NovelToon NovelToon
Cinta Selamanya

Cinta Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Romantis / Fantasi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: eloranaya

Raisa tidak menyangka bahwa hidup akan membawanya ke keadaan bagaimana seorang perempuan yang menjalin pernikahan bukan atas dasar cinta. Dia tidak mengharapkan bahwa malam ulang tahun yang seharusnya dia habiskan dengan orang rumah itu menyeretnya ke masa depan jauh dari bayangannya. Belum selesai dengan hidup miliknya yang dia rasa seperti tidak mendapat bahagia, malah kini jiwa Raisa menempati tubuh perempuan yang ternyata menikah tanpa mendapatkan cinta dari sang suami. Jiwanya menempati raga Alya, seorang perempuan modis yang menikah dengan Ardan yang dikenal berparas tampan. Ternyata cantiknya itu tidak mampu membuat Ardan mencintainya.

Mendapati kenyataan itu Raisa berpikir untuk membantu tubuh dari orang yang dia tempati agar mendapatkan cinta dari suaminya. Setidaknya nanti hal itu akan menjadi bentuk terima kasih kepada Alya. Berharap itu tidak menjadi boomerang untuk dirinya. Melalui tubuh itu Raisa menjadi tahu bahwa ada rahasia lain yang dimiliki oleh Ardan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eloranaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Her Husband

"Ini kita aman nggak kena marah Ardan kalau tahu kita masuk kamar dia gini?"

"Iya ih takut, mukanya ganteng tapi nyeremin."

"Santai aja, kan ibunya yang nyuruh kita langsung masuk aja ke kamar."

Suara sahut menyahut tersebut sayup-sayup terdengar oleh telinga Raisa. Dia yang mengantuk sehabis minum obat tadi kini terbangun karena suara-suara tersebut.

Hal pertama yang dia lihat ketika membuka mata adalah ketiga teman Alya. Ketiga orang itu menatapnya dengan sedikit terkejut lalu Yura melambaikan tangan padanya dengan canggung.

"Hai!" sapa perempuan itu.

"Udah mendingan belum, Al?" Mita yang bertanya.

Raisa mengubah posisi duduk kemudian dia mengedarkan pandang ke sekeliling dan hanya mendapati mereka bertiga yang ada di ruangan itu. Di pangkuan Laura terlihat sebuah keranjang buah yang berisi apel, anggur, dan jeruk yang tersusun rapi.

Raisa melirik jam yang tertempel di dinding. "Kalian nggak kerja?" tanyanya khas orang bangun tidur.

"Kerja kok, ini kan udah jam pulang jadi kita manfaatin waktu buat ke sini."

"Betul. Soalnya tadi waktu ketemu sama Devan dia cerita ke kita kalau kamu kemarin ujan-ujanan sama dia," ujar Mita. Dia mencondongkan badan ke Raisa dan memeriksa kondisi suhu perempuan itu. "Karena hari ini lo nggak masuk jadi kita ngide buat nanya langsung dan bener aja ternyata lo lagi sakit."

"Kebetulan banget gue tadi pagi sebelum berangkat beli ini. " Laura menunjukkan bingkisan keranjang buah yang dari tadi dia jaga. "Nih, buat lo. " Dia mengulurkan buah-buahan tersebut kepada Raisa yang langsung disambut dengan ucapan terima kasih.

Mita yang terlihat ingin segera berbicara sejak tadi akhirnya kembali membuka mulut dan bertanya," lo Kemarin sama dia diajak ke mana aja?"

"Kemarin cuman makan aja sih sama dia emang kenapa?"

"Ya nggak papa sih pengen tahu aja."

Mendadak topik bahasan berubah saat Yura bertanya. "Suami lo hari ini ada pameran ya?"

Raisa segera mengangguk riang dan menjawab," Iya nih kok tahu?"

"Tadi ketemu sama ibu lo yang mau berangkat ke pamerannya dia."

"Tumben banget ibunya Ardan mau ngunjungin apa yang anaknya lakuin? Bukannya dulu lo bilang kalau ibunya itu nggak pernah suka dengan apa yang dilakukan sama Ardan ya? Kenapa hari ini dia mau datang?" Mita bertanya tanpa jeda.

