Sabrina Anastsya Nugroho seorang gadis muda yang diumurnya yang muda, ia harus melewati banyak ujian di masa SMAnya ia harus kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal akbiat kecelakan tak berselah lama kepergian orang tuanya sabrinapun harus menghadapi adiknya kecelakaan dan koma bertahun-tanun.
Dari kejadian itu semua ia bertemu dengan sahabat lama kedua orang tuanya. Dan dijodohkan dengan anak laki-laki sahabat kedua orang tuanya.
Menghantarkannya untuk jatuh cinta pertama kalinya, diselama pernikahan mereka banyak badai yang menerpa mereka.
Seberapa besar kah? Cinta keduanya. Apakah mereka akan bertahan, dengan banyaknya badai yang akan memisahkan mereka?
Selamat Membaca💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momo30, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31.
Disebuah lorong rumah sakit berjalanlah seorang wanita cantik, wajah cantik berwajah oriental. Wanita itu tersenyum manis, terus menyusuri lorong Rumah Sakit seketika berhenti disebuah ruangan dimana ditempati seorang laki-laki yang telah merebut hatinya dulu yang perlahan mengobati lukanya dimasa lalu.
Gadis itu berjalan masuk dan tersenyum melihat laki-laki yang masih tertidur.
"Hay apa kabarmu Syran ?." Sapa Tifani.
"Apakah kamu masih mengingatku ?."
"Aku berharap kamu masih ingat dengan ku Syran ?."
"Maafkan aku menghilang begitu saja dulu tanpa pamit dari mu."
"Terima kasih karena, dulu kamu selalu menghibur ku."
"Ketika aku tau kamu kecelakaan dan terbaring koma saat ini membuat hati ku hancur, aku mencintai mu Syran. Rasa ini dari dulu hingga sekarang masih tetap sama, setiap kali aku melihatmu jantung ini masih bedetak cepat bahkan lebih cepat dari dulu."
Seketika monitor disamping laki-laki itu berbunyi menandakan sesuatu telah terjadi. Sontak membuat wanita yang duduk langsung berdiri dan menekan tombol darurat yang ada disamping. Tak berselang lama Dokter dan perawat berdatangan.
" Cepat hubungi keluarga pasien ! Pasien dalam keadaan kritis !!!!." Pirntah seorang Dokter.
"Baik dok."
Tifani yang berdiri kakinya terasa lemah dia takut terjadi apa-apa dengan laki-laki yang ia cintai yang belum sempat ia utarakkan secara langsung kepada laki-laki tersebut, entah air mata itu terus mengalir begitu deras begitu sangat deras.
Rizky dan Sabrina baru saja sampai dirumah, setelah Rizky menjemputnya. Sabrina yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendapati Rizky yang baru saja memegang ponselnya.
"Lakukan tindakkan sebaik mungkin ! Kami akan segera kesana juga !." Ucap Rizky.
"Hubby ?." Panggil Sabrina.
"Cepat pakaianmu sekarang sayang kita harus pergi sekarang !." Pirntah Rizky.
"Kita mau kemana ? dan siapa yang telpon tadi di ponsel Sabrina ?". Tanya Sabrina.
Rizky menarik nafasnya secara kasar dia tidak ingin membuat istrinya itu sedih tapi ia tidak bisa juga menutupi ini karena bersangkutan dengan Syran adik satu-satunya yang Sabrina ia miliki dan keluarga yang ia miliki sekarang, dengan berhati hati Rizky mengatakan itu.
"Kita kerumah sakit sekarang sayang." Ucap Rizky dengan wajah sendunya.
Sabrina mengerti maksud dari suaminya itu, ketika mengatakan kata Rumah Sakit pasti ada suatu hal yang terjadi dengan adiknya. Sabrina bergegas bersiap dengan air mata yang sudah mengalir deras, dia takut kejadian dimana kedua orang tuanya pergi dan harus terjadi lagi hari ini yang menimpa adiknya, dia belum siap menerima itu dia belum siap harus terjatuh lagi dia belum siap.
"Aku ada disampingmu sayang !." Ucap Rizky dan menautkan jemarinya disela-sela jemari Sabrina dan menuruni tangga rumah dengan sedekit berlari, membuat Roy dan Rita heran melihat anaknya dengan wajah panik dan menantunya yang sudah menangis.
"Ada apa ini Rizky ?." Ucap Roy dan membuat Rizky dan Sabrina berhenti berjalan seketika. Rizky melihat kearah ayahnya.
"Syran seketika kritis pah !." Ucap Rizky kepada Roy dan sontak membuat kedua orang tua itu panik.
Sabrina yang mendengar kata 'kritis' semakin menangis dan membuat kakinya lemah dan sedekit kehilang keseimbangan tubungnya yang langsung ditahan oleh Rizky.
