"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20.Latihan yang melelahkan.
Pagi pertama setelah Raisa benar-benar pulih dari tidur panjangnya terasa begitu cerah, namun gadis itu belum sempat menikmati kehangatan secangkir teh hangat yang baru saja disiapkan Sekar. Belum sempat ia menyeruput sedikit pun, sosok Arya sudah berdiri tegak di ambang pintu ruang makan dengan tangan bersedekap di belakang punggung. Wajahnya datar, tak ada sedikit pun senyum yang menyapa, persis seperti hari-hari awal mereka bertemu.
"Keluar," ucapnya singkat, tegas, tanpa basa-basi.
Raisa yang masih mengucek mata karena sisa kantuk mengerutkan dahi bingung. "Keluar? Keluar ke mana? Matahari saja belum benar-benar naik, Arya."
"Latihan."
"Latihan apa?" Raisa menaruh kembali cangkir tehnya ke meja, mengira pria itu sedang bercanda meski tak biasa baginya melucu.
"Semua."
Tawa kecil lolos dari bibir Raisa, namun perlahan lenyap saat ia menyadari tatapan Arya sama sekali tak berubah. Tak ada guratan jenaka di sana, hanya ketegasan yang tak bisa dibantah.
"Kau serius?" tanyanya ragu.
Arya mengangguk singkat. "Tubuhmu terlalu lemah."
"Hei, aku baru terbangun dua hari yang lalu! Bahkan melangkah ke kamar mandi saja masih terasa pegal, tahu!" protes Raisa sambil menepuk pelan pahanya.
"Itu bukan alasan."
Mendengar itu, Raisa langsung memutar tubuh hendak kembali duduk atau masuk ke dalam kamar. "Aku tidak mau. Badanku masih terasa seperti habis dipukuli puluhan orang."
Belum sempat kakinya melangkah menjauh, suara berat Arya kembali terdengar, kali ini sedikit lebih dalam namun tetap tenang.
"Kalau kau tetap begini setiap kali menyalurkan Inti Sakti kau akan kembali tertidur lebih lama lagi bisa berbulan-bulan. Bahkan suatu hari nanti... jantungmu bisa berhenti berdetak seketika saat jamu tidur."
Langkah Raisa seketika terhenti di tempat. Kata-kata itu begitu sederhana namun terasa begitu berat menghantam dadanya. Ia menoleh perlahan menatap punggung tegap itu.
"Kau berbeda dengan para Wadah sebelumnya," lanjut Arya tanpa menoleh.
"Berbeda bagaimana?" tanyanya pelan.
"Mereka hampir semuanya laki-laki. Tubuh mereka ditempa sejak kecil untuk menerima aliran energi alam. Sedangkan kau..." Arya perlahan menoleh, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang menilai namun bukan merendahkan. "...bahkan berlari lima menit pun mungkin kau sudah menyerah setengah mati."
Raisa mendengus kesal namun tak bisa membantah. "Kau pikir aku gadis lemah. Aku sudah menolong dan apa ini balasannya,bisakah kita melakukannya tiga hari lagi?"
"Tidak harus sekarang," jawab Arya datar tanpa ampun.
Walaupun Raisa terus merengek tidak mau tapi Arya tidak mau menerima penolakan.
Sejak pagi itulah dimulailah masa latihan yang menurut Raisa jauh lebih mengerikan daripada saat menghadapi ujian sekolahnya, Raisa paling benci dengan kegiatan yang menguras fisik tapi dia juga tidak bisa menolak karena ini untuk kebaikannya sendiri. Setiap hari sebelum matahari terbit sepenuhnya, Arya sudah berada di depan pintu kamarnya, mengetuk pelan namun tak akan berhenti sampai gadis itu membuka pintu.
"Lari keliling hutan tiga putaran. Jangan berhenti sebelum selesai," perintahnya singkat.
"Aryaa... kakiku rasanya mau copot semua," keluh Raisa di hari pertama, napasnya memburu hebat, keringat membasahi seluruh wajah dan pakaiannya.
"Berlari lagi," jawab Arya dingin sambil berdiri diam di ujung jalan.
Selain lari, ia juga harus berlatih menjaga keseimbangan di atas batang pohon yang licin dan tinggi, mengangkat batu sungai yang beratnya hampir setengah berat badannya, hingga duduk bermeditasi berjam-jam di dekat mata air pegunungan yang dingin menusuk tulang.
