Di nikahi karena hamil anak sang majikan tidak menjamin membuat hidup Kanaya Bahagia. Ia justru semakin menderita dari sebelumnya.
Belum seberapa lama ia menikah, Kanaya harus kembali menelan pil pahit ketika suaminya dengan tega menikah lagi dengan wanita yang di cintainya.
Sakit, lahir dan batin Kanaya rasakan saat Aditya sang suami lebih mengutamakan istri mudanya di bandingkan dirinya.
Terlebih, sebuah fitnah yang datang dari ibu mertua dan madunya membuat Kanaya di usir dalam keadaan hamil muda.
Terpaksa Kanaya Harus merawat anaknya seorang diri dengan penuh ketulusan. Hingga beberapa tahun setelahnya Kanaya bertemu dengan seorang pria Duda beranak dua yang mampu menerima dirinya apa adanya.
Akankah Kanaya bahagia dengan Pria tersebut? Atau Justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma Dan Kebahagiaan
Hari-Hari telah berlalu. Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit paska kecelakaan yang menimpa Aline. Kini Wanita itu sudah sadar dari komanya. Aline yang baru sadar langsung kebingungan, Disana hanya Mayang saja yang menjaganya. Tidak Aditya atau yang lainnya. Wanita itu juga sempat bertanya bagaimana anak yang ada dalam kandungannya.
Tanpa Ragu mayang pun menjawab. Jika Anak yang telah Aline kandung sudah ikut tewas. Mayang juga mengatakan jika terjadi sesuatu dengan rahim Aline hingga membuat Aline Kemungkinan susah hamil lagi.
Apakah Aline menerima?
Oh tentu saja tidak! Wanita itu sempat mengamuk dan menjerit histeris. Bahkan kamar super mewah itu tampak berantakan akibat Aline yang mengamuk. Mengapa ini terjadi padanya, Mengapa Tuhan tidak adil? Harusnya ia pulang selamat malam itu. Bukannya berada disini, Bahkan anak yang ia kandung harus meninggal.
Wanita itu menjambak rambutnya sendiri. Kenapa harus anaknya ikut menjadi korban? Padahal anak yag berada di dalam kandungan Aline adalah senjata agar wanita itu bisa dapat warisan dari Tuan Wira.
Aditya masuk ke dalam ruangan VVIP di rumah sakit besar di kota itu. Aditya menatap datar istrinya. Entahlah apa yang ada dalam pikiran Aditya saat ini. Disaat suami yang lain menunggu sang istri sadar dari komanya. Aditya justru pergi ke kantor, Pria itu bekerja. Bahkan dengan gamblang Aditya mengatakan bahwa, Waktu adalah uang.
"Mas.. anak kita mas hiks.. anak kita..."Aline meraih tangan Aditya. Menggenggam tangan itu dan bersandar disana.
Aditya hanya diam. Ia tidak tau perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Bahkan yang ada dalam pikiran Aditya bukanlah Aline saat ini, tapi Kanaya.
Semalam pria itu juga tidak dapat memejamkan matanya. Tadi malam Aditya iseng-iseng membuka Kalender, awalnya hanya berniat ingin menghitung bulanan di kantornya. Tapi siapa sangka jika tiba-tiba pikiran Aditya melayang ke Kanaya.
Saat hari dimana wanita itu mengaku hamil anaknya. Saat itu kehamilan Kanaya sudah beranjak dua bulan. Sebulan setelahnya Aditya mengusir wanita muda itu pergi dari rumahnya
Dan sekarang? Sudah enam bulan Kanaya pergi dan tidak ada kabar apapun. Anak buahnya ada yang mengatakan kemungkinan Kanaya tidak ada di kota ini atau di negara ini. Kemana sebenarnya wanita itu pergi.
Hanya satu keinginan Aditya, Sekali saja ia ingin bertemu dengan Aya nya. Ia ingin mengatakan beribu maaf untuk gadis kecil itu. Andai ada kesempatan, Aditya ingin merajut semua dari awal. Aditya ingin hidup bersama Gadis kecilnya itu beserta anaknya juga.
Anak? Kemungkinan Kanaya meninggalkan rumah saat ia hamil tiga bulan. Dan sekarang Kanaya sudah enam bulan hilang, Itu artinya kandungan Kanaya sudah berusia Sembilan bulan kan? atau bisa jadi wanita itu sudah melahirkan..
"Kanaya.."Aline menghempas tangan Aditya dengan begitu kasarnya. Ia senang Aditya datang Kesini agar ia bisa bersandar dan berkeluh kesah. Tapi apa? Suaminya justru memikirkan wanita lain.
