NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Terpaksa Menikah Dengan Mantan

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Mantan / Cintapertama / Tamat
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kim elly

Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Keesokan harinya, Reno dan Nayla sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Reno tenggelam dalam meeting, menandatangani tumpukan dokumen penting tanpa henti.

Sementara itu, Nayla sibuk di lapangan, mengawasi tukang yang memperbaiki berbagai kerusakan di area hotel.

📱 Chat masuk.

Reno: Sayang, di mana kita makan?

Nayla: Aku di kamar 301.

Reno: Kita ketemu di resto, ya.

Nayla: Oke.

Reno menaruh ponselnya dan melangkah cepat menuju restoran.

Beberapa menit kemudian, mereka duduk berhadapan di meja dekat jendela. Aroma makanan bercampur dengan wangi parfum Nayla yang lembut.

“Udah beres?” tanya Nayla sambil menusuk saladnya.

“Udah,” jawab Reno sambil meneguk air putih.

“Aku udah pesan tiket. Kita berangkat malam ini.”

“Siap,” jawab Nayla mantap.

“Tapi kita nginep di hotel, ya. Jangan di rumah Ibu,” ucap Reno sambil menatap serius.

“Loh, kenapa?” tanya Nayla heran.

“Aku nggak mau Arka atau Mas Arhan lihat kamu,” jawab Reno datar.

Nayla menaikkan alis. “Sayang, kamu kok cemburuan gitu, sih?”

Reno tersenyum miring. “Dari dulu aku emang cemburuan.”

“Lah, kok ke teman-temanku kamu nggak?” Nayla menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi suaminya.

“Cemburu sih,” ucap Reno pelan. “Cuma kalau aku larang, Aku udah tahu jawabannya. Aku nggak mau kamu marah.”

Nayla tertawa kecil. “Ok, bos.”

Mereka melanjutkan makan dalam suasana hangat yang penuh candaan kecil.

Malam itu, mereka terbang menuju Bandung. Udara malam menyejukkan, langit penuh cahaya lampu kota yang berkelap-kelip di bawah awan. Nayla menatap keluar jendela, terpesona oleh pemandangan.

“Nggak tidur?” tanya Reno sambil menggenggam tangan istrinya.

“Tanggung,” jawab Nayla pelan.

Reno menatap wajah Nayla yang tampak lelah tapi tetap cantik.

“Maaf, ya,” ucapnya tiba-tiba.

“Untuk apa?” Nayla menoleh.

“Harusnya kamu diam aja, nggak usah kerja. Biar aku aja. Tapi kamu malah repot gini,” ucap Reno, nadanya lembut tapi penuh rasa bersalah.

Nayla tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa kok. Aku seneng, malah.”

“Aku cuma nggak enak aja… Aku pengennya kamu diam di rumah, fokus jagain aku.”

Nayla terkekeh pelan. “Aku udah jagain kamu dua puluh empat jam, loh.”

Reno tertawa kecil. “Iya juga, sih.”

Mereka saling berpandangan, tersenyum tanpa kata. Pesawat meluncur lembut menembus awan malam.

Beberapa jam kemudian, mereka mendarat di Bandara Husein Sastranegara. Setelah mengambil bagasi, mereka naik taksi menuju hotel.

Sesampainya di lobby, resepsionis langsung menyapa.

“Eh, Bu Nayla! Apa kabar?” sapa Jihan di front desk.

“Baik. Aku mau kamar yang di atas, ya,” ucap Nayla sambil tersenyum tipis.

“Ada, Bu. Kamar nomor 402, view-nya terbaik,” jawab Jihan cepat.

“Makasih. Oh iya, ruangan kantor dikunci nggak?” tanya Nayla.

“Pak Stevan masih ada di atas, Bu.”

“Ok, makasih.”

Nayla dan Reno naik ke lantai atas, menaruh tas mereka, lalu langsung menuju ruang Stevan.

