NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Di kediaman Salvatore yang kini telah kembali tenang, sisa-sisa badai yang dibawa oleh Victoria seolah lenyap tanpa bekas. Pecahan meja marmer telah dibersihkan oleh Elana dan para pelayan dengan efisiensi yang luar biasa, menyisakan ruang tamu yang kembali hangat dan damai.

​Dominic masih enggan melepaskan dekapannya dari tubuh Isabella. Ia duduk di sofa dengan Isabella yang bersandar nyaman di dada bidangnya, sementara tangan kokoh Dominic sesekali mengusap lembut perut rata istrinya dengan gerakan protektif yang penuh kasih.

​"Bagaimana perasaanmu, Sayang? Masih pusing?" tanya Dominic lembut, mengecup pelipis Isabella dengan penuh perhatian. Rasa khawatir di matanya belum sepenuhnya pudar.

​Isabella tersenyum kecil, mendongak untuk menatap rahang tegas suaminya yang kini sudah mengendur, tidak lagi tegang seperti saat menghadapi ibunya tadi.

"Aku sudah jauh lebih baik, Dominic. Sungguh. Kehadiranmu dan... kabar dari dokter tadi membuatku melupakan semua rasa pusing itu."

​Ia membawa tangannya untuk menumpuk di atas tangan Dominic yang berada di perutnya. "Aku hanya masih merasa ini seperti mimpi. Dua bulan kita menikah, dan sekarang ada kehidupan kecil di sini."

​"Ini bukan mimpi, Sayang," bisik Dominic dalam, menyatukan jemari mereka.

"Ini nyata. Dan aku akan memastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengusik kebahagiaan kita lagi. Aku bersumpah."

​Mendengar janji suaminya, Isabella merasakan kehangatan yang luar biasa menjalar di dadanya. Namun, pandangannya kemudian beralih ke arah karpet bulu, di mana Damian sedang duduk bersila sambil mengamati mereka berdua dengan tatapan menilai.

​"Damian," panggil Isabella lembut, merentangkan tangannya yang bebas. "Kemari, Nak."

​Bocah lima tahun itu menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri. Ia berjalan mendekat dengan langkah kaki yang tenang, lalu mendudukkan diri di sisi sofa, tepat di samping ibunya.

​"Mommy, fluktuasi emosional seperti tadi sangat tidak baik untuk perkembangan awal embrio," ucap Damian lempeng, membetulkan letak kemeja kecilnya yang rapi.

"Mulai besok, aku menyarankan agar Daddy menyaring semua tamu yang memiliki potensi membawa polusi suara dan drama toksik di rumah ini. Kita tidak bisa membiarkan calon bawahanku terlahir dengan gangguan kecemasan."

​Isabella tidak bisa menahan tawa renyahnya. Ia menarik Damian ke dalam pelukannya, mencium pipi bulat bocah itu yang langsung membuat Damian sedikit memutar bola matanya—meski ia tidak menolak pelukan ibunya.

​"Dia adikmu, Damian, bukan bawahanmu," koreksi Isabella dengan nada gemas.

​"Secara hierarki kelahiran dan kepemilikan modal kecerdasan di rumah ini, dia tetap berada di bawahku, Mom," balas Damian tetap pada pendiriannya yang dingin.

​Dominic yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala. Ia mengulurkan tangannya yang besar untuk merangkul bahu kecil Damian, menarik anak dan istrinya ke dalam satu dekapan yang utuh dan posesif.

​"Kau boleh merasa paling pintar di rumah ini, Damian," ucap Dominic dengan nada baritonnya yang kini terdengar santai namun penuh kebanggaan tersembunyi.

"Tapi ingat, selama adikmu ada di dalam perut Mommy-mu, otoritas tertinggi tetap ada di tangan Mommy. Mengerti?"

​Damian melirik ayahnya lewat sudut matanya yang tajam. "Analisis yang cukup adil, Dad. Untuk saat ini, aku menerima gencatan senjata."

​Di dalam dekapan Dominic yang kokoh dan kehangatan pelukan Damian, Isabella memejamkan matanya dengan rasa syukur yang mendalam.

Di luar sana, ia tahu dunia klan Salvatore penuh dengan bahaya dan intrik kejam—terutama setelah ancaman dari ibu mertuanya. Namun, melihat bagaimana Dominic dan Damian siap menjadi perisai hidup untuknya, Isabella tahu bahwa ia tidak perlu takut pada apa pun lagi. Keluarga kecil ini siap menghadapi badai apa pun bersama-sama.

Malam pun tiba, menggantikan hiruk-pikuk ketegangan siang tadi dengan keheningan yang menenangkan di kediaman Salvatore. Kamar utama mereka yang luas kini hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang memancarkan pendar kuning hangat.

​Isabella berbaring bersandar pada tumpukan bantal lembut di atas tempat tidur king size mereka. Di sampingnya, Dominic duduk bersandar pada kepala ranjang, memegang sebuah mangkuk kecil berisi buah-buahan segar yang sudah dipotong rapi.

​"Satu suapan lagi, Sayang," bujuk Dominic lembut, mengarahkan sepotong buah kiwi di depan bibir Isabella.

​Isabella tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan sambil mendorong lembut tangan kekar suaminya. "Dominic, aku sudah kenyang sekali. Sejak sore tadi kau terus menyuapiku seolah aku tidak makan selama satu minggu."

​"Kau makan untuk dua orang sekarang, Sayang. Tubuhmu harus benar-benar kuat," balas Dominic tanpa bantahan. Nada suaranya yang biasa dingin dan tegas kini sepenuhnya melunak, dipenuhi binar protektif yang begitu pekat. Ia meletakkan mangkuk itu di meja nakas, lalu bergeser mendekat untuk menarik Isabella ke dalam pelukannya.

​Isabella menyandarkan kepalanya di dada bidang Dominic, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Jemari kasar Dominic mengusap perut datar Isabella dengan gerakan melingkar yang teramat hati-hati.

​"Dominic..." panggil Isabella lirih, jemarinya memainkan kancing piyama suaminya.

​"Ya, Sayang?"

​"Bagaimana jika... bagaimana jika ibumu benar-benar melakukan sesuatu setelah ini? Aku melihat kilat kemarahan yang sangat besar di matanya tadi. Aku takut dia akan menggunakan pengaruhnya untuk mengusik kita, terutama Damian," bisik Isabella, menyuarakan kecemasan yang sejak sore tadi coba ia pendam.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!