Gadis cantik berpenampilan culun bernama Diana sarasvati, dia sudah beberapa kali pindah sekolah karena ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak sekali siswa laki-laki di sekolah lamanya yang menyukainya karena kecantikannya, dan membuat dia dimusuhi oleh teman wanitanya. Untuk menghindari hal tersebut dia merubah penampilannya menjadi culun, dan menjadi siswa baru di SMA Nusa Bangsa. Ternyata di sekolah baru bukan menyelesaikan masalah justru karena penampilannya yang seperti orang culun, banyak teman yang membullynya.
Ada seseorang teman laki-laki tampan namanya Galen Ray Suhendra. Dia salah satu siswa yang mau berteman dengan Diana, dan membela Diana saat dibully.
Untung saja Diana siswa yang pandai, dan karena kecerdasannya itu mengharumkan nama sekolah. Dan semenjak itu dia mulai mempunyai teman banyak, walaupun masih ada yang tidak suka dan membully.
Mari kita simak bagaimana perjuangan Diana menghadapi teman- temannya, apakah Diana akan merubah penampilannya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Diana ikut menerima hukuman bersama Siska, Maura dan Cika. Padahal tadi Maura sudah menjelaskan kepada guru, kalau Diana tidak bersalah.
Satpam sekolah meminta semuanya dihukum karena, mereka berempat yang ada di tempat itu. Beliau melakukan semuanya, agar adil dan tidak terjadi masalah nantinya.
Hukuman mereka berempat adalah merapikan buku yang ada di perpustakaan, dengan senang hati Diana membantu sambil membaca sampul buku hingga membuatnya lama dalam menata buku.
Guru yang mengawasi Diana sampai menegurnya, tetapi Diana hanya menganggukkan kepalanya. Soal buku Diana memang sangat suka, dan selalu tertarik untuk membaca.
"Culun, cepetan!" bentak Siska yang sedang menata buku dengan cepat tetapi tidak rapi.
"Siska, ini bukunya bagus lho untuk belajar matematika. Aku punya di rumah buku seperti ini," ucap Diana menunjukkan buku yang hendak dia taruh di rak.
Penjaga perpustakaan memperhatikan mereka berempat sambil tersenyum, dia sangat senang melihat siswa yang seperti Diana karena paham tentang buku. Beliau lalu memanggil Diana mengajaknya untuk membicarakan soal buku, sehingga Diana tidak jadi merapikan buku.
"Sis, lihat tuh Culun! malah asyik ngobrol bukannya bantu kita," ucap Cika menunjukkan keberadaan Diana yang saat ini sedang duduk bersama penjaga perpustakaan.
"Gue udah tau! minta diberi pelajaran dia," kata Siska.
Maura dari tadi hanya diam, tidak ikut membicarakan Diana. Dia sudah tidak mau berbuat jahat lagi pada Diana, karena tidak ada untungnya.
Cika menyuruh Maura memikirkan ide untuk mengerjai Diana, tetapi ia menolak dan membuat Siska dan Cika marah. Mereka berdua meninggalkan Maura sendiri di perpustakaan, padahal buku yang mereka rapikan masih banyak.
"Bu, saya bantu Maura dulu ya! kasihan dia sendiri, sepertinya Siska dan Cika sudah pulang," kata Diana.
Penjaga perpustakaan kemudian menyuruh Diana dan Maura untuk pulang, beliau juga hendak pulang karena sudah habis jam kerjanya.
"Maura, kamu pulang sama siapa? Papah ku udah jemput itu," kata Diana melihat Papah Edo yang berdiri di dekat mobil sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku sendiri, Diana. Kamu pulang duluan gak papa," ucap Maura.
Melihat wajah Maura yang seperti sedang sedih, Diana menjadi tidak tega meninggalkannya. Diana kemudian mengajak Maura untuk pulang bareng, agar diantar oleh Papah Edo.
Karena Diana terus memaksa akhirnya Maura mau ikut pulang bareng, tetapi ditengah perjalanan Maura meminta agar diantar ke rumah sakit. Dia mengatakan kalau Mamahnya sedang sakit, Papah Edo pun menuruti permintaan Maura.
Sampai di depan rumah sakit Maura meminta berhenti, padahal Papah Edo hendak mengantarkannya sampai dalam rumah sakit.
"Om, Diana, terimakasih banyak ya! Maura turun di sini saja," ucap Maura.
"Kenapa turun disini? kita ikut masuk ke dalam, sekalian jenguk Mamah kamu," kata Papah Edo.
"Iya, Maura! kita juga ingin melihat keadaan Mamah kamu," sahut Diana.
Maura tidak menyangka akan mempunyai teman sebaik Diana, sebenarnya dia malu karena pernah berbuat jahat pada Diana. Maura sangat terharu dengan kebaikan Papah Edo dan Diana, dia baru sadar ada orang sebaik ini.
