[Proses Revisi]
Empat orang gadis memiliki kemampuan yang semua orang tidak miliki, melihat mahluk halus? melihat masa depan? melihat masalalu? merasakan aura disekitar? Mengerikan bukan? Tentu saja. Siapa yang baik-baik saja ketika memiliki kemampuan tersebut.
Kadang melihat sesuatu yang mengerikan itu sangat melelahkan.
Tapi semua itu membaik ketika mereka bertemu dengan Kakak senior di sekolah barunya, memiliki aura yang notabenenya mereka butuhkan selama ini.
Bagaimana kisah cinta mereka dan kisah mereka dengan para mahluk tak kasat mata?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIFAT
BARA POV
"Gimana Kak udah ketemu?"tanya Riana.
"Gak ada."jawab Bara sambil mengusap keringat di pelipisnya.
Bara Sudah mengecek semua ruang ekskul dan organisasi, tidak ada Echa disana.
Hanin dan yang lain sudah mencari keberadaan Echa. Sekolah sudah mereka kelilingi, semua murid yang tersisa tidak melihat Echa. Bahkan CCTV disekolah ini tidak berfungsi. Aneh.
"Nin, coba telpon keluarganya." ucap Namira.
"Iya Kak." jawab Hanin.
Hanin menelpon Bi Neni beberapa kali namun tidak diangkat.
"Hallo, Bi." panggil Hanin.
"Gak ada apa-apa Bi, cuman mau tanya, Caca udah pulang?" tanya Hanin pada orang yang sedang dia telpon.
"Oh yaudah kalau gitu, makasih ya Bi." ujar Hanin sambil menutup telpon.
"Gimana?" tanya Mutiara
"Caca belum pulang katanya."jawab Hanin.
"Ada yang gak beres di sini."ujar Gavin.
"Sunyi, sepi, minim cahaya."ujar Ivy
"Gelap." sambung Mutiara.
Semua berpikir mencerna perkataan Ivy dan Mutiara.
"Gelap."ucap Bara dalam hati.
"Gudang."sambung Bara dalam hati.
Bara kembali berlari, tanpa memperdulikan teman-temannya yang memanggil dan mengikuti dirinya. Yang dipikirkan hanya Gudang.
Sesampainya di gudang, Bara ingin membuka pintu namun, pintunya terkunci. Dia mendobrak pintu itu dengan sangat keras.
BRUGH..
Suara Hantaman pintu yang berhasil Bara buka dengan sisa tenaganya. Dia melihat Echa yang diikat di kursi dengan mata yang sembab dan seperti ada luka tamparan di pipinya. Bara membantu Echa untuk membuka ikatan tersebut.
ECHA POV
Echa tidak banyak gerak agar Bara leluasa dan gampang untuk membuka tali ditangannya yang sudah diikat dengan sekencang mungkin.
Saat talinya sudah terbuka Echa refleks langsung memeluk Bara sambil menangis pilu. Siapapun yang mendengar tangisan Echa akan menyayat hati.
"Kamu gak papa?"tanya Bara sambil mengelus kepala Echa.
Echa hanya menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja. Tapi yang membuat dia sakit adalah perkataan Ratu, sampai kapanpun kamu gak bakalan bisa jadi Ratunya Bara. Kalimat itu yang terus terngiang di telinga Echa. Entahlah rasanya perkataan itu bagaikan belati yang menusuk jantungnya.
Jika Echa diberi pilihan antara melihat mahluk yang paling seram atau mendengar perkataan itu. Dia akan memilih opsi yang pertama, sungguh perkataan itu sangat menyakitkan bagi Echa.
"CACA!!"teriak Hanin, Ivy dan Riana kompak sambil berlari menuju Echa.
"Caca gak apa-apa?"tanya Ivy yang melihat Echa menangis dipelukan Bara.
"Caca baik-baik aja, kalian gak usah khawatir." jawab Echa dengan suara serak habis menangis.
Echa sudah melepas pelukan itu. Rasanya sedikit melegakan.
"YA AMPUN CACA, KENAPA ITU BERDARAH?"teriak Ivy.
Caca tidak menjawab apa-apa dia hanya melihat satu persatu Kakak kelasnya dan sahabatnya itu. Apa mereka se perduli ini pada Echa?
Mutiara, Namira, Nathan, Azka, Albert dan Gavin mendekat kearah Echa.
"Caca kenapa bisa disini?"tanya Namira.
Echa tidak menjawab apapun. Jika dia menjawab Ratu yang membawanya pasti Kakak kelasnya ini langsung mendatangi Ratu, Jika tidak karena mahluk mengerikan dibelakang Ratu dia akan membongkar semua kebusukan Ratu.
Echa hanya takut mahluk itu akan meneror Kakak kelasnya bahkan sahabatnya juga akan mendapat teror itu. Bahkan bisa lebih parah dari pada diteror.
