Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut, cemas dan ...
Langkah kaki yang tampak tergesa-gesa itu berjalan menuruni tangga. Melangkah cepat menuju ruang makan. Yang mana, di sana sudah ada banyak orang yang dudu sembari tertawa. Tawa itu pecah karena tingkah gemas kedua balita mungil yang menggemaskan.
Tio sampai di ruang makan tersebut. Matanya langsung mengarah kepada sang Papa yang duduk santai sembari menggoda Azzam yang makan belepotan. Bocah gembul itu memasukkan ayam goreng ke mulutnya, dan memakannya dengan lahap.
"Kamu kenapa, Ti? Kok ngos-ngosan?" Risma bertanya saat ia melihat wajah Tio yang panik, dan juga napasnya yang terdengar tidak beraturan.
Tio duduk di dekat papanya. Dan di sebelahnya ada Aneska yang sedang membantu menyuapi Azzura.
"Tidak ada apa-apa, Ma," jawab Tio. Ia menatap papanya kemudian menggeleng. Dan pria paruh baya itu hanya menghela napas panjang.
Acara makan malam bersama itu berlangsung hangat. Kehadiran dua malaikat kecil di tengah-tengah mereka, membuat suasana jadi semakin menyenangkan.
Walaupun Tio terlihat santai, tapi itu jelas berbeda dalam hatinya. Ia kini sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Tentang tantangan papanya, agar ia segera mengatakan perasaannya pada Aneska.
Makan malam sudah usai. Aneska juga sudah seperti menidurkan kedua buah hatinya. Di rumah besar itu, ada kamar yang dirancang khusus untuk meraih berdua. Jadi mereka tidak tidur bersama dengan Aneska lagi.
"Kak Tio yakin baik-baik saja?" Aneska yang semulanya baru keluar dari kamar Azzam dan Azzura, melihat Tio yang tidak fokus pada langkahnya.
Mendengar suara Aneska, Tio langsung mengangkat kepalanya. Ia kemudian menggeleng dan tersenyum tipis.
"Kamu sebaiknya langsung istirahat, An. Kamu pasta lelah karena bekerja full hampir seminggu ini." Tio mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Aneska melirik kegelisahannya. Dan membuat wanita itu menjadi tempat nyaman.
Aneska kemudian tersenyum. Ia menatap lama wajah Tio yang tampak muram sejak tadi. Sebenarnya, saat Aneska menidurkan kedua buah hatinya tadi, Azzura yang meminta rasa ingin tahu yang tinggi, tiba-tiba saja menanyakan tentang hubungannya dengan Tio.
"Ma? Kenapa Mama dan Papa tidak tidur di kamar yang sama seperti Oma dan Opa?" Kalimat tanya itu tentu saja membuat Aneska terdiam. Terlebih saat mendengar celetukan Azzam.
"Apa Papa dan Mama terus bertengkar, sehingga tidak mau tidur di kamar yang sama? Tapi ... kami lihat, kalian tidak bermusuhan."
Aneska tidak tahu, kata-kata apa yang harus ia ucapkan, untuk menjawab pertanyaan kedua buah hatinya tersebut. Dan akhirnya, hanya sebuah senyuman dan perintah untuk memejamkan mata, yang keluar dari kedua sudut bibirnya tersebut.
"Kakak yakin, tidak ingin mengatakan apapun padaku? Mungkin saja aku bisa bantu, jika kak Tio mengatakan masalahnya?" Aneska masih berusaha untuk bertanya, tapi gelengan Tio membuatnya mengangguk mengerti.
"Oke, sebaiknya aku tidur. Selamat malam, Kak," ucap Aneska, sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya menjauh dari sana.
Dan seiring dengan langkah kaki yang mulai menjauh, Tio mengusap wajahnya dengan kasar. Hingga saat Aneska yang hampir sampai di depan pintu kamarnya, terhenti saat Tio memanggil namanya.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tio menatap Aneska penuh harap, membuat wanita tersebut menjadi heran. Aneska lalu mengangguk. Lagi pula ini belum terlalu larut.
Tio membawa Aneska menuju balkon rumah besar itu. Dengan pintu kaca yang menjadikan pintu keluar masuk.
Aneska mendudukkan dirinya pada sebuah kursi rotan yang ada di sana. Disebelahnya ada Tio yang sedang menatap jauh ke depan. Pemandangan kota, pada malam hari seperti ini tampak indah.
"Jadi ... Kak Tio ada masalah apa?" Aneska bertanya saat Tio yang tampak ragu-ragu memulai pembicaraan. Laki-laki itu juga menggoyangkan kakinya, pertanda kalau dirinya sedang gugup.
Tio menghela napas berat, kemudian ia menatap Aneska lama.
"Ada sesuatu yang sangat penting, yang ingin aku katakan sama kamu, An." Tio memulai pembicaraan. Jantungnya berdegup kencang. Menatap manik mata Aneska yang menunggunya, mengatakan kalimat selanjutnya.
