Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Happy Reading..
.
.
.
Rora ingin kembali menangis saat menatap foto Dika yang masih terpajang di atas nakas kamarnya. Hari ini adalah hari pernikahan yang seharusnya Rora dan Dika lakukan. Pernikahan ini adalah pernikahan impian Dika dan dirinya. Tapi sekarang pernikahan ini harus ia lakukan dengan lelaki lain.
FLASH BACK ON
"Kamu ingin berbicara apa?" Tanya Rora tanpa menatap Bara.
"Ayo kita menikah." Ucap Bara yang membuat Rora terkejut.
Rora menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa."
"Hanya sementara. Lagi pula aku hanya ingin memenuhi permintaan Dika untuk yang terakhir kalinya." Bara memberikan alasan.
"Lalu bagaimana dengan Aluna?"
"Biarkan itu menjadi urusanku." Jawab Bara, meskipun ia tidak tahu apa hubungan semua ini dengan Aluna.
Rora mendongakan kepalanya saat Bara melemparkan map kearahnya.
"Apa ini?" Tanya Rora sambil mengerutkan keningnya.
"Kamu baca lalu tanda tangani." Ucap Bara sambil menggesel bulpoin yang ada di hadapannya ke arah Rora.
Rora meraih map itu lalu membukanya. "Apa maksudnya ini?" Tanya Rora.
"Aku rasa kamu sudah bisa membacanya sendiri."
"Tapi untuk apa?" Tanya Rora lagi. "Apa perlu sampai seperti ini? Jika memang kamu tidak bersedia ya sudah kamu tinggal menolaknya."
"Tinggal tanda tangan apa susahnya sih. Toh tidak merugikan kamu juga. Lagi pula aku tidak meminta pendapatmu." Ucap Bara sinis.
"Tapi.. " Ucap Rora ragu.
Bara tersenyum sinis. "Atau jangan- jangan kamu memang ingin pernikahan ini selamanya." Sindir Bara.
"Aku hanya tidak ingin melihat mama dan tanteku sedih. Paling tidak kita bisa mencobanya satu tahun, dua tahun atau bahkan tiga tahun." Jelas Bara saat masih melihat keraguan di wajah Rora.
"Tapi disini tidak tertulis berapa tahun. Disini tertulis sampai waktu yang tidak di tentukan." Ucap Rora setelah membaca kontrak pernikahannya.
"Tentu saja karena aku tidak tahu kondisi kedepannya nanti." Balas Bara. "Ck. Cepat tanda tangani. Atau kamu memang sengaja mengulur waktu supaya mamaku pulang lalu mamaku tahu tentang kontrak ini." Tebak Bara asal.
Rora menghela nafasnya. Ya, Rora memang mengatakan kepada Elina untuk memberinya waktu untuk berpikir. Ia sengaja melakukan itu untuk mengulur waktu. Tapi apa ini? Bahkan belum sempat ia mencari alasan untuk menolak Bara sudah mengajukan kontrak pernikahan kepada dirinya.
"Aku akan menandatanganinya, tapi dengan satu syarat."
FLASH BACK OFF
Setelah proses ijab qabul, Elina dan Citra datang menghampiri Rora untuk menjemputnya. Rora menuruni tangga dengan berbalut kebaya putih pilihan Dika. Dia terlihat sangat cantik, bahkan Bara yang menyadari kehadirannya menatap wanita yang sekarang berstatus istri sahnya itu tanpa berkedip.
"Kedipkan kedua mata kamu. Aku tahu adikku cantik." Bisik Ezra yang duduk disisi Bara. Ezra menjadi saksi atas permintaan Rora.
Bara langsung mengalihkan pandangannya dengan wajah yang merona.
Ezra tersenyum, kini ia bisa bernafas lega karena ia tahu adiknya itu sekarang berada di tangan orang yang tepat dan keluarga yang sangat menyayanginya. Sedangkan Laura hanya bisa menatap tidak suka karena ia gagal menjodohkan Rora dengan anak lelaki Alex. Ia sudah membeyangkan berapa imbalan yang akan ia dapat jika berhasil menikahkan Rora dengan Axel.
Elina menuntun Rora lalu mengarahkannya untuk duduk di sisi Bara. Setelah Bara dan Rora duduk berdampingan, bapak penghulu memberikan sedikit nasihat kepada Bara dan Rora agar mereka berdua menjalani pernikahan yang langgeng sebelum mereka menandatangani buku nikah mereka masing- masing.
.
.
.
Plak!!!
Satu tamparan berhasil Rora dapatkan di pipinya. Ia meraba pipinya yang terasa panas sambil menatap perempuan yang telah memberinya tamparan.
"Dasar perempuan tak tahu diri." Ucapnya.
"Kenapa kamu menamparku?" Tanya Rora yang merasa dirinya tidak melakukan kesalahan.
"Kenapa? Kamu tanya kenapa?" Perempuan itu balik bertanya dengan emosi. "Kamu sudah merebut Bara dariku. Kamu..."
"Aku tidak merebut Bara." Potong Rora. "Bara yang.."
Plakk!!!
Tamparan kedua Rora dapatkan di pipi yang sama.
"Apa kamu ingin mengatakan Bara yang meminta untuk menikah denganmu?"
"Aluna." Teriak Bara sambil menahan tangan Aluna yang akan menampar Rora kembali. "Berhenti untuk menampar istriku." Ucap Bara lantang sambil memberikan tatapan tajam pada Aluna.