“Kenapa belum pulang?” tanya Reno saat masuk.

“Mumet,” jawab Stevan pendek.

Nayla menghampiri meja, mengambil laptop Stevan, lalu membuka data tamu.

“Awalnya gimana, Pak? Ada yang komplain atau gimana?” tanya Nayla serius.

Stevan menghela napas berat. “Awalnya sih baik-baik aja. Tapi tiba-tiba, banyak yang komplain. Katanya makanan nggak enak, kamar horor, bahkan ada yang ribut sama suaminya tapi nyalahin hotel ini.”

Nayla diam sejenak, matanya menatap layar tajam. “Ouh, gitu…” gumamnya, berpikir cepat. “Aku mau ke restoran.”

Reno dan Stevan pun mengikuti dari belakang.

Begitu Nayla masuk ke restoran, suasana hening tapi tegang. Musik jazz mengalun lembut di ruang makan, tapi di balik pintu dapur, kekacauan nyata terjadi. Suara panci beradu, api kompor menyala besar, dan teriakan koki menggema.

“Stop!” seru Nayla tajam, menghentikan pelayan yang hendak membawa makanan ke tamu.

“Kenapa, Bu?” tanya pelayan gugup.

“Ini… masa plating-nya gini? Nggak cantik,” ucap Nayla dingin.

Koki baru mendekat dengan wajah kesal. “Siapa Anda?”

“Saya manajer di sini,” jawab Nayla tegas, tatapannya menusuk.

“Ini anak buah saya udah bikin sebaik mungkin,” sanggah sang koki ketus.

“Sekolah di mana?” tanya Nayla tiba-tiba.

“Kenapa bawa-bawa sekolah?” balas si koki.

“Masuk sini kan harus sekolah perhotelan.

Pasti diajarkan masak dan plating yang bener, kan?” ucap Nayla.

“Iya, Bu.”

“Kalau hasilnya masih berantakan, ya ubah dong. Kok malah ngeyel?” Nayla melipat tangan di dada.

Koki itu menatap Nayla tajam, lalu dengan nada sinis memerintah anak buahnya, “Ganti!”

Nayla maju, memperhatikan satu per satu langkah mereka. “Salah. Bukan gitu!” serunya lalu mengambil alih. Ia menyusun ulang plating di piring, tangannya cekatan dan penuh percaya diri.

“Nah, gini baru cantik,” ucapnya. Ia mencicipi sedikit saus di piring. Wajahnya berubah.

“Kok rasanya aneh?”

“Udah, kirim dulu. Mereka nunggu,” kata Nayla akhirnya. Lalu matanya tertuju pada masakan lain yang sedang dimasak koki.

Ia mendekat dan mencicipi lagi. “Ini kurang rasa.”

“Ini udah pas, Bu,” sahut koki ketus.

Reno menggeleng sambil berkata pelan, “Dia emang gitu.”

“Iya, makanya nggak ada yang suka,” timpal Stevan.

“Kalo bikin kacau, kenapa nggak dipecat aja?” ucap Reno.

“Belum ada pengganti,” jawab Stevan lelah.

Nayla menambahkan kecap Inggris, sedikit kecap asin, dan sejumput gula putih. Aroma berubah seketika. Ia mencicipi lagi, tersenyum puas. Reno dan Stevan pun ikut mencicipi—dan mereka mengangguk puas.

“Udah beres,” ucap Nayla sambil menatap koki. “Jadi koki itu harus mau dikoreksi. Kalau kamu nggak bisa terima, artinya kamu belum pantas di dapur ini.”

Koki itu menatapnya tajam lalu berkata keras, “Saya keluar! Saya nggak suka diatur!”

“Silakan,” jawab Nayla dengan senyum dingin.

Malam itu, Nayla langsung menelpon Ray.

“Ya?” suara Ray terdengar setengah ngantuk.

“Sini lo, jadi koki,” ucap Nayla cepat.

