Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Kota yang Lain
"Aku berutang satu kata maaf padamu. Tetapi percayalah, aku tidak pernah berniat untuk lari dari apa yang telah aku lakukan." ~Rey Lueic.
.
.
.
Rey berdecak dengan satu unit gawai yang tertempel di telinga kanannya.
Lelaki itu menatap lurus ke arah pemandangan di depan sana, mendapati bagaimana beberapa armada dari perusahaan penerbangan terbesar negara mereka, sedang bergerak pelan untuk memasuki atau meninggalkan lapangan parkir.
Kedua kaki lelaki itu menyilang, dengan sebuah koper sedang berwarna abu muda yang terletak tepat di samping kanannya. Ruang tunggu kelas bisnis itu tampak lengang, karena Rey mengambil penerbangan pertama di pagi hari ini.
Armada besi itu akan membawanya terbang dari Frankfurt menuju Dresden, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju rumah keluarga besar Lueic di Leipzig.
"Aku sudah bilang aku akan datang," ujar Rey menahan kesal, yang terdengar jelas lewat nada suaranya.
Bola mata lelaki itu bergerak sempurna, dengan satu tangan yang terkulai di atas paha.
"Aku tidak menerima tamu," katanya lagi. "Dan aku bisa jelaskan apa yang terjadi. Kedatangan kalian hanya akan mengganggu pekerjaanku, dan sebaiknya kabar yang kudengar malam tadi bukan hanya akal-akalan semata!"
Rey tanpa sadar menaikkan nada suara, mengetukkan kakinya ke lantai yang dilapisi dengan karpet berwarna coklat muda.
Terdengar kekehan ibunya di seberang telepon, yang malah menjawab dengan suara begitu lembut.
"Ayahmu sungguh ingin bertemu dengan perempuan itu," ujar Patricia Lueic--ibu kandung dari sang bangsawan.
"Dia sungguh marah ketika mendengar kau malah mengunjungi Heidelberg, bukannya kembali ke kampung halamanmu untuk memberikan penghormatan pada keluarga besar. Anak seperti apa yang melakukan tindakan konyol seperti itu, Rey?!"
Rey mengambil jeda dua detik, untuk memijat pelipisnya yang masih terasa sakit. Pengaruh alkohol yang dia tenggak malam tadi masih menyisakan denyut, ditambah lagi dengan hal yang terjadi antara dia dan Luana.
Kepergiannya yang terkesan terburu-buru dari pulau itu mungkin menyisakan tanda tanya dan kemarahan di benak Luana.
Hanya saja Rey tidak punya pilihan, setelah ia mendapati telepon darurat yang berasal dari rumah kedua orang tuanya. Lelaki itu tahu dia tidak akan bisa mengelak, karena memang seperti itulah tradisi yang sudah dijalankan di keluarga besar mereka turun temurun.
Hanya saja Rey tidak menyangka ibunya akan menelepon bahkan di hari kedua pernikahan, sukses mendapat informasi bahwa dia dan istri palsunya sedang berada di Heidelberg sekarang.
"Aku tahu," jawab Rey masih malas. "Jika kau menyuruhku datang, maka aku akan datang, Ibu. Tetapi aku tidak bisa membawa Luana ikut serta, karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan di sini."
Patricia Lueic terbiasa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak terkecuali dengan keinginannya untuk mendatangkan menantu di keluarga besar mereka, saat diam-diam wanita paruh baya itu sudah mengatur sebuah pesta megah untuk merayakan pernikahan putranya.
"Jangan datang bila kau tidak membawanya!" kata Patricia tegas. "Bukan kau yang ingin aku sambut di rumah ini, tetapi perempuan yang kini telah menyandang status sebagai Nyonya Lueic yang baru."
Terdengar Rey menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan perasaan frustrasi di mengumpul ubun-ubun.
Sekelebat bayangan tentang apa yang terjadi malam tadi antara dia dan Luana, begitu saja hadir dan membuat tubuhnya menegang sempurna.
Bagaimana dia bisa membawa Luana ke hadapan keluarga besarnya, saat dia saja tidak tahu bagaimana harus menghadapi perempuan itu.
