Ini kisahku...
Seorang laki-laki yang mencoba mencari cinta masa SMP nya,yang selama 13 tahun hanya terpendam dihati belum sempat terungkapkan. Namun ketika takdir berpihak padaku,mempertemukan aku dan dia,aku harus menelan kekecewaan karna menerima kenyataan bahwa dia sudah menjadi milik orang lain.
Akankah ada keajaiban untukku agar bisa memilikinya?
Sementara hatiku tak mampu berpaling pada wanita lain.
Selamat menikmati kisahku yaaa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Teryata lumayan banyak perubahan yang di buat papa dengan rumah ini. Aku pun terkagum-kagum di buatnya,rumah terlihat lebih bagus dan lebih luas dari sebelumnya.
Yah,semenjak pengontraknya pindah dan papa memutuskan untuk merenovasi rumah ini,baru hari ini aku menginjakkan kakiku masuk ke rumah ini lagi.
"Sepertinya kemarin papa melakukan renovasi besar-besaran..." kataku.
"Ya...lumayan...papa hanya ingin kalian dan anak-anak kalian nanti nyaman berada disini. Dibelakang selain taman dan kolam renang,papa membuat rumah khusus untuk para pekerja. Dan masih ada dua kamar disana,jadi nanti kalau kalian mau tambah pekerja nggak perlu bingung dengan kamarnya."
"Kamar atas ada 3 kamar besar dan 1 kamar yang lebih kecil,kamar kalian yang paling besar dan kamar yang lebih kecil itu untuk cucu papa nanti. Sementara 2 kamar besar yang di depan kamarmu adalah kamar si kembar kalo pas nginep disini. Di bawah ada kamar papa dan mama serta 1 lagi kamar buat tamu. Sementara paviliun depan itu sebagai tempat praktekmu"
"Kamu tidak keberatan tinggal disini kan Rahma?"
"InsyaAlloh enggak pa...sebagai seorang istri saya akan ikut kemana pun Mas Hakim pergi"
"Kami memang jarang datang kesini,tapi papa menyediakan kamar buat kami jika berada disini...kamu juga nggak keberatan tentang hal itu kan nak...?"
"Tentu saja tidak pa...kalau pun papa,mama dan adik-adik akan tinggal disini selamanya pun Rahma dengan senang hati menerimanya. Rahma sebatang kara pa...tinggal beramai-ramai akan lebih menyenangkan daripada tinggal sendiri pa" tambah Rahma lagi.
"Alhamdulillah...memang nggak salah,Hakim pilih istri...terimakasih ya nak..."
"Iya pa...Rahma juga sangat berterimakasih dengan semua yang papa berikan kepada Rahma" ucap Rahma tulus.
"Oya pa...katanya tadi papa mau mandi terus mau cerita kan...papa mandi deh biar Rahma bikinin kopi buat kita" ucapku yang udah nggak sabar.
"Maaaasss..."
"Kamu mau aku mati penasaran gara-gara nunggu cerita papa? Papa kan udah janji mau jelasin semuanya..."
"Huu...teryata kamu juga lebay Kim..." sindir Dimas kepadaku.
"Halah...kamu juga penasaran kan?"
"Udah-udah,papa mandi sekarang...Rahma tolong buatin papa kopi hitam saja...kopinya 2 sendok teh dan gulanya 1 sendok teh saja...terimakasih ya..."
"Iya pa..."
Papa pun segera masuk ke kamarnya,sementara Rahma menuju dapur untuk membuatkan kami minum.
Selang 20 menit,papa sudah keluar kamar dan duduk di kursi ruang keluarga bersama kami. Kopi dan camilan pun sudah tersedia untuk menemani obrolan kami.
"Kita mau mulai darimana?"
"Dari perkenalan papa dan Bang Farhan..." kataku.
Bercerita tentang Bang Farhan pastinya akan ada sangkutannya dengan istriku,aku merasakan Rahma mulai merapatkan duduknya padaku,seolah mencari perlindungan. Ku genggam tangannya untuk memberikan dia kekuatan.
Papa menikmati kopi bikinan Rahma sebentar terus mulai bercerita.
"Papa mengenal Farhan sudah sejak lama...mungkin malah sejak dia masih bayi,karna ayahnya Farhan adalah sahabat papa waktu kami sama-sama kuliah di UGM. Bahkan ketika mereka masih tinggal di Jakarta,papa sempat beberapa kali punya proyek bisnis bareng dengan ayahnya Farhan. Dan ketika beliau mengalami kecelakaan pun,papa juga sempat datang takziah hingga mengantar beliau sampai ke peristirahatannya yang terakhir" kenang papa.