Diana dan Papah Edo terus memaksa Maura untuk mengantarkannya sampai dalam, padahal hari ini Papah Edo ada pekerjaan penting. Beliau lebih memilih menjemput putrinya dan mengantarkan temannya.
Di sebuah ruangan wanita paruh baya terbaring lemah, dengan keadaan selang infus menancap di tangannya. Wanita itu adalah Mamah Maura, beliau sendiri tidak ada yang menemani. Selama sakit hanya Maura yang peduli dengannya, walaupun Maura mempunyai seorang kakak tetapi kakaknya tidak peduli. Papah Maura saat ini sedang berada di luar negeri, jadi tidak bisa mendampingi istrinya yang sedang sakit.
"Maura, kamu bawa teman," ucap Mamah Maura dengan suara khas orang sakit.
"Iya, Mah! kenalkan ini Diana dan Papahnya," ucap Maura.
Mamah Maura memuji kecantikan Diana, beliau juga berterimakasih pada Papah Edo dan Diana. "Mana Siska dan Cika? kenapa mereka tidak ikut," ucapnya.
"Mereka tidak tau kalau Mamah sakit, jadi tidak ikut, Mah," ucap Maura.
Mamah Maura pun diam, dia tidak berkata-kata lagi. Beliau tau kalau saat ini Maura sedang menjauhi mereka, karena kejadian beberapa hari yang lalu.
Waktu itu pulang sekolah Siska dan Cika mampir ke rumah Maura, mereka bertiga berenang bersama di kolam. Siska dan Cika mengajak Maura untuk berbuat jahat pada salah satu teman mereka di sekolah, yang tak lain maksud mereka Diana.
Mamah Maura mendengar rencana mereka, lalu menegur agar tidak berbuat jahat. Siska dan Cika meminta agar Mamah Maura tidak ikut campur, bahkan mereka juga mengeluarkan kata-kata tidak sopan. Ketika mereka berdua sudah pulang, giliran Mamah Maura bertengkar dengan Maura.
Keesokan harinya Mamah Maura langsung jatuh sakit, beliau sedih merasa sudah gagal mendidik anaknya hingga berbuat jahat dengan temannya.
Melihat keadaan Mamahnya Maura sangat merasa bersalah, dia berjanji tidak akan berbuat jahat lagi asal Mamahnya memaafkan kesalahannya.
Papah Edo kemudian mengajak Diana pulang, karena beliau juga harus balik ke kantor lagi. Padahal saat ini sudah sore hari, tetapi ada berkas penting yang harus segera beliau tanda tangani.
Sampai di rumah seperti biasa, Mamah Airin sudah menunggu kedatangan anak dan suaminya di teras rumah sambil menyirami tanaman.
"Papah, Diana! kenapa baru sampe rumah? Mamah khawatir tau gak," ucap Mamah Airin sembari mengerucutkan bibirnya.
Papah Edo lalu mengajak istrinya masuk ke dalam rumah, lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Beliau juga berpamitan hendak ke kantor lagi.
"Pah, makan dulu," ucap Mamah Airin.
"Buru-buru, Mah! nanti saja," ucap Papah Edo.
Setelah Papah Edo pergi, Mamah Airin pergi ke kamar Diana. Beliau menanyakan soal Maura, karena setau Mamah Airin anaknya tidak mempunyai teman dekat.
"Diana, Maura beneran teman kamu? kenapa tidak pernah cerita," ucap Mamah Airin.
"Teman satu kelas, Mah! tapi baru kemarin dia baik," ucap Diana.
"Oh... baguslah! sekarang kamu punya teman," kata Mamah Airin.
Beliau sebenarnya kasihan dengan Diana, yang selalu dibully, padahal tidak pernah jahat ke orang. Jadi Mamah Airin sangat senang jika ada teman Diana yang baik, dan mau berteman dengan Diana. Apalagi sekarang Diana berpenampilan culun, membuatnya semakin susah mendapatkan teman.
"Diana, lebih baik kamu ubah penampilanmu! biar kamu banyak teman," ucap Mamah Airin.
"Gak, Mah! justru dengan penampilan Diana seperti ini, Diana bisa lihat mana teman yang baik," kata Diana sembari merapikan rambutnya yang diikat dua.
Apa kata Diana memang ada benarnya, tetapi Mamah Airin tidak setuju dengan pendapat Diana. Beliau ingin putrinya berpenampilan seperti dirinya sendiri, bukan orang lain.
"Mamah gak mau tau, pokoknya besok penampilan kamu harus berubah!" ucap Mamah Airin dengan tegas.
jangan ngancam donk ray
jangan di sembunyikan dan di zholimi mulu ....