TOOKK!
Randi tersadar ia masih di dalam mobil. "Mas! Kok belum turun-turun juga sih? Aku sedari tadi nungguin di depan teras." Ketus Laela dengan bibirnya yang di manyunkan kesal.
Rendi segera membuka pintu mobilnya. "Haduh, iya! Maaf ya sayang. Aku kecapekkan! Aku sampe ketiduran di dalam mobil. Hehe... Kayak aki-aki aja jadinya, gampang banget ketiduran, hehe. Maaf ya sayang." Randi mengecup pucuk kepala istrinya lama, sebagai ungkapan permintaan maafnya.
Laela pun luluh seketika. "Iya, di maafin. Kasian suami kesayanganku ini. Sangat kecapekkan. Ya udah, aku janji akan menyiapkan segalanya buat, Mas. Nanti makannya aku suruh Fika, Antar aja ke dalam kamar. Biar Mas, nggak makin kelelahan."
Rendi tersenyum lembut mengangguk. "Apa pun yang istriku sarankan, aku patuh. Ayo masuk. Mas udah kangen banget sama kamu. Kamu hari ini kelihatan cantiik, sekali! Sampe nggak tahan, aku sayang." Rayu Rendi. Yang padahal hasr*t sebenarnya telah berpindah ke gadis ayu, yang ia temui tadi pagi.
Laela, mencubit pinggang suaminya manja. "Ih..! Apaan sih! Kan Mas, sendiri yang berpesan tadi pagi. Dan aku senang, Mas menyukainya. Pokoknya, bakal aku layani Mas, dengan segenap jiwaku."
Rendi hanya membalas dengan senyuman. Setelah itu, ia kembali mengingat lirikan genit dari Wina, dan senyuman malu-malu dari Wina, yang membuatnya terus saja terbayang.
Haduh... cantiknya... jadi pengen nyentuh lagi. Gumam Rendi tersenyum sendiri.
***
"Asalamualaikum, Bi Supri." Wina sampai di rumah.
"Walaikumsalam, Neng cantik. Bagaimana kerja hari ini?" Tanya Bi Suprih yang kini tinggal sendiri. Semua anak-anaknya sudah pada menikah, dan tinggal terpisah darinya. Sedangkan suaminya, sudah meninggal satu tahun yang lalu.
"Alhamdulillah, baik, Bi." Jawab Wina sopan.
"Iya, Neng. Sebenarnya Bibi Khawatir, eneng di marahi lalu di bentak-bentak sama si Randi. Kata orang-orang yang bekerja di sana, Randi tak kalah sadisnya dengan, si Laela, istrinya."
"Nggak kok, Bi. Malah mereka baik banget sama saya."
"Mereka? Mereka siapa saja, Neng?" Bi Supri penasaran.
"Oh! Saya tadi nggak sengaja di jalan bertemu dengan Pak Rohmat, juga. Dia suaminya bu Sulis, kan, Bi?"
Supri manggut-manggut. "Oh, jadi udah ketemu pemiliknya juga. Kebetulan sekali ya?" Ucap Supri, agak aneh. Soalnya, jalan yang ia tunjukan kemarin kan bukan lewat kek kebun yang di urus oleh, Rohmat. Kok bisa ketemu. Pikirnya heran.
"Bi, saya makan dulu ya? Baru mandi. Saya laper banget." Wina mencoba memecah pikiran supri yang sepertinya merasa janggal kepadanya.
"Eh iya. Bibi udah masak enak buat, Eneng. Ayo ke meja makan." Bi Supri membimbing Wina, ke dapurnya.
Acara makan berdua pun berlangsung sangat nikmat. Sampai Wina ijin masuk ke kamarnya untuk mandi sekaligus istirahat.
Wina tersenyum melihat kamarnya yang sama sekali
tidak ada barang nya yang bergeser. Itu berarti, Bi Supri memang orang yang bisa di percaya, pikirnya.
Dia pun mengambil ponselnya, lalu mengetik pesan di sana. Setelah selesai, dia mengeluarkan koper yang berisi peralatan untuk tujuan gaib nya.
Dengan cara ini, kalian tidak akan bisa lepas dariku. Dan kau, SULIS! LAELA! SOBIRIN! DAN SI TUA BANGKA IMAM. TUNGGU AJAL KALIAN PASTI AKAN SANGAT MENGENASKAN! Hahaha!
Wina teringat lagi kepedihan saat malam itu, saat ia terjatuh bersamaan dengan Abangnya.
Flash back!
Dia tersadar dengan tubuh yang penuh luka. Wajahnya yang tergores rerantingan, rambuatnya nampak seperti hantu. Dia berjalan kesana kemari mencari tubuh, Abangnya.
"Bang! Abang! Di mana kamu, Bang!" Di cahaya remang-remang karena waktu subuh yang akan mulai terang. Dia terus mencari keberadaan Abangnya.