"Untuk apa duduk diam begini? Airnya dingin sekali," protes Raisa saat duduk bersila sambil menggigil kedinginan.
"Untuk menyelaraskan napasmu dengan alam. Kalau napasmu kacau, aliran energi di dalammu pun akan berantakan," jawab Arya tenang.
Siang harinya giliran belajar bela diri dasar. Bukan untuk mengalahkan musuh yang kuat, melainkan agar Raisa tahu cara melindungi dirinya sendiri saat Arya tak ada di sisinya.
"Tanganmu jangan gemetar saat menangkis. Tatap mataku, jangan melihat ke arah tangan," tegur Arya saat Raisa kembali memukul sembarangan.
"Kau kan terlihat menakutkan kalau menatap begitu, mana aku berani," cibir Raisa kesal.
"Maka biasakanlah. Musuhmu tak akan tersenyum saat hendak melukaimu."
Hari pertama berakhir dengan Raisa tergeletak telentang di halaman rumah, napasnya terengah-engah seolah habis dikejar anjing liar.
"Aku... benar-benar menyerah..." keluhnya lemas sambil menatap langit yang mulai memerah senja.
Arya berdiri di sampingnya tanpa ekspresi. "Besok ulangi lagi."
"Apa?!" Raisa melotot tak percaya. "Kau kejam sekali!"
"Latihan hari ini belum selesai. Bangun dan berjalanlah mengelilingi rumah sampai keringatmu kering."
Raisa merintih putus asa, memandang langit seolah mencari belas kasihan. "Dasar monster... benar-benar monster..."
Jatmika yang diam-diam mengamati dari balik jendela ruang tengah hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. "Sepertinya tuan terlalu keras melatih nona Raisa."
Hari-hari berikutnya tak jauh berbeda. Raisa berkali-kali mencari alasan agar latihan bisa diringankan atau dihentikan sebentar.
"Hari ini langit mendung dan sepertinya mau hujan deras," katanya berharap Arya akan membatalkan kegiatan luar ruangan.
"Kita tetap berlatih. Air hujan justru melatih ketahanan kulit dan napasmu," jawab Arya santai sambil merapikan sarung tangannya.
"Tapi perutku sudah bunyi berteriak minta makan, Arya... aku lapar sekali," rengeknya sambil memegangi perut.
"Latihan dulu sampai target selesai. Makan adalah hadiah kalau kau berhasil. Kalau tidak, kau akan belajar menahan lapar juga."
"Aku mengantuk sekali... mataku rasanya mau tertutup terus," keluhnya saat hari masih remang-remang.
"Kalau begitu larilah lebih cepat. Udara segar akan menghilangkan kantukmu," balasnya singkat.
Setiap alasan yang dilontarkan Raisa selalu dipatahkan dengan jawaban yang tak bisa dibantah. Lama-kelamaan, meski sering mengeluh dan mencibir, Raisa mulai menyadari bahwa ketegasan Arya bukanlah bentuk kekejaman atau kesenangan menyiksa. Di balik tatapan dingin dan perintah yang kaku, terselip rasa khawatir yang begitu besar. Pria itu sedang mempersiapkannya menghadapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan dan berbahaya daripada apa pun yang pernah mereka hadapi sejauh ini.
Jauh di seberang pegunungan yang tertutup kabut hitam pekat, tersembunyi sebuah bangunan batu kuno yang sudah berabad-abad terlupakan oleh dunia. Di ruang paling dalam dan gelap, tujuh orang berjubah hitam berlutut melingkar mengelilingi altar batu yang retak.
Di tengah lingkaran itu duduk sosok pemimpin mereka. Tubuhnya kurus kering, diam tak bergerak seperti patung yang ditinggalkan waktu. Puluhan tahun ia jarang bergerak,hanya memberikan perintah pada anak buahnya saja, dan menyerap energi gelap yang ada di sekitarnya. Namun perlahan, jemari tangannya mulai bergetar pelan. Kulit yang semula pucat pasi kini dipenuhi kerutan dalam, urat-urat hitam merambat naik dari pergelangan tangan hingga ke bahu.
Ia perlahan mengangkat telapak tangannya yang gemetar.
"...Waktuku hampir habis," suaranya serak dan berat, seolah menggema dari dasar jurang yang dalam.
Salah satu pengikutnya segera menundukkan kepala dalam-dalam. "Guru... apakah kami harus segera mulai mencari keberadaan Wadah Inti Sakti itu?"
