Rela meninggalkan orang yang dicintai demi keluarga. Dan yang lebih menyakitkannya lagi, mendapatkan suami yang penuh dengan kebencian. Itulah yang dirasakan Allesia. Allesia harus meninggalkan kekasihnya, ia dipaksa menikah dengan tunangan kakaknya, namanya Alfano. Alfano adalah pria yang sangat kejam. Kejamnya Alfano bukan tanpa alasan. Ia memiliki alasan kenapa ia bisa sejahat itu.
Apa yang membuat Alfano kejam dan kehidupan seperti apa yang akan Allesia jalani? Mari simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Alfano menyunggingkan senyum saat Allesia berhambur memeluknya. Ia membalikan badan dan membalas pelukan istrinya.
"Jangan bertanya seperti tadi. Jawabannya akan tetap sama, aku tidak akan pernah memberimu izin untuk pergi (mati)" kata Alfano.
"Aku tidak bermaksud membuat Tuan marah" ungkap Allesia. Ia pun menangis di dalam pelukan suaminya. Entah kenapa, ia merasa nyaman berada disisi suaminya. Apakah itu cinta? Entahlah, Allesia pun masih bingung.
Alfano mengecup kelopak mata kiri dan mata kanan istrinya. Kemudian berkata. "Aku tidak mau mata ini mengeluarkan air mata sedih"
Mendapatkan kecupan itu membuat pipih Allesia terlihat merah merona. "Kenapa denyut jantungku berdetak begitu cepat" batin Allesia.
"Allesia, jangan panggil aku Tuan. Aku suamimu bukan majikanmu. Aku sudah melupakan dendamku maka kamupun harus melupakan panggilan itu" kata Alfano tersenyum menatap manik mata istrinya.
"Lalu aku harus panggil apa?" tanya Allesia.
"Panggil namaku saja atau kamu bisa memanggilku honey" kata Alfano tersenyum manis menatap istrinya.
"Baik Fano" balas Allesia tersenyum.
"Ayo kita ke atas, tidak lama lagi anak-anak akan pulang" kata Alfano, ia menggandeng tangan istrinya. Keduanya melangkah menuju kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar, Alfano membuka baju jas dokternya lalu memasukannya di keranjang pakaian kotor.
"Tunggu aku keluar...!" teriak Allesia saat Alfano membuka kancing baju kameja yang ia kenakan satu persatu.
Alfano terkekeh saat melihat Allesia menggerutu sepanjang langkahnya. Alfano melepas bajunya lalu berjalan keluar tanpa mengenakan baju. "Allesia" panggil Alfano saat melihat Allesia berdiri di depan pintu dengan posisi membelakangi pintu kamar.
"Kenapa tidak mengenakan baju!!" gerutu Allesia, membenturkan kepalanya di pintu kamar dengan pelan.
"Kenapa kepalaku tidak terasa sakit" gumam Allesia. Allesia mendongkak menatap pintu, ada tangan suaminya di sana. Alfano meletakan telapak tangannya agar kepala istrinya tidak mengenai pintu kamar.
"Sudah?" tanya Alfano dengan santai.
"Sudah. Ayo cepat! Kenakan bajumu" balas Allesia menarik tangan suaminya. "Duduk!!" titahnya dengan kesal lalu berjalan menuju lemari pakaian suaminya. Kous oblong warna putih, itulah pilihan Allesia untuk suaminya.
"Pakai ini" Allesia menyodorkan baju kous tanpa menatap suaminya.
Allesia mulai kembali pada sifatnya yang suka menggerutu. Hal itu karena sikap suaminya yang tidak seperti dulu lagi. Dia kembali seperti wanita yang selalu Ansel kagumi. Pekerja keras, periang dan suka tolong menolong.
"Apa dia memang seperti ini? Aku suka" batin Alfano.
Alfano mengenakan baju yang diberikan oleh istrinya. Setelah selesai, ia berdiri menghampiri istrinya yang tengah berdiri membelakanginya. "Ayo" kata Alfano. Mereka pun turun di lantai satu.
"Ayo sini" ajak Alfano, ia menepuk tempat duduk disampinya.
"Aku malu" balas Allesia.
"Hahahaha. Apa katamu, kamu malu?" Alfano tertawa terbahak-bahak. "Belum cukup 2 menit kamu memarahiku dan sekarang kamu bilang malu"
"Apa salahnya jika aku malu!" Allesia mendengus kesal.
"Ayo sini. Aku akan memanjakanmu sampai kamu lupa rasa sakit yang dulu" ujar Alfano, ia berdiri menghampiri istrinya.
"Aku sudah melupakannya" balas Allesia sembari duduk di sofa.
"Apa yang kamu pikirkan saat kita menikah dulu?" tanya Alfano.
