Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 31: Abang Kintir Masuk Istana
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
“Hihihi…!” tawa tiga wanita separuh baya yang duduk di depan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Di saat Ratu Ani Saraswani sedang sibuk melakukan pertemuan terbatas dengan Mahapatih Badaragi dan beberapa menteri, Prabu Dira justru menjamu tiga orang emak-emak yang berstatus sebagai istri para pelaut yang lama tidak pulang-pulang, seperti Bang Toyip.
Ketiga emak-emak itu bernama Rinda, Nangita dan Subini. Mereka bertiga adalah teman sekaligus fans Prabu Dira yang tinggal di Ibu Kota. Mereka sangat gembira diundang langsung oleh Prabu Dira untuk datang ke Istana Pasir Langit. Mereka terlihat sangat akrab dengan sang raja, bahkan seolah-olah pemuda gagah berbibir merah di depannya bukanlah seoang prabu bagi mereka.
Prabu Dira mengundang ketiga sahabatnya itu sebelum dia pulang ke Sanggana Kecil bersama pasukan besarnya.
“Lapor, Gusti Prabu. Ketua Pengirim Lintas Dunia telah tiba!” lapor seorang prajurit yang datang.
“Persilakan dia masuk,” kata Prabu Dira.
“Baik,” ucap si prajurit.
Prajurit itu lalu menjura hormat dan beringsut mundur.
“Mohon maaf, Nyai-Nyai. Aku kedatangan Ketua Pengirim Lintas Dunia untuk membicarakan hal penting,” ujar Prabu Dira kepada ketiga tamunya.
“Tidak apa-apa, Gusti Prabu. Diusir pun kami gembira. Hihihi…!” kata Subini berseloroh, yang diikuti dengan tawa berjemaah.
“Tapi Gusti Prabu harus janji, suatu saat nanti kami akan diundang ke Istana Sanggana Kecil dan diperkenalkan dengan Gusti Ratu Tirana dan para permaisuri,” kata Nangita.
“Aku berjanji. Jika dalam enam purnama aku tidak mengundang kalian ke Sanggana Kecil, maka kalian datanglah sendiri,” kata Prabu Dira.
“Setuju, Gusti Prabu!” sahut Rinda cepat. Lalu katanya kepada kedua rekannya, “Ayo bangun, kita pamit!”
Sambil tertawa-tawa yang diiringi senyum Prabu Dira, ketiga wanita itu lalu menjura hormat dengan posisi bersimpuh di lantai.
“Terima kasih atas kedermawanan Gusti Prabu kepada kami yang hanya rakyat biasa,” ucap Rinda mewakili.
“Semoga kalian tidak bosan untuk masuk ke Istana,” kata Prabu Dira.
“Hihihi…!” tawa renyah ketiga wanita bersuami itu.
“Delik Rangka, pastikan mereka diantar dengan kereta kuda!” perintah Prabu Dira kepada Ketua Pasukan Hantu Sanggana yang juga berdiri standby.
“Baik, Gusti Prabu,” jawab Delik Rangka, pendekar bertubuh pendek bulat.
Delik Rangka pun bergerak.
“Silakan, Nyai-Nyai,” ucap Delik Rangka kepada ketiga tamu tersebut.
Ketiga wanita berdandanan mewah itu lalu berjalan meninggalkan Prabu Dira dengan dikawal oleh Delik Rangka.
Ketika tiba di salah satu koridor Istana, mereka berpapasan dengan seorang wanita cantik berwarna merah yang dikawal oleh empat lelaki. Yang berwarna merah bukanlah kulitnya, tetapi pakaian, kuku tangan dan bibirnya.
Wanita itu mengenakan baju model kebaya warna merah dengan busungan dada yang mantap. Kain bawahannya yang juga merah memiliki belahan tengah hingga tengah paha, yang ketika berjalan kedua kaki mulusnya bergantian menyeruak keluar dari tutupan kainnya.
Wanita cantik yang rambutnya diurai di sisi dada kanan tersebut tidak lain adalah Abang Kintir, wanita cantik pemilik dan pemimpin Pengirim Lintas Dunia.
Abang Kintir didampingi oleh dua anak buahnya, salah satunya adalah Kelingking Kembar yang sudah kenal dengan Prabu Dira dan para pendekarnya. Dua lelaki lainnya adalah prajurit kerajaan.
Melihat ada Kelingking Kembar yang dikenalnya, Delik Rangka memilih menepi dan menyempatkan diri berhenti.
“Hormatku, Ketua Delik,” ucap Kelingking Kembar sembari berhenti dan menjura hormat.
Penghormatan anak buahnya terhadap Delik Rangka, membuat Abang Kintir ikut berhenti dan memusatkan perhatiannya kepada lelaki gemuk dan ketiga wanita yang dikawalnya.
“Ini adalah Ketua Pasukan Hantu Sanggana yang mengawal pekerjaan pengiriman kayu dari Hutan Malam Abadi, Abang,” kata Kelingking Kembar kepada Abang Kintir.
Abang Kintir manggut-manggut dengan senyum tipis yang begitu cantik, tapi tidak imut, lebih terkesan seperti tante-tante muda yang berwibawa.
“Tidak aku sangka jika pemimpin Pengirim Lintas Dunia adalah seorang wanita yang sangat cantik,” puji Delik Rangka seraya menghormat ala pendekar.
