Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Terjadi
Yuliana terdiam menatap lurus langit-langit kamar. Malam semakin larut. Suasana begitu tenang dan damai, namun ia tak bisa tidur.
Setelah 15 malam ditemani Sean. Ini adalah malam pertamanya tanpa menghabiskan malam dengan pria itu, membuatnya merasa sulit untuk tidur.
Yuliana mengutuk dirinya bodoh, karena sejak tadi berharap Sean datang membuka pintu dan memberinya pelukan hangat.
Harapannya itu juga membuatnya membayangkan Sean dan Clara yang tengah menghabiskan malam untuk saling melepaskan rindu.
Yuliana menghela nafas kasar, mengusap kasar wajahnya. "Ingat posisi kamu Yuli," batinnya berusaha untuk memperingati dirinya.
Yuliana beralih mengusap perutnya berharap anak dalam kandungannya itu tidak membuat hormonnya bertingkah aneh yang membuatnya sulit mengendalikan.
"Sayang, malaikat kecilku. Ajak Mama tidur ya," ucapnya dengan lembut sembari mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Yuliana membalikkan tubuhnya ke posisi miring. Tangannya mengusap lembut tempat di sebelahnya. Tempat biasanya Sean berada.
"Aku jadi menyesal mengganti sepraiku tadi pagi," gumamnya.
Andai saja masih bekas seprai kemarin, mungkin aroma tubuh Sean masih melekat di sana.
"Akh, kenapa aku harus terjebak cinta sama suami orang sih?" pekik Yuliana memukul bantal, dan menendang selimut melampiaskan kegelisahannya itu.
Ternyata bukan hanya Yuliana, Sean yang berada di kamarnya lantai lima itu, sejak tadi bergerak gelisah di samping Clara yang sudah tertidur.
Clara yang masih marah dan enggan di sentuh, membuat pria itu hanya bisa merana dalam benaknya.
Sean melirik Clara di sebelahnya. Andai saja ia berani bersikap sedikit kasar. Mungkin saat ini ia tinggal memaksa Clara seperti yang dilakukan pada Yuliana dengan begitu hasratnya akan tersalurkan.
"Oh, shit. Tidak mungkin kan aku turun ke kamar Yuliana. Mau ditaruh mana wajahku sudah mengucapkan selamat tinggal padanya. Bisa-bisa dia juga akan kepala besar," batinnya sejak tadi berusaha melawan hatinya untuk tidak menemui Yuliana.
Sean menghela nafas kasar, ia bergerak membelakangi Clara. Menarik rambut dan memukul kepalanya agar tetap bisa mengontrol diri.
"Tahan Sean, jangan pernah kau turun ke kamarnya," batinnya terus berusaha mempertahankan tekadnya.
"Aish, sebaiknya ku minum anggur dulu," gumamnya.
Sean melirik sekilas pada istrinya, menghela nafas pelan, barulah ia turun dari kasurnya. Berjalan pelan keluar dari kamarnya.
Sean berjalan menuju tangga, turun menuju lantai empat, di mana terdapat dapur kecil di sana.
"Hm? Habis?" gumamnya melihat rak anggurnya telah kosong.
Sean berdecak malas. Ini pasti kemarin, ia menghabiskan terlalu banyak yang harusnya untuk lima hari ke depan. Stress berlebihan, membuatnya tidak peduli dan menghabiskan beberapa botol.
Dengan setengah malas, ia memilih ke lantai dua, di mana ada penyimpanan anggurnya di sana.
Sean masuk ke ruang penyimpanan anggurnya, mengambil satu botol untuk ia nikmati malam ini. Usai mendapatkan apa yang diinginkan, ia kembali keluar. Pandangannya secara alami bergerak ke arah dapur. Tempat biasanya ia melihat Yuliana memasak.
Sean menggerakkan lehernya, sembari tangannya yang berusaha membuka tutup botol, dan meneguk beberapa tegukan. Mengikuti kata hatinya, pria itu berjalan ke arah dapur. Lampu yang menyala tidak membuatnya curiga akan adanya orang. Namun, saat ia mencium aroma menyengat yang harum dan membuatnya langsung tau adalah sambal membuatnya langsung mempercepat langkahnya.
Hingga ia melihat Yuliana yang tengah menumis sambal di sana.
"Anna!" serunya membuat sang pemilik nama langsung tersentak dan menoleh.
