Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai
Dua minggu setelah kejadian ribut dirumah Alana. Mereka menjalani hari seperti biasa, Alana menjalani terapi agar kakinya bisa berjalan lagi.
Dirumah Alana merasa bosan, ia berencana keluar dengan kursi rodanya.
"Mas, aku bosen. Boleh keluar gak?"
"Boleh sayang, ayo aku temenin"
Sahut Rafa.
Mereka berdua berjalan kedepan komplek perumahan, menuju taman komplek.
Dan saat itu, cuaca sore sangat cerah dan angin sepoy-sepoy membuat suasana taman menjadi lebih sejuk.
"Aku gak pernah kesini, Mas. Ternyata tamannya bagus juga ya"
"Iya, kita terlalu sibuk sama pekerjaan sayang."
Rafa duduk dibangku taman, menatap kaki istrinya.
"Mau belajar jalan disini gak? Diatas rumput".
Tanya Rafa hati-hati.
Alana mengangguk, perlahan Rafa membantu Alana melepas sandalnya dan menuntunnya untuk berdiri.
"Ayo, semangat sayang." Rafa memegangi tangan Alana, perlahan kaki Alana mulai bisa stabil berdiri. Ada senyum haru diantara mereka.
"Mas, bisa stabil gak oleng lagi". Kata Alana dengan suara bergetar.
Rafa tersenyum bahagia bercampur haru, melihat kaki istrinya sudah bisa tegap. "Sayang, mau coba maju satu langkah?"
Alana mencoba mengangkat kakinya, namun sulit. "Mas..." matanya berkaca-kaca melihat kakinya tak bisa bergerak lebih.
"Nggak apa-apa, pelan-pelan aja sayang. Duduk lagi aja ya". Rafa membantu Alana kembali duduk di kursi roda.
"Maaf mas..." Katanya rapuh.
"No, sayang. Kamu gak perlu minta maaf. Kamu udah hebat kaki kamu udah bisa stabil, gak oleng kayak waktu kemaren". Rafa menyemangati istrinya, agar Alana tidak berkecil hati.
"Mas... Mau jajan ice cream boleh?"
"Boleh sayang, berarti kita ke mini market depan aja ya" Rafa mendorong kursi roda Alana hingga ke mini market didekat komplek perumahannya.
Saat masuk mini market, Alana memilih ice cream kesukaannya, coklat dan vanila.
"Cia gak dikasih sayang?" Tanya Rafa ingat akan anak tirinya yang suka ice cream.
"Oh iya, Cia rasa coklat strawberry mas".
Mereka membayar dikasir kemudian pulang.
Diperjalanan pulang, mereka ngobrol sambil tertawa hingga tak sadar ada dua krang yang mengintai mereka kemudian menyerempet dan menusuk tangan Rafa. Kursi roda Alana jatuh, Rafa memegang tangannya yang ditusuk.
"Mas..." Alana menangis berteriak melibat darah mengalir dari tangan Rafa. "Mas... tahan sebentar ya, Alana berjalan seperti suster ngesot menyeret kaki nya menghampiri Rafa.
"Toloooong" Teriak Alana, dan bberapa orang datang membawa Rafa dan Alana ke rumah sakit.
Dirumah sakit, Rafa dan Alana ditangani dokter.
Beruntungnya Rafa masih bisa diselamatkan meski harus menjalani operasi kecil.
"Sayang. Kamu gak apa-apa?" Tanya Raf melihat istrinya yang menangis disamping ranjang.
Alana menggeleng pelan
"Aku takut mas, aku takut kamu kenapa-napa" suara Alana pecah di akhir.
"Aku gak apa-apa sayang, cuma perih dikit doang, udah diobatin juga kok" sahut Rafa menenangkan istrinya.
Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain. Alana masih shock dengan kejadian barusan.
_________
Disebuah kamar,
"Kalian berdua di bayar gede kok bisa salah sasaran? Saya kan udah kasih liat fotonya, harusnya yang di tusuk Alana kenapa jadi Rafa? Susah bedain cowok sama cewek?"
Johan yang baru pulang dari kantornya melihat dan mendengar Safa berbicara melalui telepon membuat rahangnya mengeras. Namun Johan memilih diam, ia merekam pembicaraan Safa dengan orang yang dia telpon.
"Saya gak mau tahu, gimana pun caranya Alana harus lenyap" Safa menutup telpon dan saat berbalik badan wajahnya penuh kepanikan.