Menghela napas berat, mengumpulkan keberanian, serta perasaan pasrah diri akan reaksi Aneska nanti, akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Tio. Sebuah kalimat, yang bisa saja membuat hubungan mereka jadi berubah untuk kedepannya.
Entah kalimat itu akan mendapatkan sebuah jawaban penolakan atau kata terima, tapi Tio sudah berpasrah diri.
"Aku mencintai kamu, An. Dan aku ingin kamu mau menikah denganku, dan kita tinggal bersama untuk membesarkan si kembar, anak-anak kita."
Dan tentu saja kalimat panjang itu membuat Aneska jadi tak bisa berkata-kata. Bahkan napasnya tertahan, hingga akhirnya ia terbatuk-batuk, dan membuat Tio khawatir.
"Maafkan aku, An. Aku benar-benar minta maaf. Sebaiknya, kamu lupakan saja kata-kataku barusan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun."
Tio menjadi sangat gugup. Bicara cepat tanpa ada jeda. Matanya melirik panik, membuat Aneska akhirnya tertawa kecil. Dan kening Tio berkerut, saat mendengar tawa wanita yang sangat dicintainya tersebut.
"Kenapa aku harus melihat semuanya? Memangnya, apa yang salah?" tanya Aneska. Dan kata-katanya tersebut membuat Tio terdiam.
"Aku sudah mengetahuinya dari lama," ucap Aneska, menjawabnya kebingungan Tio. "Sangat lama, sampai aku kadang-kadang berpikir, kapan kakak akan mengatakannya langsung padaku," ucap Aneska menyambung kata-katanya.
Tio membisu. Respon Aneska sungguh jauh diluar dugaannya. Ia tak menyangka, kalau Aneska akan mengatakan ini.
"Su-sungguh?" Tio terbata. Merasa takut dan juga malu.
Aneska mengangguk untuk meyakinkan. Bibirnya membentaknya lengkungan indah, dan akhirnya sebuah tawa terdengar.
"Enam tahun ... lumayan lama, Kak."
Tio mengalihkan pandangannya. Perasaannya terasa campur aduk. Takut, bahagia, lega, dan juga menyesal bercampur menjadi satu.
Setelah berhasil menguasai diriku sendiri, Tio menatap mata Aneska. Tatapan dalam itu seperti sedang menyalurkan rasanya yang tertahan selama ini.
"Jadi bagaimana, An? Apa kamu menemukan lamaranku tadi?" tanya Tio, dengan penuh harap.
Aneska mengerutkan keningnya. "Lamaran? Aku tidak melihat ada cincin disini," ucap Aneska yang membuat Tio jadi tertawa.
"Aku butuh jawabanmu dulu. Kalau aku diterima, akan kuberikan cincin terbaik untukmu nanti. Aku takut ditolak," kata Tio.
Kini manik mata Aneska tampak serius memandang Tio. Selama hampir enam tahun hidupnya, ia jalani bersama dengan pria hebat yang sedang duduk disampingnya ini.
Bahkan itu rasanya sangat tidak sebanding dengan Danish, yang hanya tiba-tiba datang ke hidupnya, memberikan kebahagiaan lalu menghancurkannya hingga titik terdalam.
Dan waktu yang berjalan selama enam tahun tersebut, tentu saja bisa menghapus kebersamaan yang hanya tercipta selama satu bulan saja.
Walaupun Aneska belum memiliki surat cerai, tapi secara agama, dirinya sudah berpisah dengan Danish. Menjalani pisah rumah, dan tidak menerima nafkah, sudah termasuk bercerai.
"Tapi sayangnya kamu diterima, dan dituntut harus memberikan cincin terbaik itu secepatnya," ujar Aneska dengan tawa kecil dan juga senyuman terindahnya.
Dan kata-kata yang tak pernah Tio duga akan terucap dari bibir Aneska, baru saja didengar oleh telinga. Tio tak mampu berkata-kata untuk menggambarkan bagaimana bahagianya dia saat ini.
Secara refleks, Tio bergerak mendekat tidak Aneska dan membawa wanita tersebut ke dalam pelukannya. Menyalurkan rasa yang sudah dia tahan, selama lebih dari setengah umurnya.
"Terima kasih, An. Terima kasih karena sudah mau menerimaku," ucap Tio, disela-sela pelukan tersebut.
Aneska tak berucap, tapi sebuah jawaban dengan anggukan kepala ia lakukan. Malam yang tadinya terasa dingin menusuk kulit itu, kini berubah menjadi hangat dan menenangkan.
Sayangnya ... ini bukanlah awal dari kebahagiaan mereka. Keduanya harus melewati badai yang menerjang, saat nanti Aneska harus kembali untuk mengurus surat perceraiannya. Dan tentunya, badai itu bisa menghancurkan semua yang sudah tertata rapi selama ini.
***
Gimana nih? Gak ada yang mau ngasih komentar?
Selamat membaca!!