"Lagi-lagi kamu membuat sambal diam-diam! Sudah ku bilang kan, jangan makan sambal, dan menyiksa anakku!" ucapnya sembari menatap tajam pada Yuliana.
Yuliana terdiam. Wajahnya melemas. Baru saja sepuluh menit lalu, ia memutuskan membuat sambal di tengah malam itu agar tidak ditegur, selagi ia juga tidak bisa tidur. Tapi, malah ketahuan.
"Ini hanya pedas ujung lidah," ucap Yuliana dengan wajah dibuat semelemas mungkin.
"Tidak boleh!" ucap Sean dengan tegas.
Yuliana cemberut, bibirnya cemberut disertai matanya yang menyorot kesal. "Tidak usah lebay. Makan sambal itu tidak bahaya!"
Sean melebarkan matanya, menatap tajam dan tegas. "Anna!" Sean melangkah mendekat, membuat Yuliana memandang waspada.
Bola mata Yuliana bergerak menatap minuman di tangan Sean, yang membuatnya langsung menutup mulut.
"Jangan mendekat! Minumanmu baunya sangat tidak enak," ucapnya menatap penuh peringatan pada Sean, membuat Sean menghentikan langkahnya, dan meletakkan botol anggurnya di atas meja.
"Aku tidak akan makan sambal, kalau kamu juga berhenti minum. Kita harus sama-sama adil tersiksa karena dilarang menikmati apa yang kita suka. Supaya adil!" ucap Yuliana memberikan penawaran keadilan pada mereka.
Sean mengangkat sebelah alisnya. Menyinggung senyumnya sinis. "Siapa kau yang mau mengaturku," ucapnya membuat Yuliana seketika mengatup rapat bibirnya yang bergetar dan geram.
Wanita itu menghela nafas kasar, kembali berbalik dan mengaduk pelan sambalnya membuat Sean mendekat dan kembali protes.
"Anna! Buang itu ke wastafel. Kamu tidak boleh memakannya!" ucap Sean menarik tangan Yuliana yang mengaduk.
Yuliana berdecak. Ia lalu mematikan kompor. Beruntung sambal itu sudah matang sehingga ia bisa mengamankannya.
"Jangan mengaturku sebegitunya Sean!" sentak Yuliana membawa wajan sambalnya ke belakang.
"Anna!" Sean kembali memberikan tatapan tegasnya.
Yuliana melemas, dan mulai merengek. "Ayolah Sean, jangan melarang begitu. Pedasnya biasa saja kok."
"Tapi, nanti anakku tidak kuat Anna!" Sean berusaha meraih wajan di belakang Yuliana, dan satu tangan yang lain mencengkram tangan lain Yuliana.
Yuliana tidak menyerah, tetap berusaha menjauhkannya. Ia terus membujuk Sean. "Aku kuat Sean. Jadi, anakmu tidak akan merasakannya."
Bola matanya melebar, mengharapkan sebuah rasa kasihan pada pria itu. Menatap bola mata itu membuat Sean berdecak geram.
"Kalau begitu aku cicipi dulu," ucapnya mencoba untuk mengalah.
Yuliana pun mengulum senyum, ia menarik tangannya hingga lepas dari Sean. Sesaat pria itu merasa tertegun, terlena akan senyum manis itu, namun dalam hitungan detik malah kehilangan akibat lepasnya genggamannya.
Ia melihat Yuliana yang mengambil sendok dan mangkok, menuangkan sambalnya ke dalam sana, dan mengambil seujung sambal di sendok.
"Nah, cicipilah," ucap Yuliana mengulurkan sendoknya.
Sean mendesis pelan menatap sambal di depan matanya. Entah apa maksud Yuliana itu. Dalam benaknya ada dua kemungkinan.
Yuliana sedang pelit, atau mengiranya tak suka pedas.
Namun, pilihannya kuat, jika Yuliana mengiranya tidak suka pedas. Membuatnya sedikit kesal karena pikirannya sendiri.
"Kenapa sedikit begitu? Kau kira aku tidak sanggup makan pedas? Kau fikir aku anak kecil?" dengkusnya mengungkapkan begitu saja apa dalam benaknya.
"Hah?" Yuliana mengerjapkan mata menatap ujung sendoknya, lalu menatap Sean kembali.
"Kan mau dicicipi," ucapnya dengan tatapan yang tampak polos itu.