"Jangan dulu ditanya mungkin Echa masih syok, bawa aja ke mobil Kamu Ra."ujar Gavin sambil melihat kearah Namira.
"Yuk, biar Kakak yang anterin. Hanin, Vivi sama Ana juga bisa ikut."ucap Namira.
Echa berdiri dibantu dengan Hanin dan Ivy. Kakinya saat ini sangat lemas, entah kenapa hari ini hari yang berat bagi Echa bahkan hari ini hari yang menyakitkan.
Beberapa menit berlalu mereka sampai di mobil Namira. Ivy duduk didepan Namira sedangkan Riana dan Hanin berada disamping Echa.
"Ca kenapa bisa gini?"tanya Riana.
"Gak tau Caca juga, mungkin orang iseng aja." jawab Echa sambil memejamkan matanya.
"Orang isengnya gini amat, ada yang gak beres ca. Caca masih inget mukanya? atau namanya?"tanya Namira.
"Caca gak tau orang itu, yang jelas dia seret Caca." jawab Echa.
"Kenapa Kakak gak cari di CCTV aja?"tanya Echa.
"Justru itu ca, CCTV nya gak berfungsi gitu, malah pas dijam-jam tertentu CCTV nya malah ngeblur. Aneh banget kan?"tanya Namira.
"Bener Ca kata Kak Rara, bahkan CCTV nya pas Echa dibawa sama Kak Bara adem aja gak ada kendala apa-apa."sambung Ivy.
Echa tidak kaget dengan pernyataan itu. Dia sudah tau yang membuat koridor sepi dan CCTV itu tidak berfungsi adalah mahluk hitam besar yang mengikuti Ratu. Mahluk itu yang membuat seolah-seolah tidak terjadi apa-apa.
Echa memejamkan matanya, menahan rasa sakit di sudut bibirnya dan di pipinya. Terutama sakit yang sedang dia tahan saat ini adalah perkataan itu.
"Ca, Kakak baru liat Bara se peduli itu sama perempuan."ujar Namira.
"Serius Kak?"tanya Hanin.
"Dia itu jarang banget deket sama cewe, cuman sama Kakak sama Tiara aja deketnya. Kalau deket juga palingan ada urusan."jawab Namira.
"Berarti perlakuan Kak Bara sama Caca itu aneh ya?"tanya Riana.
"Bisa terbilang aneh. Dia kan king nya sekolah ini, Kakak juga akuin kalau dia itu ganteng bahkan banyak cewek yang nyatain perasaannya sama dia, banyak respon buruk dari dia."jawab Namira.
"Kalau Kak Azka gimana Kak?"tanya Ivy.
"Vivi suka sama Azka?"tanya Namira.
"eh, itu, engga Kak, Vivi cuman penasaran aja." jawab Ivy salah tingkah.
"Kalau suka bilang aja. Kakak bakal bantuin, dia emang orangnya humoris tapi gak ke sembarang orang. Meskipun dia humoris tapi Kakak gak pernah liat dia kayak nunjukin sifat romantisnya."jawab Namira.
"Kalau Kak Nathan?"tanya Ivy sambil melihat kearah Hanin.
"Jadi Vivi sukanya sama Nathan atau sama Azka?" tanya Namira.
Echa yang sejak tadi mendengar percakapan itu seketika teringat lagi dengan Kakak kelasnya yang bernama Shasha itu. Yang menampar nya.
"Vivi cuman mau tanya aja Kak."jawab Ivy.
"Kalau Nathan itu, orangnya bagus buat dijadiin motivasi, penyayang juga, dia emang romantis tapi gak sembarang orang yang dapet sifat Nathan yang romantis itu."jawab Namira.
"Kak Gavin pacar Kakak ya?"tanya Riana.
"Hahaha.. Kamu ini, Kakak sama Gavin itu adik kakak, meski banyak yang bilang kita itu pacaran. Dih engga banget. Kalau kalian tau dia itu sebenarnya penakut."jawab Namira sambil tertawa.
"Kalau Alvero baru pacarnya Tiara."sambung Namira.
Mereka melanjutkan percakapan, Echa hanya memejamkan matanya sambil mendengar perkataan Namira. Dia sama sekali tidak ingin membuka matanya, air matanya akan tumpah.
setelah 3 thun lalu aku baca 3 kali, tahun ini baca lagi yng ke empat saking bagusnya ni cerita 😍😍
di baca deh, di jamin bakalan nagih 🥳👍
saking suka buat nama panggilan jdi caca🤭
but thanx ya.....lanjut ghostvilla......bye²
Othorr TANGGUNG JAWAB!!!😭😭😭😭
di online pengen ad yg jual tp semua nihil
hbsnya greget sma lnjutnn si teror
ini ulng baca dr awal terus tp tenag gl bosan" kok