Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 - Membuktikan
Adnan menggenggam setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tahu tak ada gunanya berbicara tanpa bukti. Kata-kata saja tak akan pernah cukup untuk meyakinkan seseorang yang mendengar hal mustahil untuk pertama kalinya. Jika dia ingin Liza percaya, jika ia ingin seseorang memahami betapa mengerikannya apa yang ia temukan, ia harus menunjukkan sendiri kekuatan aneh benda itu.
"Kalau begitu..." ucap Adnan pelan, suaranya mantap meski hati berdebar cemas. "Biarkan aku membuktikannya padamu."
Ia menepikan mobil ke bahu jalan yang sepi dan teduh, lalu mematikan mesin sepenuhnya. Adnan berbalik menghadap Liza, lalu menyodorkan kamera tua itu ke arah gadis yang masih menatapnya dengan tatapan prihatin namun ragu.
"Pegang ini," perintahnya lembut namun tegas. "Arahkan lensanya tepat ke arahku. Lalu... tekan tombol kecil berwarna kuning di sisi sampingnya."
Liza menatap kamera itu ragu-ragu. Matanya beralih ke wajah Adnan, mencari tanda apakah pria itu sedang bercanda atau tidak. Namun yang dia temukan hanyalah kesungguhan yang mendalam di mata lelah itu.
"Adnan... ini konyol," tolaknya pelan, menarik tangannya ke belakang. "Aku tidak mau ikut-ikutan hal yang tidak masuk akal."
"Tolong, Liza," pinta Adnan dengan nada memohon yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Hanya sebentar. Kalau setelah ini kau masih menganggapku gila, aku tidak akan pernah membicarakannya lagi. Kumohon..."
Tatapan mata Adnan yang memohon membuat pertahanan Liza runtuh. Dengan ragu yang masih menyelimuti hati, akhirnya gadis itu mengulurkan tangan dan mengambil benda itu. Kamera itu terasa lebih berat dan dingin dari yang dirinya bayangkan.
"Baiklah," ucapnya pasrah. "Aku lakukan ini hanya untuk membuktikan kalau kau sedang kelelahan berlebihan."
Liza mengangkat kamera itu, mengarahkan lensanya tepat ke wajah dan tubuh Adnan yang duduk tenang di kursi pengemudi. Ia mencari tombol yang dimaksud, dan menemukan bintik kuning kecil yang hampir tersamarkan oleh warna hitam bodi kamera. Dengan napas tertahan, dia menekannya.
Seketika itu juga, pandangan Liza berubah drastis. Mata telanjangnya masih melihat Adnan yang mengenakan kemeja rapi seperti biasa. Namun saat dia menatap lewat layar kamera kecil itu, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Gambar Adnan yang berpakaian perlahan memudar, menjadi samar seperti kabut, lalu hilang sama sekali. Yang tersisa hanyalah sosok pemuda itu dalam wujud aslinya, tanpa sehelai benang pun menutupi kulitnya. Setiap lekuk tubuh, setiap garis otot, dan setiap bagian yang seharusnya tertutup kini terlihat jelas, nyata, dan tak tersembunyi sedikit pun di balik layar kecil itu.
Liza melongo lebar, napasnya tercekat di kerongkongan. Matanya tak bisa berkedip, terpaku pada pemandangan yang tak masuk akal itu. Refleks, tangannya melepaskan genggaman pada kamera itu seolah benda itu baru saja terbakar panas.
"AAAH!"
Teriakan kaget meledak dari mulutnya. Kamera itu melayang sebentar sebelum berhasil ditangkap kembali oleh Adnan dengan sigap. Wajah Liza seketika memerah padam, campuran antara rasa malu yang meluap dan keterkejutan yang luar biasa. Tubuhnya gemetar hebat, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak sanggup berkata-kata.
Adnan menarik napas panjang, meletakkan kamera itu kembali ke tempat aman, lalu menatap gadis itu dengan tatapan sendu.
"Sekarang..." suaranya terdengar berat dan getir. "Sekarang kau percaya?"
Liza masih ternganga, matanya menatap kosong ke arah Adnan, namun tak berani menatap wajah pria itu lekat-lekat lagi. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Pemandangan tadi terlalu nyata untuk sekadar ilusi atau trik kamera biasa. Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri, pakaian yang seolah tak ada, tembus pandang yang nyata.
"Mustahil..." bisiknya parau, kepalanya menggeleng pelan namun tak lagi yakin. "Itu... tidak mungkin ada alat seperti itu. I-itu tidak logis."
"Begitulah yang kukatakan," jawab Adnan pelan. "Aku juga tidak percaya sampai aku mencobanya sendiri. Tapi benda itu nyata. Dan rekaman ritual semalam... juga nyata."
Keheningan panjang kembali menyelimuti ruang mobil. Tawa mengejek dan rasa meremehkan yang tadi ada pada diri Liza kini lenyap tak berbekas. Digantikan oleh rasa ngeri yang perlahan merayap masuk ke dalam hatinya. Jika kamera itu benar-benar bisa melakukan hal gila seperti itu, maka apa yang dikatakan Adnan tentang makhluk bertanduk itu, mungkin saja benar adanya.
Liza meremas kedua tangannya di pangkuan, napasnya masih tersengal-sengal pelan. Ia menatap Adnan kembali, namun kali ini tatapannya berbeda. Tidak lagi ada keraguan, melainkan kekaguman bercampur rasa takut yang mendalam.
"Kau..." suaranya bergetar hebat. "Kau benar-benar tidak berbohong."
Adnan mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca menahan segala beban yang selama ini ia pendam sendirian. "Seandainya aku bisa memilih, aku tidak akan pernah menemukan benda ini. Aku tidak akan pernah melihat apa yang kulihat semalam."
"Lalu pa yang harus kita lakukan? Apa kau butuh bantuanku?" tanya Liza lirih, tanpa sadar kata 'kita' keluar begitu saja dari bibirnya.