NovelToon NovelToon
Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Pengasuh Hebat Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / Pengasuh / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Stellune

Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Rafi mulai curiga pada minggu ketiga.

Sebagai asisten Arkan, ia terbiasa melihat bosnya menjalani hidup seperti mesin premium. Rapat, telepon, kontrak, makan kalau ingat, tidur kalau tubuh sudah menyerah. Tidak ada banyak variasi.

Namun belakangan, ada perubahan.

Pertama, Arkan mulai makan siang.

Tidak setiap hari sempurna, tetapi cukup sering sampai Rafi merasa perlu mencatatnya sebagai peristiwa sejarah.

Kedua, Arkan beberapa kali pulang tepat waktu.

Ketiga, dan ini paling mencurigakan, Arkan pernah bertanya di tengah perjalanan ke kantor, "Menurutmu, hadiah buku terlalu kaku?"

Rafi hampir salah menginjak rem.

"Untuk siapa, Pak?"

Arkan menatapnya dari kursi belakang lewat kaca spion.

Rafi langsung meralat, "Maksud saya, tergantung penerimanya."

"Untuk orang yang suka membaca dan membuat rencana bisnis."

Rafi pura-pura berpikir.

Di kepalanya hanya ada satu nama.

Mbak Naura.

"Kalau begitu, buku cocok, Pak."

"Tapi terlalu formal?"

"Mungkin bisa ditambah sesuatu yang lebih personal."

"Contohnya?"

Rafi berdoa agar jawabannya tidak membuatnya dipecat.

"Catatan tulisan tangan?"

Arkan diam.

Rafi mulai berkeringat.

"Tidak harus, Pak. Kalau kurang nyaman..."

"Saya sudah memberi catatan di sticky note."

Rafi menggigit pipi bagian dalam.

Ya Tuhan.

Bosnya benar-benar sedang dalam tahap awal sesuatu.

"Itu juga personal, Pak."

Arkan mengangguk, tampak puas.

Rafi menatap jalan dengan wajah lurus. Ia bekerja di dunia investasi, tetapi pagi itu ia merasa sedang menyaksikan aset langka bergerak tanpa panduan.

Di kantor, Rafi sempat melihat jadwal Arkan hari itu. Padat seperti biasa. Namun di sela jadwal itu ada catatan baru yang membuatnya hampir tersedak kopi.

`Beli kentang.`

Tidak ada nama toko. Tidak ada nominal. Tidak ada konteks.

Rafi menatap kalender itu cukup lama, lalu memutuskan tidak bertanya. Dalam pekerjaan sebagai asisten pribadi, ada saatnya seseorang harus menerima bahwa bos miliarder pun bisa punya urusan kentang yang sangat pribadi.

Sore harinya, Naura datang ke rumah Arkan dan menemukan sesuatu yang aneh.

Di dapur, ada kentang.

Banyak.

Satu kantong besar.

Di sampingnya, enam alat pengupas masih tersusun rapi.

Naura menatap kentang itu, lalu menatap Pak Jaya kecil yang membantu koordinasi rumah Arkan hari itu.

"Ini dari siapa?"

"Mas Arkan minta dibelikan."

"Untuk apa?"

Pak Jaya kecil, keponakan Pak Jaya yang kadang membantu, menggeleng. "Tidak tahu, Mbak."

Naura memegang satu kentang.

Saat Arkan pulang pukul enam, ia menemukan Naura berdiri di dapur dengan kentang di tangan.

"Pak Arkan."

"Ya?"

"Bapak membuka usaha kentang?"

Arkan melihat meja.

Telinganya langsung merah.

"Saya mau latihan."

"Sebanyak ini?"

"Kalau gagal, masih ada cadangan."

Naura menatap satu kantong kentang itu.

"Pak, ini bisa memberi makan satu RT."

"Saya tidak tahu ukuran latihan yang wajar."

Jawaban itu terlalu jujur. Naura akhirnya tertawa.

Arkan tampak malu, tetapi tidak pergi.

"Ajari."

"Sekarang?"

"Kalau kamu ada waktu."

Naura melihat jam. Makan malam bisa sedikit mundur. Ia sudah menyiapkan bahan yang tidak butuh lama.

"Baik. Tapi kita tidak mengupas semuanya."

"Berapa?"

"Tiga."

"Hanya tiga?"

"Pak Arkan, kita belajar mengupas, bukan mempersiapkan perang."

Arkan mengangguk serius.

Mereka berdiri berdampingan di meja dapur. Naura memberi contoh pelan. Cara memegang kentang. Arah gerakan. Tekanan tangan. Bagaimana memutar kentang tanpa membahayakan jari.

Arkan mengikuti.

Kupasan pertama terlalu tebal.

Kupasan kedua lebih baik.

Kupasan ketiga hampir wajar.

Naura berkata, "Nah, ini bagus."

Arkan menatap kentang itu.

"Benar?"

"Iya."

Wajahnya tidak berubah, tetapi Naura bisa merasakan kepuasannya.

Seperti anak sekolah mendapat nilai bagus.

Ia menahan senyum.

Sayangnya, Arkan melihat.

"Kamu sedang menertawakan saya."

"Tidak."

"Kamu selalu bilang tidak dengan wajah tertawa."

"Saya menghargai proses belajar Bapak."

"Itu kalimat guru TK."

Naura tertawa lagi.

Arkan menatapnya beberapa detik.

Lalu ia ikut tersenyum.

Tidak penuh.

Tapi cukup.

Naura langsung menunduk mengambil kentang lain, padahal tadi sudah bilang hanya tiga.

Jantungnya tidak kooperatif.

Saat makan malam, kentang hasil latihan masuk ke sup.

Arkan memakan bagian yang ia kupas sendiri.

"Lebih enak," katanya.

"Karena Bapak lapar."

"Karena saya yang kupas."

"Baik, Pak."

"Kamu tidak percaya."

"Saya percaya Bapak percaya."

Arkan menatapnya.

Naura balas menatap sebentar, lalu keduanya sama-sama membuang pandangan.

Di ruang makan besar itu, suasana tiba-tiba menjadi terlalu sempit.

Keesokan harinya, Bu Marini mendengar cerita kentang dari Naura.

Lebih tepatnya, ia memaksa sampai Naura bercerita.

Bu Marini tertawa begitu keras sampai Pak Aditya menyuruhnya minum.

"Aku harus lihat sendiri," kata Bu Marini.

"Tidak perlu, Bu."

"Perlu. Cucu saya mengupas kentang. Itu sejarah keluarga."

Pak Aditya berkata, "Kita bisa cetak foto dan gantung di ruang tamu."

"Ide bagus."

Naura menutup wajah.

"Kasihan Pak Arkan."

Bu Marini langsung menyipit. "Kasihan?"

Naura menurunkan tangan. "Maksud saya..."

"Kamu membelanya sekarang?"

"Tidak, Bu."

"Dulu kamu tertawa lebih bebas."

"Saya masih tertawa."

"Tapi sekarang ada sayangnya."

Naura terdiam.

Pak Aditya menurunkan koran sedikit.

Bu Marini tersenyum seperti menang lotre.

"Nah."

"Bu Marini, saya masih bekerja."

"Nenek tidak bilang apa-apa."

"Ibu baru saja bilang."

"Itu observasi."

Naura pergi ke dapur dengan alasan mengecek air rebusan. Di belakangnya, Bu Marini tertawa kecil.

Malam itu, Arkan pulang membawa satu kotak kecil.

"Untuk Nenek," katanya ketika mampir ke rumah utama sebelum ke rumahnya sendiri.

Bu Marini membuka kotak. Isinya alat bantu pijat tangan untuk lansia.

"Bagus," kata Bu Marini. "Tapi kenapa kamu terlihat seperti menunggu komentar Naura?"

Arkan membeku.

Naura yang baru keluar dari dapur ikut membeku.

Pak Aditya menyelamatkan keadaan dengan batuk palsu yang sangat buruk.

"Aku beli karena Nenek sering mengeluh jari kaku," kata Arkan.

Bu Marini tersenyum manis. "Tentu. Nenek percaya."

Arkan menatap neneknya dengan wajah datar, tetapi telinganya merah.

Naura ingin menghilang.

Setelah itu, ketika mereka berdua berjalan ke mobil untuk menuju rumah Arkan, suasana terasa canggung.

Naura duduk di kursi penumpang depan, memasang sabuk pengaman.

Arkan menyalakan mesin, tetapi tidak langsung jalan.

"Nenek suka menggoda."

"Saya tahu."

"Jangan pikirkan."

"Baik."

Hening.

Arkan menoleh. "Kamu memikirkan?"

"Pak Arkan juga."

Ia terdiam.

Lalu keduanya sama-sama tertawa kecil.

Ketegangan mencair.

Naura menatap jalan di depan, berusaha mengabaikan hangat di wajahnya. Di sampingnya, Arkan menggenggam setir dengan dua tangan, terlalu rapi untuk orang yang sedang santai. Jarak di antara mereka tidak berubah, tapi kesadaran tentang jarak itu membuat mobil terasa lebih sempit.

Namun tawa itu justru meninggalkan sesuatu yang lebih berbahaya.

Kesadaran bahwa mereka sama-sama tahu.

Ada garis di antara mereka.

Masih jelas.

Masih dijaga.

Tapi setiap hari, tanpa suara, keduanya berdiri sedikit lebih dekat ke garis itu.

1
Rahman Hayati
mantul lanjut terus
jgn setengah 2 ya
Lili Inggrid
ceritanya bagus
Yusar bin ajo
cerita yg sangat bagus sekali
Yusar bin ajo
semangat ya author ceritanya sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!