Kemarahan Luana malam tadi memang pantas diperuntukkan bagi Rey, yang juga sama menyesalnya untuk semua tindakan yang dia lakukan di luar kesadaran.
"Boarding-ku hampir tiba," kata lelaki itu. "Dengar Ibu, aku datang karena kau berkata kondisi ayah melemah. Aku tidak di sana untuk memperkenalkan istriku, jadi aku akan kembali begitu aku memastikan ayah baik-baik saja."
Patricia mengukir senyum tipis di tempatnya sana, memahami sifat keras kepala putranya yang pastilah diwarisi dari dirinya.
"Ya sudah kalau kau memaksa," ucap Patricia. "Lihat saja apa yang akan terjadi nanti."
Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Patricia Lueic sudah menekan tombol merah di layar ponsel dengan tergesa-gesa.
Memutuskan sambungan telepon itu, Patricia melempar senyum pada suaminya yang sedang membalik halaman surat kabar pagi.
"Bagaimana?" tanya Ryan Goette Lueic--ayahanda dari Rey, yang kini mengangkat kepala untuk menatap pada istri tercinta.
Patricia melangkah untuk mendekati posisi suaminya di meja makan, bertepuk tangan dengan senyum yang merekah.
"Mereka akan datang, Sayang," ucapnya senang. "Kau tidak perlu khawatir, karna pesta keluarga besar Lueic akan benar-benar dimulai."
***
Lambaian tangan dari Jack Miller mengantarkan Luana sebelum perempuan itu naik ke atas kapal.
"Sampaikan salamku kepada suamimu, Luana," ujar lelaki itu dengan dua tangan yang berkacak di pinggang. "Katakan aku turut menyesal atas apa yang terjadi di Leipzig. Aku harap aku bisa menemui Paman Ryan secepat mungkin, hanya saja yah, sepertinya tidak bisa."
Luana hanya bisa memberikan satu senyum, karena dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Jack sekarang. Pandangan yang terarah dari Jovi kepadanya mengisyaratkan bahwa sebaiknya perempuan itu tidak bertanya lebih lanjut.
"Terima kasih, Jack," balas perempuan itu, kini sudah tampak lebih baik kondisinya dari malam kemarin.
Luana akhirnya tidak punya pilihan selain kembali ke kamar, mengganti pakaian kemudian terlelap tidur hingga matahari naik di peraduan. Perempuan itu bahkan tidak tahu di mana Rey sekarang, hingga Jovi tadi berkata bahwa Rey telah kembali ke Heidelberg lebih dulu.
"Terima kasih atas semua bantuanmu Tuan Jack," kali ini Jovi yang mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Jack memberi anggukan, mempersilakan Luana dan Jovi untuk naik ke atas kapal mereka.
Beberapa belas menit kemudian, yacht itu pun bergerak untuk menyusuri laut. Membawa dua orang penumpang di atasnya, untuk kembali ke pelabuhan di Heidelberg.
Luana duduk di kabin utama kapal mewah itu, tepat di kursi di mana dia duduk pada saat berangkat kemarin.
Kedatangan Jovi membuat Luana mendongakkan kepala, menghentikan langkah lelaki itu dengan satu pertanyaan.
"Jadi, Tuanmu melarikan diri?" tanya perempuan itu dengan nada sarkastis, dan siapapun yang mendengarnya pasti dapat mengambil kesimpulan bahwa kalimat itu penuh dengan nada kebencian.
Jovi menolehkan kepala, menghentikan langkah tepat di ambang sofa yang berhadapan dengan posisi Luana.
Kejadian malam tadi pastilah masih terekam di benak keduanya, tetapi entah mengapa itu malah membuat mereka semakin leluasa berbicara satu sama lain.
"Tuan tidak melarikan diri, Nyonya," sanggah lelaki itu.
Berpikir sepertinya pembicaraan ini akan memakan cukup banyak waktu, Jovi mendudukkan dirinya di salah satu kursi.
Luana mencibir. Memikirkan tentang Rey saja membuatnya sakit kepala, dan hilangnya lelaki itu dari pulau sungguh menyiratkan bahwa sang bangsawan memang adalah seseorang yang berengsek.
