Sebuah senjata pusaka yg sempat menggegerkan dunia persilatan karena kehebatan nya, menjadi incaran banyak tokoh-tokoh pendekar yg berkeinginan untuk memiliki nya di saat senjata itu menghilang.
Dan bagi siapa saja yg akan berjodoh dengan pedang tersebut tentu akan menjadi tokoh dunia persilatan kelas wahid bahkan kemungkinan menjadi tokoh nomor satu tidak akan terbantahkan bila berhasil menggenggam senjata tersebut.
Baik dari kalangan putih maupun hitam saling berlomba guna mendapatkan pedang pusaka tersebut.
Nantikan kisah nya dalam cerita Pusaka Pedang Tabut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1 Batu Mustika merah delima.
Diwandaka mendekati para prajurit yg tampak sedang beristrahat.
Belum ia berhasil mencapai kumpulan para prajurit tersebut, salah seorang di antara mereka langsung menghadang gerak langkah pemuda itu.
" Maaf saudara, kami tidak mengizinkan saudara untuk masuk ke dalam desa ini !" seru prajurit ini sambil memalangkan tangan nya menahan Diwandaka.
" Memang nya ada apa, aku hanya ingin sekedar singgah di desa ini, perut ku terasa lapar sekali ".ujar Diwandaka sambil mengelus-elus perut nya.
" Sekali lagi kami katakan , saudara tidak dapat masuk ke dalam desa Pingat ini, " kata Prajurit dengan nada keras.
" Memang nya ada apa dengan desa ini, mengapa hanya untuk singgah pun tidak di perbolehkan !?" seru Diwandaka tidak kalah sengit nya.
Sehingga para prajurit yg lain yg masih berkumpul itu menjadi penasaran dengan keadaan tersebut.
" Siapa orang nya yg tidak memperbolehkan masuk ke dalam desa ini, siapa ?!" tanya Diwandaka lagi.
Pemuda ini nampak nya berusaha memancing kemarahan prajurit tersebut.
Sedangkan di sebalik pohon randu ada sepasang mata nan indah yg tengah memperhatikan jalan nya perdebatan tersebut.
Hehm,..siapakah orang itu, seperti nya ia bukan dari Mudragha ini, akan tetapi senjata yg ada pada punggung nya itu seperti nya mengingatkan ku akan senjata yg ada di dalam bangsal perbendaharaan pusaka itu,..apakah,..i,..tuu,...adalah,..Ah !, tidak mungkin , bisik perempuan muda yg bermata indah ini.
Meski sekujur tubuh nya nampak ada bekas luka maupun lobang-lobang yg mengeluarkan nanah dan sangat berbau busuk ini.
Namun perempuan itu tetap bertekad akan menemui seorang pemuda yg menurut pandangan nya dapat menolong dan membantu nya kelur dari desa Pingat tersebut.
" Rakryan Demung Agung Adhibara lah yg melarang nya atas perintah dari Gusti Putri Eka Rinjani " jawab Prajurit ini sambil tetap menahan gerak Diwandaka.
" Siapa Demung Agung Adhibara itu dan siapa pula Putri Eka Rinjani itu, aku tidak mengenal nya , yg jelas aku akan tetap singgah di desa ini " sahut Diwandaka dengan setengah memaksa.
" Rakryan Demung Agung Adhibara adalah senopati di kerajaan Mudragha, sedangkan Putri Ayu Eka Rinjani adalah penguasa di kerajaan Mudragha ini, ia adalah pengganti dari Prabu Aria Agra Semantik , dan bila saudara tetap memaksa untuk masuk maka kami akan mengusir mu dengan jalan kekerasan," seru Prajurit seraya mencabut senjata nya.
" Baiklah , jikalau kalian tidak memperbolehkan aku untuk singgah di desa ini, biarlah aku akan pergi saja " ucap Diwandaka sambil berlalu dari tempat tersebut.
Ia memang malas berurusan dengan para prajurit Kerajaan Mudragha ini.
Ia pun berjalan menjauhi desa di kaki bukit Pingat itu.
Ketika sudah cukup jauh dari keberadaan para prajurit tadi, pemuda ini menghentikan langkah kaki nya.
Heh, seperti nya ada seseorang yg tengah mengikuti ku, berkata ia di dalam hati nya.
Hufhh,..Heahhh ,.kena kau !
Kata pemuda itu yg berkelebat cepat ke arah semak belukar yg ada di tepi jalanan desa Pingat yg cukup sepi ini.
Ia pun menodongkan senjata nya ke arah belakang orang yg mengikuti nya ini.
Namun aroma busuk langsung menyeruak menusuk hidung nya, Diwandaka segera menutup indera penciuman nya, ia kaget setengah mati sebab orang yg mengikuti nya itu ternyata seorang perempuan.
Dengan mengangkat kedua belah tangan nya , perempuan itu pun berbalik sambil berkata,
" Maafkan aku tuan, jangan tuan bunuh aku "
Itulah seruan yg keluar dari bibir perempuan muda yg memiliki pakaian dan perhiasan yg cukup mewah tersebut.
" Siapa.kau , mengapa mengikuti ku ?" tanya Diwandaka sambil menurunkan senjata nya yg berupa pisau panjang tersebut.
" Aku adalah Andhini, aku butuh pertolongan mu tuan, apakah tuan mau menolong ku ?" kata perempuan muda itu sambil bertanya kepada Diwandaka.
Hehh, gadis ini sangat cantik, namun sayang,..kecantikan nya tertutup oleh penyakit nya yg cukup menjijikan ini, apa penyebab nya hingga ia mendapatkan penyakit semacam itu , bertanya-tanya Diwandaka dalam hati nya.