"Tega kamu mas... Aku lagi sakit dan kehilangan di otak kamu hanya ada wanita lain? "Aline menatap tajam suaminya, Begitupun Aditya yang tak kalah ikut menatap tajam istrinya.
"Kenapa kau marah? harusnya kau senang dengan semua ini..bukanlah ini yang kau harapkan? Andai hari itu kau menuruti semua perkataanku agar kau tidak pergi, Semua tidak akan pernah terjadi Aline!!! Dan sekarang kau lihat! bukan hanya kehilangan bayi yang kau kandung, Tapi kau juga di vonis sangat sulit hamil lagi...
"Hanya sulit bukan berarti tidak mas! Aku yakin setelah aku bisa hamil lagi..
"Ah sudahlah aku capek!!"Aditya pergi dari kamar itu tanpa menoleh lagi.
"Mas! Kamu mau kemana? Maass!!
"Apasih Aline jangan berisik deh.."Aline menoleh kearah mama mertuanya. Bukan hanya Aditya saja yag mengalami perubahan, sang mama mertuanya pun iya.
"Mama...
"Huh! Gak tau deh mama harus apa, Andai saat itu kamu nurut agar gak pergi, pasti sekarang kamu baik-baik saja. Dan sekarang calon cucu mama udah gak ada.. bahkan kamu saja bisa jadi mandul kan.. Mama tuh cuma ingin cucu tau.. Andai saat itu mama gak ikut semua kata kamu buat ngusir Kanaya, Pasti sekarang mama sudah bisa gendong bayi itu..."Aline melotot Bisa-bisanya Mama mertuanya berkata seperti itu.
"Mama..
"Apa mungkin mama nyuruh Aditya nikah lagi ya.. dengan perempuan normal agar bisa punya cucu...
"Itu tidak akan terjadi ma.."Aline meraih pisau buah di atas meja dan mengarahkan ke pergelangan tangannya.
"Aline apa yang kamu lakukan!!!
"Kalau mama berani nyuruh Mas Aditya nikah lagi, aku akan bunuh diri...
.
.
.
Jika Aline tengah hancur saat ini. Sangat jauh berbeda dengan Kanaya. Setelah dua hari dua malam berada di rumah sakit, Kini Kanaya akhirnya pulang.
Wanita itu bukan hanya pulang bersama Pak Yanto dan Ningsih. Tapi ada Tuan Wira juga disana.
Tuan Wira?
Ya, Tuan Wira yang saat itu mendapat kabar dari salah satu anak buah Morgan mengatakan bahwa Kanaya sudah melahirkan seorang bayi laki-laki. Kabar itu membuat Tuan Wira yang awalnya berniat hanya ingin melihat secara diam-diam kini berubah niatan. Pria paruh baya itu seakan tidak sabar ingin melihat cucunya secara langsung.
Alhasil, dengan alasan pekerjaan di luar kota. Tuan Wira berangkat dan menemui Menantu kesayangannya. Walau sudah bukan istri Aditya lagi, Tuan Wira tetap menganggap Kanaya adalah menantunya.
Kedatangan Pria beribawa tersebut tentu saja membuat Kanaya dan kedua orang tua angkat Kanaya terkejut. Terlebih Kanaya sempat ketakutan. Takut saja Tuan Wira datang untuk mengambil anaknya.
Namun setelah mendengarkan penjelasan Tuan Wira, Kanaya bisa tenang. Tuan Wira mengatakan ia datang bukan untuk membawa anak itu tapi hanya sekedar untuk melihat cucunya. Tuan Wira juga jujur jika dialah selama ini yang mengirimkan barang-barang itu. Mendengar penjelasan Tuan Wira, Kanaya pun percaya, Ia yakin mantan ayah mertuanya ini adalah pria yang baik.
"Siapa namanya..."Tanya Tuan Wira sembari menggendong bayi mungil itu dan mencium pipinya berkali-kali.
"Naya belum kasih nama pa..."Tuan Wira mengangguk.
"Eum.. bagaimana jika papa yag beri nama? kau tidak keberatan?"Kanaya tersenyum dan menggeleng
"Bagaimana kalau.. Alvaro Winanda....
.
.
.
Tbc
.... Kisah Kanaya tidak sampai disini, Kita lanjut sampai Nanti Kanaya mendapatkan tambatan hatinya.. Tentu mari kita buat Aditya tetap menyesal hingga akhir😁😁😁
tp kalo kamu pinter ya gk jd cerita ini 😆😆