Kamu harus kuat Sabrina, kuatlah jangan demi Syran demi Adikmu agar dia disana juga kuat. Kakak Sab mohon dek bertahanlah demi kakak. Batin Sabrina.
"Kamu masih kuat berjalan sayang ?." Tanya Rizky, Sabrina hanya menjawab dengan anggukkan.
...----------------...
Sabrina dan Rizky berjalan dengan cepat bahkan lebih cepat, bahkan kini sudah setengah berlari membuat Rizky sedekit khawatir dengan istrinya itu takut terjadi apa-apa kepada istrinya.
"Sayang pelan-pelan." Ucap Rizky.
"Sabrina engga bisa kak, Sab.. hiks...hiks..."
"Tenanglah sayang Sy.." Ucapan Rizkya terpotong oleh Sabrina yang langsung menghadap Rizky dengan berderai air mata.
"Bagaimana Sabrina bisa tenang kak ?!!! Bagaimana ?!! Sedangkan disana adik Sabrina sedang kritis !." Ucap Sabrina dengan sedekit bersuara tinggi dan menghempas tangan Rizky dan berlari sangat kencang kearah ruangan Syran meninggalkan Rizky.
Sabrina masuk kedalam ruangan Syran dimana banyak perawat dan dokter terlihat sangat sibuk dan seorang dokter diatas ranjang adiknya itu sedang melakukan tindakkan CPR secara bergantian. (Kalo tidak salah namanya ya.)
"Mundur.... masukkan 200 joul... Mundur.... Shock..."
"Ayoklah kumohon bertahan !." Ucap Dokter tersebut.
Sabrina yang melihat itu langsung melemah kakinya dan terduduk menangis yang dibelakangnya sudah ada Rizky yang berhasil mengejarnya.
"Kakak Sab mohon dek bertahanlah... Jangan tinggalkan kakak Sab kakak mohon dek." Ucap lirih Sabrina dan Rizkypun langsung membawa Sabrina kedalam pelukkannya.
"Syran kak Syran adik Sabrina..."
"Dia akan baik-baik saja sayang percayalah."
"Alhamdulillah.. Akhirnya... Kamu laki-laki yang kuat Syran !." Ucap Dokter.
Mendengar ucapan dokter itu Sabrina mengarahkan tubuhnya kearah dokter tersebut dan melepaskan pelukkannya dari Rizky.
"Syran kembali Sabrina tadi jantungnya sempat berhenti berdetak dan kini telah kembali, walaupun kondisinya benar-benar jauh dari sebelumnya. Berdoalah nak agar Syran terus bertahan dan segera sadar." Ucap Dokter tersebut.
Sabrina berjalan kearah Syran dan memeluk adiknya dan menangis disana.
"Kakak Sab mohon Syran bertahanlah... kakak mohon demi kakak... hiks... hiks... hiks... kuatlah dek... kakak Sab tau kamu kuat dek..." Ucap Sabrina sambil menangis dan Rizky mengusap-usap punggung Sabrina bahwa ia tidak sendiri sekarang karena ada dia disampingnya sekarang.
Diluar sudah ada Tifani yang masih menangis dan segara menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruangan Syran.
"Bagaimana kondisi Syran sekarang dok ?." Tanya Tifani.
"Dia sudah baik-baik saja nona, jangan khawatir dia laki-laki yang kuat dan mampu bertahan." Ucap dokter tersebut sambil tersenyum.
Kenapa bisa terjadi serangan jantung mendadak dengan Syran ?. Itu suatu hal yang mustahil dan sangat aneh ? Pagi tadi aku memeriksanya dia masih stabil dan baik-baik saja, ku pastikan dia tidak akan terkena serangan jantung dan sekarang ? aneh sekali. Batin Dokter Nathan.
Tak jauh dari ruangan Syran ada seseorang yang mengintai keadaan ruangan tersebut, setelah melihan seorang dokelter keluar dan berbicara dengan seorang wanita, membuat pria itu langsung meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Hallo nyonya dia selamat dari maut !."
"Baik nyonya akan saya lakukan ! Tapi nyonya ada sesuatu yang nyonya ketahui selain berita tadi !."
"Saya melihat ada CEO ARGADINATA.CROP disini nyonya."
"Baik nyonya akan saya awasi mereka."
Setelah melakukan panggilan telpon itu laki-laki tersebut berjalan meninggalkan tempat itu entah kemana. Rizky keluar dari ruang Syran sudah melihat gelagat seseorang yang mencurigakan berpura-pura tidak tau.
Dia merasa ada susatu yang aneh disini berkaitan dengan adik iparnya.
"Halo ndra ? Udah loe dapat informasi yang gue perluin ?!."
"Kalo gitu ! Kirim semua anak buah untuk ngejaga keaman adik ipar gue disini !."
mampir juga yuk ke karya aku, kita sama2 suport rating &like ❤