“Sekarang?!” Ray kaget.

“Tahun depan,” jawab Nayla sarkastik.

“Buset, dadakan amat,” Ray terkekeh sambil siap-siap.

Lalu Nayla mengirim pesan ke Davin.

Lo ngeluh mulu kerja di bank kecil. Besok pindah ke hotel Stevan.

“Anjir, Nay! Dadakan gini?!” balas Davin kaget.

Satu lagi pesan terkirim ke Tari.

Daripada lo sama Putra ribut mulu, suruh dia pindah ke Bandung. Kerja di hotel.

“Serius lo?” tanya Tari.

Ya. balas Nayla singkat.

Nayla memeriksa kamar yang dikabarkan “horor.” Ruangan itu gelap, dingin, dan cat dindingnya kusam.

“Besok cat-nya ganti putih, ya. Jangan pakai wallpaper kayak gini. Auranya nggak bagus,” ucap Nayla sambil menatap sekeliling.

“Ok,” jawab Stevan cepat.

Di lobby, beberapa karyawan berbisik cemas.

“Gawat, Bu Nayla datang. Kita nggak bisa santai lagi.”

“Iya, koki aja keluar kena damprat dia.”

“Besok bakal sibuk banget, deh.”

“Kayaknya bakal ada yang dipecat.”

“Iya, kabarnya dia udah siapin karyawan baru.”

“Padahal kemarin enak banget waktu dia nggak ada. Eh, malah balik lagi.”

“Tapi manajer penggantinya juga belum ada, sih.”

Suasana hotel berubah tegang. Semua karyawan tahu—kalau Nayla sudah turun tangan, berarti tak ada tempat untuk yang malas dan asal-asalan.

Namun di antara mereka, ada satu orang yang diam-diam menelpon seseorang di luar hotel, melaporkan kalau Nayla telah kembali ke Bandung.

Bersambung...

Kasih semangat author dong caranya.

#vote

#like

#komen

Terima kasih 🥰🥰

1
🦋Rosseroo🦋
Nayla di bawa kemana? Siapa yg bawa? 😢
🦋Rosseroo🦋
kan biar hangat, jadi bulan madu ke tempat dingin😅
Siti Nina
Yah si reno akhirnya tergoda juga sama si luna tapi kasian si reno klw tau si nayla dh nikah sama si ray gimana tuh reaksinya pasti meledak kaya bom ancur semua
Siti Nina
Dan setelah rahasia itu terungkap maka Boom meledak semua nya
Siti Nina
Gimana reaksi Nayla klw dia ingat semua nya
Siti Nina
Coba saja ingatan Nayla kembali gimana tuh nasib si Ray dah misahin dia sama suami nya
Siti Nina
Jangan sampai si Reno tergoda sama si luna
Siti Nina
Kasihan Reno
Siti Nina
Kasihan Reno kenapa jadi gini ternyata si Ray penjahat yg sesungguh nya
Siti Nina
Aneh banget 🤔
Siti Nina
Hmm,,,si Ray udah gelo mau nikahin istri orang
mochachino: 🤣🤣saking cinta nya kak jadi gelo dia
total 1 replies
Siti Nina
wahh,,,ternyata so Ray nih biang kerok nya 😄
Siti Nina
Padahal bagus ceritanya 🤔
mochachino: 🥲iya kakak tapi sepi 🤭
total 1 replies
Siti Nina
Si zevan nih kaya nya
Xia
kamu juga cemburuan sih nay🗿
Xia
ya ampun, mr posesif ini~
Xia
ih tuh ulet kan ngejar, siapa yg gk kepikiran coba🗿
Nuri_cha
itu namanya pemerasan Arka 🤭
Nuri_cha
iih... segitu ngemisnya kamu Tan. malu atuh, dah kayak gak ada lelaki lain aja
Nuri_cha
paling nelangsa kalo LDM tuh... Rindu itu berat Nay 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!