Seorang pemuda yang selalu mengalami mimpi buruk berperang di alam kuno, terpilih menjadi seorang penguasa semesta. Terpilihnya sang pemuda itu bukan hanya berkaitan dengan mimpinya saja, ia juga harus menjalankan karma dari gurunya semasa menjadi sang legenda pedang.
Pemuda itu bernama Ucup Rekber, seorang pemuda biasa yang akan menjalankan misi merekonstruksi alam cultivator dari kehancuran yang disebabkan oleh pertarungan kedua makhluk agung yaitu Penguasa Iblis versus Dewa Matahari yang terjadi di masa lampau.
Berbekal pedang aneh dan berbagi tubuh dengan jiwa seorang pangeran, Ucup Rekber harus menyelesaikan misi untuk bisa kembali ke dunia asalnya.
Novel ini berkaitan dengan novel berjudul “Takdir Pedang Sang Iblis”.
Yuk, menjadi saksi petualangan si Ucup Rekber di dunia cultivator dengan menjadikan karya ini sebagai bacaan favorit kalian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragis
“Tunggu …!” Terdengar suara melengking dari seorang wanita yang tidak tahan lagi melihat suaminya akan dieksekusi.
“Aku mohon kepadamu, Tuan Besar … tolong ampuni suamiku!” lirih Ratu Luo Yun memintanya.
Beberapa anggota sekte tertawa terbahak-bahak mendengarnya dan berbungalah hati mereka melihat kecantikan dan kemolekan tubuh sang ratu. Pria besar menyeringai dingin dan memasukkan kembali pedangnya. Ditatapnya lekat-lekat kemolekan tubuh sang ratu lalu dengan sekali tarikan cepat dan bertenaga, tubuh sang ratu berhasil didekapnya dengan erat.
“Ha-ha-ha! Sungguh cantik dan wanginya … hem, menggairahkan!” Tanpa segan-segan lagi, si pria besar langsung menciumi dengan kasar dan brutal seluruh wajah dan bibir Ratu Luo Yun yang tersentak, malu bercampur jijik, dan ketakutan yang menggerogoti hatinya hanya terbelalak pucat meratapi nasib.
Ratu Luo Yun memiliki wajah yang cantik dan kharisma yang memikat sebagai seorang ratu. Biarpun usianya sudah tidak lagi muda, tetapi tubuhnya sangat terawat dengan baik dan terlihat seperti seorang wanita muda yang memesona siapa pun yang memandangnya. Bahkan, kedua putrinya pun merasa iri dengan pesona sang ratu.
Tidak puas hanya menciumnya saja, si pria besar merobek paksa kain yang menutupi tubuh sang ratu. Kini, terpampanglah kemulusan kulit sang ratu yang tersingkap di bagian atasnya. Ratu Luo Yun bergerak cepat menutupinya dengan melingkarkan kedua tangan.
Para anggota sekte kembali tertawa keras menyaksikan si pria besar menggumuli sang ratu seolah tidak ada orang lain yang berada di ruangan. Sedangkan semua keluarga kekaisaran tak kuasa lagi melihatnya, mereka menundukkan kepala menahan tangis dan kebencian yang terpatri di dalam lubuk hati menyaksikan salah seorang keluarganya diperlakukan dengan biadab oleh si pria besar.
Sementara itu di sudut ruang, Ucup merutuki diri melihat adik monsternya terbangun setelah dirinya melihat kemulusan kulit sang ratu.
“Sialan kau, Somplak. Di mana empatimu? Kondisi seperti ini, mengapa kau malah bangun?” rutuk Ucup memarahi adik monsternya yang nirakhlak.
“Tak perlu memarahi adikmu itu, Lord Ucup. Tariklah pedangmu untuk mengeksekusi mati semua anggota sekte,” kata Pangeran Xiao Li Dan.
Ucup menyeringai lalu menarik energi pedang dari adik monsternya.
“Tuan … ampun! Tuan …!” Ratu Luo Yun begitu sulit berbicara karena mulutnya selalu disumpal dengan mulut si pria besar yang tidak henti-hentinya terus menciumi sang ratu dengan begitu kasar.
Mendidih hati Ucup menyaksikan kebiadaban dari pria besar yang memperlakukan sang ratu dengan begitu keji.
“Tahan sebentar, Lord Ucup!” kata Pangeran Xiao Li Dan memintanya.
“Apalagi yang harus aku tunggu?!” balas Ucup tidak sabar. Ia begitu muak melihat perlakuan keji si pria besar.
“Para tetua sekte sedang kemari, kita lihat saja apa yang mereka lakukan. Tenanglah!” timpal Pangeran Xiao Li Dan memberi tahu.
“Baiklah, kalau sampai pria itu menyentuh bagian berharga sang ratu, aku tidak akan segan lagi untuk memenggal kepalanya,” kecam Ucup terpaksa menahan diri.
“Hei … kau sedang apa, Bajingan!?” Suara lantang penuh ancaman terdengar dari ambang pintu masuk.
Semua orang menoleh ke arah pintu melihat sosok pria tua yang kedua matanya menatap tajam si pria besar. Mendapatkan tatapan mengerikan dari pria tua yang merupakan ketua sekte, si pria besar langsung melepaskan tubuh Ratu Luo Yun dari dekapannya.
“Maafkan aku, Ketua. Aku hanya mengintrogasinya,” ujar si pria besar beralasan.
Wuzz! Sret!
Tiba-tiba saja kepala si pria besar terlepas dari lehernya dan jatuh menggelinding di depan Ratu Luo Yun. Tanpa peduli dengan keberadaan ketua sekte, Ratu Luo Yun menginjak keras kepala si pria besar yang telah melecehkannya.
“Maafkan aku, Nyonya. Anak buahku melakukan tindakan tidak terpuji kepadamu,” ujar Ketua Sekte berjalan menghampiri, namun tatapannya terus saja tertuju pada gumpalan sang ratu.
Ratu Luo Yun membalasnya dengan tatapan sinis dan penuh kebencian. Ia mendengus kesal lalu melemparkan saliva tepat ke wajah Ketua Sekte yang seketika terperanjat karenanya.
Plak!
“Kurang ajar, kau!” geram Ketua Sekte tidak menerimanya lalu mencekik leher sang ratu.
Ratu Luo Yun gelagapan dengan wajah yang pucat. Kedua tangannya dengan kuat menarik tangan Ketua Sekte Serigala, Sein Khan An untuk melepaskannya. Namun, sekuat apa pun tenaga sang ratu, tidak sekalipun tangan Sein Khan An terlepas dari lehernya.
“Bersihkan dengan lidahmu atau aku akan melakukan tindakan keji kepada anakmu!” ancam sang ketua sekte.
Ratu Luo Yun tidak melakukannya, ia terus diam dengan memelototi sang ketua sekte. Hal itu membuat sang ketua sekte memiliki rencana lain.
“Ah, berarti kauingin melihatku bersenang-senang dengan anakmu yang sangat cantik itu. Ha-ha! Tahukah kau, aku sudah memilihnya untuk menjadi pelampiasan hasratku sejak kalian tertangkap?” kata Sein Khan An sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia kemudian meminta anak buahnya untuk menarik Putri Zhao Ning ke hadapannya.
“Aduhai, kau lebih cantik dari ibumu yang binal!” puji Sein Khan An begitu melihat dari dekat wajah sang putri. Ia lalu menukar Ratu Luo Yun dengan Putri Zhao Ning.
“Kau pun terlihat begitu ranum di usiamu yang lagi matang-matangnya, ah, aku sudah tidak sabar menikmatinya!” ujar Sein Khan An memujinya dengan penuh nafsu.
“Dasar Kakek Sugiono!” kata Ucup berkomentar.
Sein Khan An menoleh ke arah anak buahnya dan berkata, “Bawakan aku arak!”
Tak lama kemudian, sebotol arak berukuran besar diserahkan ke tangan Sein Khan An yang langsung menggigit penutup botol dan menuangkannya secara kasar ke mulut sang putri yang menutup rapat mulutnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Akan tetapi, Sein Khan An tidak membiarkannya sia-sia, ia memaksa sang putri untuk membuka mulut dengan menuangkannya ke hidung. Putri Zhao Ning gelagapan dibuatnya. Wajahnya begitu merah dan pakaian yang dikenakannya menjadi basah dikotori arak.
Tetua Sekte Sein Khan An terpesona melihat tubuh di balik kain basah yang menutupinya. Lidahnya keluar memelet penuh nafsu.
“Brother Xiao, sudah cukup untukku menahan diri,” kata Ucup yang tidak kuasa menahan emosinya.
Namun, belum sempat Ucup bergerak, Pangeran Zhao Peng dan Pangeran Zhao Tan berhasil merebut pedang dan melepaskan diri dari kawalan anggota sekte. Keduanya langsung berlari untuk menyelamatkan sang putri dari cengkraman Sein Khan An. Sayangnya, aksi keduanya dilakukan pada waktu yang salah, dua orang anggota sekte yang bertubuh tinggi besar dengan sigap melompat dan dengan keras mencengkram leher kedua pangeran dari belakang.
Krak!
“Ah!” jerit kedua pangeran merasakan sakit di leher belakangnya yang hancur dicengkram oleh pria bertubuh besar.
Kepala keduanya terkulai layu tanpa tulang dan kedua pangeran pun menutup mata. Setelah berhasil mengatasi kedua pangeran, kedua pria besar itu melemparkan tubuh keduanya kembali ke barisan keluarga kekaisaran yang duduk dengan tubuh menggigil menyaksikannya.
Belum sampai nyawa di kerongkongan kedua pangeran, Ucup menjentikkan jari menyembuhkan leher keduanya.
“Brother Xiao, bisakah aku membunuhnya tanpa harus meledakkannya?” tanya Ucup.
“Selama energi semesta tersegel, tebasanmu tidak akan meledakkan musuh,” sahut Pangeran Xiao Li Dan.
Ucup mengangguk dan langsung berkelebat mendekati Sein Khan An lalu menghunuskan ujung pedangnya tepat di kening sang ketua sekte yang masih mencengkram tubuh Putri Zhao Ning.
Sret!
Setelah bilah pedang menembus kepala sang ketua sekte, Ucup kembali menariknya dengan begitu pelan. Sontak saja, Sein Khan An merasakan perih di keningnya dan suara mengorok terdengar berat dari kerongkongannya. Tak lama berselang, sang ketua sekte mengembuskan napas terakhirnya dengan darah yang merembes keluar dari keningnya.
“A … apa yang terjadi pada Ketua?” tanya beberapa anggota sekte terperangah melihatnya.
Ucup tersenyum puas melihat reaksi semua anggota sekte yang menggigil ketakutan melihat kematian tragis ketuanya.
“Kalian tanyakan saja kepada ketua kalian di neraka,” kata Ucup berkelebat menebaskan pedang membantai semua anggota sekte yang masih menggigil ketakutan.
Aku jadi geli 🤣
Salam somplak dan see you.🙏
Tertanda,
UCUP REKBER 😁