"Beberapa minggu berselang,papa mendapat telpon dari Farhan,dia mengabarkan tentang meninggalnya ibundanya yang memang saat itu sudah dalam kondisi kritis. Farhan juga memberitahukan bahwa dia sudah menikah tapi pernikahan itu sebenarnya hanya sebuah sandiwara untuk memenuhi keinginan terakhir ibundanya. Farhan juga mengatakan bahwa istrinya selama ini telah mempunyai seseorang yang dicintainya.Sayangnya waktu itu,papa sedang berada di Jepang,jadi tidak bisa datang takziah ke rumahnya dan tidak tau kelanjutan cerita tentang pernikahan Farhan."
"Beberapa minggu kemudian papa bertemu dengan Farhan lagi ketika itu Farhan tengah menyelidiki laki-laki yang katanya di cintai istrinya...Dan Farhan mendapat kabar dari orang suruhannya yang mengatakan bahwa laki-laki yang selama ini di cintai istrinya adalah kamu,anak papa...Karna waktu itu papa buru-buru,maka Farhan pun meminta waktu bertemu dengan papa di lain hari. Dan akhirnya,Farhan terbang ke Surabaya untuk menemui papa. Dia menceritakan semuanya yang terjadi antara dia dan Rahma. Tentang pernikahannya dan tentang hubungannya dengan Rahma selama ini. Dia juga bilang,andai benar laki-laki yang di cintai istrinya itu anak papa,maka dia akan dengan ikhlas melepas Rahma untuknya"
Papa kembali mengambil cangkir kopinya,menyeruput kopi dan kembali meletakkan di meja. Sementara Dimas menyimak setiap cerita dengan seksama,seperti mahasiswa yang sedang di beri materi kuliah oleh dosennya...diam dan konsentrasi...
Sedangkan Rahma sedari tadi menggenggam erat tanganku,seperti orang yang ketakutan.
"Waktu itu Farhan tidak pernah bercerita kalau dia tengah mengidap penyakit yang parah dan mematikan. Dia cuma bilang kalau dia punya penyakit bawaan dari lahir dan dia akan berobat di rumah sakit kota,ketika aku mengatakan bahwa kau bertugas disana. Dia ingin mengenalmu lebih dekat. Lalu Farhan meminta tolong pada papa agar mau bersandiwara,supaya bisa menyatukan kamu dan Rahma. Dan drama selanjutnya,adalah semua yang kau alami hingga detik ini."
"Oya,sebelum Farhan meninggal,Farhan juga telah menjual kafe yang selama ini di kelolanya dan meminta papa untuk membelinya,dan uang hasil penjualan itu telah papa transfer ke rekening Rahma sesuai amanat Farhan seminggu yang lalu."
"Oh maaf pa...seminggu ini Rahma nggak mengecek rekening dan jarang pegang ponsel."
"Nggak papa nak,yang penting sebelum Farhan meninggal dia sudah tau kalau papa sudah mentransferkan uang hasil penjualan kafe itu ke rekeningmu."
"Itulah semua cerita di balik terlaksananya pernikahan kalian...Sekarang papa sudah sedikit lega,karna papa sudah menceritakan salah satu masalah yang selama ini terasa mengganjal di hati. Tinggal satu PR papa...yaitu meyakinkan mama,karna mama taunya Rahma adalah istri Farhan"
Papa membuang nafas pelan,kemudian kembali mengambil cangkir kopi untuk menikmati kopinya yang sudah dingin.
"Apa mama tau seperti apa pernikahan antara Rahma dan Bang Farhan?" tanyaku.
"Tau...tapi kamu kan juga tau jika mama kamu itu biarpun orangnya baik,tapi dia juga keras kepala."
"Tapi kamu dan Rahma nggak usah kuatir...papa akan cari cara yang jitu untuk meyakinkan mamamu. Yang penting kalian berdua harus bersabar,terutama Rahma...andai Rahma nanti ketemu mama dan papa belum sempat menjelaskan,tolong jangan di ambil hati jika ada perkataan mama yang sedikit ketus."
"Iya pa...InsyaAlloh..."
"Terimakasih atas pengertianmu ya nak...jangan kuatir,papa pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian dan papa juga yakin bahwa mama bukan orang jahat. Mama juga pasti akan sayang dan senang memiliki menantu sepertimu jika mama sudah mengenalmu."
"Terimakasih ya pa..." ucap Rahma tulus
"Iya...sekarang papa mau istirahat dulu di kamar ya...kalian terusin ngobrolnya."
"Kalo gitu Dimas juga pamit om,nanti masuk malam..."
"Oke...makasih ya Dim..."
"Siap om..."
Akhirnya semua bubar,Dimas pulang,papa masuk ke kamarnya dan kami pun juga naik ke atas untuk istirahat di kamar baru kami.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...