Novel ke-enam
Kejadian satu malam dengan pria lain akhirnya merusak kepercayaan Louis terhadap Elena. Setelah bercerai dan terpaksa meninggalkan putranya yang masih berusia dua bulan, Elena memutuskan mendekati kembali putranya yang kini berusia delapan tahun.
Karena keadaan tersebut, Elena rela dipanggil bibi oleh putranya dan menjadi orang lain demi menghindari tatapan kebenciannya.
Dengan percaya diri ia membuat kesepakatan dengan mantan suami yang menyadari kehadirannya.
"Aku jal*ang yang mempesona, kan?" senyumnya tanpa beban. "Aku hanya minta waktu satu tahun dari seumur hidup yang kau punya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapan Menjadi Ibuku?
Seseorang mengintip dari celah pintu yang dibuka sedikit. Setelah melihat keadaan yang ada di dalam, pintu di tutup kembali dengan pelan.
"Apa grandma bangunkan saja mereka?"
"Biarkan saja, Grandma. Mereka sepertinya kelelahan," kata Noah yang telah siap dengan seragam sekolahnya. Setelah sarapan selesai pun, daddy dan calon ibunya itu belum juga turun. Padahal kata Jason, Elena sudah datang tengah malam tadi.
"Kau yakin?" Pasalnya wajah Noah terlihat cemberut begitu, tapi tetap saja Noah mengangguk.
"Bibi pasti lelah. Biarkan saja dia istirahat," cicitnya. "Daddy juga tidak masalah libur sesekali. Diakan sudah gila bekerja."
Rosemary hanya terkekeh lucu.
"Baiklah. Kalau begitu biar Grandma saja yang mengantarmu sekolah." Noah lansung mengangguk senang. Keduanya lantas berjalan keluar sambil berpegangan tangan.
"Hubungan mereka sudah sangat baik, kan, Grandma?"
"Kapan bibi menjadi ibuku?"
"Daddy tidak akan bersikap menyebalkan lagi, kan?
Rosemary tersenyum melihat Noah yang mulai banyak bicara seperti ibunya. Elena pasti senang jika mengetahui, kan? Wanita itu, kan pernah mengeluh karena tidak punya kemiripan apapun dengan anaknya sendiri.
Sedangkan di kamar, cahaya yang masuk dalam celah-celah gorden mulai mengusik seseorang di atas ranjang. Elena berusaha menggerakkan tubuhnya yang kaku. Sudah berapa lama ia tidak tidur nyenyak begini?
Elena belum sadar sepenuhnya hanya diam menatap langit-langit kamar yang di dominasi oleh warna grey dan hitam. Kamar yang terlihat suram ini jadi mengingatkan pada Lou— wait! Ini bukan kamarnya!
Saat menoleh ke kanan, Elena menutup mulutnya agar tidak berteriak. Louis di sampingnya? Ia bangun pagi ini di samping Louis?! Oh Tuhan ... jadi semalam bukan mimpi!
Tangan Elena terulur untuk merengkuh rahang tegas Louis. Bulu mata lentik dan rahang tegas serta ketampanan seperti tanpa cela. Elena ingin menatapnya setiap hari. Bibirnya pun tidak berhenti tersenyum.
Namun, saat pandangannya tidak sengaja menatap sebuah jam di atas nakas, matanya membulat kaget dan spontan bangun.
"Noah!" Buru-buru ia turun dari ranjang yang segera menyadarkan Louis.
"Ada apa?" Menahan tangan Elena.
"Aku kesiangan! Noah pasti menungguku."
Louis hanya memasang wajah datar. Anak itu pintar. Ia pasti mengerti jika orang tuanya sibuk!
"Dia pasti sudah pergi," katanya santai seraya menenggelamkan wajahnya lagi ke bantal. Berbeda dengan Elena yang memasang raut wajah bersalah.
"Ini pertama kalinya aku tidak melihat Noah ke sekolah." Menggigit kukunya was-was. Kening Louis mengkerut.
"Aku akan pergi mandi, lalu pergi ke sekolah." Hendak beranjak lagi, tapi Louis lagi-lagi menahan.
"Apa maksudmu dengan pertama kali?"
Elena menatapnya, kemudian berkata, "tentu saja aku belum pernah melewatkan hari-hari Noah diluar. Aku selalu melihatnya sejak masih di taman kanak-kanak."
Louis tertegun. Ia tidak tahu jika selama ini Elena mengawasi putranya sekeras itu. Louis semakin menyadari kasih sayang yang diberikan Elena untuk Noah merupakan ketulusan yang amat besar. Ia benar-benar tidak bisa meremehkan ikatan seorang ibu dan anak.
"Maaf." Hatinya semakin sakit membayangkan bagaimana jika berada di posisi Elena yang harus berjauhan dengan putranya.
"Minta maaf untuk apa?"
"Kau tidak bisa dekat dengan anak kita."
...****...
"Sampai kapan kau akan berdiri disana?" tegur seseorang yang mengawasinya dengan sabar sejak tadi. "Kue itu tidak akan berubah meski kau menatapnya semalaman, Kendrick."
Pria itu, Kendrick, akhirnya hanya menghela nafas dan menatap pada sosok cantik yang tadi bicara.
"Aku tidak tahu apakah dia masih menyukainya, Joella," katanya putus asa. Beberapa macam cake dalam etalase sama sekali tak membuat Kendrick berubah pikiran untuk segera membeli atau tidak.
Ia ragu apakah sang adik masih memiliki selera yang sama seperti dulu.
"Kalau begitu tanya saja padanya," kata Joella datar. Sudah 1 jam pria itu berdiri disini untuk memilih kue. Dirinya bahkan sampai meluangkan waktunya yang sangat sibuk ini untuk menemani kakak dari sahabatnya ini untuk sekedar memilih kue!
"Dia memblokir nomorku."
"Oh."
"...."
"Biar aku yang bertanya padanya," putus Joella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...maaf ya guys ga up kemaren🥲 ...
...aku lupaa😪...
tapi jangan pernah menjadikan alesan untuk menyakiti orang lain apalagi terjadi yg namanya pembullyan
karena kita tidak tau seluka dan setrauma apa orang yg mengalami nya.
kau tau apa yg lebih kejam dr pembullyan itu sendiri
yaitu pengambian dan tidak melakukan apa apa .
korban satu akan membuat pelaku kejahatan yg lain.
nice ending
beautiful story
mulai saat ini pelajaran buat kita karena kesalahpahaman akan membuka kejahatan yg lain
lindungi dirimu sendiri dengan melindungi orang " sekitar mu
tapi yg utama.... lindungi dirimu sendiri
bullying bukan hanya sekedar kenakalan remaja saja
apalagi terlihat teman temannya tidak ada rasa menyesal.
karena perbuatannya memberikan trauma mendalam.
jangan menormalisasikan kenakalan remaja ini
ini adalah sebuah. kriminalitas.
karena kita ga akan pernah tau,sedalam apa efek nya pada tiap korban
dan ketika membalas apa yg dia rasakan ketika dulu,dia di cap sebagai penjahat.
double standar bukan?
segala sesuatu itu tergantung sudut pandang orang 🥹🥹
ga ada dan ga akan pernah ada yg bisa membandingkan seciah cinta seorang ibu buat anaknya.
apalagi melukiskan seberapa megah dan besarnya rasa cinta ibu.
akhhh
sakitnya Ampe kedalem Thor, karena aku juga seorang ibu 🥹