"Aku sudah yakin dengan nasib burukku, kamu akan menyuruhku tidur sofa dan menjadikanku pembantu" jelas Allesia.
"Apa ada hal indah yang kamu impikan jika kamu menikah dengan Ansel?" tanya Alfano.
Allesia menatap suaminya. "Maksud kamu?" tanya Allesia dengan bingung.
"Seandainya kamu menikah dengan Ansel, pria yang memiliki ruang sepenuhnya di hatimu. Apa impianmu bersamanya?" jelas Alfano.
"Apa aku harus jawab?" Allesia kembali bertanya.
"Tentu saja" balas Alfano singkat.
"Aku ingin hidup bahagia dan tentunya simple" balas Allesia dengan singkat.
"Hanya untuk bahagia saja." Alfano membulatkan mata tak percaya.
"Iya bahagia. Bahagia bersama keluarga kecil kami" balas Allesia dengan santai.
"Apa katamu.. kami?" Alfano menggeram kuat.
"Aku jawab sesuai pertanyaan jadi jangan terbawa suasana" ujar Allesia saat melihat rahang suaminya mengeras.
"Akhh sial...!!" Alfano mendengus kesal saat menyadari kebodohannya.
"Ayah... ibu... kami pulang..." teriak Lusia dari balik pintu. Ia dan Afro berhambur memeluk orang tua mereka lalu salam.
"Kamu boleh pulang sekarang" kata Alfano pada Sevani.
"Baik Tuan" balasnya lalu bergegas pulang.
"Ayah, kita akan foto keluarga kan?" tanya Lusia.
"Iya sayang. Sekarang kalian ikut ibu untuk menganti pakaian kalian" titah Alfano.
"Baik ayah"
"Afro, ayo" Lusia menarik tangan Afro.
"Tunggu sebentar" kata Afro. Afro menatap Alfano kemudian menatap Allesia
"Paman, boleh aku foto bersama Paman dan Tante?" tanya Afro menatap sayu Alfano dan Allesia.
Alfano tersenyum, begitupun dengan Allesia. Seketika senyum itu menjadi tangis, Allesia memeluk erat Afro. Ya, mungkin karena ia tidak punya foto keluarga sama seperti Afro. Boleh di kata, Allesia punya keluarga yang utuh.
"Tante, jangan menangis" pintah Afro sembari menyeka air mata Allesia.
"Ibu, ibu jangan menangis. Ibu punya aku, Afro dan juga ayah" timpal Lusia tersenyum.
"Begitu banyak luka dimasa lalumu, Allesia. Aku janji, aku akan memberimu kebahagiaan yang pernah kamu dapatkan" batin Alfano.
Allesia dan Lusia serta Afro menaiki anak tangga menuju kamar Lusia. Sesampainya di dalam, Allesia mengganti baju Lusia dan juga Afro.
Lusia mengenakan baju warna merah, celana hitam dengan gaya rambut yang dikepang dua.
Afro mengenakan baju warna army dengan lapisan kameja kotak-kotak di dalamnya.
Usai mengganti pakaian Lusia dan Afro, Allesia berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian yang ia kenakan.
Alfano mengenakan baju kameja putih dengan celana senada serta rompi berwarna abu-abu.
"Kamu tunggu di kamar anak-anak, aku mau ganti baju dulu" kata Allesia.
Alfano tersenyum menyeringai, ia memiliki ide gila untuk membuat istrinya kesal. "Oke baiklah, aku akan keluar" kata Alfano.
"Aku ganti pakaianku di sini saja, toh Alfano sudah keluar" gumam Allesia, ia mengganti pakaiannya di samping tempat tidur.
Cek-lek... Alfano membuka pintu. "Kamu---" Alfano tidak meneruskan kalimatnya, namun sejujurnya itulah triknya untuk menjahili istrinya.
"Tutup matamu...!!" teriak Allesia, ia menutup tubuhnya menggunakan tangan.
Dengan santainya, Alfo berkata. "Aku sudah melihatnya"
Jawaban itu membuat Allesia syok. "Mau ditaruh di mana mukaku" batin Allesia. Lalu dengan cepat ia mengganti pakaiannya.
Alfano menghampiri istrinya, ia membantu istrinya merias wajahnya. "Jangan diikat rambutnya, biarka saja terurai" kata Alfano.
Penampilan Allesia.
Ruang studio
Foto keluarga diambil di dalam ruangan yang lumayan besar, tepatnya di dalam Mansion. Alfano menyiapkan kamera lalu meminta keluarganya untuk bersiap-siap. Foto keluarga pun selesai dimbil. Kini, giliran Alfano dan Allesia melakukan foto berdua. Pose mereka, Alfano melingkarkan tangannya dipinggang istrinya sedangkan Allesia tersenyum manis pada suaminya.