"Jo.. Johan? Sejak kapan... kamu disitu?" Tanya Safa gugup.
"Sejak tadi" Singkat Johan penuh penekanan, dengan tatapan tajam lurus ke arah istrinya.
"Kamu? Mau memb*nuh? Memb*nuh Alana?"
Rahang Johan semakin mengeras.
"Jika Alana tidak ada, apa kamu mau mengurus Cia untuk aku?" Tanya Johan menahan emosi, dan amarah kepada istrinya.
"Kamu ngomong apa sih? Siapa yang mau..."
"Jangan bohong! Aku dengar semuanya. Aku baru tahu. Kamu bisa berbuat jahat, bertindak seperti iblis. Membayar orang untuk melenyapkan ibu dari putriku sendiri".
"Nggak. Gak gitu Han.. Aku punya alasan Johan"
"Apa?! Karna aku nemuin Cia?! Cia anak aku, sama seperti Vino". Nafas Johan memburu menahan emosinya.
"Kita cerai" Tambah Johan, membuat Safa merasa ditinggalkan. "Vino ikut aku. Aku gak percaya dengan orang jahat seperti kamu"
"Ini alasan aku mau lenyapin Alana!" Teriak Safa dengan air mata mengalir. "Kamu selalu gunain Cia buat ketemu Alana. Kamu masih sayang? Masih cinta sama dia? Kamu mau kita cerai biar bisa balik sama perempuan itu?!" Suara Safa pecah diakhir.
"CUKUP SAFA!!" Johan kali ini tidak bisa menahan emosinya lagi. "KAMU!! KAMU YANG SELALU NGERASA JADI KORBAN. TAPI KAMU JUGA PELAKU. KAMU KRIMINAL, KITA CERAI DETIK INI JUGA".
Johan keluar dari kamar meninggalkan Safa yang mulai menangis histeris. Johan memasuki kamar Vino.
"Vino..?"
Johan mendapati Vino tengah duduk dikasur dengan buku ceritanya.
"Papah? Kenapa?"
Johan memeluk Vino erat "Maafin Daddy sayang"
"Kenapa? Kok Papah nangis?" Vino bingung Johan yang tiba-tiba menangis memeluknya.
Johan merenggangkan pelukannya lalu menatap bocah laki-laki itu.
"Seandainya, Mommy dan Papah tidak bersatu lagi Vino mau ikut Papah?" Tanya Johan dengan air mata yang masih jatuh dari sudut matanya.
"Papah bertengkar lagi? Kenapa harus pisah?"
Bocah laki-laki polos itu semakin bingung.
"Iya.. Kami tidak bisa bersatu lagi, pendapat Mommy dan Papah berbeda sayang" Jelas Vino.
"Vino.... Bingung mau ikut siapa. Selama ini Vino bersama mba Sri, tidak bersama Mommy maupun Papah".
Jawaban polos Vino membuat Johan merasa bersalah dan tersadar bahwa ia telah jauh dengan putranya itu.
"Vino, kalo kamu mau ikut Daddy, mba Sri boleh ikut sayang. Daddy janji, kita akan lebih sering menghabiskan waktu bersama". Ucapan Johan pada putranya penuh janji.
Vino mengangguk pelan pertanda setuju dengan saran Johan.
_____
Dirumah sakit, Cia datang bersama kakeknya yaitu Ayahnya Rafa.
"Aish, ini kenapa bisa begini Rafa? Anak ayah kan jagoan masa kena tusuk dikit aja langsung letoy?" Candaan Ayah Dirga membuat Rafa tersenyum lebar.
"Apaan sih Ayah? Aku kena tusuk lho, bukan kesandung batu" Sahut Rafa sambil menahan tawanya.
"Alana gimana?" Ayah Dirga melihat kaki Alana yang sedikit luka dan lebam biru "Wah, keterlaluan sih bikin menantu Ayah sampe begini. Ini biar jadi urusan Ayah aja. Kalian nikmatin aja kencan dirumah sakit ya". Ucap Pak Dirga lagi.
"Udah lah Ayah, itu kayaknya orang iseng aja" Sahut Rafa.
"Mama sakit ya kakinya?" Tanya Cia khawatir.
"Dikit sayang" Sahut Alana sambil senyum menenangkan.
Diruang kamar inap itu mereka berempat berkumpul, sementara orangtua dan para kakaknya Alana belum ada kesempatan untuk menjenguk karna sedang berada diluar negeri.