Belum sempat jawaban terucap, sosok itu tiba-tiba lenyap dari tempatnya seolah terserap kegelapan. Hanya hembusan angin dingin yang menusuk tulang yang tersisa di ruangan itu.
Di sebuah jalan berkelok yang membelah pegunungan sepi, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menuju arah Desa Suka makmur. Tiba-tiba saja sosok berjubah hitam berdiri tegak tepat di tengah jalan raya yang kosong itu.
"Sial! Orang gila dari mana datangnya!" Pengemudi menginjak rem sekuat tenaga hingga ban berdecit panjang meninggalkan bekas hitam panjang di aspal. Mobil berhenti nyaris menyentuh ujung jubah hitam itu.
Pemilik mobil turun dengan wajah merah padam menahan amarah. "Hei! Kau mau mati ya? Dasar orang gila yang tak tahu aturan!"
Pria berjubah itu diam saja. Perlahan ia mengangkat kepala sedikit, menatap lewat celah tudungnya yang dalam. Tatapan itu begitu dingin hingga membuat udara di sekitarnya seolah membeku seketika.
"Kalau kau tak minggir sekarang juga, kumasukkan kau ke rumah sakit dengan mobilku!" ancamnya marah melangkah maju.
Belum sempat tangannya menyentuh bahu pria itu...
DUAR!
Dengan satu ayunan tangan yang tak terlihat jelas, hantaman energi menghantam bagian depan mobil. Besi baja yang kokoh terbelah dua, rangka kendaraan retak memanjang hingga ke bagian belakang.
Pemilik mobil membeku ketakutan. Kakinya gemetar hebat seolah tak lagi terasa menapak tanah. Ia berbalik hendak lari sekuat tenaga, namun kakinya seolah dicengkeram tangan tak kasat mata yang kuat.
"Apa... apa yang terjadi? Lepaskan aku!" teriaknya histeris meronta namun sia-sia.
Tubuhnya perlahan terseret mundur mendekati sosok berjubah hitam itu. Sebuah tangan yang sedingin es mencengkeram lehernya tanpa sedikit pun tenaga yang terlihat. Kabut hitam pekat keluar dari telapak tangan itu, menyelimuti seluruh tubuh korban.
Perlahan namun pasti, cahaya kehidupan berwarna putih keemasan mengalir keluar dari mulutnya dan mengalir ke mulut pemimpin yang terbuka Jeritan yang tadinya keras perlahan melemah, rambutnya memutih seketika, kulitnya mengeriput dalam, matanya cekung ke dalam. Dalam hitungan detik, sosok yang tadinya sehat bugar berubah menjadi tulang berbalut kulit yang sudah renta dan tak bernyawa.
Pria berjubah itu melepaskan cengkeramannya dengan santai. Tubuh itu jatuh lemas ke tanah. Dengan satu kibasan tangan pelan, mobil yang rusak parah beserta jenazah pemiliknya meluncur menjauh jatuh ke jurang yang dalam, hilang ditelan kabut tebal.
Keheningan mencekam kembali menyelimuti jalanan itu. Sang pemimpin menatap telapak tangannya. Keriput yang tadi memenuhi kulitnya kini perlahan hilang, otot-ototnya kembali padat dan kuat, tubuhnya kembali tegap perkasa.
"Jiwa manusia biasa..." gumamnya pelan serak. "Hanya mampu memperpanjang waktu hidupku sedikit saja."
Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih.
"Aku membutuhkan sumber kehidupan yang tak akan pernah habis. Sumber yang mampu membuatku hidup abadi..."
Angin berhembus menerpa tudungnya, menyibakkan sedikit bagian wajahnya. Bibirnya yang tipis, garis rahang yang tegas, dan bentuk dagunya... persis sama dengan sosok dalam foto tua keluarga keturunan Margono yang pernah dilihat Raisa di ruang kerja kakeknya.
Dengan tatapan tajam menembus kabut ke arah Desa Suka makmur yang tersembunyi jauh di balik bukit, ia berbisik pelan namun penuh tekad membabi buta.
"Inti Sakti... kali ini, kau tak akan lepas dari tanganku lagi."
Tanpa suara langkah kaki, sosok itu kembali lenyap di antara pepohonan, membawa pertanda bahwa ancaman yang sesungguhnya baru saja mulai datang, jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah Arya dan Raisa hadapi.