"Shit!" desis Sean, segera mengalihkan pandangannya. Ia membungkuk, menerima suapan kecil itu. Lidahnya mulai mengecap merasakan sensasi berbumbu dalam mulutnya.
"Gimana tidak pedas kan?" Yuliana menatap dengan senyum manisnya. "Itu ada tomatnya jadi asamnya juga ada, jadi pasti pas," jelasnya.
Sean mengangguk. Yuliana sama sekali tidak berbohong. Rasa pedasnya hanyalah terasa di lidah, itupun hanya sebentar.
"Boleh?" Melihat Sean mengangguk, membuat senyum Yuliana kian melebar. Bukan hanya bibir, namun matanya ikut tersenyum, yang menandakan sebuah ketulusan.
Sean mengulurkan tangannya, mendekatkan wajahnya, dengan gerakan cepat langsung meraup bibir yang sejak tadi menganggu pikirannya.
Padahal sudah cukup sering, namun membuat Yuliana terkejut. Datangnya ke dapur, membuatnya benar-benar lupa apa yang membuatnya tidak bisa tidur.
Tangan Sean bergerak merengkuh pinggang Yuliana merapat ke tubuhnya, membuat kaki Yuliana sedikit berjinjit.
"Apa ini? Dia pasti sudah menghabiskan malamnya dengan Clara, kenapa masih menyentuhku? Itu ... itu sangat menjijikkan," batinnya membayangkan hal itu membuatnya merasa merinding geli.
Yuliana memberontak, mendorong tubuh Sean, namun Sean semakin mengeratkan rengkuhannya dan ciumannya yang semakin dalam.
Ciuman Sean beralih meraup telinga Yuliana, membuat Yuliana bisa melayangkan protesnya.
"Jangan Sean. Kau sudah menghabiskan malam dengan istrimu kan? Jangan menyentuhku lagi, itu sangat menjijikkan!" ucap Yuliana menahan diri agar tidak mengeluarkan suara desahannya.
Ucapannya yang membuat Sean heran, perlahan melepaskan Yuliana.
"Apa maksudmu?"
"Hah?" Yuliana mengerutkan keningnya. "Apa kamu tidak merasa jijik menyentuh atau disentuh orang berbeda dalam satu hari? Setidaknya bersihkan tubuhmu dari wanita lain, baru menyentuhku!" cerocos Yuliana, menarik tangan Sean agar melepaskan pinggangnya.
Sean diam beberapa saat mencerna ucapan Yuliana. Ia jadi ingat, bagaimana nakalnya dirinya dahulu yang bermain banyak wanita sekaligus, bahkan kerap tukar pasangan dalam satu hari. Mengingat kejadian itu, serta ucapan Yuliana membuatnya berpikir memang itu sangat menjijikkan.
"Lepaskan Sean," berontak Yuliana.
Sean mengeratkan rengkuhannya, menggendong Yuliana naik ke atas meja, membuat wanita itu melotot, membayangkan kejadian selanjutnya.
"Hey hey, rumah ini banyak orangnya. Meski sudah malam, bagaimana kalau ada pelayan yang datang dan melihat kita. Mungkin kamu akan biasa saja karena terbiasa memamerkan caramu berhubungan, tapi aku tidak mau ya. Lepaskan aku Sean!" cerocos Yuliana melototi pria itu dengan garangnya.
Tangannya menahan kuat dada Sean, memperingati agar tidak mendekat.
Sean kembali dibuat diam. Ia menatap Yuliana yang sudah duduk di atas meja setinggi pinggangnya. Namun, tinggi Yuliana masih sedikit berada di bawah matanya.
Bibirnya terkatup rapat. Tangan Sean bergerak, menarik pinggang Yuliana hingga tubuh keduanya saling bersentuhan.
"Sean aku tidak mau. Lagipula sudah ada istrimu," Yuliana terus melayangkan protesnya.
Sean mengangkat tubuh Yuliana, menahannya agar tidak bisa turun. Pria itu membawa Yuliana masuk ke dalam kamar mandi yang tidak jauh dari dapur. Tanpa mengatakan apapun, meski banyaknya protes dari Yuliana, pria itu tetap melampiaskan apa yang sudah ia tahan sejak tadi.
Kata Selamat tinggal yang diucapkan, dilanggar oleh dirinya sendiri. Seperti sebelumnya, hubungan panas kembali terjadi pada mereka.
Semangat kak bikin ceritanya! aku tunggu episode selanjutnya.🔥
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 thur
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut