Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Enam
Aruna yang sedang berjalan menuju kamarnya, berhenti tiba-tiba ketika melihat laba-laba besar tergantung di hadapannya. Mia yang mengikutinya dari belakang refleks berteriak ketakutan hingga jatuh terduduk di belakang. Sementara Aruna menghela nafas dengan tatapan datar, bersedekap santai tanpa rasa takut. Tak perlu cari tahu juga Aruna sudah tahu siapa pelakunya.
Tak lama suara tawa khas anak lelaki terdengar dari sudut ruangan lain, terdengar begitu puas sekali.
"Rasakan! Kau takut, kan? Hahahahahahaha!" anak lelaki itu terus tertawa sembari keluar dari persembunyiannya. Namun, tawanya berhenti saat melihat Aruna ternyata tidak bereaksi dan baru sadar jika yang berteriak tadi adalah Mia, pelayan gadis itu.
Antares Danu Adijaya, anak ketiga dari keluarga Adijaya yang berusia 13 tahun. Menatap Aruna yang hanya diam saja. Ini bukan pertama kalinya, Antares memang senang mengerjainya dengan berbagai macam hal hingga dulu membuat Aruna pernah sampai menangis ketakutan dan berakhir demam.
Kejahilan-kejahilan Antares tak bisa di bilang normal karena terkadang melewati batas. Pernah sekali karena ulahnya, Aruna sampai jatuh ke kolam renang dan tenggelam. Kalau saja Sammy tidak sigap menyelamatkannya, mungkin Aruna sudah meregang nyawa saat itu. Sementara Antares sendiri tak perduli dan malah pergi begitu saja.
Mengingatnya lagi membuat darah Aruna mendidih. Maka ia menarik laba-laba mainan itu lalu menjatuhkannya di lantai dan menginjaknya hingga hancur.
KRAK!
Antares melotot melihat mainannya di hancurkan.
"Apa yang kau lakukan?! Aku baru membelinya!" teriak Antares tidak terima.
"Ops! Aku tidak sengaja menginjaknya," ucap Aruna dengan senyuman tipis tak berdosa.
"Kau! Cepat berlutut minta maaf!"
Sebelah alis Aruna naik, "Itu salahmu sendiri. Kenapa aku yang minta maaf? Bukankah seharusnya kau yang minta maaf karena membuat Mia sampai ketakutan?"
Antares mendesis dan menatap tajam Aruna kesal, "Hah! Beraninya kau! Sekarang kau menunjukkan sifat aslimu! Tch! Seharusnya Ayah tidak mengadopsi anak yatim piatu sepertimu!" pekiknya kuat.
Hening.
Aruna hanya diam dan membuat Antares seolah menyadari kesalahannya. Anak itu langsung merasa bersalah dan merubah raut wajahnya.
"Ar-Aruna, aku tidak—"
"Ya, kau benar. Seharusnya aku tidak di adopsi oleh keluargamu. Aku tahu kau tidak suka denganku begitu pun lainnya. Meski sudah 2 tahun aku di adopsi, aku tidak pernah sekalipun melupakan jati diriku yang sebenarnya. Kau tenang saja, saat usiaku sudah legal nanti aku akan pergi dari rumah ini. Jadi, selama itu, aku mohon bertahan sedikit lagi denganku, Tuan Muda Antares," final Aruna dan langsung pergi menuju kamarnya diikuti Mia dari belakang.
Sementara Antares terkejut mendengar penuturan Aruna barusan. Ia sampai tak bisa berkata apa pun dan hanya terdiam seperti orang bodoh di sana. Dia memang tidak menyukai kehadiran Aruna, makanya kerap kali mengerjai anak itu. Tapi mendengar Aruna akan pergi, kenapa ia merasa begitu berat? Bukankah seharusnya ia senang karena Aruna merebut posisi adik kesayangannya?
Tanpa sadar Antares berdecak jengkel dan langsung pergi begitu saja.
***
Ketika di kamar, Sammy datang sembari membawakan makanan juga seragam baru untuknya. Aruna menerima seragam itu tapi menatap makanan di piring dengan raut wajah bingung.
"Ini apa?" tanyanya.
"Daging steak dengan saus—"
"Aku tahu. Maksudku kenapa membawa ini ke sini?" potong Aruna cepat.
"Saya hanya menjalankan perintah Tuan Besar, Nona. Beliau cemas karena anda hanya makan sedikit tadi," jelas Sammy.
Aruna hampir tertawa mendengar ucapan Sammy, tapi ia dapat menahannya dengan baik.
Cemas padanya? Sejak kapan pria berhati dingin itu mencemaskannya? Bahkan ketika ia meregang nyawa di tangan Carlo, sang Ayah tidak datang untuk menolongnya meski ia sudah memohon.
"Bawa kembali," titah Aruna.
"Tapi, Nona—"
"Dan katakan padanya, ia tak perlu mencemaskan anak angkat sepertiku. Aku takkan mati hanya karena tidak menghabiskan makan malamku, jadi tak ada yang perlu di cemaskan."
"Nona, Tuan besar benar-benar merasa cemas dengan anda."
"Setelah 2 tahun? Katakan Sammy, jika kau di posisiku, apa kau akan langsung menerima begitu saja?"
Hening.
Pria tua itu tak bisa mengatakan apa-apa karena memang ia tahu bagaimana Aruna di perlakukan. Memang tidak di perlakukan kasar, tapi sikap mereka begitu dingin kepada gadis kecil yang seharusnya di beri kasih sayang dan di lindungi. Melihat perubahan Aruna saat ini sejujurnya tidak membuat Sammy kaget, karena ia berfikir mungkin saja anak itu lelah dan berhenti mencari afeksi dari mereka.
Aruna menghela nafas, "Keluarlah dan bawa kembali makanannya. Aku lelah dan ingin tidur sekarang."
"Baiklah, selamat istirahat, Nona."
Sammy tidak mengatakan apa pun lagi dan menurut. Berjalan keluar dari kamar dengan piring di tangannya.
***
Esok paginya, Aruna terbangun tepat ketika alarm ponselnya berdering. Jika biasanya ia akan langsung bergegas untuk bersiap, kali ini anak itu hanya diam masih dengan posisi yang sama.
Tok..tok..
"Nona, ini saya Mia. Anda sudah bangun?"
Aruna bangun terduduk dengan kuapan kecil, "Ya."
Cklek.
Mia masuk dengan seragam Aruna yang sudah di seterika rapi lalu di gantung di dinding kamar. Kemudian membuka tirai jendela hingga sinar matahari merembes masuk dan menerangi kamarnya, lalu masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk anak itu. Sementara Aruna hanya terduduk sembari menekuk kedua kakinya, menatap ke arah jendela kamar dengan pikiran kosong.
"Nona, air mandinya sudah siap."
Aruna langsung turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Hanya butuh waktu satu setengah jam bagi Aruna untuk bersiap-siap dengan seragam sekolahnya.
Tok..tok..
"Nona, ini saya Sammy."
"Masuk."
Cklek.
"Selamat pagi, Nona," sapa Sammy sopan dengan senyuman tipis andalannya.
"Ada apa?"
"Anda sudah ditunggu untuk sarapan bersama, Nona."
Pergerakan Aruna yang sedang menaruh buku-buku ke dalam ransel langsung berhenti, menoleh ke arah Sammy dengan tatapan datar.
Sekarang mereka menunggunya? Kemarin saat ia sudah menunggu, kemana mereka semua?
Menggelikan.
"Katakan aku tidak ikut sarapan dan kedepannya mereka tak perlu menungguku seperti ini karena aku takkan ikut sarapan dengan mereka," jelas Aruna.
"Tapi anda butuh sarapan untuk aktivitas di sekolah, Nona."
"Aku bisa mengurus itu. Aku pergi," kata Aruna yang langsung berjalan keluar begitu saja. Ketika melewati ruangan makan, anak itu tidak berhenti sama sekali atau bahkan menoleh hanya untuk mengucapkan selamat pagi. Tentu saja Elvio beserta Alvaro menyadarinya dan mereka hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa pun.
"Selamat pagi, Nona Aruna!" sapa Marco yang merupakan sopirnya.
Aruna tersenyum tipis, "Pagi juga. Kau tampak senang hari ini."
Marco tersenyum lebar, "Karena anda bersedia saya antar lagi~"
Tak di sangka tawa Aruna pecah, "Terima kasih karena masih bersedia mengantarku."
"Itu sudah tugas saya, Nona!"
Tanpa mereka sadari, Elvio melihat interaksi keduanya dari balik ruangan kantornya. Mengingat kembali dulu saat anak itu tersenyum lebar ketika melihatnya dan memanggilnya 'Ayah'. Tapi sekarang Aruna benar-benar berubah.
Dan ia tak suka dengan perubahan itu.