“Tentunya tidak secantik ratu dan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Abang Kintir merendah.
“Hahaha!” tawa Delik Rangka. Lalu katanya, “Silakan, Ketua. Gusti Prabu sudah menunggu.”
Abang Kintir hanya mengangguk tersenyum. Delik Rangka melanjutkan langkahnya. Ketiga wanita yang bersamanya hanya mengangguk kepada Abang Kintir. Meski mereka satu kota dengan Abang Kintir, tetapi mereka tidak pernah bertemu dengan wanita cantik itu.
Abang Kintir melanjutkan langkahnya. Pada setiap jarak tertentu, mereka melewati prajurit jaga yang berdiri dengan tombak dan tameng.
Ketika Abang Kintir memasuki ruangan tempat Prabu Dira menunggu, dia sudah mendapat perhatian serius dari tatapan sang prabu sejak dari jauh. Demikian halnya dengan tatapan Riskaya.
Dengan senyum yang memiliki daya tarik kelelakian dan kewanitaan, Prabu Dira bangun dari duduknya dan melangkah maju meninggalkan kursinya menyambut kedatangan Abang Kintir. Sekedar informasi, senyum Prabu Dira memiliki daya tarik kewanitaan karena warna bibirnya merah terang meski tidak seterang bibir Abang Kintir.
“Selamat datang di istana istriku, Abang Kintir!” sambut Prabu Dira.
Disambut sehangat dan semanis itu oleh seorang prabu yang tampannya keterlaluan dan saktinya selangit, jelas membuat Abang Kintir merasa tersanjung dengan perasaan berkembang-kembang.
“Sembah hormatku kepada Gusti Prabu Dira,” ucap Abang Kintir sambil turun menekuk lututnya yang membuat tingginya merendah dan kedua telapak tangan dia pertemukan di depan dahi. Posisinya memberi sedikit sang prabu pemandangan belahan dada.
“Bangunlah, Abang. Aku sudah menunggu kedatanganmu sejak kemarin,” ujar Prabu Dira sekedar basa basi, tapi membuat hati Abang Kintir bahagia karena merasa dinantikan alias dirindukan.
“Terima kasih atas undangan Gusti Prabu kepada diriku yang hanya seorang pengusaha biasa,” ucap Abang Kintir dengan senyum yang lebar.
“Jika tidak aku undang datang, orang-orang di Ibu Kota dan di Istana tidak akan tahu bahwa ada seorang wanita cantik yang tinggal tidak jauh dari mereka,” kata Prabu Dira.
“Hahaha!” tawa keras Abang Kintir mendengar gombalan raja muda itu.
“Hahaha!” tawa Prabu Dira pula mengimbangi suasana. Lalu katanya setelah tawa tamu cantiknya mereda, “Silakan duduk, Abang.”
Tidak seperti ketiga tamu wanita sebelumnya yang duduk lesehan di lantai, Abang Kintir disediakan kursi yang sama tinggi dengan kursi Prabu Dira. Sang prabu tahu, jika Abang Kintir dibiarkan duduk di lantai, maka pahanya akan menyeruak ke mana-mana. Dengan duduk di kursi, setidaknya paha lepas kendali itu bisa dikurangi setengah porsi, sehingga terlihat lebih feminim.
Duduklah Abang Kintir di kursi yang posisinya di depan tapi agak ke kanan dengan arah hadap miring kepada sang prabu. Sementara Kelingking Kembar dan rekannya berdiri agak jauh, agar tidak merusak keindahan ketika Prabu Dira memandang Abang Kintir. Sebelumnya mereka berdua sudah di-briefing oleh Abang Kintir mengenai masalah kecil itu.
“Setelah pertemuan ini, aku akan kembali ke Sanggana Kecil bersama pasukanku, tentunya aku akan memanfaatkan waktu yang sempit ini. Aku membutuhkan belerang dalam jumlah banyak untuk pembuatan kapal di Pantai Pendek dalam waktu secepatnya,” ujar Prabu Dira.
“Ada beberapa tempat. Yang terdekat adalah Gunung Dewi Runa yang bisa kita lihat dengan jelas dari Istana ini. Namun, posisinya agak memutar dan itu tidak ada yang mengelola karena gunung itu dikuasai oleh orang sakti. Aku tidak tahu siapa yang berkuasa di Gunung Dewi Runa. Yang kedua ada di Gunung Ramping di Kerajaan Teluk Busung….”
“Untuk sementara aku ingin mengambil di Teluk Busung karena mereka adalah sekutu Sanggana Kecil. Aku mengenal siapa orang yang menguasai Gunung Dewi Runa, tapi aku perlu waktu untuk pergi menemuinya. Aku harus pulang ke Sanggana Kecil dan menikahi calon selirku. Jadi aku akan mengirim utusan ke Teluk Busung dan menyepakati cara pengiriman denganmu,” kata Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu,” kata Abang Kintir.
“Ketika aku pergi ke Gunung Dewi Runa, aku ingin kau ikut agar penguasa gunung itu bisa mengenalmu. Bagaimana?”
“Dengan senang hati,” jawab Abang Kintir seraya tersenyum manis dengan tatapan yang berani menatap mata Prabu Dira, meski membuatnya berdebar indah. (RH)