Sampai ia bertemu dengan beberapa pendaki yang terlihat mengerumuni sesuatu. Warda langsung mendekat. Dan benar saja dugaannya. Yang di kerumuni adalah Azka, Abangnya.
"ABAAANG!!!" Teriaknya histeris lalu memeluk tubuh Azka yang sudah tak bernyawa. Dia terus menangis tanpa menghiraukan ucapan para pendaki itu, yang
menyarankannya supaya tenang dan sabar, karena bantuan akan segera tiba. Sampai ia merasa, di balik baju Abangnya, ada sebuah buku yang terselip. Dan ternyata itu adalah buku ritual. Wardah yang masih belum paham buku apa itu, segera mengambilnya lalu ia simpan di sebalik bajunya juga.
Tim SA* tiba. Mereka lalu membawa Wardah dan Azka ke rumah sakit terdekat.
Wardah hanya diam walau seribu pertanyaan di lontarkan oleh mereka. Dia pun di rawat di rumah sakit itu untuk beberapa hari.
Sampai suatu ketika. Dia melihat kedua orang tua yang menangis di depan ruang ICU.
"Pasti anak kita selamat, Bu. Sudah jangan menangis terus. Lebih baik kita berdoa." Ucap Bapak itu kepada istrinya.
"Ibu sangat merasa bersalah, Pak. Seharusnya Ibu memenuhi permintaannya. Tapi, karena keegoisan, Ibu, semua malah menjadi bencana." Si Ibu itu menangis sesenggukan.
"Sudah-sudah. Semua sudah takdirnya. Jagan menyalahkan diri lagi. Sekarang ayo berdoa supaya anak kita selamat."
Karena menunggu sangat lama, keduanya ketiduran. Sampai doctor keluar dari ruang ICU.
Wardah yang sudah stabil keadaannya mendekat.
"Dok. Kasian mereka kelelahan. Jangan di bangunkan." Ucap Wardah.
Doctor itu menghela napas kasar. Lalu tiba-tiba matanya mebola seperti mendapatkan ide. Ia menatap Wardah, dengan mata berbinar.
Wardah mengerutkan keningnya menangkap ada keanehan dari sorot mata Dokter itu.
"Kamu pasien yang di bawa Tim, SA* kan? Dan kabarnya, kamu tidak mempunyai satu pun keluarga, selain kakak kamu yang... maaf, tidak bisa tertolong itu."
Ucapan Dokter itu, kembali membuat Wardah bersedih. Ia menundukan kepalanya, tak menjawab.
"Ma-maaf! Bukan bermaksud membuatmu kembali bersedih. Sebenarnya, saya ingin kamu menjadi anak dari kedua orangtua itu sebagai pengganti. Dia orang kaya raya, dan hanya mempunyai anak satu saja. Dan kini... anak itu kecelakaan tunggal dan kami tidak berhasil menyelamatkannya. Saya tidak tega, melihat mereka bersedih, mereka itu orang baik. Saya sangat mengenal mereka. Dan saya pun tahu bagaimana perjuangan mereka saat ingin mendapatkan putri mereka ini. Dulu Hampir 10 tahun, mereka berikhtiar program hamil. Hingga suatu keajaiban, Tuhan mengabulkan doa mereka. Sungguh saya sangat tidak tega, bila harus mengatakan kebenaran yang pahit ini kepada mereka." Papar Dokter tersebut terlihat murung.
"Lalu, apa hubungannya dengan saya, Dok?" Tanya
Wardah masih belum paham.
"Begini, bila kamu setuju, saya akan jadikan kamu bagian dari mereka. Umur, dan juga bentuk tubuh, dan juga warna rambut, sama persis seperti anak kedua orang tua itu. Dan kebetulan, wajah kamu... kan rusak. Nanti akan saya beritahu beliau, kalau wajah anak itu harus di operasi. Dan untungnya bagi kamu, beliau, tidak melihat anaknya saat kecelakaan terjadi. Karena mereka berada di luar daerah."
Wardah nampak berpikir. Tanpa pikir lama, ia pun menyetujui keinginan dokter tersebut.
Dan terjadilah penukaran pasien. Kedua orangtua baru Wardah menemui nya dengan penuh isak haru. Dan tak menunggu lama, dia pun mendapatkan operasi wajahnya. Dari itulah, dia memiliki wajah lain. Sehingga tak seorang pun di desa itu, yang mengenali dirinya. Dan siapa sebenarnya dia. Dan dia pun menyandang nama anak dari kedua orang tua barunya, yaitu WINARTI.
Flash back of
Wina tersenyum miring. Di tatapnya benda-benda itu. Ia telah mempersiapkan dulu sebelumnya. Dengan tatapan penuh kebencian. Dia memulai mengatur pemujaan. Bunga-bunga yang telah ia ambil saat di jalan, ia letakkan di meja. Dia duduk bersimpuh, lalu mulai bersemedi.