"Kepo amat sih lu nanya-nanya mulu." Yura membalas.

Sementara Raisa terkekeh kecil. "Ada deh." Dia menatap satu persatu perempuan yang ada di sekelilingnya dan berucap, " Kalian mau nggak bantuin gue?"

"Apa, Al?"

"Bantuin bawa gue keluar ke pamerannya Ardan mau nggak?" tanyanya dengan kedua alis terangkat.

"Boleh tuh, gue penasaran juga dengan karya suami lo yang jahatnya nggak masuk akal itu." Yura membalas dan disetujui anggukan oleh yang lainnya.

Akan tetapi Mita segera menyala, "tapi elu nya aman nggak? Badan lo kan masih sakit."

"Aman aja kok gue juga bosen tidur dari pagi. Sebagai istri yang baik kan harusnya mendukung apa yang dilakukan sama suami ya nggak?" pertanyaan Raisa tak mendapatkan jawaban justru semuanya tergelak mendengarnya. Merasa lucu.

Laura langsung menimpali," nggak tahu dah, kan dari kita yang udah nikah cuman lo doang."

"Betul tuh betul."

"Mau berangkat sekarang atau nanti, Al?" tanya Mita."

"Sekarang juga nggak apa-apa. Ta0pi bentar deh gue mau ngehubungin temennya Ardan dulu buat nyisain tiketnya untuk kita." Raisa segera meraih ponsel barunya yang dia simpan di dalam laci nakas sebelahnya. "Gue juga mau siap-siap dulu sebentar ya."

Berikutnya Raisa segera bangkit dan menuju lemari pakaian untuk mencari baju yang cocok untuk dia pakai kali ini. Tak lupa juga dia lantas membersihkan diri di kamar mandi meninggalkan teman-teman Alya yang saling melempar obrolan tanpanya.

Persetan dengan petuah Ardan dan Santi sebelumnya. Dia ingin hadir di acara penting lelaki itu. Toh, niatnya ingin mendukung tidak aneh-aneh apalagi jika sampai mengganggu. Sama sekali tidak.

****************

Mobil yang dikendarai berwarna kuning terparkir dengan baik di depan sebuah gedung yang didekor sedemikian rupa sehingga memanjakan mata. Di sebelah pintu masuk terdapat papan tulis hitam kecil yang tertulis: Main Event at 9 pm.

Raisa yang sudah tiba segera mendekati Keisha yang duduk di balik meja jaga dengan tiga perempuan lain mengekor di belakangnya.

"Hai, Al," sapa Keisha ramah. Matanya beralih ke belakang Raisa. "Ini temennya?" Dia bertanya dengan menunjuk Laura, Yura, dan Mita bergilir.

"Iya. Thanks ya, udah bantuin gue."

"Santai aja." Keisha mengulurkan empat buah handband pada Raisa yang langsung diterima. "Scan di sini ya buat bayarnya." Kini berganti Keisha yang menunjukan sebuah barcode pada Raisa.

"Nggak gratis kak?" Yura menyeletuk.

Sontak Mita memukul pelan kepala sahabatnya itu. "Gratis mulu otak lo isinya!"

"Boleh, sih, kak. Tapi ini kita profitnya bukan ke kantong kita loh. Kita pakai untuk kegiatan amal. Yakin masih pengen gratis?"

Yura meringis. "Bercanda doang, kak. Maaf."

Raisa menggeleng gemas melihat perilaku mereka. Mendadak dia bertanya, "Ini bedanya main event sama yang sekarang apa, Sha?"

"Kalau yang sekarang ya kalian bisa lihat sendiri yaa di dalem kayak gimana, tapi kalau main event nanti akan ada semacam demo dari gue sama Ardan yang udah sepertiga kita garap masing-masing."

"Live painting, ya?" Laura berucap.

"Yup."

"Wah, tapi lama banget ya masih nanti."

"Boleh balik lagi kok nanti. Tenang aja nggak usah bayar ulang." Keisha sengaja melirik pada Yura ketika mengatakannya, sedangkan yang dilirik pura-pura mengalihkan pandang.

Setelah sadar sudah mengobrol terlalu lama mereka berempat segera masuk ke dalam. Pencahayaan telah diatur sedemikian rupa hingga mampu mencipta tiap karya di sana seolah adalah tokoh utama.

Mereka mengitari dalam tempat tersebut bersama-sama. Sesekali Raisa akan menjepret bila melihat karya yang mampu membuatnya sangat takjub, tak ketinggalan jika di pojok lukisan ada tulisan: oleh Ardan dan judul karyanya, dia akan mengabadikan dalam ponsel tanpa tertinggal satu karya pun.

Beberapa yang ditampilkan dengan nama Ardan tak terlihat asing oleh Raisa. Sebagian seperti telah dia lihat sebelumnya.

Awalnya dia masih meraba ingatan dari mana dia melihat bebeberapa karya Ardan yang tak asing tersebut sebelumnya. Dan ketika netranya menangkap salah satu lukisan sebuket Bunga Forget Me Not sebuah lampu seolah muncul dan memperjelas ingatannya.

"Ah, ini kayak sketch yang pernah gue lihat waktu dikunciin sama Ardan dulu."

"Apa, Al?"

"Nggak papa." Raisa segera mengunci mulutnya yang kebiasaan bicara sendiri. "Fotoin gue dong," pintanya pada Mita yang bertanya. Kedua teman yang lain masih sibuk melihat-lihat lukisan sebelumnya.

"Boleh."

"Sama yang ini ya. Setengah badan aja." Raisa menunjuk lukisan Ardan tersebut yang tak henti membuat dia tersenyum. Berfoto dengan lukisan sebuah bunga kesukaannya. Hasil dari karya suaminya.

Eh? Suami? Saat berpikir begitu sepertinya Raisa harus selalu ingat, bahwa Ardan adalah suami Alya. Harusnya jika ingin mengaku, dia harus bilang 'suami Alya' bukan 'suaminya'.

"Satu, dua, tiga." Dan bunyi kamera tanpa blitz terdengar.

Mereka tetap lanjut mengitari tiap karya. Hingga sebuah suara yang sangat dikenal memanggil dari sisi kanan saat mereka melihat-lihat.

"Wahhh, bolos kerja malah main."

"Eh, Devan."

"Ye, Alya nggak bolos ya. Dia sakit. Ini keluar juga cuman mau dukung suaminya aja."

"Eh?" Devan tampak terkejut. "Suami?"

"Ya! Jangan bilang lo selama ini mau nempel Alya buat niat deketin dia dan ngira kalau dia single?"

"Wajar, Mit. Anak baru belum tahu seluk-beluk Starlit."

Di sela obrolan yang tak menarik perhatian Raisa itu, dia seketika tersenyum saat melihat sosok suami yang sejak tadi sering disebut. Ardan muncul dari balik pintu ruangan yang tertutup dengan tulisan: selain panitia dilarang masuk. Lelaki itu diikuti Santi di belakangnya.

"Ar—" Baru saja Raisa ingin melambai, tangannya langsung terhenti di udara.

Dua sosok itu terlihat sedang tidak baik-baik saja. Ardan berjalan dengan tergesa. Meskipun mencoba untuk berekspresi senetral mungkin Raisa yang hari-hari mendapat amarah Ardan, hanya cukup sekali lihat saja sudah bisa menebak kalau kondisi hati pria itu sedang kacau. Terlebih lagi matanya memerah entah sudah menangis atau sedang menahan tangis.

"Nak!" teriak Santi lantang. Tampak ikut berlari menyusul Ardan. Seperti tidak peduli dengan pandangan dari pengunjung tempat tersebut. Menimbulkan suara yang menyita perhatian dan merenggut kedamaian.

Tentu saja melihat ada yang tidak benar Raisa seketika ikut menyusul. Meninggalkan teman-teman yang sama terkejutnya seperti dia setelah melihat Ardan yang tampak kesetanan mendahului jalan ibunya.

"Tuh suaminya. Kalau dinilai dari muka, lo kalah jauh," tunjuk Mita tepat di belakang punggung Ardan.

...****************...

1
fianci🍎
Pusing kepala baca cerita ini, tapi tetap seru. Teruslah menulis, author!
Perla_Rose384
Gak sabar nunggu kelanjutannya thor, semoga cepat update ya 😊
Eirlys
Bikin saya penasaran terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!