"Bar.." Aluna berusaha melepas cekalan tangan Bara. "Sakit Bar.." Ucapnya lirih sambil menahan tangisannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Bara.
"Kenapa kamu menikahinya?" Aluna balik bertanya.
Bara terdiam. "Lalu aku? Bagaimana denganku?" Tanya Aluna. Bukannya menjawab. Bara membawa Aluna untuk menjauh dari sana.
Bara menghempaskan tangan Aluna. "Memangnya kamu kenapa?" Tanya Bara.
"Bara.."
"Kita sedang tidak ada didalam hubungan yang apa- apa aku harus meminta izin padamu." Jawaban dari Bara membuat hati Aluna merasakan sakit.
"Lalu kita selama ini apa?" Tanya Aluna lirih.
"Kita ini apa maksud kamu?" Tanya Bara tidak mengerti. "Aku selama ini menganggap kamu sebagai sahabatku."
"Sahabat!!!" Ulang Aluna semakin tidak terima.
Ah sekarang Bara mengerti maksud dari perkataan Rora waktu itu. "Dengarkan aku." Ucap Bara tajam. "Apa aku pernah menyatakan cinta pada kamu? Apa aku pernah meminta kamu untuk menjadi kekasihku? Apa aku pernah membicarakan tentang pernikahan dengan kamu?" Bara menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak pernah." Aluna sedikit terhenyak mendengar rentetan pertanyaan dari Bara. "Itu karena aku menganggap kamu sebagai sahabat dan tidak pernah lebih dari itu."
"Kamu jahat Bar.. Kamu jahat padaku." Ucap Aluna lalu berlalu pergi meninggalkan Bara dengan air mata yang mengalir.
Setelah kepergian Aluna, Bara bergegas untuk masuk kembali kedalam rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan sang istri.
"Jika kamu mencari adikku, dia ada di kamarnya." Ucap Ezra.
Bara bergegas menuju ke dapur lalu membuka kulkas dan mengeluarkan es batu. Ia membungkus es batu menggunakan handuk lalu meraih baskom untuk di isi dengan air hangat. Setelah selesai, Bara bergegas membawa semua itu ke kamar Rora.
"Ra.. Aku masuk ya.." Ijin Bara dari balik pintu. Ia membuka pintu perlahan lalu menutupnya. Ia berjalan menuju Rora yang ternyata sedang tertidur di atas sofa. Bara meletakkan satu persatu barang yang di bawa. Ia menatap pipi Rora yang terlihat memerah dan sedikit membengkak.
"Eungg..." Rora membuka kedua matanya perlahan saat merasakan dingin pada pipinya.
"Bar.." Ucap Rora sambil berusaha untuk bangun dari tidurnya tapi di tahan oleh Bara.
"Ini akan membantu mengurangi pembengkakan dan nyeri." Ucap Bara.
"Biar aku sendiri." Ucap Rora. Ia ingin mengambil alih handuk yang berisi es batu tapi lagi- lagi tidak izinkan Bara.
"Lebih baik kamu lanjutkan istirahatnya karena nanti malam kita masih harus mengadakan resepsi." Rorapun mengalah. Setelah cukup lama mengompres dengan es batu, Bara menjauhkan handuk lalu meletakkannya di wadah semula. Rora hanya memperhatikan apa yang di lakukan lelaki yang beberapa jam lalu sudah sah dan menyandang gelar sebagai suaminya.
Rora tidak menyangka akan ada sisi bara yang seperti ini. Jika itu Dika iya pasti percaya. Tapi ini bara. Laki- laki yang selama ini selalu terlihat dingin dan seolah- olah tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
"Pegang dulu ini." Titah Bara membuyarkan lamunan Rora. setelah Rora mengambil alih, Bara bergegas melepas kancing yang ada di kedua pergelangan tangannya lalu melipatnya ke atas bergantian. "Air hangat ini digunakan setelah fase pembengkakan awal untuk meningkatkan aliran darah dan mempercepat penyembuhan." Ucapnya tiba- tiba lalu mengambil alih handuk dari tangan Rora.
"Hmm." Jawab Rora dengan muka yang sedikit memerah karena tatapan Bara. Rora berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap Bara.
"Kamu tidak ingin melanjutkan tidurmu?" Tanya Bara yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Rora.
"Apa aku boleh bertanya?" Tanya Rora dengan ragu- ragu.
Bara menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan Aluna?"
"Sudah pergi."
"Maksudku.."
"Jangan membahasnya lagi. Lagi pula itu bukan urusan kamu." Jawab Bara.
"Oh." Rora mengalihkan pandangannya semakin enggan menatap Bara.
.
.
.
beautiful story
karena ini kan bukan yg pertama kali di kecewakan
dan si Aluna Aluna itu juga belum kelar.
masa ga dibikin bahagia dikit 😭
apa dulu naksir Ama bapaknya ga kesampaian 🤣🤣.jadinya benci Ama Mak nya
trus ke rora😔
ada yg bisa dimaki maki🤣🤣
seru kali yaaa
beresin dulu lah si Aluna Aluna itu
kalau ga
sampai kapanpun rora ga bakalan mau balik sama lu
apapun alesan nya
gw juga ogah
atau emang asal nya dr kota batu,malang kah?
lu nya aja plin plan
heran aku mah
karena bukan dia yg di pelaminan 🥹🥹
wah rame lagi ini ntar
perasaan ku udah ga enak 😭😭
Dika kah yg meninggal 😭😭
ga, bukan Dika yg JD pendonor nya
karena ga bisa diselamatkan 🥹