" Ehh, apakah tuan mau menolong ku ?" tanya gadis itu yg ternyata adalah Putri ayu Tri Andhini , putri ketiga dari prabhu Aria Agra Semantik.
" Apa yg harus ku lakukan untuk menolong mu adik cantik !" ujar Diwandaka begitu saja.
Ia memang sangat terpesona dengan kecantikan gadis yg ada di hadapan nya ini walaupun banyak bekas-bekas penyakit yg di derita nya bahkan masih ada yg mengeluarkan nanah berbau busuk.
Putri ayu Tri Andhini kemudian mengeluarkan segulungan daun lontar dan menyerahkan nya kepada Diwandaka.
Ia pun berujar,
" Tolong berikan surat ini kepada Putri ayu Dwi Shintani di kotaraja Mudragha " kata Putri ayu Tri Andhini.
Diwandaka menerima segulungan daun lontar itu dan ia pun berkata,
" Baiklah kalau begitu, aku memang akan ke kotaraja Mudragha dan mudah-mudahan dapat bertemu dengan orang yg adik maksud itu " jawab nya sambil tersenyum.
Entah mengapa pemuda ini merasakan sesuatu yg lain di dalam hati nya saat bertemu dengan putri ayu Tri Andhini ini, ada perasaan aneh yg menyelinap di dalam hati nya, ada semacam perasaan iba melihat penyakit yg di derita oleh gadis itu.
Tanpa sadar nya ia berucap ,
" Kalau tidak ada benjolan dan nanah itu tentu adik ini secantik bidadari , sayang,..!" ucap nya lirih.
" Ah,..tuan ini, siapa lah aku, seorang perempuan yg terbuang dan menderita banyak penyakit " sebut Putri ayu Tri Andhini sambil menundukkan kepala nya.
Ia tidak berani menatap wajah pemuda yg ada di hadapan nya ini, sebab menurut nya baru sekali ini ia melihat seorang pemuda yg begitu tampan nya dan memuji wajah nya yg cantik padahal saat itu ia masih dalam keadaan bau busuk dan penuh dengan nanah yg mengalir keluar dari bekas benjolan yg telah pecah tersebut.
" Mohon maaf sebelum nya adik cantik, kalau boleh aku akan berusaha untuk mengobati mu, boleh kan ?" tanya Diwandaka kepada putri ayu Tri Andhini.
Karena walaupun bagaimana pun juga ia banyak mengerti tentang obat-obatan yg di turunkan oleh eyang Ganda puro sewaktu masih di desa semenyih.
" Hehh, apakah tuan bisa mengobati ku,..?" tanya Putri ayu Tri Andhini sambil mengangkat wajah nya.
Ada senyum cerah yg terlihat di garis bibir gadis itu, ia merasa seperti tengah melihat akan datang dewa penolong kepada nya melalui pemuda tampan yv ada di hadapan nya ini.
Ia berkata lirih lagi,
" Jika memang tuan bisa menyembuhkan diri ku, apa pun permintaan mu akan aku kabulkan " ujar nya.
" Termasuk menikah dengan ku ?" tanya Diwandaka dengan bercanda.
' Benar !, aku akan bersedia menikah dengan tuan , jikalau memang dapat menyembuhkan penyakit ku ini " sahut Putri ayu Tri Andhini.
Dan kali ini ia kembali menunduk , tidak berani bertatapan mata dengan Diwandaka.
" Baik lah kalau begitu, pertama-tama jangan panggil aku tuan, panggil saja kakak, atau kakang , itu sudah cukup bagiku atau bila perlu sebut saja nama ku Diwandaka, tepat nya Nararya Diwandaka Risaga " terang Diwandaka.
Lalu ia meminta Putri ayu Tri Andhini untuk lebih mendekat.
" Baiklah kakang,..kakang dapat memanggil ku dengan nama Andhini, tepat nya Tri Andhini " ucap Putri ayu Tri Andhini .
Ia pun mendekat ke arah pemuda itu.
Diwandaka segera memeriksa keadaan dari putri ayu Tri Andhini , ia pun mengeluarkan beberapa jenis ramuan obat-obatan yg di miliki nya dan kemudian meracik nya menjadi satu.
" Kanapa ?" tanya Putri ayu Tri Andhini yg melihat kebingungan pada wajah pemuda itu.
" Kakang membutuhkan air guna mencampur obat ini " sahut Diwandaka kemudian.
" Ini !, aku membawa air , gunakan lah " kata Putri ayu Tri Andhini sambil menyerahkan bumbung bambu kecil kepada pemuda itu.
Diwandaka langsung mengaduk reramuan obat-obatan nya itu menjadi satu di dalam bumbung bambu kecil tersebut dan begitj selesai ia lantas menyerahkan nya kepada gadis cantik yg tiada lain adalah putri ayu Tri Andhini , putri bungsu prabhu Aria Agra semantik itu.
Namun sebelum bumbung bambu itu di ambil oleh sang putri, tiba-tiba Diwandaka mendengar sesuatu di telinga nya,..
Obat itu akan mujarab bila kau rendamkan batu Mustika merah delima di dalam nya,
Hahh !
Diwandaka tersentak kaget ,ia menarik lagi bumbung bambu yg telah berisi ramuan obat itu.
Melihat hal tersebur, putri ayu Tri Andhini pun turut merasa aneh pula , padahal ia memang sudah akan menerima obat tersebut.
" Kenapa , apakah ada yg kurang ?" tanya nya kepada Diwandaka
" Benar adi Andhini, obat ini masih kurang " sahut Diwandaka.
Pemuda itu lantas merogoh balik baju nya dan mengeluarkan satu kotak batu yg memang menjadi kotak penyimpanan batu Mustika Merah Delima itu.