"Aku tahu itu sudah menjadi tugasmu untuk membela tuanmu bagaimanapun caranya," kata Luana. "Tetapi andai saja kau tahu seburuk apa perangainya, kau mungkin akan berpikir dua kali untuk tetap berada di sampingnya."
Jovi membiarkan hening menyelimuti untuk beberapa detik. Tatapan yang dilesatkan Luana kepadanya tampak sedikit berbeda, sebab Jovi tidak lagi menangkap keragu-raguan atau kebimbangan dari sinar pancaran perempuan itu.
Sejak peristiwa dini hari tadi, Luana sudah memutuskan bahwa dia akan memasang badan untuk tidak terprovokasi oleh setiap perilaku Rey. Bahkan perempuan itu berencana untuk menghubungi Madam Collins, tepat saat dia kembali ke Munich nanti.
"Sesuatu terjadi," kata Jovi memecah keheningan. "Tuan tidak memberitahu padaku alasannya, karena dia ingin aku di sini untuk memastikan Anda baik-baik saja."
Jika tadinya pandangan Luana terarah ke laut, kali ini perempuan itu menoleh ke arah Jovi dengan gerakan pelan.
"Ternyata Tuan Rey menerima telepon dari Leipzig malam tadi," kata Jovi lagi. "Itu adalah telepon dari Nyonya Patricia Lueic, ibu mertua anda. Dan kabar yang terdengar dari telepon itu adalah kabar yang kurang baik, mengenai kesehatan Tuan Besar yang tiba-tiba saja melemah. Hingga akhirnya Tuan Rey memutuskan untuk terbang ke Leipzig pagi ini."
Bola mata Luana melebar, seiring dengan penuturan yang dikatakan oleh Jovi.
'Jadi lelaki itu tidak berusaha menghindariku?' tanya perempuan itu pada dirinya sendiri. 'Jadi dia pergi karena mendengar kabar mengenai ayahnya, bukan karena kejadian malam tadi?'
Ingatannya melesat begitu saja pada memori hari di pernikahan mereka, saat gadis itu hanya melihat sekilas tuan dan nyonya besar Lueic yang duduk tepat di sisi kiri auditorium.
Tepat setelah janji suci itu terucap, Rey begitu saja menarik tangannya dan membawanya langsung ke mansion. Tidak sama sekali memperkenalkannya kepada para keluarga, Rey mungkin sudah tahu bahwa hal itu hanya akan berakhir sia-sia.
Karena lagi-lagi, Luana hanyalah pengganti.
"Jadi, kita akan kembali ke Heidelberg? Atau mungkin akan langsung kembali ke Munich?"
Jovi menarik sudut bibirnya untuk membentuk seulas senyuman.
"Tadinya tuan berpikir dia dapat menahan anda untuk tetap di Heidelberg," jawab Jovi. "Tetapi bahkan tuan tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri, karena Nyonya Patricia berkata dia sebenarnya ingin menemui Anda."
Berkerut kening Luana, sebab dia masih tidak memahami ke mana arah pembicaraan Jovi kali ini.
"Aku tidak mengerti," kata perempuan itu. "Mengapa Ibu Rey mau bertemu denganku?"
"Karena Anda adalah Nyonya Lueic yang baru," jawab Jovi tanpa ragu. "Kedatangan Tuan Rey ke Leipzig pagi ini ternyata tidak membuahkan hasil apa pun, karena baru saja saya menerima satu perintah yang lain."
Luana mengerjap dua kali, memiringkan kepala ketika ia berusaha mencocokkan benang merah dari semua yang dia dengar saat ini.
"Tunggu," ucap gadis itu tertahan. Bola matanya berputar, seakan tidak percaya atas apa yang dia pikirkan sekarang. "Apa maksudmu, kita akan pergi ke Leipzig?!"
Senyum Jovi semakin lebar, disusul dengan satu anggukan tanpa kebimbangan.
"Benar sekali, Nyonya. Kita akan menuju Leipzig, tepat setelah kapal ini mendarat di Heidelberg," kata lelaki itu. "Mare sudah mempersiapkan semua perlengkapan Anda, dan Tuan Rey juga sudah menunggu Anda di Dresden."
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar